THINKING ABOUT POVERTY: THE GIRL EFFECT

by - July 16, 2014



Kemiskinan dalam kaitannya dengan masalah gender merupakan salah satu bahasan yang saya pelajari ketika kuliah di Departemen Sosiologi FISIP UI. Masalah gender sendiri baru benar-benar saya pahami ketika saya mengambil mata kuliah Gender dan Struktur Sosial di semester lima. Saya belajar begitu banyak. Saya baru tahu kalau ada perbedaan dampak kemiskinan terhadap perempuan dan laki-laki. Selama ini, mungkin saya tahu, tapi mata saya belum terbuka selebar ini.

Saya ingat suatu moment dimana saya sedang berada di lapangan, dan meliput acara bakti sosial untuk masyarakat prasejahtera di wilayah Sepatan, Tangerang. Saya ingat ketika bakti sosial hampir selesai, para apoteker kami hanya melayani sedikit lagi sisa pasien yang ingin menebus obat gratis berkualitas. Tak jauh dari tempat saya sedang duduk beristirahat, seorang perempuan muda berumur 20an tahun berjalan ke arah segerombol laki-laki (yang sebenarnya mengenakan status tertentu dalam pemerintahan kita, tapi saya tidak enak menyebutnya). Ingin menawarkan sesuatu, sepertinya perempuan muda ini sales sebuah produk yang belum jelas apa. Karena pakaiannya juga tidak resmi seperti sales. Sebaliknya, dia mengenakan dress tanpa lengan, yang pendeknya sedikit di atas lutut, stocking transparan panjang menutupi kakinya yang cukup jenjang. Rambutnya panjang digerai. Di tengah lapangan lokasi bakti sosial yang panas gersang. Ya ampun.

Beberapa dari laki-laki itu ada yang menggodanya. Saya tidak tahu tepat bagaimana mereka melakukannya secara verbal, tapi saya merasa risih sendiri. Perempuan muda itupun sebenarnya tidak tampak terlalu genit. Dia biasa saja, hanya berusaha ramah demi memasarkan produk yang dijualnya. Beberapa dari laki-laki itu memandanginya, dari atas sampai bawah. Saya makin risih.

Dari kejadian waktu itu, saya banyak berpikir dan baru sadar masalahnya. Perempuan mana sih yang ingin memasarkan produk dengan setelan pakaian seperti itu (meski sebenarnya masih sopan, tapi menurut saya dengan pakaian itu dia lebih cocok pergi ke kondangan daripada kerja jualan sebagai sales) di lapangan panas terik dan gersang, jika tidak terpaksa demi memenuhi kebutuhan sehari-hari? Apalagi jika ada pilihan pekerjaan lain? Berarti kan tidak ada pilihan pekerjaan lain. Jika ditarik terus, ini kemungkinan besar disebabkan oleh tingkat pendidikan, yang bisa dikaitkan lagi dengan kondisi keluarga yang mungkin terjebak masalah kemiskinan. So complex.So complicated.

Saya baru sadar (atau lebih tepatnya, saya baru benar-benar sadar) bahwa perempuan adalah pihak paling riskan menjadi korban dari masalah bernama kemiskinan ini. Kemiskinan bisa melahirkan dampak yang lebih banyak dan merusak bagi kaum perempuan dibandingkan bagi kaum laki-laki. Bagi perempuan, kemiskinan bisa melahirkan pernikahan dini di bawah umur (yang bisa berakibat juga pada kehamilan beresiko atau banyak anak yang mengakibatkan kemiskinan lagi karena tak sanggup membiayai), perceraian, human-trafficking, prostitusi, pelecehan seksual, eksploitasi, pelanggaran HAM (hak asasi manusia), dan masih banyak lagi. Perempuan menjadi pihak paling riskan menjadi korban kemiskinan, terutama karena di dalam rahimnyalah generasi baru berasal dan di dalam tangannyalah generasi baru itu tumbuh dan berkembang. Pada kenyataannya, generasi baru itu lebih terikat dengan kedirian si perempuan (ibu) daripada laki-laki (ayahnya). Ketika perceraian terjadi, atau kehamilan di luar nikah sebutlah, laki-laki akan lepas tangan terhadap generasi baru yang akhirnya hanya bisa bergantung penuh pada perempuan. Di satu sisi, kenyataan ini bisa menjadi beban sekaligus power bagi perempuan—tergantung dari cara melihat dan mengatasinya.

Saya mungkin sulit untuk menjelaskan ini, karena itu saya ingin menambahkan beberapa video berikut yang menurut saya bisa membatu memahami mengenai masalah kemiskinan dan perempuan ini.




Dua video pertama berasal dari The Girl Effect dan video terakhir berasal dari CARE, keduanya adalah gerakan yang mengusung perspektif feminisme, yang memperjuangkan para perempuan agar bebas dari ikatan rantai kemiskinan. Sangat inspiratif, menurut saya. Patut untuk dipikirkan. Patut untuk diperjuangkan. Patut untuk para perempuan mengambil bagian ikut terlibat di dalamnya. Save children! Save girls! Save women! *

You May Also Like

0 comments