2021, Thank You

February 23, 2022

Akhirnya, tahun kedua pandemi berlalu juga. Setelah susah-payah menutup tahun 2020, ternyata menutup tahun 2021 tidak kalah susahnya. Kenapa lebih susah? Secara umum karena pandemi panjang, tahun ini saya resmi menjadi 30 tahun, dan beberapa soal terkait awal yang baru. Ditambah, tahun ini, saya kehilangan salah satu dari tiga kucing kami di Depok. Tulisan ini sendiri—walau akan dipublikasi di 1 Januari 2022 dalam halaman blog—sebenarnya baru bisa rampung saya selesaikan di bulan Februari 2022. Lagi-lagi, selain sebagai ritual tutup tahun sejak 2017, kali ini juga sebagai satu bentuk upaya untuk berdamai dengan tahun yang baru saja lewat. Supaya 2021 dan apa-apa yang terjadi di sepanjang ceritanya tidak perlu saya sesali lagi, tetapi bisa saya lalui.


Photo by Markus Winkler on Unsplash

1. Belajar mulai membuat ecobricks untuk pertanggungjawaban sampah plastik.

Melanjutkan perjalanan 2020 dimana saya (tidak sengaja) mulai belajar ramah lingkungan, tahun ini eksplorasi saya dalam isu lingkungan mendorong saya mencoba langkah-langkah baru: memilah sampah dalam kategori lebih banyak dan mulai membuat ecobricks. Saya menyadari bahwa saya masih butuh rutin mengonsumsi beberapa produk dengan plastik, maka setidaknya ini upaya yang perlu saya lakukan. Membuat ecobricks ternyata tidak sesulit, tapi juga tidak semudah itu: memisahkan sampah plastik dengan memastikan semua bersih (beberapa harus dicuci-dikeringkan dulu), mengumpulkannya, memotong-motong semuanya kecil-kecil, memasukkannya dengan sabar ke dalam botol sampai padat—yang butuh waktu tidak instan. Saya masih belajar, dan terus belajar, sambil merayakan progress pembelajaran ini.


(Dokumentasi Pribadi) Project ecobricks saya yang ditargetkan bisa bikin satu meja mini.

2. Menyelesaikan baca 60 buku untuk #ReadingChallenge2021 Goodreads.

Target saya tahun ini sebenarnya hanya 30 buku cukup, tapi ternyata 30 buku (dengan ajaib) dapat selesai di bulan pertama Januari 2021. Setelah itu, saya jadi lebih ambisius untuk bisa menyelesaikan baca 50 buku dalam setahun. Tahun lalu, sering terkesima, ketika ketemu kawan-kawan di klub buku virtual yang bisa membaca 50 buku setahun. Ketika akhirnya bisa menyelesaikan 60 buku, rasanya jelas bahagia. Apalagi dalam daftar 60 buku itu, ada banyak buku yang memang ingin saya baca sejak lama (khususnya The Handmaid’s Tale dari Margaret Atwood yang menurut saya: masterpiece). Oh ya, ternyata sistem pinjem-baca e-book di IPusnas sangat membantu (lebih dari 50 buku ini saya pinjam-baca di IPusnas). 


(Dokumentasi Pribadi) Goodreads Reading Challenge 2021, dan beberapa judul e-book favorit yang saya baca-pinjam di aplikasi IPusnas dari Perpustakaan Nasional RI.

3. Lebih banyak buku.

Tahun ini, tanpa direncanakan, saya menambahkan 28 buku baru dalam koleksi buku saya. Jumlah yang tidak sedikit dan cukup menghabiskan budget (paling susah rasanya menahan untuk tidak beli buku, duh). Banyak di antaranya adalah buku-buku feminis, yang saya beli di Wanita Baca (@wanitabaca). Post Bookshop dan Gramedia juga toko lain dimana saya banyak window shopping (karena kasus pandemi yang tinggi, sulit rasanya berkunjung langsung ke toko buku) berakhir dengan judul-judul buku di dalam cart. Guilty pleasure, karena banyak beli tapi dibacanya nanti (masuk TBR, duh). Tetap, saya bersyukur membelanjakan uang yang dicari susah-susah untuk buku-buku, hehe.


(Dokumentasi Pribadi) Beberapa buku yang paling berkesan bagi saya di 2021.


4. Jakarta Binalle 2021 di Museum Nasional.

Setelah penat #dirumahaja selama pandemi tahun ini, menutup tahun dengan Pameran Jakarta Binalle 2021 di Museum Nasional menjadi kelegaan sendiri. Sudah lama saya ingin ke pameran seni. Pergi bersama sister Ruthie, pameran yang memantik percakapan tentang “Esok” ini menarik sekali. Kolaborasi para seniman, undangan karya partisipatif bagi pengunjung, dan kreativitas dalam kritik sosial-politik-budaya yang disuguhkan membuat saya ikut merenungi tentang kehidupan ‘esok hari’.

 

(Dokumentasi Pribadi) Serangkaian foto dari Pameran ESOK di Jakarta Bienalle 2021, Museum Nasional.

5. Awal yang baru.

Di tahun 2021 ini, saya juga banyak menemui awal yang baru. Salah satunya dimulai Maret 2021. Banyak lika-liku dan proses adaptasi yang tidak selalu mudah (dan keteguhan agar tidak kecil hati), tapi saya tetap bersyukur. Bersyukur untuk awal baru yang juga membuka awal-awal baru lainnya.


6. Bunga bakung di taman, seperti lagu sekolah minggu.

Di lika-liku 2021, salah satu penghiburan yang sempat mengherankan saya adalah bunga bakung di taman. Bunga bakung, atau disebut juga dengan bunga lily (Lilium regale), yang berwarna putih, tanpa diduga mekar di halaman rumah tepat di saat saya butuh penghiburan. Sebenarnya, sebatas melihat ada bunga yang bisa tumbuh mekar tanpa dirawat di halaman (tanaman ini sudah ditanam keluarga lebih dari 10 tahun lalu tapi selama ini jarang sekali atau bahkan tidak pernah berbunga dalam setahun), sudah merupakan kebahagiaan sendiri—saya tidak tahu bahwa bunga bakung itu seperti ini lho bentuknya, sampai sahabat saya Justice mengingatkan: membuat pengalaman ini menjadi sebuah momen refleksi spiritual. Mengingatkan saya akan lagu sekolah minggu, KJ. 385. It spoke to my soul: bunga bakung di padang / diberi keindahan / terlebih diriku / dikasihi Tuhan.


(Dokumentasi Pribadi) Bunga-bunga bakung yang sempat saya jepret di masa mekarnya.


7. Akhirnya menjadi 30 tahun.

Sebenarnya, saya tidak bisa bilang menyukai usia 30 tahun—tidak mudah melepas angka 20-an di hitungan usia, nyatanya. Tapi, saya sadar, usia 30 tahun memiliki pengalaman barunya sendiri yang berbeda dari usia 20-an, dan itu (juga) layak dinantikan dan dinikmati. Saya merayakannya dengan sederhana, hanya dengan menghadiahi diri sendiri sebuah buku yang sudah lama ada dalam daftar beli—Jesus Feminist (itupun, karena buku ini harus diimpor, saya harus rela menunggu berbulan-bulan untuk selesai mengurus bea cukai, lewat dari tanggal ulang tahun ke-30 saya). Saya berharap di usia yang lebih dewasa ini, perspektif saya akan kesetaraan gender bisa jadi lebih luas, melingkupi ranah keimanan.


(Dokumentasi Pribadi) Kiri: book package of Jesus Feminist, Tengah: uban pertama saya muncul di usia 30 tahun, Kanan: a simple beautiful thing from Into The Light Id.
 

8. S-Pen Black-A kembali bisa digunakan setelah rusak kerendam air di 2019.

Salah satu ‘keajaiban’ lain selain bunga bakung di taman yang saya syukuri tahun ini adalah S-Pen Tablet Samsung saya (saya beri nama Black-A), pulih kembali. Ajaib, karena setelah tablet saya kerendam banjir di 2019 akibat cuaca-amat-buruk dan fitur S-Pen ini rusak—Samsung Service Center yang saya kunjungi bahkan bilang, fitur ini tidak bisa diperbaiki. Sesuatu yang sangat saya sesali dan sayangkan, mengingat tablet jenis ini sudah tidak lagi diproduksi dan fitur itu salah satu yang saya butuhkan dari Black-A. Tahun ini, berawal ketika tablet saya selip dan jatuh keras (jarang terjadi, sempat cemas), saya terkejut sendiri ketika fitur S-Pen malah jadi pulih lagi. Sulit dijelaskan, tapi sungguh keajaiban.


(Dokumentasi Pribadi) Dear Black-A and its S-Pen, yay!

9. Tiga komunitas dengan semangatnya masing-masing.

Tahun 2021 ini, saya bersyukur masih bisa belajar bareng kawan-kawan dari tiga komunitas dimana saya bergabung saat ini. Meskipun segala kegiatan kerelawanan dilakukan secara daring karena pandemi, saya tetap mengapresiasi setiap pengalaman dan pengetahuan. Bersama kawan-kawan Komunitas Perempuan Berkisah, saya belajar lebih banyak mengenai konseling feminis dan pendampingan rekan perempuan korban kekerasan berbasis gender. Bersama kawan-kawan Into The Light Indonesia, saya belajar lagi mengenai International Survivors of Suicide Loss Day. Bersama kawan-kawan Pustaka Protonema, saya belajar lebih dalam mengenai simpul keterkaitan antara isu lingkungan dan ketidakadilan gender.


Kiri: poster ISOSD 2021 Into The Light Id yang saya rancang bersama kawan-kawan, Tengah: poster Pelatihan Konseling Berbasis Etika Feminis dari Perempuan Berkisah yang berkesan sekali di 2021, dan Kanan: goodie bag dari Perempuan Berkisah.

10. Studi ekofeminisme bersama kawan-kawan Pustaka Protonema.

Sejak belajar mengenai ekofeminisme di salah satu sesi Feminist Festival 2021, perhatian saya terhadap isu lingkungan saya lanjutkan dengan bergabung dengan komunitas Pustaka Protonema tahun ini. Bersama kawan-kawan di Pustaka Protonema, juga Ruang Baca Puan, saya banyak sekali belajar pengetahuan baru seputar ekofeminisme di tahun 2021. Apalagi, di sesi-sesi obrolan seru di Protonema’s Day.


Kiri: bareng @ruangbacapuan, Kanan: bareng @pustakaprotonema

11. Foto bunga dari Utari & Getha, foto kucing dari Kak Julia.

Di tengah pandemi panjang dan keharusan untuk menjaga jarak sehingga pertemuan sosial hanya bisa dilakukan via ruang chat dan zoom (selain jarak yang jauh), foto-foto bunga beragam warna dan bentuk (juga foto kucing) yang dikirimkan sahabat dan kawan bisa menjadi penghibur hati sekali. Apalagi, jika domisili di sumpeknya sudut Jabodetabek yang minim ruang hijau luas terawat-terbuka.


Foto-foto bunga dari Eropa (dari sohib Utari, di UK dan dari sister Getha, di Jerman).


12. Perjalanan ke Nusa Penida, Bali.

Di masa kasus sudah lebih reda, dengan ketat protokol kesehatan, tahun ini bisa mengunjungi Pulau Dewata lagi untuk beberapa hari dalam rangka perjalanan dinas. Kali pertama, saya menyeberang ke Nusa Penida. Setidaknya, sejenak bisa menghirup-menghembuskan nafas dari hiruk-pikuk Jabodetabek dan menjalin koneksi lagi dengan vitamin sea. Laut biru dan langit biru memang tidak pernah mengecewakan.


(Dokumentasi Pribadi) Beberapa foto perjalanan.

13. Screening film di #womenonfilms.

Di Agustus 2021, saya ikut menghadiri secara virtual screening film pendek yang mengkampanyekan isu kekerasan seksual, Two Language and a Sausage. Undangan ini dikirimkan rekan-rekan dari Inteamates, kepada @womenonfilms. Dari acara itu, saya dikirimi paket sebuah mood journal feel to heal—setelah terpilih menjadi peserta yang mengisi formulir feedback terfavorit mereka (mood journal ini bisa dibeli disini ya).


Kiri ke kanan: poster film "Two Language and a Sausage", poster acara film screening Mulih-Feel to Heal, dan Mood Journal dari Inteamates.

14. Yang virtual dan baru: Kolaseru! Workshop & KALM Workshop.

Walaupun tahun kedua pandemi sudah mulai lelah dengan pertemuan-pertemuan virtual di Zoom, Google Meet, atau platform lainnya—beberapa workshop yang saya ikuti di 2021 masih sanggup memantik rasa excitement. Yang paling berkesan adalah Kolaseru! Workshop (belajar kolase sebagai media seni untuk gerakan feminis) dan KALM Workshop (ranah psikologi yang bantu memperlengkapi diri).

 

(Dokumentasi Pribadi) Kolase yang (coba) saya susun ketika Workshop Kolaseru! (belum selesai)

15. Christmas Gift dari Justice & The Lonely Book Reader Package.

Baru sekali ini, selepas kuliah, natalan-tahun baruan saya habiskan tanpa dapat hari libur sama sekali. Boro-boro cuti, natalan dan tahun baruan jatuh tepat di tanggal weekend, dan karena pandemi, pemerintah melarang ‘hari libur’ untuk mencegah mudik (24 Desember dan 31 Desember terhitung hari kerja, sedih ya). Di tengah segala situasi melankolis itu, Christmas hampers (yang gak disangka-sangka) dari Justice dan The Lonely Book Reader Package yang saya hadiahkan untuk diri sendiri dari Post Bookshop, bantu sekali untuk melalui natal dan tahun baru tahun ini.


(Dokumentasi Pribadi) Kiri: Christmas gift from Justice, Kanan: Bookmail from Post Bookshop, The Lonely Reader Care Package.

16. Diskusi-diskusi feminis seru di Ruang Baca Saudari.

Setelah banyak ikut klub buku di 2020, di 2021 saya mengerucutkan opsi spesifik ke satu klub buku saja—klub buku dari Komunitas Perempuan Hari Ini dan Indonesia Feminis, yang khusus mendiskusikan buku-buku feminis. Klub buku ini disebut Ruang Baca Saudari, sebuah klub buku khusus perempuan dan dimaksudkan sebagai ‘safe space’ sehingga penyeleksian anggota juga cukup ketat. Buku-buku yang dibahas tahun ini isinya daging semua, suka!


Beberapa tema Ruang Baca Saudari yang saya ikut menyimak di 2022.

17. Bisa bertahan di tahun kedua pandemi.

Yang ini harus jadi highlight, mengingat betapa tidak mudahnya. Apalagi sehabis lebaran, kasus sempat naik tajam dan angka kematian karena virus COVID-19 mengkhawatirkan. PPKM ketat dan kantor pun sempat WFH total 100%. Tahun ini, saya telah mendapat dua kali vaksinasi sebelum kasus melonjak, yang membuat hati cukup lega untuk tetap keluar rumah (WFO). Menjaga pikiran dan perasaan, selain menjaga fisik, merupakan sebuah usaha juang. Meski begitu, tetap ikut berdukacita untuk semua yang kehilangan di sepanjang 2021.

 

(Dokumentasi Pribadi) Salah satu dari sekian banyak upaya menghindari virus COVID-19.

18. Serial seru Netflix & VIU, yang sudah menemani tahun kedua pandemi.

Terhubung ke poin 17, Netflix dan VIU betul-betul membantu menjaga kewarasan di tahun 2021. Setidaknya, serial-serialnya bisa bantu mendistraksi pikiran dari segala cemas karena pandemi. Beberapa serial favorit yang saya tonton di 2021 saya cantumkan di bawah ini ya.


Beberapa serial ter-favorit saya yang saya tonton di 2021.

19. Lingkaran sosial (inner circle).

Tahun ini, saya berterima kasih (lagi) kepada kawan, sister, dan sahabat-sahabat saya: untuk bantu menjaga kewarasan di sepanjang pandemi dengan obrol di ruang chat atau ketemuan virtual di Zoom/Google Meet, atau bahkan di awal tahun ketika pandemi masih belum ngelunjak lagi, sempat ketemuan luring juga. Dengan pembincangan ringan sampai sharing heart-to-heart.

 

(Dokumentasi Pribadi) Kiri: pertemuan luring di Jakarta, Kanan: virtual meeting yang menjembatani jarak Nottingham-Medan-Depok-Karawang.

20. Tahun keempat bersama Ayi & Oreo.

Tahun ini, Ayi dan Oreo genap berusia 4 tahun—berarti sudah 4 tahun kebersamaan dengan kucing-kucing saya ini. Time flies. Namun, tahun ini juga, saya kehilangan Momong (yang sudah 6 tahun) tanpa saya duga. Momong lenyap, sejak September 2021. Sama sekali tidak pernah pulang lagi. Melalui ini tidak mudah, tapi kebersamaan dengan Ayi dan Oreo membantu banyak sekali.


(Dokumentasi Pribadi) Kiri: Oreo, Kanan: Ayi, Tengah: Momong dear, last photo.

21. Hal-hal sederhana lainnya yang membantu melalui 2021.

Pohon natal mini yang sederhana di atas rak buku dan creamy spaghetti untuk hari natal, pesan "hai kak yuli, have a good day :)" di cup kopi Starbucks, dua paket make-up yang free dari komunitas yang membuat saya bisa berhemat budget, paket makanan yang jauh-jauh disiapkan dan dikirim Mama dari Medan yang cemas dengan gizi anaknya, mini gift box sederhana untuk sohib Cidhu, langit senja terpampang di depan rumah, kado handmade sepaket karya rajutan sohib Cidhu, tamu kupu-kupu di teras rumah, dan cereal with milk and strawberry untuk membuka weekend pagi.


(Dokumentasi Pribadi) Because simple things matter.

________________________

Tahun kedua pandemi memang tidak mudah dijalani dan dilalui (ditambah segala awal yang baru itu). Pertambahan kasus naik dan turun, switch antara WFH dan WFO seturut aturan PPKM terbaru, kadangkala ngeri sendiri menghadapi KRL yang masih penuh orang meski masih pandemi, hidung yang dicolok untuk swab antigen, sampai mikir berulang kali hanya untuk pergi keluar rumah jika tidak sangat terpaksa. Blog ini terkena imbas, bersama writer’s block menghampiri, hanya dua tulisan yang berhasil diselesaikan dan dipublikasi. Termasuk beberapa kelas online yang akhirnya expired dan #womenonfilms project yang terkendala. Niat saya untuk meneruskan menulis fiksi lagi juga terpaksa tidak kontinu dulu di tahun ini. Ternyata, tidak mudah membagi fokus dan mempertahankan diri sendiri agar tidak goncang setelah beberapa banyak angin ribut. Di tahun kedua pandemi, saya sadar, saya juga ternyata harus lebih banyak berbaik hati pada diri sendiri.

 

Jika boleh dirangkum dalam tiga kata, setelah mengubek-ubek KBBI, maka 2021 bagi saya secara personal bisa disimpulkan sebagai taksa, puspas, dan daya :

tak.sa

a mempunyai makna lebih dari satu; kabur atau meragukan (tentang makna); ambigu.

pus.pas

a campur aduk.

da.ya

1. n kemampuan melakukan sesuatu atau kemampuan bertindak

2. n kekuatan; tenaga (yang menyebabkan sesuatu bergerak dan sebagainya)

3. n muslihat

4. n akal; ikhtiar; upaya

5. n kemampuan untuk menghasilkan kekuatan maksimal dalam waktu yang minimal.

(Sumber: KBBI Online).

 

Di tengah kemelut pandemi, 2021 bisa dibilang (kadangkala) ‘meletup-letup’ dengan rasa kecewa dipadu keterkejutan dan kebingungan, yang rasanya tidak perlu dijelaskan disini. Tapi, kekecewaan butuh diatasi. Keterkejutan butuh dilalui. Kebingungan perlu diselesaikan. Sekali lagi, saya belajar untuk memaknai ulang hal-hal yang terjadi—apalagi yang terkait dengan momen-momen dimana kekecewaan menguap setelah meletup itu—untuk perspektif yang lebih baik. To survive better. Dekonstruksi, dan bukan sekedar rekonstruksi. Learn, unlearn, and relearn.

 

2021, thank you.

No comments:

Powered by Blogger.