Saturday, 31 January 2015

SALLY IN THE BEDROOM


 Saya tidak ingat kapan saya mulai menyenangi warna kuning. Yang saya benar-benar ingat, saya pernah sangat tidak menyenangi warna merah jambu. Ya, pink. Karena merasa tidak nyaman dengan stigma terhadap perempuan yang sangat menyenangi warna pink ketika sekolah dulu. Kelihatannya terlalu perempuan. Bagaimana mendefenisikan "bagaimana terlalu perempuan" pun saya tidak tahu. Saya kira, stigma "terlalu perempuan" inipun menjadi di-salah-artikan oleh mereka yang tidak benar-benar memahami masalah bias gender. Tidak nyaman rasanya jika dikira sangat manja, lemah, dan bisa disepelekan. Siapa bilang menjadi perempuan sama dengan menjadi manja, lemah, dan bisa disepelekan? Saya ingat, di zaman itu, laki-laki tidak mau mengenakan atribut apapun berwarna pink, apalagi kaos, karena tidak mau disamakan dengan perempuan (yang manja, lemah, dan disepelekan). Bukan berarti saya memuja maskulinitas dan bersikap tomboyish. Tidak. Saya hanya menyukai semua warna kecuali warna merah jambu.

Tapi sekarang tidak lagi begitu. Saya menyukai semua warna, termasuk merah jambu. Apalagi setelah terjadi revolusi besar di dunia maskulinitas laki-laki, yang tidak hanya mendefenisikan maskunilitas laki-laki dalam warna biru atau hitam--tapi juga dalam warna merah jambu. Laki-laki bisa tetap menjadi maskulin meski mengenakan atribut baju berwarna merah jambu. Tentu saja, mungkin dengan desain yang berbeda dengan perempuan. Laki-laki dan perempuan memang memiliki ciri khasnya masing-masing yang sama-sama unik. Tidak ada yang bisa lebih menyepelekan yang lain.

Tapi mengenai warna kuning, saya tidak ingat. Meski sudah menyenangi semuawarna apa saja, ada dua warna yang saya rasa istimewa. Kuning dan oranye. Saya lupa sejak kapan saya mulai menganggap kedua warna ini begitu istimewa. Mungkin semenjak saya resmi terdaftar sebagai salah seorang mahasiswa di kampus kuning, dengan fakultas ber-makara warna oranye. Kedua warna ini benar-benar bagus di mata saya, saling melengkapi. Cocok. Cerah. Menghibur. Menghangatkan.

Seperti boneka Sally yang sebulan lalu baru saya temukan di salah satu toko boneka di Mall di kota Depok ini. Dan langsung saya bawa pulang. Saya beli. Sally, tahu kan? Karakter sticker berbentuk anak bebek dari applikasi LINE. Kedua boneka Sally inipun menjadi moodboster sendiri untuk menghangatkan situasi kamar kosan saya. Boneka (bantal) Sally-besar, dan boneka (maskot) Sally-kecil. Boneka Sally-kecil bahkan sengaja saya bawa ke ruangan kantor saya dan saya letakkan di atas meja, tepat di sebelah komputer, untuk menjadi penyemangat segala deadlines tugas dan tulisan :) Lalu, tiap sore, saya bawa pulang kembali. Senang rasanya bisa melihat Sally berwarna kuning cerah di dalam kamar tidur saya :)

Friday, 30 January 2015

REBEKAH SAID, "I AM READY TO GO"




Her brother and mother said, “Let the girl stay a while, say another ten days, and then go.”
He said, “Oh, don’t make me wait! God has worked everything out so well—send me off to my master.”
They said, “We’ll call the girl; we’ll ask her.”
They called Rebekah and asked her, “Do you want to go with this man?”
She said, “I’m ready to go.”

(Genesis 24 : 55-58 MSG)


Beberapa hari ini saya menikmati perenungan mengenai kisah Ribka ketika ia bertemu (dan dipertemukan) dengan Ishak—yang kemudian menjadi pasangannya seumur hidup. Kata “I am ready to go”—sebagaimana yang secuplik telah saya kutip sebagai prolog tulisan ini—menjadi titik tolak penting dari perenungan saya.

Pergumulan pasangan hidup entah kenapa menurut saya masih dan akan selalu menjadi sesuatu yang penting bagi banyak orang di setiap zaman di setiap generasi. Meskipun ada juga sebagian kecil orang yang dipanggil untuk menjalani hidup selibat (tidak menikah atau melajang seumur hidup), tidak bisa disangkal, mayoritas orang dipanggil untuk bisa mengalami dan menjalani sebuah pernikahan. Dalam usia dewasa muda saat ini, dengan lingkungan pertemanan di sekeliling saya, tentu saya banyak menemui teman-teman yang juga bergumul mengenai masalah pasangan hidup ini. Banyak sekali. Dan, ya selagi itu tidak mengambil posisi Tuhan sebagai yang terpenting dalam hidup kita, menggumulkan pasangan hidup merupakan sesuatu yang wajar-wajar saja dilakukan.

Hanya saja, dalam masa pergumulan dan penantian (yang kita tahu, tidak selamanya mudah), kadang kita bisa salah fokus. Kita bisa saja lebih fokus kepada waktu, daripada diri kita sendiri. Mengeluh tentang lamanya, bukan memperjuangkan bagaimana kesiapan kita. Apakah kita benar-benar sudah siap menikah dan sudah menjadi seorang perempuan atau laki-laki yang seutuhnya utuh untuk menikah. Kita mungkin sering mengeluh mengenai waktu, tetapi lupa kalau diri sendiri ini belum siap.

Berbeda dengan Ribka. Ribka sudah siap. Ketika hamba Abraham, Ayah Ishak, datang menjemputnya untuk pernikahan itu—Ribka sudah siap. Ia dengan mantap menjawab, “I am ready to go.

Saya belajar banyak dari Ribka. Ribka yang sudah siap. Saya membayangkan apa rasanya menjadi Ribka, yang sudah siap. Pasti bahagia. Bahagia bisa menjawab, “I am ready to go.” Karena, saya pribadi merasa saya belum siap. Pernikahan merupakan sebuah pergumulan yang tidak mudah untuk dijalani—menurut saya. Bertahun-tahun memiliki keinginan untuk hidup selibat semenjak usia saya masih anak-anak, lalu kemudian Tuhan singkapkan suatu hal yang lain daripada yang selama ini saya pikirkan—sungguh tidak mudah. Saya bergumul dengan diri sendiri untuk menggumulkan sebuah pernikahan di masa depan, terlepas dari pergumulan saya untuk bisa menjadi seorang perempuan yang seutuhnya utuh untuk menjadi seorang istri dan ibu, yang benar-benar siap.

Perenungan saya membawa saya menyadari bahwa untuk mengatakan, “I am ready to go” seperti Ribka, membutuhkan proses yang tidak sepele. Rela untuk belajar banyak, berubah banyak—bersama Tuhan. Menanggalkan, melepaskan, menyalibkan, apa yang perlu ditanggalkan, dilepaskan, dan disalibkan—demi menjadi seorang perempuan yang seutuhnya utuh. Setapak demi setapak. Hari demi hari, bahkan mungkin, tahun demi tahun. Ada sebuah proses pemurnian untuk menjadi seorang perempuan atau seorang laki-laki yang seutuhnya utuh.

Kisah Ribka bisa dibaca di Kejadian 24. Ini merupakan salah satu kisah percintaan favorit saya di sepanjang halaman Alkitab. Bagaimana Tuhan mempertemukan Ribka dan Ishak juga merupakan sesuatu yang tidak biasa. Segala sesuatu direncanakan, digumulkan, didoakan. Segala sesuatu ada dalam kontrol tangan Tuhan, ada dalam rangkaian rencana-Nya yang istimewa untuk Ribka dan Ishak. Lalu dalam waktu Tuhan, mereka dipertemukan. Waktu yang sempurna—karena, saat itu, Ribka juga sudah siap.



Bukankah menarik untuk merenungkan, kapan kita bisa siap untuk menyatakan, “I am ready to go” terkait perihal pasangan hidup dan pernikahan? :)

Tuesday, 27 January 2015

WE CAN TRUST OUR GOD






We can trust our God
He knows what He's doing

We can trust our God. Kata-kata ini tampak sepele tapi aku kembali menyadari kalau kata-kata ini ternyata tidak sesepele itu untuk dilakukan. Trust, bukan hanya sekedar percaya Tuhan baik—tetapi percaya Tuhan baik di dalam segala kondisi yang kita hadapi. Entah itu senang atau sedih. Nyaman atau tidak nyaman. Trust, tidak hanya percaya pada Tuhan ketika pagi hari setelah kita terteguhkan lewat firman dan doa di dalam saat teduh kita, lalu lupa ketika rutinitas atau problema hidup menerpa dan mengacaukan kita—trust itu percaya pada Tuhan di setiap detik dan setiap nafas kehidupan yang kita miliki. Di setiap detak jantung, kita terhubung pada Tuhan—karena kepercayaan itu tidak kita tanggalkan, tapi kita buktikan dengan menjaga keintiman dengan hati Tuhan. Sayangnya, trust atau “percaya” ini sering disimplifikasi. Disalah-pahami. Trust atau percaya itu tidak boleh tanggung-tanggung, tidak boleh setengah-setengah. Trust membutuhkan totalitas penuh.

Hari ini dalam perenunganku sambil mendengarkan-dan-menyanyikan lagu ini, aku kembali menyadari, bahwa trust merupakan sesuatu yang multi dimensi. Seusatu yang unconditionally, bukan conditionally. Sesuatu yang bergantung pada Pribadi Tuhan yang pada-Nya kepercayaan kita tertuju dan berpusat—bukan pada kondisi hati kita atau kondisi sekeliling kita. Sesuatu yang tidak mengenal batasan waktu, tidak mengenal konteks situasi-kondisi, tidak mengenal usia, tidak mengenal apa yang terjadi. Dan jika trust merupakan sesuatu yang benar-benar multi dimensi, doubt tidak mungkin cepat menggoncang atau bahkan meniadakan trust. Meskipun, penyebab doubt itu juga membuat kita sangat bingung, sangat sedih, atau bahkan sangat terluka. Trust akan bertahan sampai waktu kemenangan tiba. Pelangi tidak mungkin muncul tanpa hujan terlebih dulu. Trust bertahan karena we know to whom we put our trust. He is God who knows what He’s doing.

Though it might hurt now
We won't be ruined



p.s. :

Deepest thanks to Dear God and to my dear prayermate sister, Erena Fabyola—salah satu yang benar-benar tahu apa yang sedang terjadi denganku beberapa hari ini, khususnya kemarin. Sesuatu berita yang harus diakui, nyaris menggoncang trust di dalam diriku ini. Tapi itulah Tuhan—yang sebelum menguji, sudah lebih dulu memperlengkapi. Tidak ada satupun di dunia ini yang terjadi padaku, yang Dia tidak tahu atau yang Dia tidak mengendalikan. It happened for my best. My “breaking into the new” process. Roma 8:28. Pagi ini, di tengah segala jadwal yang padat di kantor dengan deadline dan tulisan, prayermate sister yola mengirimkan sebuah pesan whatsapp padaku. Merekomendasikan lagu ini untuk kudengarkan jika aku ada waktu. Dan benarlah, lagu inipun menjadi rhema. Strength unknown He provided, through yola. Aku terharu. We can trust our God. I can trust our God.

 Remember when your hope is lost and faith is shaken
Remember when you wonder if you're gonna make it
There's a hand stretched out through your deepest doubt
We can't pretend to see the ending or what's coming up ahead
To know the story of tomorrow
But we can stay close to the One who knows

We can trust our God
He knows what He's doing
Though it might hurt now
We won't be ruined
It might seem there's an ocean in between
But He's holding on to you and me
And He's never gonna leave, no
He is with us, He is with us
Always, always
He is with us, He is with us
Always

We believe there is purpose, there is meaning in everything
We surrender to His leading
He wants nothing more than to have us close

We can trust our God
He knows what He's doing
Though it might hurt now
We won't be ruined
It might seem there's an ocean in between
But He's holding on to you and me
And He's never gonna leave, no
He is with us, He is with us
Always, always
He is with us, He is with us
Always

Our faith is sealed, our hope is real
Come what may, we're not afraid
Our faith is sealed, our hope is real
Come what may, we're not afraid
We're not afraid

We can trust our God
Always, always
We can trust our God
Always, always



“That’s why we can be so sure that every detail in our lives of love for God is worked into something good. God knew what He was doing from the very beginning. He decided from the outset to shape the lives of those who love Him along the same lines as the life of His Son. The Son stands first in the line of humanity He restored. We see the original and intended shape of our lives there in Him. After God made that decision of what His children should be like, He followed it up by calling people by name. After He called them by name, He set them on a solid basis with Himself. And then, after getting them established, He stayed with them to the end, gloriously completing what He had begun.” (Romans 8:28-30 MSG)