Thursday, 2 April 2015

KOTA DEPOK



Aku merindukan kota Depok. Merindukan atmosfernya yang teduh, akrab. Cuacanya yang panas, hangat. Daun-daun pohon yang hijau sampai ke ujung. Rumah-rumah sederhana di lingkungan rumah bude yang saling bersebelahan tak jauh. Jalan-jalannya yang beraspal yang selalu ramai orang, belum tercemar individualisme kompleks dan perumahan.

Aku merindukan kota Depok. Kampus kuning tempat tiga setengah tahun mencari ilmu yang ikut terbentang di dalamnya. Mall-mall tempat orang-orang berkunjung, makan, dan melepas jenuh dari rutinitas menjemukan. Margonda Raya yang penuh dengan mobil dan motor, terkungkung macet—tetapi masih bisa kumaklumi dibanding kemacetan jalanan Ibukota di sebelah.

Aku merindukan kota Depok. Merindukan rumah bude yang dua tahunan ini sudah menjadi tempat pulang. Merindukan selimutku yang tebal dan nyaman. Yang di bawah kulitnya aku bergelut sepanjang malam, merasa hangat, terlindungi dari hari dingin. Merindukan sofa di ruang tengah, yang di depannya terletak sebuah televisi tua. Merindukan luasnya ruang gerakku, kemana-mana. Merindukan kesendirianku di dalamnya. Sebuah bentuk dari kebebasan. Keleluasaan.

Aku merindukan kota Depok. Merindukan buku-buku bermacam judul yang kubeli dan kusimpan tak rapi di dalam lemari. Yang belum sempat selesai kubaca dan selalu membuat hati rindu untuk mengulang membaca. Sebuah peta dunia. Di dinding ruang tamu. Dispenser yang sedia. Air panas yang tak harus didapat dengan memasak lebih dulu.

Aku merindukan kota Depok. Merindukan duniaku yang hidup di dalamnya. yang tak ingin kutinggalkan, yang enggan kulepaskan. Karena dunia yang baru masih penuh tanda tanya dan kebimbangan. Keragu-raguan. Dunia yang baru belum benar-benar bisa kupercayai sepenuhnya, belum bisa kunikmati, belum bisa kumasuki. Aku merindukan dunia tempat aku sendirian larut di dalamnya, di kota Depok. Dunia yang lama, tapi tak sama dengan kehidupan yang lama.

Ada suatu masa dimana masa lalu dan masa depan runtuh, di depan matamu. Ketika masa transisi terlalu terjal untuk dilalui. Ombak di bawah kakimu terlalu ganas untuk dipijak. Hujan yang jatuh di kepalamu terlalu keras untuk dihadapi. Api yang memurnikan tak sanggup kau lalui. Dan saat itulah, aku merindukan kota Depok.

Aku tak merindukan kota Medan, meski itu kampung halaman. Aku merindukan kota Depok—kota tempat aku dibesarkan. Oleh yang Empunya Kehidupan. Dalam sebuah masa kehidupan yang lebih menyenangkan, daripada yang kualami di kampung halaman. Atau di kota tempatku berpijak sekarang.



Dengan cinta yang masih ada,
Untuk kota yang delapan kali namanya ku ulang ku sebut,
Di sepanjang tulisan ini,

April 2, 2015