Monday, 27 February 2017

MENULIS YANG BARU


Saya sedang memulai sebuah project menulis yang baru. Halaman yang baru, alamat yang baru, topik yang tidak baru tetapi lebih terfokus. Lahir dari panggilan dan pengalaman, minat dan perhatian. Kesukaan. Bukan hanya tentang kegiatan menulisnya, tetapi lebih itu: tentang apa yang ditulis. Tentang apa yang dipikirkan dan direnungkan. Karena apa yang ditulis, kerap berasal darisana, dari pemikiran dan perenungan. Tujuannya tidak muluk-muluk, hanya beberapa keinginan sederhana. Untuk menjadi catatan perjalanan pribadi yang disyukuri dan diabadi, untuk menjadi salah satu upaya mendorong aksi. Pembaca siapa saja untuk perubahan-perubahan dan pertolongan berarti.

Tak disangka, selama proses memulai menulis, saya menemukan fakta berharga. Ternyata, menulis lebih dari sekedar menulis. Menulis butuh keberanian, butuh tekad dan kesungguhan. Menulis ternyata butuh kerendahan hati, dengan tujuan yang bukan untuk kepentingan diri sendiri. Menulis butuh semangat yang tidak padam hanya karena ide habis sebelum ditulis. Menulis butuh keberlanjutan, sustainabilitas. Tidak boleh cepat menyerah, apalagi ketika belum setengah jalan ditempuh oleh tangan dan pena.

Demi ide-ide yang tak lenyap sebelum ditulis, saya bahkan menyulap sebuah note kecil menjadi buku catatan. Kecil, agar bisa terselip di tas atau di saku, tidak membebani untuk dibawa berkelana kemana saja. Di dalamnya, saya menulis apa saja kapan saja yang terlintas di dalam pikiran, untuk ancang-ancang menjadi bahan. Dalam waktu berkala, akan melihat kembali semuanya satu-persatu dan meriset hal-hal yang perlu. Menulis ternyata butuh usaha yang lebih dari satu. Dan, buku catatan kecil ini terbukti ampuh membantu.


Perjalanan ini saya mulai dengan tulisan, dengan menulis. Perjalanan ini akan saya teruskan dengan tulisan, dengan menulis. Perjalanan ini juga saya harap bisa saya akhiri dengan tulisan, dengan menulis. Sebuah kesimpulan yang indah untuk sebuah panggilan.



p.s. :

Untuk seorang saudara dan rekan sesama penulis, you know who you are sis, yang tanpa janjian dengan saya ternyata juga sedang memulai project baru menulis di halaman yang baru, selamat menulis dengan penuh keberanian. Tidak ada yang sia-sia pernah lahir dari rahim niat hati yang tulus. Soli deo gloria.

Monday, 20 February 2017

REALITA RELASI


Belakangan, saya banyak berpikir mengenai orang-orang yang lalu-lalang di hidup saya. Ada yang lewat begitu saja, tidak menjadi penting dan tidak dipentingkan. Ada yang sempat singgah, sebentar atau lama, menjalin relasi yang cukup atau bahkan sangat baik—tapi kemudian pergi atau mengkhianati. Saya tidak apa sekarang. Saya sudah belajar dari kenyataan kehidupan, bahwa kita tidak boleh berekspektasi terlalu tinggi jika tidak mau kecewa. Apalagi, soal relasi sosial yang tak bisa dijamin apalagi diprediksi. Manusia berubah. Tak terkecuali kita sendiri. Perubahan-perubahan bisa mengagetkan, menggesek dan bahkan menghancurkan. Bersyukurlah untuk yang masih terus bertahan dan mempertahankan.

Hanya, saya harus mengakui saya pernah sedih. Pernah kecewa. Beberapa orang pergi karena lupa setelah ada relasi-relasi baru yang mungkin dianggap lebih baik atau lebih benefit. Mungkin terlalu banyak menghitung untung dan rugi. Beberapa orang pergi karena waktu, jarak, dan kesenjangan hubungan yang tak bisa menjembatani di tengahnya. Beberapa orang pergi karena sudah bertemu kekasih hatinya, sehingga persahabatan atau persaudaraan menjadi nomor dua, atau nomor kesekian sampai benar-benar terlupa. Beberapa orang pergi karena egoismenya sendiri, mungkin selama ini sebenarnya tak pernah merasa butuh relasi sosial bernama persahabatan atau persaudaraan dan hanya bertahan karena azas pemanfaatan atau kondisi kebersamaan.

Tapi, beberapa orang mungkin pergi karena saya yang lebih dulu pergi. Karena saya yang lebih dulu lupa. Karena waktu, jarak, dan kesenjangan komunikasi di tengahnya itu. Atau sebenarnya, kadang hanya beristirahat sejenak dengan menarik diri dan mengasingkan diri sebagai seorang introvert kelas ekstrim—yang salah dipahami.

Saya sendiri sejujurnya tak suka lebih dahulu pergi. Dari dulu, saya hidup dengan berorientasikan relasi. Saya menganggap berharga dan penting setiap relasi dan cerita yang lahir karenanya. Saya positif menanggapi dan berasumsi tentang mereka yang mampir di hidup saya, saya bersyukur untuk mereka. Saya mengingat mereka dalam ingatan yang sangat baik dan rela berbuat sesuatu untuk mereka. Tapi ternyata, tak semua orang yang kita anggap penting, menganggap kita juga penting. Kesadaran itu membuat saya berhati-hati kemudian. Relasi butuh pembuktian. Tak hanya soal menyemat sebutan.

Beberapa relasi sebenarnya pun sangat sulit saya mengerti. Akibat terlalu rumit, saya anggap saja saya yang terlalu banyak berpikir padahal kadang relasi hanya butuh dijalani, tanpa harus dipikirkan setengah mati. Meski saya juga merasa tidak aman jika memikirkan apa yang mungkin terjadi. Saya pasrahkan relasi. Relasi itu dua arah adanya, tentu tak bisa hanya saya yang menjaga.

Kadang, saya berharap bahwa beberapa relasi—meski tak semua relasi, harus saya akui—bisa pulih lagi. Kembali seperti yang dulu pernah terjadi. Baik-baik saja dan tidak ada apa-apa. Banyak waktu dan banyak cerita. Tapi saya tidak tahu bagaimana caranya menghidupkan apa yang hampir mati. Saya mungkin tak terlalu berbakat untuk yang satu ini. Tidak berbakat untuk inisiasi.

Saya pikir, begitulah memang realita relasi sosial. Pilihannya hanyalah siapa meninggalkan siapa lebih dulu, sebelum keduanya saling meninggalkan satu sama lain. Tapi semoga saya tidak terlalu egois untuk berharap bahwa ada orang-orang yang sungguh baik dan setia, yang tidak akan pernah meninggalkan kita dan tidak akan pernah kita tinggalkan. Semoga harapan ini tidak terlalu muluk, dan tidak sia-sia.



Saya yakin, ada. Sudah ada dan tetap akan ada.

Sunday, 19 February 2017

BETWEEN CALLING & SELF-AMBITION



Some time later, God tested Abraham’s faith. “Abraham!” God called.
“Yes,” he replied. “Here I am.”
“Take your son, your only son—yes, Isaac, whom you love so much—and go to the land of Moriah. Go and sacrifice him as a burnt offering on one of the mountains, which I will show you.”

                                                                           —Genesis 22:1-3 NLT

Panggilan adalah pemberian. Kita melalui sebuah perjalanan untuk menemukan. Panggilan itu bisa lahir setelah passion yang menggebu-gebu sejak lama di dalam hati sehingga sangat disyukuri, tapi juga bisa menjadi beban bagi diri. Manusiawi. Kita kadang tidak mengingini apa yang Tuhan ingini. Sampai kita tiba di titik berpasrah diri dan belajar mengikuti, belajar mencintai.

Entah dengan senang atau dengan beban cerita panggilan itu diawali, panggilan itu akhirnya menjadi bagian dari kehidupan yang dijalani. Yang diingini. Yang dikasihi. Yang dijaga dan dilindungi. Yang dipercayai sebagai anugerah Ilahi. Yang diupayakan dan diperjuangkan. Supaya menjadi sesuatu yang berarti bagi sang pemberi. Namun hidup dengan panggilan itu, tanpa keintiman relasi dengan sang pemberi yang tetap kuat terkoneksi, kita bisa hanyut. Panggilan bisa berubah menjadi ambisi, bukan lagi sesuatu yang kita lakukan demi sang pemberi—tetapi demi diri sendiri. Semacam pembuktian eksistensi.

Bagaimana jika ternyata panggilan yang sebenarnya didapati daripada-Nya itu telah menjadi ambisi pribadi? Ambisi yang telah menjadi Ishak kita yang sangat berharga—whom we love so much? Ambisi yang bahkan sulit dilepas sehingga kita perlu ditantang untuk menyembelihnya di atas mezbah, kembali pada sang pemberi?

Kadangkala, kita bahkan tidak menyadari bahwa panggilan telah menjadi ambisi. Sebaik, semulia, sesosial, serohani apapun tampaknya panggilan itu, ketika pusat pencapaian panggilan telah bergeser, dari Tuhan ke diri sendiri, panggilan sekejap dapat berubah menjadi ambisi.

Perulangan pertanyaan dibutuhkan kemudian. Apakah panggilan ternyata telah menjadi sumber kebanggaan diri? Apakah panggilan telah banyak kali mendorong kita untuk meninggikan diri sendiri, meski kadang tersembunyi? Apakah panggilan membuat kita lupa diri? Apakah panggilan tidak lagi mengingatkan kita pada siapa yang memberi? Dan yang kita kejar untuk mewujud-nyatakan panggilan itu—apakah isi hati sang pemberi atau justru kepuasan diri sendiri? Apa yang kita kejar dalam panggilan—ketaatankah, atau ketenaran?

Apakah kita siap untuk dipandang sebelah mata karena panggilan kita tak tampak brilian atau prestisius dalam pandangan manusia? Apakah kita siap disepele jika ternyata tak banyak bisa memahami apa yang kita kerjakan dalam panggilan dan memang panggilan tak berjalan semulus yang diprediksi? Apakah kita berpikir panggilan kita harus menghasilkan sesuatu yang besar yang bisa mendampaki dunia, sampai lupa bertanya rencana sang pemberi atas bagian kita? Apakah kita dapat menerima dan tidak kecewa jika panggilan kita terealisasi hanya dalam bentuk yang paling sederhana dan tak melahirkan hal yang luar biasa, tak sesuai ekpektasi sama sekali? Apakah kita dapat tidak mempermasalahkan jika panggilan kita terasa tak signifikan bahkan bagi diri sendiri? Apakah kita bisa legowo bahkan jika panggilan itu hanya perlu diketahui berdua antara kita dan sang pemberi, tanpa perlu dipublikasi kesana-sini?

Apakah panggilan membuat kita membanding-bandingkan diri? Apakah panggilan membuat kita merasa gagal dan tidak berarti hanya karena kita belum mencapai target yang kita tetapkan sendiri? Apakah panggilan akhirnya  lebih membuat kita merasa kecil daripada merasa bersyukur pada sang pemberi? Apakah kita mengukur kesuksesan panggilan lebih dengan indikator manusiawi, daripada dengan kehendak sang pemberi?

Apakah panggilan itu kita sayangi terlalu sepenuh hati, sampai kita tidak rela jika harus merebahkannya di atas mezbah dan mengembalikannya kepada sang pemberi? Lalu apa-siapa yang menjadi lebih berarti? Pemberian atau sang pemberi? Panggilan atau Tuhan sumber panggilan?

Tidak ada yang salah dengan panggilan itu. Panggilan, selama berasal dari hati Tuhan, kita percaya tentu akan baik adanya. Hanya saja, kita yang kadangkala lupa, kemudian menjadikan panggilan itu lebih berarti daripada yang seharusnya. Kita selip, kita hanyut dalam hasrat manusiawi. Mempertuhankan yang bukan tuhan. Tapi kita butuh kembali. Saat itulah, sebagaimana sang pemberi meminta pada Abraham untuk mengorbankan Ishak di atas mezbah, sang pemberi mungkin akan meminta pula hal yang sama kepada kita. Go and sacrifice it.

Seandainya panggilan telah menjadi lebih penting daripada sang pemberi. Go and sacrifice it. Seandainya panggilan telah menjadi ambisi daripada ketaatan hati. Go and sacrifice it. Seandainya, panggilan telah membuat kita lebih dekat kepada kejatuhan diri daripada Tuhan yang dipuji. Go and sacrifice it. Seandainya pun, panggilan itu tampak serohani menjadi pendeta atau biarawati, jika itu telah kehilangan fokus tujuan dan esensi karena lebih pada pencapaian diri sendiri. Go and sacrifice it.

Sebagaimana kisah Abraham, kita tahu, ujian yang diberikan sebenarnya bukan benar-benar bermaksud untuk mengambil Ishak kita, panggilan kita. Panggilan telah diberi menjadi tugas yang harus diselesaikan dan digenapi. Ujian yang terjadi dan dialami lebih menuntun kita untuk memurnikan hati. Bahwa panggilan adalah sebuah anugerah, bukan ambisi. Bahwa panggilan adalah bentuk ketaatan, bukan pencapaian pribadi. Bahwa panggilan bertujuan untuk dikembalikan demi nama sang pemberi, bukan untuk disemat di nama diri sendiri.

Kiranya setiap hati rela pergi merebahkan Ishak-nya di atas mezbah ketika Tuhan pinta, ketika ujian itu tiba. Kiranya setiap hati mengasihi sang pemberi, lebih dari apa yang diberikan sang pemberi. Kiranya panggilan setiap hati tetap murni, tanpa berubah menjadi ambisi.



p.s. :
Cikarang, Februari 2017. Sebuah perenungan panjang, dalam minggu penghujan.

Friday, 17 February 2017

CALLED TO LOVE


“Oh no. I haven't been called to serve the poor.
My calling is to pour out my love on Jesus. It just so 
happens that I find Him among the poor.

There are no great things to accomplish in this world,
only small things done with great love.”




—Mother Teresa

P.S. : A reminder to self. To not lose the focus.