Wednesday, 17 December 2014

IPA, BIBIR SUMBING & SEBUAH BONEKA



Cikarang, December 17, 2014


Ini liputan operasi bibir sumbing massal keduaku. Setelah liputan pertama, yang sangat menyentuh—beberapa bulan lalu. Kali ini, cerita-cerita realita yang kudapat juga mematahkan hati. Aku tidak menyangka, dengan acak, Tuhan mempertemukanku dengan seorang adik perempuan ini. Sudah 8 bulan aku bekerja di kantor ini dan di kantor inilah aku baru tahu banyak mengenai bibir sumbing. Kelainan bawaan sejak lahir ini ternyata banyak diderita keluarga kaum menengah bawah. Biasanya pasien operasi massal bibir sumbing dari kantorku adalah anak-anak. Masih berusia beberapa bulan, bahkan. Dan tinggalnya jauh di pinggir kota, atau bahkan pedesaan. Meskipun sebutannya daerah Bekasi atau Bogor—jangan kira mereka tinggal di area yang mudah dijangkau. Justru sangat sulit. Di daerah pinggiran, yang jarang dikenal orang.

Dari liputan lapangan (biasanya hasil liputan hanya untuk report internal ke para mitra yang memberikan bantuan operasi atau testimoni di media kantor), aku baru tahu kalau bagi penderita bibir sumbing, koyak di bibirnya ternyata bisa separah itu. Selama ini, aku memang jarang bertemu dengan penderita bibir sumbing—sebelum aku kerja di kantor ini. Aku baru tahu, kalau bibir yang tidak terbelah sempurna itu bisa koyak sampai hidung, membuat celah yang sangat tidak estetik bagi wajah. Ada bolong yang memperlihatkan gigi dengan tidak normal. Belum lagi, ada dua jenis kelainan bawaan bibir sumbing. Pertama, secara medis disebut “labio”—yaitu kelainan bibir sumbing yang sebatas di bibir depan yang tidak terbentuk dengan sempurna. Kedua, secara medis disebut dengan “labio palato”—yaitu kelainan bibir sumbing yang tidak hanya mengenai bagian bibir yang terbentuk dengan tidak sempurna—tetapi di langit-langit mulut si penderita juga terdapat celah bolong sampai ke hidung. Dan ini sangat menyiksa. Setiap pasien anak penderita bibir sumbing yang ku jumpai di lapangan, ibunya pasti mengeluh (atau bahkan menangis) karena langit-langit yang bolong menyebabkan seringnya anak tersedak atau makanan dan minuman keluar lagi dari hidungnya. Perlu cara khusus, yang lebih hati-hati, untuk memberi makan pada anak penderita labio-palato.

Selain masalah kesusahan makan atau minum, penderita bibir sumbing kebanyakan mengalami penghinaan dari orang-orang di sekelilingnya. Misalkan, para tetangga atau masyarakat sekitar tempat tinggal, atau orang yang ditemui di jalan. Mereka tidak kepingin melihat wajahnya karena tidak sempurna. Atau malah yang sibuk menghakimi dan menghina ketidaksempurnaan yang sebenarnya, tidak diinginkan juga oleh penderita bibir sumbing. Siapa yang bisa memilih lahir dengan kekurangan atau dengan sempurna? Beberapa malah lebih parah dari itu—mereka mengalami penolakan dari keluarga. Dari ibu yang melahirkan, atau dari ayah yang seharusnya menjagai dan mengayomi.

Seperti itu juga salah seorang adik yang kutemui dalam liputan sabtu lalu. Sebut saja namanya Ipa. Ipa ini gadis kecil berusia 3 tahun yang tinggal di salah satu desa di daerah Jawa Barat (aku teringat adik perempuan, adik asuhku di pedalaman Kalimantan juga ketika melihat Ipa, ia berusia lebih tua 2 tahun). Ipa menderita kelainan bibir sumbing labio, jadi hanya bibirnya yang tidak sempurna, tetapi tidak ada celah bolong di langit-langitnya. Ia menjalani operasi hanya didampingi oleh kakeknya yang sudah tua—padahal kakeknya juga memiliki sedikit gangguan pendengaran dan baru saja sebulan lalu dioperasi hernia dengan bantuan kantor saya juga. Seharusnya ia tidak boleh capek-capek dulu, apalagi mengangkat yang berat-berat—termasuk menggendong cucunya. Tapi mereka tidak punya pilihan. Ibunya tidak bisa mendampingi karena sedang hamil 6 bulan, dari suami yang kedua. Suami yang pertama, ayahnya Ipa, menceraikan ibunya Ipa tepat setelah satu bulan kelahiran Ipa ke muka bumi. Ayahnya tidak terima anak keduanya itu lahir dengan bibir sumbing. Padahal, ayahnya Ipa itu juga menderita bibir sumbing—bahkan lebih parah karena labio-palato (langit-langitnya juga ada celah bolong). Miris. Ayahnya tidak mau menerima anaknya yang menderita penderitaan yang sama seperti yang dideritanya.

Aku sangat menyayangi Ipa sejak pertama kali mengetahui kisahnya. Bagiku, Ipa adalah korban. Korban dari kasih sayang orang tua yang tidak sesungguh-sungguh kasih sayang Tuhan. Padahal, kelainan bibir sumbing itu masih bisa diatasi, disembuhkan, melalui operasi. Aku bisa memahami kemungkinan mereka memang tidak mampu membiayai operasi mandiri karena latar belakang sosial ekonomi prasejahtera. Tetapi, orang tuanya masih bisa mencari banyak operasi gratis bibir sumbing yang diberikan CSR perusahaan atau lembaga-lembaga social charity kan?

Ipa tidak membawa boneka apapun selama berhari-hari di Cikarang untuk menjalani proses operasi. Bajunya juga tidak banyak berganti. Kakeknya memang sangat terbatas untuk mengasuhnya. Bersyukur ada nenek dari pasien lain yang bisa membagi waktu untuk menjagai dan mengemong Ipa. Bersyukur juga Ipa bisa dekat dengan nenek tersebut—karena kebanyakan anak penderita bibir sumbing sulit untuk dekat dengan orang asing. Rasa tertolak atau minder biasanya sangat lekat pada pribadi dan karakter mereka.

Ipa juga dekat denganku. Pertama kali aku mengajaknya main cas-casan. Karena tidak ada boneka, Ipa tidak membawa boneka. Mungkin ia tidak punya boneka. Akupun hanya bisa mengajaknya bermain permainan sesederhana cas-casan itu. Seperti puk ame ame. Saling menepukkan telapak tangan kami satu sama lain. Awalnya Ipa ragu-ragu. Sampai kakeknya ikut membantu. Dan akhirnya, aku bisa melihat senyuman khas anak kecil yang tulus dan polos tersungging di bibirnya yang tidak sempurna—tapi bagiku, Ipa tetaplah seorang adik perempuan yang cantik dalam ketidaksempurnaannya. Aku mengajaknya berjalan-jalan jika ia sudah mulai mau menangis karena haus atau lapar—memang setiap pasien anak yang akan operasi harus berpuasa lebih dahulu tanpa makan tanpa minum apapun sebelum operasi. Atau bermain cas-casan.

Ipa sudah kuanggap sebagai adikku sendiri. Aku malahan ingin mengadopsinya sebagai anak asuhku—jika mungkin, tapi tidak mungkin. Lagipula dia masih memiliki kakek dan ibu—yang dalam segala keterbatasannya pasti masih memiliki kepedulian terhadap Ipa. Aku bisa merasakan kebutuhan yang mendalam di dalam matanya yang merindukan sosok ayah dan ibu yang mencurahkannya kasih sayang sepenuh. Aku bisa merasakan ruang kosong dalam dirinya karena tidak pernah mengenal sosok ayah yang sebenarnya. Aku bisa merasakan betapa dia butuh diperhatikan, dianggap, disayangi—butuh mengalami bahwa dia adalah seorang anak perempuan yang bahagia.

Setelah pengaruh obat bius hilang setelah operasi, Ipa menjerit di kamar pasien di rumah sakit. Ia tidak bisa berhenti bergerak kesana-kemari. Ia kesakitan, aku tahu. Bagaimanapun, ini adalah pengalaman operasi pertamanya. Dia sangat ingin menyentuh bibir sumbingnya yang telah dioperasi—tapi itu tidak boleh terjadi. Itu bisa merusak jahitan dan menyebabkan infeksi. Kakeknya yang sudah tua tidak kuat menahan tubuhnya, sehingga nenek pasien lain—yang selama di rumah sakit membantu menjagai Ipa—juga ikut membantu menenangkan Ipa. Aku ikut panik. Itu bukan pengalaman pertama aku melihat pasien anak menjerit dan bergerak ke segala arah setelah pengaruh bius hilang setelah operasi. Itu biasa terjadi, dan memang wajar. Itu hanya sementara. Orang tua atau pihak medis harus bisa menghadapi, demi kesembuhan anak itu. Tapi, aku selalu tersentuh di setiap kali peristiwa itu terjadi. Aku ingin sekali membantu Ipa. Tapi aku juga tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku ingin sekali menunggui adik itu sampai tenang, tapi rekan setim sudah menelepon untuk segera pulang. Aku tidak punya pilihan. Aku meninggalkan Ipa dengan hati sedih, ia masih menjerit sambil menangis dan meronta-ronta di dalam pelukan kakeknya yang dibantu nenek pasien lain itu.

Pagi itu, ketika selesai berdoa di dalam kamar di rumah kosanku, aku mengingat Ipa. Aku mengingat kalau hari ini Ipa akan pulang. Itu artinya, hari ini mungkin juga menjadi hari terakhir aku bisa bertemu dengannya. Aku melirik boneka beruang kecil yang ada di atas buku di atas tempat tidurku, di sebelahku. Itu boneka yang sudah kusayangi, meski kubeli secara tidak sengaja sebulan lalu. Aku menjadikannya salah satu hiasan di kamar kosanku. Lalu aku teringat Ipa lagi. Aku teringat Ipa tidak membawa mainan apapun ke rumah sakit. Aku bertanya-tanya, apakah Ipa memiliki mainan? Apakah ia punya boneka? Tiba-tiba aku bertekad untuk membawa boneka beruang itu ke rumah sakit. Aku ingin menghadiahkannya kepada adik Ipa. Karena, tidak ada boneka lain yang bisa kuhadiahkan untuknya selain boneka itu. Membeli yang baru juga tidak mungkin di jam sepagi itu dengan jadwal liputan yang padat. Bersama kamera dan tas penuh peralatanku, aku membawa boneka itu hari itu. Lalu pergi ke rumah sakit.

Sayangnya, begitu aku sampai di rumah sakit, aku tidak bertemu Ipa dan kakek Ipa. Padahal, aku bertemu dengan banyak pasien lain yang sudah kukenal di lobby rumah sakit. Aku dan rekan setim media banyak berbincang dengan pasien-pasien lain, tetapi tidak juga menemukan Ipa dan kakeknya—atau bahkan nenek pasien lain yang selama ini senang menjagai Ipa. Aku bertanya-tanya sendiri, apakah aku terlambat. Apakah adik itu sudah pulang? Aku bertanya pada rekan yang lain apakah di kamar pasien masih ada pasien hari sabtu. Ia bilang, semua pasien hari sabtu sudah keluar dari kamar karena pasien baru untuk operasi hari minggu, hari itu, harus masuk kamar. Aku mendadak sedih. Ipa sudah pulang? Berarti ketika Ipa menjerit, menangis, dan meronta kesakitan setelah operasi itu adalah kali terakhir aku melihat Ipa?

Aku sudah nyaris menyerah sampai aku naik ke lantai atas rumah sakit, berjalan menuju kamar pasien. Di jalan, aku bertemu kakek Ipa, sedang berjalan berlawanan arah denganku—kakek sudah menenteng banyak barang dan tas, bersiap untuk pulang. Dan ipa ada di dalam gendongannya, yang ditahan selilit kain batik biasa. Aku tidak bisa menahan rasa senangku ketika bertemu dengan mereka. Segera kusapa dan kuberikan boneka beruang kecil itu pada Ipa. Ipa mengambilnya dengan lembut, tanpa kata-kata apapun. Ia melihat ke dalam mataku—aku menyadari adik Ipa kembali menjadi pendiam setelah operasi. Aku mengajaknya main cas-casan lagi. Ia mulai ingat padaku. Kakek ikut tersenyum pada Ipa. “Wah, Ipa dapat boneka. Terima kasih,” kata kakek.




Dan itu kali terakhir aku melihat Ipa. Sampai hari ini.
Ia sudah pulang. Kembali ke keluarganya. Ke rumahnya. Ke desanya.
Aku berharap bekas jahitan operasi Ipa cepat kering dan ibunya bisa telaten mengurus perawatan hasil jahitan operasinya. Kesalahan perawatan atau ketidakbersihan sebelum bekas jahitan kering bisa mengacaukan semuanya. Jahitan bisa sobek dan bentuk bibir pasien anak bisa kembali ke bentuk semula, kembali sumbing. Bahkan lebih parah.

Aku berdoa untuk Ipa. Berdoa agar dia bertumbuh menjadi perempuan yang tangguh.
Perempuan yang yakin dirinya cantik, dan tidak minder. Perempuan yang mengetahui-mengamini-dan-mengalami, bahwa satu-satunya cinta dan kasih sayang yang ia butuhkan ada pada diri Tuhan Yang Maha Kasih. Tuhan tidak pernah salah merancang atau menciptakan. Ada sebuah maksud di balik kelainan bawaan lahir itu. Lagipula, sekarang Ipa sudah sembuh. Sekalipun ayah ibu atau keluarganya tidak mencintainya, Tuhan selalu mencintainya. Tetap mencintainya. Dan terus mencintainya.

 
 

p.s. :
  

Untuk Ipa, meski Ipa tidak bisa membaca ini.
Tapi doa-doaku, semoga Tuhan mendengarkannya untukmu, adik kecil.

Thursday, 27 November 2014

BALI, 2.5 TAHUN LALU


prayer time in our centrin bali team

Pagi ini, ketika aku tak sengaja melihat-lihat postingan-postingan lama di wall facebook-ku sendiri, aku menemukan foto ini. Dalam sebuah album milik seorang kakak staf yang bertugas sebagai fotografer dan seksi dokumentasi saat itu—dia men-tag foto-foto yang diambilnya ke semua kami yang dikenalnya. Aku baru sadar foto-foto itu ada disana. Di wall facebook-ku sendiri. Sudah lebih dari satu tahun, atau dua tahun ini? Ah, yang jelas, momentum itu sendiri—student congress III bali—sudah lewat lebih dari dua setengah tahun yang lalu. Aku masih ingat. Agustus 2012, di sebuah hotel berbintang di pulau bali. Dari sekian foto yang mengabadikan kebersamaan tim kami disana—tim central indonesia atau yang lebih akrab kami singkat menjadi “centrin” bali—satu foto ini membuatku tersentuh. Amat tersentuh. Momentum yang terekam dan terabadikan dalam foto ini sendiri merupakan momentum paling berkesan bagiku di acara itu, di bali. Ketika kami bersebelas orang bersehati untuk berdoa. Saling berpegangan tangan mensimbolisasi satu kesatuan dan kesepakatan. Dengan hati sungguh dan semangat sepenuh. Berbicara kepada Tuhan Yang Agung itu, memohonkan hal yang sama, dalam waktu yang sama. Aku tidak menyangka momentum ini ternyata terabadikan oleh kamera kakak staf itu. Pagi ini, ketika bisa melihat foto dan momentum ini lagi, aku bersyukur. Rasanya seperti nostalgia ke bali, dua setengah tahun yang lalu. Bersama tim centrin bali.* 

Wednesday, 26 November 2014

SEBATANG POHON DI MUSIM GUGURNYA



Seperti sebuah pohon yang tinggal ranting dan cabang tanpa daun sama sekali di pinggir jalan raya atau jalan tol. Pernahkah kau melihat dan pernahkah kau menyadarinya? Kadangkala, di deretan pepohonan yang ditanam di pinggir jalan itu, di musim kemarau, ada satu pohon—satu saja—yang semua daunnya gugur sendiri. Sementara banyak pohon lain di deretan itu masih hidup dan berdiri dengan cabang dan ranting yang penuh lebat dengan dedaunan hijau segar. Tapi pohon yang gugur itu, tak berdaun, dalam kondisi seperti itupun—tetap hidup. Itu adalah musim yang harus dialaminya. Musim gugur. Meski yang lain tak harus mengalami seperti yang ia harus alami.

Baru kemarin, sepulang liputan bakti sosial, dengan kondisi fisik dan kondisi hati yang tidak keruan karena kurang sehat—saya hanya duduk di kursi mobil elf kantor paling belakang di sebelah jendela, memandangi jalan tol di sebelah kanan saya. Memandangi pepohonan di seberang jalan, yang berderet menghijaukan kegersangan hari siang yang terik di daerah ibukota. Lalu, saya menemukan pohon itu. Yang seperti telanjang tanpa baju, karena tak berdaun. Hanya sendirian, sendirian menjalani musim gugurnya—pepohonan lain tidak. Pepohonan lain tetap hijau dan tetap bersemi. Setiap pohon memiliki musimnya masing-masing. Ya, setiap orang juga. Setiap orang memiliki musimnya masing-masing.

Saya mendadak tersentuh menyadari pohon yang sedang mengalami musim gugurnya itu. Saya ingat pelajaran biologi ketika kelas ilmu pengetahuan alam waktu sekolah dulu. Memang beberapa jenis pohon harus mengalami musim gugurnya secara rutin, dimana ketika musim itu datang menghampirinya, ia harus rela melepaskan semua daun-daunnya dan bertahan hidup tanpa satupun daun yang masih melekat di rantingnya. Itulah musim. Sesuatu yang sudah diatur untuk dijalani.

Lama saya memandangi pohon yang sendirian itu menjalani musim gugurnya sampai mobil elf kantor saya terus berlalu dan melaju. Kenapa saya tersentuh? Saya merenungi bahwa kadang, manusia juga seperti itu. Betapa kuat si pohon yang melalui musim gugurnya sendirian, padahal di sekitarnya, semua pohon masih tampak hijau dan tampak segar. Meski begitu, tak satupun pohon hijau dan segar itu yang sanggup membantu si pohon gugur untuk tetap bertahan hidup. Saya prihatin dan kagum secara bersamaan. Dan juga ingin melihat, saat dimana pohon yang kuat dan berani untuk menghadapi musim gugurnya sendirian itu, mulai kembali mempersilahkan pucuk-pucuk daun hijaunya bertumbuh. Saya ingin sekali melihat kali pertama ia memasuki musim semi, kali pertama dimana pucuk daun mulai kembali bertumbuh. Melihat daun pertama. Melihat ranting pertama yang kembali benar-benar menghidupkannya.

Kadang kita juga seperti itu. Hidup kelihatan terlalu kejam dan gersang hanya untuk diri kita sendiri, dan kita harus melalui musim gugur kehidupan kita sendirian. Dalam kondisi sulit itu bahkan, kita harus bertahan, meski di sekeliling kita, semua orang kelihatan tidak tampak gersang dan tidak tampak kesulitan karena tidak harus mengalami musim gugur seperti yang kita alami. Musim gugur, musim dimana daun-daun hijau kita, segala hal-hal yang tampak baik mulai gugur. Harus gugur. Justru untuk membuat kita bisa bertahan hidup jauh lebih lama. Mempertahankan hal-hal baik itu ternyata bisa membunuh kita jauh lebih cepat, sebagaimana sebuah pohon harus mengugurkan dedaunan hijaunya di musim gugur agar ia tidak perlu berjuang memberi mereka sari makanan yang akan menguras tenaga mereka jauh lebih cepat.

Kadang kita juga seperti itu. Sendirian dan berguguran. Tapi tidak mati. Kita masih hidup, kita tetap hidup. Kita hanya sedang diuji untuk memasuki musim yang lebih baik dan lebih menjanjikan di masa depan. Asal kita menang, asal kita menang. Asal kita bertahan. Bertahan.



Dan itulah harapanku,

Agar pohon itu bisa terus bertahan di musim gugurnya. Sama seperti aku berharap untuk diriku sendiri.
Atau untuk siapapun, yang kesusahan bertahan sendirian, di tengah musim gugurnya.



Cikarang, Jawa Barat, 26 November 2014.*

Tuesday, 4 November 2014

(KEMBALI KE) KALIMANTAN



Akhir-akhir ini saya merenungi kalau, hidup saya diwarnai dan dicerahkan oleh semangat belajar mengenal suku dayak dan saya sangat excited untuk anugerah Tuhan ini :") mulai dari kunjungan ke kalimantan bersama tim tengkuyung (dari TMAJ) dan tim PSD agustus lalu. Lalu Tuhan memilihkan anak asuh dari WVI yang ternyata berasal dari suku dayak di daerah Sekadau, pedalaman Kalimantan Barat. Lalu kenal sama rekan sekantor, satu bapak dan satu kakak perempuan, yang ternyata orang dayak perantauan. Dan akhirnya, menemukan sebuah buku novel sosial-budaya mengenai adat suku dayak karangan Korrie Layun Rampan ini (sastrawan asal Samarinda, kelahiran 1953) baru sabtu kemarin, di Gramedia. Kebetulan-kebetulan yang pasti-bukan-kebetulan, di dalam tangan Tuhan, yang menyenangkan :"D Makin merasa yakin, bahwa Pulau Kalimantan dan Suku Dayak itu istimewa di dalam rencana Tuhan :) #facebookrepost