Saturday, 28 December 2013

KALEIDOSKOP 2013


Jadi, akan kusebut seperti apa tahun ini? Apakah benar-benar sudah menjadi tahun yang istimewa? Aku tidak tahu. Yang jelas, rasanya tahun ini tidak semenyenangkan tahun-tahun sebelumnya, kadang kurasa. Apalagi statusku bukan lagi mahasiswa. Resmi menjadi alumni. Hanya saja, belum resmi memasuki dunia kerja yang sibuk, antah-berantah. Untuk suatu alasan, akhirnya aku menunda untuk benar-benar memulai memasuki dunia kerja. Sebagai gantinya, malah ikut ini-itu dulu (pengalaman yang mungkin tak lagi bisa kudapat setelah "sibuk" bekerja) dan liburan. Setelah tiga setengah tahun lamanya memacu otak untuk bekerja (mungkin, terlalu) keras. Jadi, inilah! Cerita 2013-ku.

Januari
Awal tahun ini dimulai dengan perjuangan sidang skripsi. Setelah bekerja sekeras-kerasnya sepanjang semester 7, akhirnya skripsi selesai di januari! Di awal tahun ini juga, setelah sidang, jakarta terkena musibah banjir yang merendam banyak tempat. Banjir ini, bahkan, menelan korban jiwa. Di banjir jakarta ini, pengalaman pertamaku, benar-benar menjadi social-volunteer untuk korban banjir, bergabung dengan sebuah lembaga yang ikut membantu di daerah jakarta-utara.

setelah sidang yuli-putri bersama teman-teman sosiologi 2009: ged. koentjaraningrat ;)

Februari
Setelah sidang, ternyata belum selesai. Revisian adalah hal mutlak prasyarat ikut wisuda dan benar-benar lulus. Pada akhirnya, awal bulan februari ini, wisuda juga :") Bersama teman-teman sosiologi 2009 yang seperjuangan semenjak masa ngumpulin draft research design di akhir semester 5: putri, dhira, dan dhea. Di bulan ini juga, ada Live In Maker ke daerah puncak 3 hari 2 malam. Dan, dua adik AKK-ku ulang tahun ke-19, dear ade febrina & clara :")

tim-ku di live in maker 2013: ada yuli, ito jo nainggolan, yudha, debby, bebel, christie, kezia, dan elvi dari FIK UI sendiri (yang lain FISIP semua) haha :3
happy graduation dear friends: dhira, putri, dhea, yuli ;)

Maret
Setelah wisuda, dan ikut beberapa acara di bulan februari, akhirnya aku memutuskan untuk "menebus" libur pulang ke rumah yang tertunda, dari tahun 2011 karena perihal skripsi-sidang. Pulangg ke medan! Libur! Ketemu & jalan bareng sahabat-sahabatku di cj8 lagi, pas bertepatan dengan ulang tahun cidhu bulan ini! Happy birthday, dear sob! Bulan ini juga, setelah balik lagi dari medan, aku resmi pindahan dari kosan selama mahasiswa 3,5 tahun yang gak pernah pindah. Betah. Paling pindah kamar. Pondok Cempaka, maybe i'll miss you. Tapi aku tetap domisili di rumah keluarga di depok, dan seminggu pertama tinggal bareng ayahku, have a quality time together! :") Oh ya, ketika di medan, sahabatku angel juga tiba-tiba mengejutkan dengan memberikan kado wisuda yang tertunda, istimewa! Thankies, sobat!

sebelah kiri: cidhu & kue tart-nya. atas kanan: cj8 kurang tiga personil (cidhu, angel, thari, oni, yuli). bawah kanan: ini bukan penganiayaan, akibat surprising-nya dadakan di kampus USU & tak sedia sendok, pisau digunakan sebagai penggantinya :P

April
Bulan ini aku akhirnya mendoakan pergumulan untuk ikut melayani lagi dalam tim regenerasi PKK PO FISIP UI 2013. Jawabannya, ya. Dan, jadilah mulai bulan ini, tim kami lengkap berlima. Jadilah mulai bulan ini, aku berjuang untuk regenerasi bersama tim reg lainnya. Bulan ini juga, aku memulai untuk bergabung di sebuah NGO yang mengurusi anak-anak jalanan dan anak-anak marginal, mengambil bagian di SA-Grogol. Ya, Sahabat Anak, namanya. You can visit them here: www.sahabatanak.org ;) Aku belajar banyaaak soal kemiskinan di SA & di Grogol. Melihat dilemma juga soal bagaimana adik-adik binaan kami dan orang tuanya tidur di kolong jembatan Grogol, ketika di dekat situ sedang dibangun sebuah apartemen besar. Miris ya? :"(

tim reg PKK PO FISIP UI 2013 (kiri ke kanan): sania, nana, rut, niar, yuli ;)

Mei
Bulan mei aku kembali pulang lagi ke medan untuk sebuah urusan surat-surat, penting. Kembali jalan dan liburan lagi bareng sahabat-sahabatku. Pas, bertepatan dengan ulang tahun utari :") Ingat, ketika kami mengambil sesi lady in waiting discussion di jedar (tempat makan milik jessica iscandar di dekat kampus USU, ada yang tahu?). Sebelum balik ke depok, aku dapat lagi, hadiah wisuda dari cj8! Ah, so thankful :")

kiri atas: hadiah mini wisuda dari dear cj8. kanan bawah: lady in waiting discussion at jedar medan.

Juni
Yang paling istimewa di bulan ini adalah karena aku bisa ketemu lagi dengan seorang sahabatku yang sudah tak bertemu nyaris 4 tahun lamanya, olind! Olind kuliah di atmajaya, dekat grogol, jadi sepulang dari Sahabat Anak, kami janjian ketemu di salah satu mall dekat situ. Bulan ini juga, adik-adik binaan PAUD Sahabat Anak Grogol, merayakan kelulusan! Congraduation! Selamat melanjutkan cita-cita, adik-adik. Will miss you sooo <3 br="">

Berhubung tidak ada yang bisa dimintai tolong, harus foto seperti ini >.<
kiri: langit pagi di depan rumah di kota depok :* kanan: graduation day adik-adik PAUD SA-Grogol, lihat topi wisuda yang sangat sederhana buatan sendiri. meski begitu, mereka senaaang sekali memakainya :"

Juli
Bulan paling sibuk, paling ramai, paling padat, dan paling menyenangkan di tahun ini :") Pertama, karena di tanggal 18, usiaku bertambah satu tahun lagi. Kedua, karena satu hari setelahnya, adik semata wayangku datang ke depok. Ya, hadiah utama untuk ulang tahunku tahun ini, adalah kelulusan adikku di FT UI! Congrats & welcome, adik andre! Ketiga, bulan ini juga aku berangkat ke Lembang-Bandung bersama teman-teman maker, untuk acara explo 2013. Tuan rumahnya teman-teman sepelayanan dari ITB (dibantu UNPAD & kampus-katalitik-bandung). Disini, ketemu banyaaak kenalan baru :) Kami, tim central indonesia dari SC Bali 2012 lalu, kembali berkumpul dan melayani bersama juga dalam sesi AM I-II di explo ini. Sayang, tidak sebelas-sebelasnya yang bisa ikut :") Keempat, akhirnya regenerasi kami sampai di tahap retreat PKK-baru di rumah Drg. Andrea, yang mirip villa mini, di daerah Sawangan-Depok. Malam pengutusan, terharu-biru dalam sesi basuh-kaki para PKK-baru oleh kami, tim reg. Wah, will miss this moment :") Kelima, memberi surprise & mendapat surprise untuk usia yang baru! Untuk ka jenny & dari klara puspita (+rosi)! Thankyou, sisters!

explo-lembang 2013. kiri: bersama brother raymond. kanan atas: delegasi maker. kanan bawah: tim diskusi AM 1-ku yang berasal dari berbagai wilayah & kampus se-indonesia :")
Kiri atas: surprising ka jenny bersama teman-teman tim reg, di kediaman baruku :*) kiri bawah: dapat kejutan di usia 22 oleh klara & rosi. kanan atas: tim advanced retreat PKK PO FISIP UI 2013 yang berangkat duluan untuk beberes & masak-masak, sambil curcol rohani tengah malam, haha (reinhard, christie, niar, & yuli). kanan bawah: tim reg & tim inti PO FISIP UI 2013 (sayangnya, kurang yohana & nana yang tak bisa ikut retreat).

Agustus
Adikku andre, ulang tahun bulan ini, tanggal 16. Tepat satu hari sebelum hari kemerdekaan Indonesia. Tepat tengah malam, aku mengejutkannya dengan sebuah pesta kecil-kecilan, berdua doang di rumah. Quality time with little brother :P Sociology-brother-ku, Roy Obet, juga ulang tahun bulan ini. Setelah doa semalaman maker bulan agustus, kami merayakannya kecil-kecilan. Selamat ulang tahun, brother roy! Semoga semakin semangat mengejar panggilanmuuu :)) Bulan ini juga, masih ikut membantu-melayani teman-teman panitia lokal dan pusat PO FISIP UI dan PO UI untuk penyambutan maba kristen 2013. Another sweet chance to serve Him :)

happy birthday 18th, adik andre!
happy birthday, brother roy! foto bawah: (aba-aba posenya) tunjuk yang ulang tahun!

September
Bulan ini, yang paling istimewa adalah karena aku akhirnya kembali balik lagi ke Sumatera Utara, tapi kali ini untuk ikut tim Komunitas Batak Diaspora (KBD), melayani lagi di daerah Tanah Batak, Balige :") Kami mengadakan pengobatan gratis, kunjungan ke daerah agak pedalaman (gunung), ada KKR, dan pembinaan parhalado (majelis jemaat di gereja). Dalam misi ini, aku mengenal teman-teman baik yang baru, banyak sekali. Bersyukur bisa mengenal kalian, tim dokter misi dari FK Methodist-Medan, tim misi PMK, tim KBD, teman-teman STT-Trinity Parapat. Bersyukur juga bisa semakin mengenal suku Batak dan banyak hal soalnya. Bulan ini juga, mama dapat tugas di jakarta, jadi bisa quality time bertiga dengan mama-adik di depok ketika weekend tiba :") Terakhir, yang pasti, wisuda teman-teman 2009 lulusan 4 tahun. Congraduation! :")

ini hanya sebagian saja dari tim, selesai misi, akhirnya trip ke danau toba-pulau samosir dan menari tortor bersama :") tahu kan, sigale-gale? itu, boneka batak yang di belakang kami.
tour to museum batak balige, TB Silalahi Center, bersama tim dokter/medis ;)
tim bersiap berangkat ke parsabouran :")
bersama tim dokter (lagi): oh ya, senang bisa kenal-ketemu kakak dr. prima nainggolan (tengah), FK UI 2005, yang akhirnya mengabdi ke kampung halaman, menjadi dokter di RS HKBP Balige :") katanya kami kembar masa. Ya iyalah mirip, kan sama-sama borneng (boru nainggolan) :P
di bus, bersama teman-teman STT-Trinity yang sudah kelelahan sehabis pelayanan KKR-Siswa di Soposurung, yang masih siap gaya cuma aku, effendi, & mei aja sepertinya ya :P
quality time with mom & lil'brother :")
wisuda! kiri: bersama ony dengan background paling favorit untuk foto wisuda di UI, gedung rektorat! haha. kanan atas: congraduation my besties: citien, S.E. & geges, S.Sos! kiri bawah: congraduation, sania! kiri-kananku, ada ka ami & ka mitha 08 :")

Oktober
Farewell Party Halimah, yang akhirnya balik ke Malaysia! Will miss you so much, sister :" Pizza-Hut, lagi-lagi, menjadi tempat bersejarah penuh memori :") Bulan ini juga, adik-adik Sosiologi UI 2011 (dan 2010, 2012, bahkan 2013) menyiapkan acara Wisuda Lokal Sosiologi untuk angkatan kami 2009 di Cafe Alae, FISIP UI :") Sayang, gak semua teman-teman seangkatan 2009 bisa datang. Bulan ini juga, uda-ku (uda = adik ayah, red) satu-satunya, pulang ke surga. Mendadak, kami sekeluarga berangkat ke Cimahi-Bandung. Disana, akhirnya ketemu lagi dengan sepupu-sepupuku yang jarang ketemu. Ah, uda. You had finished the race of life, very well. Proud of you! Be happy with Jesus above! :")

Wislok Sosiologi Angkatan 2009. Kiri atas: semua teman-teman sosiologi 2009 yang datang, foto bersama lagi. kiri bawah & kanan bawah: masih dengan teman-teman sosiologi 2009. kanan atas: teman-teman panitia sosiologi 2011, membawakan persembahan lagu penutup.
keluarga besar termasuk para sepupu, di tempat peristirahatan tubuh jasmani uda putri :"
pizza-hut stories for halimah :")

November
Bulan november mulai "menyepi". Tapi aku mendapat sebuah awal pelayanan yang baru, lagi. Masih digumulkan. Tapi yang jelas, bulan ini, aku bersyukur untuk persekutuan yang terus berlanjut (meski hanya dalam grup whatsapp atau persekutuan doa sebulan sekali) dari tim misi PMK dari MT Balige KBD 2013 kemarin. Rata-rata sudah alumni, dari berbagai kampus di jabodetabek. A new family, welcome! <3 br=""> Oh ya, bulan ini juga, aku memulai untuk melanjutkan mimpi yang sempat tertunda bertahun-tahun lamanya. Semoga mimpinya bisa kugapai, tahun depan. Amin.

Tim misi PMK (ada juga tim KBD) ketika menunggu waktu check-in di bandara baru Sumatera Utara, Kualanamu International Airport, untuk pulang kembali ke jakarta. Sweet time together :*

Desember
Bulan ini, aku melanjutkan mimpiku lagi. Sedikit lagi, sepertinya akan selesai. Tanggal 12 lalu, akhirnya kesampaian untuk nonton film Soekarno di bioskop, yang baru rilis tanggal 11-12-13. Film-nya sangat bagus menurutku, bdw. Lalu, merayakan natal sendirian di kota depok. Bulan ini aku baru benar-benar berpikir (nyaris benar-benar) ingin kerja dimana. Dan, bulan ini juga, aku baru sadar, sepanjang tahun ini, telah membeli begitu banyak buku: dari novel, buku rohani, buku tentang masalah kemiskinan anak. Setidaknya, itu bisa disebut investasi kan ya? Daripada uangnya habis untuk hedon gak jelas, atau sekedar makan-makan toh? Ya. Anggap saja begitu. Sebuah investasi pengetahuan :P


Pada akhirnya, kaleidoskop ini ditulis, hanya untuk mengabadikan, apa yang baik, yang membuat 2013 lebih indah untuk diingat. Untuk dikenang. Untuk mengabadikan setiap momentum, yang istimewa adanya, meski mungkin, relasi-relasi dengan orang-orang di dalamnya belum tentu masih seistimewa itu. Tidak masalah, aku hanya ingin mengingat dan melakukan seperti apa yang dikatakan Miss Present, dalam sebuah film natal di SCTV yang ku tonton beberapa hari lalu:

"Jangan biarkan kenangan buruk merusak kenangan baik."

--Ms. Present
(Chasing Christmas, Film)



p.s. :
will say bye to you, 2013. see you soon, 2014.
H-4, then.

Sunday, 22 December 2013

LAGI, SEKALI LAGI


Benar kan, meski aku sudah jauh berlari,
meski aku sudah menutup kedua mata rapat-rapat,
meski aku sudah pergi seperti anak bungsu dari rumah ayahnya,
meski aku sudah menyerah untuk tetap mengejar-Nya,
aku sudah berhenti, dalam kelemahanku,
Dia takkan pernah!



Tertangkap, lagi.
Setelah sekian lama berlari, berpikir tak dicari lagi.
Bersyukur. Berhenti berkabung. Bersukacita.


p.s. :
Hillsong, "Heartbeats" (lyrics)

Love strung out I am found in the price You paid
I know that Your life is the blood running through my veins
My eyes fixed wide on the light of the cross again
I feel the weight drop in the wake of the empty grave

I want You, need You
I love You, Jesus
My heart beats forever
Just to know You
Let go and throw
My future into Your hands
Again

Heart beats loud to the sound of a different drum
Calling me out from the crowd to pursue the One

I want You, need You
I love You, Jesus
My heart beats forever
Just to know You
Let go and throw
My future into Your hands

I want You, need You
I love You, Jesus
My heart beats forever
Just to know You
Let go and throw
My future into Your hands
Again

Break me down till I soar on grace
Lead me on through the fire and rain
The rhythm of my heart beats wild
For Your endless praise
Every waking hour I will seek Your face

I want You, need You
I love You, Jesus
My heart beats forever
Just to know You
Let go and throw
My future into Your hands
Again (3x)


p.s. (lagi) :
akhirnya, aku memutuskan mengisi lagi lembaran-lembaran ini. kenapa harus berhenti?

Wednesday, 27 November 2013

FATHERLESS GENERATION


Seorang anak perempuan berumur 14 tahun diperkosa oleh ayah kandungnya sendiri, setelah ternyata lebih dulu dia sudah berkali-kali diperkosa oleh abang kandungnya sendiri, bahkan pemerkosaan oleh abangnya itu sudah dimulai semenjak ia masih duduk di bangku kelas 4 SD. Enam tahun lamanya, sudah. Waktu yang tidak singkat untuk sebuah pengalaman akan tindakan pelecehan seksual seperti itu, yang dilakukan berulang kali. Bahkan setelah enam tahun pelecehan seksual oleh abang kandungnya, ayah kandungnya, yang seharusnya sanggup membela-melindunginya malah justru semakin memperburuk keadaan dengan ikut-ikutan memperkosanya juga. Miris.

Lebih miris lagi, ketika diwawancarai, ayahnya berkata seperti ini, "ya, daripada 'jajan' di luar keluar uang, ya 'minta' aja sama anak, uangnya kan bisa buat kebutuhan keluarga." Pas dengar perkataan ayahnya itu, rasanya patah hati luar biasa membayangkan si adik perempuan itu, perasaan-pikiran-harga-diri-dan-kondisinya. Patah hati luar biasa juga menyadari mindset si ayah yang, sedemikian tega pada anak kandungnya sendiri.

Akhirnya, sang ibu hanya bisa menangis meraung-raung ketika mengetahui kabar buruk itu dan mengunjungi suami-anaknya yang sudah mendekam di penjara.

Berita ini kusaksikan sendiri dalam berita tengah malam di SCTV sekitar satu atau dua minggu yang lalu. Sungguh, tak sanggup memikirkan-membayangkan adik perempuan berusia 14 tahun itu, masih begitu muda, yang "dikorbankan" demi hasrat nafsu seksual kedua laki-laki yang seharusnya menjadi sosok laki-laki yang paling penting dalam hidupnya selain suaminya nanti: ayah kandungnya, dan abang kandungnya.

Adik perempuan itu: aku tak sanggup membayangkan bagaimana hancurnya hatinya, dirinya, hidupnya, dunianya karena kejadian itu. Tak sanggup membayangkan bagaimana traumatisnya dia, apalagi terhadap sosok laki-laki. Tak sanggup membayangkan bagaimana dia akhirnya memandang dirinya sendiri kemudian. Tak sanggup membayangkan bagaimana kepercayaannya terhadap orang-orang di sekelilingnya runtuh, dan hancur.

Pernahkah kalian membayangkannya? Punya ayah kandung dan abang kandung sekejam dan setega itu? Miris ceritanya :"( Dari dulu aku sebenarnya ingin punya abang kandung, karena aku anak sulung dan hanya punya seorang saudara kandung laki-laki, adikku. Tapi kalau abangnya seperti abang adik perempuan ini, aku tak yakin aku masih ingin punya abang kandung. Aku juga tak yakin kalau adik perempuan itu ingin punya abang jika sebelumnya sudah tahu abangnya malah menghancurkan keperawanannya, bukan melindungi keperawanannya. Ah, sedih. Menyadari betapa kacaunya institusi keluarga saat ini.



Sedih, karena adik perempuan ini kehilangan sosok ayah dan sosok abang, sosok laki-laki yang baik dan bertanggung-jawab dalam hidupnya. Ya, dalam tulisan ini, sebenarnya aku lebih ingin menyoroti soal masalah kehilangan sosok ayah. Sebuah kenyataan dari generasi kita ini, yang bisa disebut fatherless generation.

Fatherless generation adalah salah satu masalah serius yang harus ditangisi-didoakan-dan-diperjuangkan dari generasi kita: betapa begitu banyak anak-anak dan anak muda kehilangan sosok ayah dalam hidupnya. Kehilangan sosok ayah ini tak sekedar seperti kasus di atas, ketika ayahmu benar-benar melakukan suatu perbuatan sedemikian tega dan kejam padamu. Kehilangan sosok ayah juga terjadi ketika ayahmu benar-benar pergi darimu, mungkin yang paling banyak terjadi adalah ketika keluarga dilanda perceraian atau perselingkuhan. Kehilangan sosok ayah juga terjadi ketika ayahmu kurang memainkan perannya sebagai ayah dengan baik, meski ayahmu mungkin tidak kemana-mana (tidak pergi menghilang, atau bercerai). Tapi mungkin ayahmu terlalu cuek, diam, masa bodoh, sibuk, kasar, atau bahkan sampai KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) terhadap istri dan anaknya. Fatherless generation menunjuk pada generasi yang kehilangan gambaran tentang dan pengalaman dengan ayah yang baik dan ideal.

Permasalahan fatherless generation ini tentu saja mengkuatirkan, karena sosok ayah sebenarnya sosok yang penting dalam hidup seseorang. Dalam kekristenan pun, seorang anak yang kehilangan sosok seorang ayah duniawi juga terancam akan kehilangan gambaran mengenai sosok Ayah, Bapa Surgawi. Kekristenan memang menyebut Tuhan sebagai Allah Bapa Surgawi, untuk mengajarkan bahwa hubungan antara Tuhan dan manusia memang seharusnya sedekat itu, senatural itu, dan sehidup itu. Jika seorang anak tidak mengalami hubungan yang dekat dengan ayah duniawinya, bagaimana ia bisa membayangkan hubungan yang dekat dengan Bapa Surgawinya?

Tapi di beberapa kasus, justru Tuhan bekerja lebih tak terduga dan tak terselami. Karena ada juga anak-anak yang kehilangan sosok ayah duniawinya, ternyata bisa (mendapat anugerah) merasakan-memiliki sosok Bapa Surgawi itu. Pdm. Jeffry S. Tjandra, salah satunya. Jika kamu pernah mendengar lagu "Seperti Bapa Sayang Anaknya", ya itu lagu yang dinyanyikan oleh Pdm. Jeffry S. Tjandra, dan diciptakan oleh Julita Manik dari hasil perenungan dan pengalamannya sendiri: keduanya memang korban fatherless generation juga. Kesaksian hidup dari Pdm. Jeffry S. Tjandra bisa dilihat disini :)

Bapa, besar sungguh kasih setia-Mu
Nyata sungguh perlindungan-Mu
Tak satu kuasa mampu pisahkan
Aku dari kasih-Mu
      
Bapa, ajarku s'lalu hormati-Mu
      Ajarku kuturut perintah-Mu
      B'rikan ku hati, tuk menyembah-Mu

Dan bersyukur s'tiap waktu
 
Reff  :
S'perti Bapa sayang anaknya
Demikianlah Engkau mengasihiku
Kau jadikan biji mata-Mu
Kau berikan s'mua yang ada pada-Mu

     
    S'perti Bapa sayang anaknya
    Demikianlah Kau menuntun langkahku
    Hari depan, indah Kau beri
     Rancangan-Mu, yang terbaik bagiku 

Pdm. Jeffry S. Tjandra ini ditinggalkan begitu saja oleh ayahnya ketika masih kecil, karena ia berasal dari keluarga yang broken home. Jadilah dia besar hanya bersama ibu dan saudara-saudaranya, dengan kehilangan sosok ayah yang diimpikannya. Julita Manik juga kehilangan sosok ayah yang ideal, awalnya banyak kekecewaan yang ia dan saudara-saudaranya rasakan terhadap ayahnya.

Tapi seperti yang sudah kubilang tadi, Tuhan memang sangat baik, terkhusus kepada mereka. Keduanya mengalami kasih Bapa Surgawi yang membuatnya merasa puas, tak lagi menyesali nasibnya yang fatherless di dunia ini. Pdm. Jeffry S. Tjandra sanggup mengampuni ayah duniawinya, dan akhirnya dipakai Tuhan luar biasa untuk menolong orang-orang yang juga mengalami kepahitan dan kekosongan karena kehilangan sosok ayah duniawi. Karena diberi talenta dalam bidang musik, bisa menciptakan lagu dan menyanyi, Pdm. Jeffry S. Tjandra akhirnya melayani dengan talentanya itu sampai sekarang. Sedangkan ayah dari Julita Manik, setelah pergumulan dan doa yang begitu panjang dan setia, Tuhan mengubahkan ayahnya dalam pertobatan menjadi ciptaan yang baru: ayah yang kepadanya Tuhan berkenan.

Sekitar sebulanan lalu, Pdm. Jeffry S. Tjandra melayani di kebaktian minggu di gerejaku di depok. Ini sudah yang ketiga kali, jika aku tidak salah ingat, aku ikut dalam ibadah yang dilayani oleh Pdm. Jeffry S, Tjandra. Dan itu artinya, sudah tiga tahun berturut-turut, karena Pdm. Jeffry S. Tjandra hanya berkunjung untuk pelayanan sekali setahun ke gerejaku di depok itu. Dan, aku selalu merasa, i'm very blessed. Praise God :") Dia adalah salah satu korban dari permasalahan fatherless generation, yang berhasil mengubah masa lalunya menjadi berkat bagi orang lain, bukan menjadi kepahitan atau kenangan buruk yang hanya ingin dilupakan. Kenapa bisa?

Jawabannya hanya satu: ia mengalami kasih Bapa Surgawi yang sangat dalam, lebar, tinggi, luas itu; tak terukur. Memulihkan. Memenuhi. Menjadikannya, baru.



Aku berharap semua korban masalah fatherless generation juga dapat mengalami hal yang sama. Dan bisa menyanyikan lagu "Bapa, Sentuh Hatiku" dengan mendalam, tulus. Lagu yang dibawakan oleh Maria Shandy, dan pernah booming karena jadi soundtrack sebuah film di televisi. Nah, tahukah kalian? Kalau lagu ini ditulis berdasarkan kisah seorang korban fatherless generation juga? Ya, lagu ini ditulis oleh Jason Irwanto Chang, berdasarkan pengalaman hidup teman sekolahnya. Temannya itu, seorang perempuan, yang diperkosa oleh ayah kandungnya sendiri. Lagu ini kemudian ditulis Jason berdasarkan kisah temannya itu. Lagu ini ditujukan kepada Bapa Surgawi, yang begitu mengasihi kita bahkan ketika ayah duniawi kita mungkin kurang atau bahkan tidak mengasihi kita. Kasih Bapa Surgawi itu, selalu untuk kita: kekal.

Betapa ku mencintai / Segala yang t’lah terjadi
Tak pernah sendiri / Jalani hidup ini / Selalu menyertai
Betapa ku menyadari / Di dalam hidupku ini
Kau selalu memberi / Rancangan terbaik
Oleh karena kasih...

Reff :
Bapa.. sentuh hatiku
Ubah hidupku / Menjadi yang baru
Bagai... emas yang murni / Kau membentuk bejana hatiku
Bapa... ajarku mengerti
Sebuah kasih yang selalu memberi
Bagai air mengalir / Dan tiada pernah berhenti...


Aku sendiri, juga salah satu korban fatherless generation: dulunya, sebelum pemulihan besar-besaran terjadi dalam hidupku dan hidup keluargaku. Keluargaku baik-baik saja, tidak bercerai. Tapi relasiku dengan ayahku memang kurang baik. Ayahku tipikal yang agak cuek dan kurang perhatian, terhadap anak dan keluarganya. Ayahku tipikal sanguin yang suka bergaul, teman-temannya banyak. Jadi kadang terlalu sibuk di luar, reuni ini-itu, panitia acara ini-itu, ketemu teman lamanya yang ini-itu. Ayahku juga cenderung galak kalau marah. Entah pada mama, entah pada kami anak-anaknya. Pernah juga ayah dan ibuku berantem hebat, ketika aku mau UN SMP, dan nyaris keluar kata-kata "cerai" (meski sebenarnya secara kristen tidak bisa).

Ketika SMA, aku merasa kepahitan terhadap ayahku. Pengalaman-pengalaman yang kurang menyenangkan dalam karakternya yang terkalkulasi sempurna. Sedih saja rasanya ketika membanding-bandingkan dengan teman-temanku yang punya ayah superhero banget.

Tapi, kasih Bapa Surgawi melawatku ketika aku transisi dari kelas II SMA ke kelas III SMA, seiring dengan aku kenal Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat atas hidup dan hatiku pribadi (bukan atas hidup dan hati orang lain, yang kata pendeta lagi). Tiba-tiba saja rasanya lepas, lega. Aku bisa memaafkan siapa saja yang bersalah padaku seberat apapun, termasuk ayahku dalam perannya yang tak dijalankan maksimal tak sesuai dengan sosok ideal yang kuinginkan.

Kepulihan yang melandaku memang tak serta-merta melanda ayahku. Aku masih mendoakan ayahku agar relasi kami dipulihkan. Sampai ketika aku masuk kuliah dan merantau ke UI, pemulihan besar dari Tuhan Yesus melanda keluarga kami. Relasiku dengan ayahku dipulihkan total. Di tahun pertama kuliah, ayahku bisa telfon satu sampai dua kali, rutin setiap hari, meski dalam 1-3 menit saja, meski hanya menanyakan hal-hal yang kelihatannya sepele: kabarku, aku dimana, sudah makan, kuliah. Itu tak pernah terjadi sebelumnya. Ketika aku pulang ke medan, keluarga juga menjadi lebih hangat. Ayah dan ibuku, semakin mesra. Lawatan kasih Yesus dan jawaban doa yang luar biasa. Sampai hari ini, Tuhan masih terus mengerjakan pemulihan dalam keluarga kami. Aku bersyukur saat ini tidak hanya punya satu ayah yang luar biasa, tapi akhirnya punya dua ayah yang luar biasa! Bapaku di surga, dan ayahku di dunia saat ini. Bersyukur, banyak. Melimpah :) Itu cerita kesaksian pribadiku, apa ceritamu? Hehe :)

Sudahkah kamu merasakan dan mengalami betapa lebarnya, panjangnya, tingginya, dalamnya, luasnya, kasih kekal dari Bapa Surgawi itu? :)


p.s. :
(berikut, aku copy-kan tulisan mengenai kesaksian true story di balik lagu "Bapa Sentuh Hatiku" itu. Tulisan ini disadur dari website majalah Praise, visit them here ;)
Lagu ‘Sentuh Hatiku’ mempunyai cerita yang sungguh menyentuh hati kita semua. Lagu ini merupakan refleksi hidup yang diilhami oleh kisah seorang gadis, teman sekolah Jason, yang diperkosa ayah kandungnya sendiri hingga hamil. Gadis yang tidak mau disebutkan identitasnya ini awalnya tidak bisa mengampuni perbuatan ayah, meskipun dilakukan dengan tidak sengaja, karena saat itu ayahnya dalam kondisi mabuk berat. Tetapi apa yang dilakukan ayahnya tersebut telah menghancurkan masa depannya. Gadis tersebut sempat mau bunuh diri. Bahkan karena musibah yang menimpanya itu, kemudian gadis ini menjadi gila dan dipasung dengan rantai di rumahnya selama belasan tahun lamanya.
    Jason sering datang dan mendoakan sahabatnya itu sambil sesekali menulis lirik lagu. Waktupun berlalu. Jason pun pindah kota dan mulai sibuk dengan kegiatannya sendiri. Suatu ketika anak perempuan itu menelponnya dan ia sangat terkejut. Karena setahunya, anak perempuan itu gila dan juga dipasung. Mengapa bisa lepas bahkan menelponnya?
    Akhirnya anak perempuan itupun bercerita. Suatu hari, rantai yang membelenggu dia bertahun-tahun itu, entah karena sudah berkarat atau apa, tiba-tiba lepas. Satu hal yang langsung diingatnya saat itu adalah ingin membunuh ayahnya. Tetapi waktu dia bangun, ia melihat Tuhan Yesus dengan jubah putihnya, berkata : “Kamu harus memaafkan papamu!” Anak  perempuan itu mengatakan tidak bisa. Ia pun terus menangis, memukul dan berteriak sampai akhirnya Tuhan Yesus memeluk dia sambil berkata : “Aku mengasihimu”. Walaupun bergumul, akhirnya anak perempuan itupun bisa memaafkan ayahnya. Mereka sekeluarga menangis terharu melihat apa yang telah dibuat Tuhan dalam memulihkan keluarga mereka. Apalagi hal itu terjadi sebelum ayahnya meninggal karena stroke.
     Kisah nyata ini sangat luar biasa. Betapa tidak, kasih Tuhan dapat menyentuh hatinya yang paling dalam. Kebencian diganti dengan luapan kasih Tuhan sehingga anak perempuan itu dapat mengampuni bahkan menceritakan kasih Tuhan dalam hidupnya. Ketika dia menoleh ke belakang hidupnya, hal itu tidak membuatnya pahit lagi. Awal lirik lagu ‘Sentuh Hatiku’ benar-benar merupakan kesaksian hidup seseorang yang disentuh kasih Tuhan: “Betapa ku mencintai, segala yang t’lah terjadi...” Apakah peristiwa kelam yang lalu membuat Saudara saat ini hidup dalam kepahitan ? Izinkan Kasih Agape Tuhan itu menjamah Saudara saat ini dan mengubah hidup Saudara sehingga menjadi baru. (Sumber : Praise #3 & #6) (kisah selengkapnya dapat dibaca di Story Behind The Song terbitan Yis Production).   

Sunday, 17 November 2013

IF ONE DAY I LOSE MY HOPE



Yes God, please, reminding me---
 Give me faith, give me "a way" to come back home, to the room of hope, that is Yours, where i will wait patiently, once again, for You . . .


Seen that ray of light
And it’s shining on my destiny
Shining all the time
And I wont be afraid
To follow everywhere it’s taking me
All I know is yesterday is gone
And right now I belong
To this moment to my dreams

So I won’t give up
No I won’t break down
Sooner than it seems life turns around
And I will be strong

Even if it all goes wrong
When I’m standing in the dark I’ll still believe
Someone’s watching over me



(Hillary Duff, 
Someone's Watching Over Me Lyrics)




Saturday, 19 October 2013

NOT TAKEN FOR GRANTED


Orang-orang yang berani mengikuti passion, panggilan, dan mimpinya, sekalipun itu sangat berbeda dengan orang-orang kebanyakan di sekelilingnya, itu langka. Orang-orang yang berani untuk menjadi nonkonformis di antara konformitas yang pasti memberikan tekanan akan pilihan nonkonformis mereka. Orang-orang yang siap menanggung resiko, sebuah harga yang mahal, demi menjadi "hidup" tidak semata-mata mengikuti arus orang banyak---seperti perumpamaan: hanya ikan yang mati yang akan berenang mengikuti arus, ikan yang masih hidup akan terus bejuang berenang melawan arus, itulah yang menandakan dia hidup.

Tetapi tak bisa disangkal, kebanyakan orang memang mengikuti arus. Karena mengikuti arus itu nyaman, dan melawan arus itu tak nyaman. Siapa yang tidak suka kenyamanan? Tapi orang-orang yang mengikuti passion, panggilan, dan mimpi mereka siap mengorbankan segala kenyamanan mereka demi menjadi "hidup" dalam passion, panggilan, dan mimpi mereka. Kebanyakan orang suka mengikuti arus, pasrah saja untuk taken for granted akan banyak hal di dalam hidup mereka, karena orang-orang terdekat atau orang-orang di sekeliling mereka juga menjalani hal yang sama. Kebanyakan orang tidak lagi mempertanyakan banyak hal sebelum menjalaninya. Bukan kurang kerjaan, atau terlalu mempersulit segala sesuatu yang tadinya mudah, alasannya hanya untuk menemukan esensi di balik segala sesuatu itu dan memilikinya. Itulah yang membuat kita "hidup" dalam mengerjakan segala sesuatu, bukan ikut arus, ikut mati.

Bersyukur belajar ilmu sosiologi selama tiga setengah tahunan, aku dilatih untuk bersikap kritis, berpikir beyond common sense, tidak mau taken for granted. Mempertanyakan segala sesuatu. Jujur saja, untuk mempertanyakan segala sesuatu itu saja tidak mudah, tidak nyaman. Tapi esensi yang didapatkan setelah pertanyaan itu diselesaikan, sangat berharga. Aku bersyukur.

Bagaimana dengan kalian? Apa jangan-jangan selama ini kalian menjalani banyak hal yang kelihatan penting dan wajar di muka bumi ini dengan taken for granted? Ikut arus?

Coba, pertanyakan sederet pertanyaan berikut kepada diri kalian sendiri sebelum mengakhiri membaca postingan blog ini. Semoga mendapat pencerahan setelah mempertanyakan ulang segala sesuatu :)

1. Kenapa kita harus sekolah? Jenjang dan waktu yang tidak pendek untuk ditempuh, biaya yang tidak murah, segala pengorbanan dan perjuangan yang tidak sedikit? Karena semua orang sekolah? Karena sekolah itu wajib? Karena mengejar "jadi pintar"? Terus bagaimana kalau kita pintar? Ukuran siapa kepintaran yang kita kejar?

2. Lalu setelah sekolah, ingin kerja, jadi apa? Mengejar pekerjaan-pekerjaan (atau jika berkuliah sebelumnya, memilih jurusan-jurusan) yang "dibutuhkan" market place, yang laku di pasaran, yang banyak peluangnya? Apa yang kita kejar? Uang? Sampai berapa banyak? Akhirnya pun ketika (jurusan atau) pekerjaan yang "laku keras" di market place itu didapatkan, tapi tidak sesuai dengan bakat atau keinginan terdalam hati kita, akankah kita tahan melakukan pekerjaan yang sama--setiap hari kerja--mungkin nyaris seumur hidup? Dari pagi sampai sore atau malam? Sanggup? Tidakkah ada kesia-siaan yang terlihat di dalam kesemuanya itu?

3. Lalu apakah kamu ingin menikah? Kenapa? Karena orang lain menikah? Karena kalau tidak menikah, takut jadi omongan dan gossip seperti lagu yang kurang bermutu secara moralitas yang sering dinyanyikan sembarangan itu? Kamu harus menikah meski menikahi orang yang salah? Yang akan tidur di sebelahmu mungkin seumur hidupmu setiap hari, makan semeja, tinggal serumah, mengurus anak dan keluarga, berbagi apapun bersama? Yang tidak akan membuatmu bahagia? Atau bahagia di awal tapi tidak sampai akhir? Sebuah keluarga atau pernikahan yang akhirnya mengenal kata "cerai" atau "pisah"?

4. Lalu setelah menikah, apakah kamu ingin memiliki anak? Karena semua orang yang menikah pasti memiliki anak-anak? Karena keluarga tanpa anak terasa kurang lengkap? Anak hanya sebagai pelengkap tak lain seperti perabotan rumah tangga, begitu? Ingin memiliki anak tanpa alasan yang jelas, dengan banyak pengorbanan, nyawa untuk sang ibu ketika mengandung-melahirkan, biaya dan waktu untuk membesarkan anak, kasih sayang yang harusnya dilimpahkan tanpa dibuat-buat? Sanggupkah? Apakah kita ingin memiliki anak tanpa peduli akan jadi seperti apa anak-anak itu nanti tanpa segala hal ideal yang mungkin tidak sanggup kita upayakan?

5. Dan, soal apa yang kita percayai. Kenapa kita menganut agama tertentu? Karena keluarga kita, orang tua kita juga menganut agama yang sama? Lalu kita takut menjadi berbeda? Percaya pada agama itu karena "ikut" arus orang tua, keluarga, atau orang-orang terdekat? Tanpa benar-benar mengenal Siapa Tuhan Yang Kita Sembah? Hanya menjalankan ibadah keagamaan masing-masing seperti ritual yang terus berulang?

6. Jika daftar ini mau diperpanjang, mungkin bisa mempertanyakan ulang hal-hal spesifik dalam kehidupan kita masing-masing, seperti kenapa harus tergabung ke organisasi atau komunitas tertentu? Kenapa harus ini itu dst. Hanya satu kesimpulan penting, sekali lagi, mempertanyakan ulang semuanya itu bukan bermaksud untuk mengacaukan segala sesuatu yang sudah teratur dalam "sistem" kehidupan kita. Tetapi untuk meyakinkan diri sendiri bahwa kita melakukan sesuatu karena memahami benar esensi, karena kita ingin hidup dalam segala passion-panggilan-mimpi kita, dan tidak sekedar ikut-ikutan arus.

Atau, kita tidak ingin susah-susah bertanya lagi? Betah dan pw menjadi seorang konformis yang ikut arus, apa kata orang, dan nyaman menjadi "mati" atau "dimatikan" dalam arus yang membutakan?

Beranilah menjadi seorang nonkonformis, ketika konformis itu tidak membawa kita ke arah yang benar atau baik. Beranilah. Jadilah berani.

Wednesday, 16 October 2013

HE HAS A PLAN



He still ask to us, whether we wanna trust Him (and His plan) or not. He always remember about our free will. He hopes we use the free will wisely, yes, to choose Him. And, I? Honestly, after the mystery I experienced before, it's not always easy to decide to trust Him without using my rationality. But for this time, I try to trust. Trust His heart. Trust His desire. Trust His plans. Trust Him, fully.

I try.



______________________________________

inspiring picture from : http://verseinspire.tumblr.com/
if you have a tumblr account, maybe you can follow verseinspire and i hope you'll be blessed with the blogpost.

Friday, 4 October 2013

PLANT A HOPE, AGAIN


lihat matahari sore yang tetap bersinar di tengah itu, tetap muncul mengatasi awan kelabu yang berusaha menyembunyikannya: ya, sebuah (simbolisasi) pengharapan bagiku :)


Beberapa minggu lalu aku berkunjung ke Gramedia dan menemukan sebuah buku terbaru tulisan Pendeta Gilbert Lumoindong. Dalam satu halamannya, di paragraf terakhir di pojok kanan buku, aku begitu terberkati-terbangunkan-terteguhkan. Disana tertuliskan, dengan tinta hitam yang jelas, kata-kata yang intinya kurangkai-simpulkan dengan kata-kataku sendiri sebagai berikut—

Rencana Tuhan tidak akan pernah tergagalkan oleh kelemahan manusia, kebodohan manusia, kekerasan hati manusia. Tidak. Tidak bisa. Tidak akan. Tidak akan pernah bisa. Rencana Tuhan tetap akan terlaksana, bagaimanapun manusia atau bahkan si jahat berusaha menggagalkannya. Tuhan tidak akan pernah tergagalkan oleh apapun, dan siapapun. Dia Tuhan, kuasa-Nya penuh. Dia Tuhan, Dia Maha Kuasa. Siapa yang bisa melawan?



Hari ini, aku membangkitkan, mendasarkan imanku lagi pada kemahakuasaan-Nya itu, pada rencana-Nya yang tidak akan pernah tergagalkan itu, pada karakter-Nya yang agung tak berubah.

Dan pengharapan, kembali bertunas. Berbunga. Tumbuh.




Aku akan menantikan buahnya :)

Thursday, 18 July 2013

22 YEARS WITH




p.s. :

Selamat ulang tahun ke-22, dear self! Ulang tahun kali ini mungkin tidak semengejutkan tahun lalu dengan banyak hal istimewa meski sederhana yang tak terduga dari orang-orang sekelilingku, tetapi di atas kesemuanya itu, aku masih berlimpah syukur merenungkan 22 tahun sudah perjalanan hidupku ku jalani--dan perjalanan itu adalah sebuah perjalanan suka-duka bersama Yesus. Ini sebuah perenungan istimewa. Apalagi ketika membayangkan, akan sampai berapa lama lagi sebelum hidup dan umurku selesai? Sebenarnya, aku sebelumnya tidak pernah berpikir akan hidup selama itu, ya, sampai rambutku benar-benar putih dan kulitku benar-benar keriput : lansia. Tapi, sekarang aku mulai berimajinasi, dan berharap, merangkai cerita masa depan dimana umurku 60 tahun dan aku masih tetap bersama-sama dengan Yesus, dalam suka maupun duka. Ah, A very sweet story of togetherness, iya kan? :")

Tuesday, 4 June 2013

BAJU PUTIH


Papan bunga berdiri berderet menghiasi pinggir jalan menuju rumah yang kami tuju. Ungkapan-ungkapan turut berdukacita. Langit biru cerah sore itu sesampainya kami disana. Tenda di depan rumah menandai rumah yang kami tuju. Banyak orang, perempuan dan laki-laki, dengan pakaian hitam-hitam sudah hadir dan mengisi beberapa kursi di dalam tenda maupun di dalam rumah.

***

Siang itu, aku bertemu tak sengaja dengan grace di perpustakaan pusat universitas kami. Dia sedang duduk santai dengan segelas jus apel dan kentang goreng di salah satu cafe mini di lantai satu perpustakaan, sibuk dengan internet dan draft skripsinya, kesibukan umum dari para mahasiswa tingkat akhir. Aku menyapa sambil lalu, ingin segera bergegas ke lantai tiga untuk membereskan revisi draft jurnal ilmiah syarat ijazahku. Tak disangka, meski makanan-minuman pendamping tugasnya masih belum habis, grace memutuskan untuk mengikutiku ke lantai tiga. Ternyata koneksi internet di lantai satu juga sedang tidak bagus, kata grace. Aku menunggunya berkemas-kemas pindah sambil mencoba menghubungi ibuku. Kami bercengkerama mengenai topik keluarga, kabar terkini dari ayah dan adikku. Semuanya masih terasa tenang-tenang saja sampai grace juga mendapat telepon juga, dan setelah berbicara sebentar dengan orang di seberang sana, grace bergumam singkat padaku, “opungnya justice meninggal.”

***

Beberapa hari sebelumnya, aku ingat ketika sebuah blackberry messenger masuk di chatbox bbm-ku. Dari justice. Display picture bbm-nya menggambarkan sebuah ruangan di rumah sakit, ada sebuah tempat tidur disana dan seorang laki-laki berumur lansia terbaring dengan infus di atasnya. Pesan itu memang mengenai laki-laki di dalam display picture itu, opungnya justice. Beliau sudah 3 hari masuk ICU karena sakit, dan ketika hari itu justice menghubungiku via bbm, keadaan beliau sedang tidak sadarkan diri. Justice hanya meminta dukungan doa untuk beliau, opung doli* yang amat dikasihinya.

***

Kami bertiga, memasuki dalam rumah itu, mencari seorang perempuan berumur 20 tahunan berkulit putih dan berambut hitam panjang sebahu. Justice. Tapi justice tak terlihat, malah akhirnya seorang ibu menghampiri kami setelah mengetahui kami temannya justice. Ternyata ibunya justice. Kami memperkenalkan diri dengan sopan, satu-persatu. Tante meminta kami menunggu saja, karena justice sedang keluar sebentar. Kami menurut, berjalan menuju bangku-bangku yang sudah disediakan. Di ruang tamu, terlihat opung doli justice sudah terbaring dengan setelan jas yang rapi di dalam peti mati. Bunga-bunga berwarna putih yang harum mengelilingi beliau. Kedua tangan beliau terlipat di atas perutnya, wajah beliau sudah pucat pasi. Beberapa kerabat justice, mungkin anak atau menantu opung dolinya, duduk di sebelah peti: seseorang menangis, tetapi kebanyakan tidak.

***

Sambil menunggu justice datang untuk mengungkap rasa empati kami pada teman baik kami itu, tante meminta kami makan saja dulu. Sebuah tradisi adat batak memang seperti itu, tetap menyediakan makan bagi orang-orang yang datang melayat. Menunya khas, dengan saksang, ikan mas, dan ikan teri. Kopi dan teh ikut menemani. Pindah duduk di luar, kami melihat beberapa orang baru berdatangan, anggota keluarga justice. Justice belum kelihatan juga. Kami bersabar.

Sebuah lagu mulai mengalun, dinyanyikan dari dalam rumah mengiringi acara hari itu. Dalam penantian dan suasana tenang, aku mencoba merenungkan liriknya. Sebuah kelegaan mendalam, keluar lepas. Kedamaian penuh.


Dung sonang rohangku dibaen Jesus i
Porsuk pe hutaon dison
Na pos do rohangku di Tuhanta i
Dipasonang tongtong rohangkon
Sonang do, sonang do
Dipasonang tongtong rohangkon


***
Aku mengingat kembali percakapan singkatku dengan justice hari itu via blackberry messenger. Aku mengingat kembali kepasrahannya, kerelaannya untuk melepas opungnya pulang ke kekekalan. Kami sama-sama jatuh pada kenyataan indahnya jaminan yang sudah dimiliki seseorang yang percaya pada Yesus Kristus Tuhan: hidup kekal setelah kematian badani, bukan kematian kekal. Kami tidak kuatir untuk menerka-nerka apakah beliau sudah “cukup baik dan layak” untuk tempat bernama surga atau tidak. Darah Yesus sudah melayakkan dan menyempurnakan kebaikan itu setelah siapapun itu datang pada-Nya dengan percaya penuh. Sesederhana itu. Karena kasih yang tak terukur dan tak terselami. Tak dapat sepenuhnya dimengerti oleh siapapun. Kasih yang bahkan dinyatakan ada tetap meski kita tak layak mendapatkan ataupun menerimanya. Kasih yang tak terbatasi oleh akal rasio manusia.

Kami tidak kuatir merelakan beliau pergi pulang. Kami tidak kuatir merelakan beliau pergi pulang, karena kami tahu tempat yang akan ia tuju. Karena kami tahu kepada Siapa ia akan berpulang dan tinggal selama-lamanya. Sebuah tempat dimana kebahagiaan sejati dan kekal berdiam selama-lamanya. Bahagia bukan karena disana ada materi berlimpah ganti kehilangan di dunia fana. Bahagia bukan karena disana ada keselamatan dari api kekal yang menyiksa semata-mata. Tetapi bahagia penuh karena disana ada Yesus Kristus tinggal dekat, beserta, selama-lamanya. Apalah arti tempat bernama surga tanpa keberadaan Tuhan di dalamnya?

Kata justice, “yang terbaik untuk opung, hanya itu harapanku yul. Sembuh atau kembali pulang.” Kami sampai pada titik kepasrahan sempurna: kehendak Tuhan, biarlah jadilah. Kehendak Tuhan yang paling baik untuk kami.

***

Aku masih menikmati setiap kata dan bait dari lagu itu: belum pernah aku merenungkan dan menghayatinya sedalam ini sebelumnya. Dalam perenungan itu, tiba-tiba aku menyadari pakaian yang kupakai—bukan sebuah baju berwarna gelap atau berwarna hitam—sebagaimana yang biasa dipakai orang-orang yang datang melayat. Aku justru memakai sebuah baju putih yang dipadu jaket ungu berlengan pendek. Bukan kebetulan ketika tadi pagi aku memilih untuk mengenakan baju putih itu ke kampus, semuanya sudah di-set sempurna oleh tangan tak terlihat—tangan Yang Mahakuasa, demi mengajari betapa indahnya jaminan hidup kekal di dalam Yesus. Putih, putih untuk hidup yang kekal. Sebuah kemurnian, kekudusan sempurna, sukacita—ganti dukacita kematian kekal, yang hitam pekat. Dan ungu, untuk sebuah simbolisasi bahwa setiap orang akan kembali ke kekekalan mempertanggung-jawabkan hidupnya sendiri-sendiri kepada Yang Menciptakannya. Sebuah kesendirian yang tak bisa dihindari dan disangkali, untuk menyambut kekekalan.
***

Justice datang tidak lama, hanya sekitar lima belas menit setelah kami duduk di bangku luar itu, dengan beberapa bungkusan berwarna merah—tidak tahu apa isinya, mungkin untuk acara hari itu. Kedua adiknya ikut menemani di belakangnya. Ia menyadari kehadiran kami bertiga, aku, grace, dan citien, dan tersenyum kepada kami.

“Sebentar ya,” katanya. Tiada air mata sama sekali di raut wajahnya.

Kami menanti justice lagi di bangku luar. Lagu itu masih mengalun setia menemani kami. Sampai akhirnya, justice selesai dengan urusan di dalam rumah dan menghampiri kami. Dia baik-baik saja, dia sudah benar-benar yakin kehendak Tuhan yang terbaik maka jadilah. Jadi disanalah dia, duduk di sebelah kami di sofa di teras rumah dengan raut wajah tak terbeban, dan sesekali tersenyum.

Aku berharap dan mengamini begitu juga orang-orang yang melayat hari itu tanpa air mata. Semuanya yakin bahwa hidup yang kekal sudah menanti mutlak begitu alm.opung doli dari justice menghembuskan nafas terakhirnya. Sekarang, hanya tubuh fisiknyalah yang masih bersama-sama dengan kami, itupun sebelum upacara pemakaman—tapi roh dan jiwanya sudah kembali kepada Pemilik Hidupnya. Sebuah ketenangan sempurna.

Sebelum pulang petang itu, karena mengejar kereta api dan waktu menuju depok, aku berbisik kepada justice, “bukan kebetulan aku memakai baju putih hari ini, jujus. Ini simbolisasi bahwa opungmu sudah kembali pulang dengan tenang. Sudah bahagia dia, dong sonang rohang opungmu di baen Jesus i.” Justice mengangguk mengiyakan, tersenyum yakin. “Kembali pada Yesus, sekarang sudah senang opungmu.”


***

Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.

(Filipi 1 : 21) ♥



p.s. :

True story, february 25, 2013. Dedicated to our bestfriend, justice. Reminded about God’s perfect will—that is the best thing for all of us, forever and ever.


***

(arti sederhana dari kutipan lagu berbahasa batak di atas, intinya: sudah senang jiwaku dibuat Yesus itu, derita di tahun-tahun hidupku berakhirlah sudah disini, teguh percaya jiwaku di dalam Tuhan itu, senang senantiasa jiwaku. senanglah, senanglah. senanglah senantiasa jiwaku...). Membayangkan seseorang yang sudah "mengakhiri cerita hidupnya" dengan baik di dalam agenda Tuhan, dan menyanyikan-dinyanyikan lagu ini, rasanya, mengharu-biru. Penderitaan dan perjalanan duka sudah selesai di bumi. sekarang bagian baginya hanyalah kedamaian dan senang bersama Yesus Tuhan, satu-satunya sumber kesenangan-kebahagiaan-kedamaian-dan-kehidupan-kekal-itu di surga.


*opung doli : sebutan untuk kakek dalam bahasa batak.
*lagu ini adalah versi bahasa batak dari lagu “it is well with my soul” dalam bahasa inggrisnya :)

Wednesday, 15 May 2013

REMEMBER YOU


"O God, You are my God, earnestly I seek You, my soul thirsts for You, my body longs for You, in a dry and weary land where there is no water. I have seen You in the sanctuary and beheld Your power and Your glory. Because Your love is better than life. My lips will glorify You. I will praise You as long as I live, and in Your name I will lift up my hands. My soul will be satisfied as with the richest of foods, with singing lips my mouth will praise You. On my bed I remember You; I think of You through the watches of the night. Because You are my help, I sing in the shadow of Your wings. My soul clings to You; Your right hand upholds me."



Psalm 63:1-8
A psalm of David. When he was in the Desert of Judah.


 


p.s. :
Sama seperti yang diingatkan saat teduhku dari Manna Sorgawi hari ini, kadang, aku merasa jadi seperti Petrus yang mulai tenggelam, ketika fokusnya teralihkan dari Yesus kepada ombak dan badai di sekelilingnya, padahal, dia sudah berjalan di atas air--dia sudah mengalami bahwa Yesus yang dipercaya hatinya adalah Tuhan yang benar-benar berkuasa membawanya melakukan hal-hal yang sulit, bahkan mustahil baginya. Aku tahu, bahwa Ia sedang memperbesar kapasitas imanku.

Memusatkan seluruh fokus kepada Yesus adalah satu-satunya hal yang perlu untuk ku lakukan. Fokus, pada janji-Nya, rencana-Nya, panggilan-Nya, dan cinta-Nya. Dia mungkin tak selalu menjanjikan tidak akan ada tantangan atau ujian di sepanjang perjalanan, tapi Dia selalu menjanjikan cinta kasih yang sebegitu dalam-luas-lebar-dan-tingginya, untuk terus menemani-mendampingiku sepanjang perjalanan. Ah, bukankah cinta kasih Yesus itu harusnya cukup untuk setiap kita?

Dalam masa penantian dan pergumulan mengenai panggilan hidup ini, banyak hal Tuhan singkapkan bagiku. Rasa kagum dan syukur meluap dan melimpah begitu saja, ketika lagu-lagu pujian penyembahan dari Hillsong, ku naikkan kepada-Nya, Yesus Yang Penuh Kasih itu. Aku terkesima ketika merenungkan bahwa 1 Korintus 2:9 benar-benar tergenapi di hidupku. Hadiah istimewa. Amazing grace. Aku semakin menyadari betapa Dia begitu mengasihiku. Rancangan-rancangan-Nya dan mimpi-mimpi-Nya bagiku membuktikan hal itu. Dan kemudian, aku menyadari bahwa, sekali lagi, aku kembali jatuh cinta lagi pada-Nya. "Ayah" Yang Luar Biasa :*

Tuesday, 9 April 2013

KASIH (DALAM KEMISKINAN)


"Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya."

2 Korintus 8 : 9


Merelakan diri menjadi miskin untuk orang lain, ketika kita kaya, tidaklah mudah. Siapa yang mau menjadi miskin, apalagi untuk orang lain? Dimana-mana, orang selalu ingin kaya. Meninggalkan kenyamanan yang seharusnya milik kita, dan memilih berkorban maksimal untuk orang lain. Hanya satu kunci yang memampukan kita melakukan itu: kasih, sebagaimana yang telah dilakukan Kristus Yesus, untuk kita, yang dicintai-Nya, meski kita kadang tak menghargai kasih (dalam kemiskinan-Nya) itu. Selamat paskah :)

Sunday, 7 April 2013

MOVED OUT, NEW LIFE BEGAN


Ngomongin tempat tinggal di postingan kali ini, aku jadi ingat rumah di medan, dan kangen. Ini gambar iseng yang diambil dari atap rumah, tempat dimana aku suka melihat langit biru. Home sweet home :*

Sudah seminggu lebih lalu kira-kira, aku pindah. Meninggalkan tempat yang disebut-sebut Pondok Cempaka, kamar kosan yang ku tempati selama kuliah di Universitas Indonesia. Tiga tahunan lebih kurang. Rasanya? Aku tidak tahu harus menyatakan apa. Rasanya seperti membayangkan gado-gado, banyak hal bercampur tak terlalu jelas. “Rumah yang baru” bagiku ini menjadi media Yang Terkasih mengajariku banyak hal. Terutama yang kusebut “kemandirian tingkat lanjutan”—-yaitu kemandirian yang tidak sekedar mengurusi kamar kosan yang tak terlalu luas (yang kadang tak terlalu berefek jika skip melakukannya kalau deadline tugas atau banyak kerjaan di kampus), makan tinggal beli (banyak warteg, rumah makan, yang ramah dengan kantong dan dompet anak kosan kan), baju tinggal ke laundry (laundry kiloan di daerah kosan benar-benar ramah-tamahlah dengan dompet anak kos, kalo dibandingkan dengan laundry di daerah rumah baru sekarang ini), ATM deket, alfamart-indomaret deket, fotocopy-tempat-print-studio-foto semua tersedia, komplit. Rumah tempat tinggalku sekarang ini memerlukan yang lebih dari itu, upaya-upaya kemandirian ala anak kosan, maksudku. Bahkan aku, yang paling ogah masak dulu, akhirnya belajar masak mau tak mau karena mama mengurus ketersediaan kompor gas, kulkas, dan rice cooker. God’s providence in them all. Bersih-bersih “rumah” (bukan hanya kamar kos dan kamar mandi loh). Mencuci sendiri (akibat laundry yang tak terlalu ramah ke dompet sepertinya). “Kemandirian tingkat lanjutan” ini membuatku merasa benar-benar seperti orang dewasa: yah, umurku juga sudah kepala dua kan pada kenyataannya? *tutup mata* ahaha, lupakanlah soal umur.

Dan, entahlah. Semingguan ini, dalam keseluruhan ritme di rumah baru, aku mulai memahami ketika aku mulai mengalami sendiri bagaimana tugas domestik atau perihal rumah tangga yang dikerjakan ibuku. Terus terang, selama masa sekolah, karena di rumah ada dua orang tante yang sangat ku sayangi yang juga tinggal bersama kami, rasanya semua pekerjaan rumah tangga itu tak terasa maksimal sensasinya (oke, sensasi haha) karena pekerjaan dibagi-bagi kan? Tapi ini, berbeda. I do it by myself. Wow, congratulation dear self! Dan jujur rasanya, tak selalu mudah. Apalagi tanpa mba-mba PRT. Membayangkan sebelum makan harus masak untuk keluargamu, setelah selesai makan juga belum bisa tenang karena masih ada tugas cuci piring. Terasa simpel, tapi coba bayangkan kalau ini dilakukan terus-menerus, dalam ritme rutinitas seumur hidup dan tanpa apa yang disebut kasih sayang? Luar biasa, menekan, haha. Aku sedikit-banyak dapat memahami pikiran seorang feminis akhirnya, haha.

Rumah baru juga berbicara soal lingkungan baru, dan re-adaptasi dengan lingkungan baru itu. Semuanya komplit menjadi satu paket. Aku kadang merasa agak ganjil ketika menyadari bahwa tetangga-tetangga sekitar yang baik hati dan ramah berbeda umur cukup jauh denganku. Kepala tiga, kepala empat, kepala lima, dan kepala enam. Efeknya bagi orang dengan karakter melankolis-dominan sepertiku ini? Kadang tak tahu harus membicarakan apalagi ketika ngobrol, misalnya ketika membeli gado-gado.

Tapi karena kepindahan itu sudah di-set dan direncanakan oleh Bapa Yang Luar Biasa itu, ya, intinya simpel sebenarnya. Semua terangkum dalam satu kata: belajar. Termasuk, belajar bersyukur karena masih memiliki rumah yang baik yang bisa dihuni. Happy life, yoels!