Saturday, 28 December 2013

KALEIDOSKOP 2013


Jadi, akan kusebut seperti apa tahun ini? Apakah benar-benar sudah menjadi tahun yang istimewa? Aku tidak tahu. Yang jelas, rasanya tahun ini tidak semenyenangkan tahun-tahun sebelumnya, kadang kurasa. Apalagi statusku bukan lagi mahasiswa. Resmi menjadi alumni. Hanya saja, belum resmi memasuki dunia kerja yang sibuk, antah-berantah. Untuk suatu alasan, akhirnya aku menunda untuk benar-benar memulai memasuki dunia kerja. Sebagai gantinya, malah ikut ini-itu dulu (pengalaman yang mungkin tak lagi bisa kudapat setelah "sibuk" bekerja) dan liburan. Setelah tiga setengah tahun lamanya memacu otak untuk bekerja (mungkin, terlalu) keras. Jadi, inilah! Cerita 2013-ku.

Januari
Awal tahun ini dimulai dengan perjuangan sidang skripsi. Setelah bekerja sekeras-kerasnya sepanjang semester 7, akhirnya skripsi selesai di januari! Di awal tahun ini juga, setelah sidang, jakarta terkena musibah banjir yang merendam banyak tempat. Banjir ini, bahkan, menelan korban jiwa. Di banjir jakarta ini, pengalaman pertamaku, benar-benar menjadi social-volunteer untuk korban banjir, bergabung dengan sebuah lembaga yang ikut membantu di daerah jakarta-utara.

setelah sidang yuli-putri bersama teman-teman sosiologi 2009: ged. koentjaraningrat ;)

Februari
Setelah sidang, ternyata belum selesai. Revisian adalah hal mutlak prasyarat ikut wisuda dan benar-benar lulus. Pada akhirnya, awal bulan februari ini, wisuda juga :") Bersama teman-teman sosiologi 2009 yang seperjuangan semenjak masa ngumpulin draft research design di akhir semester 5: putri, dhira, dan dhea. Di bulan ini juga, ada Live In Maker ke daerah puncak 3 hari 2 malam. Dan, dua adik AKK-ku ulang tahun ke-19, dear ade febrina & clara :")

tim-ku di live in maker 2013: ada yuli, ito jo nainggolan, yudha, debby, bebel, christie, kezia, dan elvi dari FIK UI sendiri (yang lain FISIP semua) haha :3
happy graduation dear friends: dhira, putri, dhea, yuli ;)

Maret
Setelah wisuda, dan ikut beberapa acara di bulan februari, akhirnya aku memutuskan untuk "menebus" libur pulang ke rumah yang tertunda, dari tahun 2011 karena perihal skripsi-sidang. Pulangg ke medan! Libur! Ketemu & jalan bareng sahabat-sahabatku di cj8 lagi, pas bertepatan dengan ulang tahun cidhu bulan ini! Happy birthday, dear sob! Bulan ini juga, setelah balik lagi dari medan, aku resmi pindahan dari kosan selama mahasiswa 3,5 tahun yang gak pernah pindah. Betah. Paling pindah kamar. Pondok Cempaka, maybe i'll miss you. Tapi aku tetap domisili di rumah keluarga di depok, dan seminggu pertama tinggal bareng ayahku, have a quality time together! :") Oh ya, ketika di medan, sahabatku angel juga tiba-tiba mengejutkan dengan memberikan kado wisuda yang tertunda, istimewa! Thankies, sobat!

sebelah kiri: cidhu & kue tart-nya. atas kanan: cj8 kurang tiga personil (cidhu, angel, thari, oni, yuli). bawah kanan: ini bukan penganiayaan, akibat surprising-nya dadakan di kampus USU & tak sedia sendok, pisau digunakan sebagai penggantinya :P

April
Bulan ini aku akhirnya mendoakan pergumulan untuk ikut melayani lagi dalam tim regenerasi PKK PO FISIP UI 2013. Jawabannya, ya. Dan, jadilah mulai bulan ini, tim kami lengkap berlima. Jadilah mulai bulan ini, aku berjuang untuk regenerasi bersama tim reg lainnya. Bulan ini juga, aku memulai untuk bergabung di sebuah NGO yang mengurusi anak-anak jalanan dan anak-anak marginal, mengambil bagian di SA-Grogol. Ya, Sahabat Anak, namanya. You can visit them here: www.sahabatanak.org ;) Aku belajar banyaaak soal kemiskinan di SA & di Grogol. Melihat dilemma juga soal bagaimana adik-adik binaan kami dan orang tuanya tidur di kolong jembatan Grogol, ketika di dekat situ sedang dibangun sebuah apartemen besar. Miris ya? :"(

tim reg PKK PO FISIP UI 2013 (kiri ke kanan): sania, nana, rut, niar, yuli ;)

Mei
Bulan mei aku kembali pulang lagi ke medan untuk sebuah urusan surat-surat, penting. Kembali jalan dan liburan lagi bareng sahabat-sahabatku. Pas, bertepatan dengan ulang tahun utari :") Ingat, ketika kami mengambil sesi lady in waiting discussion di jedar (tempat makan milik jessica iscandar di dekat kampus USU, ada yang tahu?). Sebelum balik ke depok, aku dapat lagi, hadiah wisuda dari cj8! Ah, so thankful :")

kiri atas: hadiah mini wisuda dari dear cj8. kanan bawah: lady in waiting discussion at jedar medan.

Juni
Yang paling istimewa di bulan ini adalah karena aku bisa ketemu lagi dengan seorang sahabatku yang sudah tak bertemu nyaris 4 tahun lamanya, olind! Olind kuliah di atmajaya, dekat grogol, jadi sepulang dari Sahabat Anak, kami janjian ketemu di salah satu mall dekat situ. Bulan ini juga, adik-adik binaan PAUD Sahabat Anak Grogol, merayakan kelulusan! Congraduation! Selamat melanjutkan cita-cita, adik-adik. Will miss you sooo <3 br="">

Berhubung tidak ada yang bisa dimintai tolong, harus foto seperti ini >.<
kiri: langit pagi di depan rumah di kota depok :* kanan: graduation day adik-adik PAUD SA-Grogol, lihat topi wisuda yang sangat sederhana buatan sendiri. meski begitu, mereka senaaang sekali memakainya :"

Juli
Bulan paling sibuk, paling ramai, paling padat, dan paling menyenangkan di tahun ini :") Pertama, karena di tanggal 18, usiaku bertambah satu tahun lagi. Kedua, karena satu hari setelahnya, adik semata wayangku datang ke depok. Ya, hadiah utama untuk ulang tahunku tahun ini, adalah kelulusan adikku di FT UI! Congrats & welcome, adik andre! Ketiga, bulan ini juga aku berangkat ke Lembang-Bandung bersama teman-teman maker, untuk acara explo 2013. Tuan rumahnya teman-teman sepelayanan dari ITB (dibantu UNPAD & kampus-katalitik-bandung). Disini, ketemu banyaaak kenalan baru :) Kami, tim central indonesia dari SC Bali 2012 lalu, kembali berkumpul dan melayani bersama juga dalam sesi AM I-II di explo ini. Sayang, tidak sebelas-sebelasnya yang bisa ikut :") Keempat, akhirnya regenerasi kami sampai di tahap retreat PKK-baru di rumah Drg. Andrea, yang mirip villa mini, di daerah Sawangan-Depok. Malam pengutusan, terharu-biru dalam sesi basuh-kaki para PKK-baru oleh kami, tim reg. Wah, will miss this moment :") Kelima, memberi surprise & mendapat surprise untuk usia yang baru! Untuk ka jenny & dari klara puspita (+rosi)! Thankyou, sisters!

explo-lembang 2013. kiri: bersama brother raymond. kanan atas: delegasi maker. kanan bawah: tim diskusi AM 1-ku yang berasal dari berbagai wilayah & kampus se-indonesia :")
Kiri atas: surprising ka jenny bersama teman-teman tim reg, di kediaman baruku :*) kiri bawah: dapat kejutan di usia 22 oleh klara & rosi. kanan atas: tim advanced retreat PKK PO FISIP UI 2013 yang berangkat duluan untuk beberes & masak-masak, sambil curcol rohani tengah malam, haha (reinhard, christie, niar, & yuli). kanan bawah: tim reg & tim inti PO FISIP UI 2013 (sayangnya, kurang yohana & nana yang tak bisa ikut retreat).

Agustus
Adikku andre, ulang tahun bulan ini, tanggal 16. Tepat satu hari sebelum hari kemerdekaan Indonesia. Tepat tengah malam, aku mengejutkannya dengan sebuah pesta kecil-kecilan, berdua doang di rumah. Quality time with little brother :P Sociology-brother-ku, Roy Obet, juga ulang tahun bulan ini. Setelah doa semalaman maker bulan agustus, kami merayakannya kecil-kecilan. Selamat ulang tahun, brother roy! Semoga semakin semangat mengejar panggilanmuuu :)) Bulan ini juga, masih ikut membantu-melayani teman-teman panitia lokal dan pusat PO FISIP UI dan PO UI untuk penyambutan maba kristen 2013. Another sweet chance to serve Him :)

happy birthday 18th, adik andre!
happy birthday, brother roy! foto bawah: (aba-aba posenya) tunjuk yang ulang tahun!

September
Bulan ini, yang paling istimewa adalah karena aku akhirnya kembali balik lagi ke Sumatera Utara, tapi kali ini untuk ikut tim Komunitas Batak Diaspora (KBD), melayani lagi di daerah Tanah Batak, Balige :") Kami mengadakan pengobatan gratis, kunjungan ke daerah agak pedalaman (gunung), ada KKR, dan pembinaan parhalado (majelis jemaat di gereja). Dalam misi ini, aku mengenal teman-teman baik yang baru, banyak sekali. Bersyukur bisa mengenal kalian, tim dokter misi dari FK Methodist-Medan, tim misi PMK, tim KBD, teman-teman STT-Trinity Parapat. Bersyukur juga bisa semakin mengenal suku Batak dan banyak hal soalnya. Bulan ini juga, mama dapat tugas di jakarta, jadi bisa quality time bertiga dengan mama-adik di depok ketika weekend tiba :") Terakhir, yang pasti, wisuda teman-teman 2009 lulusan 4 tahun. Congraduation! :")

ini hanya sebagian saja dari tim, selesai misi, akhirnya trip ke danau toba-pulau samosir dan menari tortor bersama :") tahu kan, sigale-gale? itu, boneka batak yang di belakang kami.
tour to museum batak balige, TB Silalahi Center, bersama tim dokter/medis ;)
tim bersiap berangkat ke parsabouran :")
bersama tim dokter (lagi): oh ya, senang bisa kenal-ketemu kakak dr. prima nainggolan (tengah), FK UI 2005, yang akhirnya mengabdi ke kampung halaman, menjadi dokter di RS HKBP Balige :") katanya kami kembar masa. Ya iyalah mirip, kan sama-sama borneng (boru nainggolan) :P
di bus, bersama teman-teman STT-Trinity yang sudah kelelahan sehabis pelayanan KKR-Siswa di Soposurung, yang masih siap gaya cuma aku, effendi, & mei aja sepertinya ya :P
quality time with mom & lil'brother :")
wisuda! kiri: bersama ony dengan background paling favorit untuk foto wisuda di UI, gedung rektorat! haha. kanan atas: congraduation my besties: citien, S.E. & geges, S.Sos! kiri bawah: congraduation, sania! kiri-kananku, ada ka ami & ka mitha 08 :")

Oktober
Farewell Party Halimah, yang akhirnya balik ke Malaysia! Will miss you so much, sister :" Pizza-Hut, lagi-lagi, menjadi tempat bersejarah penuh memori :") Bulan ini juga, adik-adik Sosiologi UI 2011 (dan 2010, 2012, bahkan 2013) menyiapkan acara Wisuda Lokal Sosiologi untuk angkatan kami 2009 di Cafe Alae, FISIP UI :") Sayang, gak semua teman-teman seangkatan 2009 bisa datang. Bulan ini juga, uda-ku (uda = adik ayah, red) satu-satunya, pulang ke surga. Mendadak, kami sekeluarga berangkat ke Cimahi-Bandung. Disana, akhirnya ketemu lagi dengan sepupu-sepupuku yang jarang ketemu. Ah, uda. You had finished the race of life, very well. Proud of you! Be happy with Jesus above! :")

Wislok Sosiologi Angkatan 2009. Kiri atas: semua teman-teman sosiologi 2009 yang datang, foto bersama lagi. kiri bawah & kanan bawah: masih dengan teman-teman sosiologi 2009. kanan atas: teman-teman panitia sosiologi 2011, membawakan persembahan lagu penutup.
keluarga besar termasuk para sepupu, di tempat peristirahatan tubuh jasmani uda putri :"
pizza-hut stories for halimah :")

November
Bulan november mulai "menyepi". Tapi aku mendapat sebuah awal pelayanan yang baru, lagi. Masih digumulkan. Tapi yang jelas, bulan ini, aku bersyukur untuk persekutuan yang terus berlanjut (meski hanya dalam grup whatsapp atau persekutuan doa sebulan sekali) dari tim misi PMK dari MT Balige KBD 2013 kemarin. Rata-rata sudah alumni, dari berbagai kampus di jabodetabek. A new family, welcome! <3 br=""> Oh ya, bulan ini juga, aku memulai untuk melanjutkan mimpi yang sempat tertunda bertahun-tahun lamanya. Semoga mimpinya bisa kugapai, tahun depan. Amin.

Tim misi PMK (ada juga tim KBD) ketika menunggu waktu check-in di bandara baru Sumatera Utara, Kualanamu International Airport, untuk pulang kembali ke jakarta. Sweet time together :*

Desember
Bulan ini, aku melanjutkan mimpiku lagi. Sedikit lagi, sepertinya akan selesai. Tanggal 12 lalu, akhirnya kesampaian untuk nonton film Soekarno di bioskop, yang baru rilis tanggal 11-12-13. Film-nya sangat bagus menurutku, bdw. Lalu, merayakan natal sendirian di kota depok. Bulan ini aku baru benar-benar berpikir (nyaris benar-benar) ingin kerja dimana. Dan, bulan ini juga, aku baru sadar, sepanjang tahun ini, telah membeli begitu banyak buku: dari novel, buku rohani, buku tentang masalah kemiskinan anak. Setidaknya, itu bisa disebut investasi kan ya? Daripada uangnya habis untuk hedon gak jelas, atau sekedar makan-makan toh? Ya. Anggap saja begitu. Sebuah investasi pengetahuan :P


Pada akhirnya, kaleidoskop ini ditulis, hanya untuk mengabadikan, apa yang baik, yang membuat 2013 lebih indah untuk diingat. Untuk dikenang. Untuk mengabadikan setiap momentum, yang istimewa adanya, meski mungkin, relasi-relasi dengan orang-orang di dalamnya belum tentu masih seistimewa itu. Tidak masalah, aku hanya ingin mengingat dan melakukan seperti apa yang dikatakan Miss Present, dalam sebuah film natal di SCTV yang ku tonton beberapa hari lalu:

"Jangan biarkan kenangan buruk merusak kenangan baik."

--Ms. Present
(Chasing Christmas, Film)



p.s. :
will say bye to you, 2013. see you soon, 2014.
H-4, then.

Monday, 23 December 2013

RESTART #2


Hari itu H-1, tapi aku tak tahu. Aku hanya larut lagi dalam hariku hari itu, memikirkan apa saja yang perlu-tak-perlu dipikirkan, ketika bertemu dengannya dalam dua jam dua puluh lima menitku di pagi hari, seperti biasa. Waktu yang harusnya istimewa, karena aku bisa bertemu dengannya, yang kukasihi. Aku mengatakan pada-nya, terus-terang, kalau aku tidak tahu apa yang ingin kupinta. Kelulusan, atau ketidaklulusan. Aku mempertanyakan ulang setiap keinginan, seperti para ahli filsafat dan sosiologi, apalagi ketika kembali menyadari rintangannya, resikonya, tantangannya, dari buah keinginanku itu. Jika aku lulus.

Aku mengomel, tak tahu diri. Kataku, aku lelah. Aku capek. Menunggu sesuatu yang tak jelas, tak sebentar. Aku capek. Menghadapi kenyataan kalau cintaku padanya membuatku teralienasi kadangkala karena aku sangat berbeda. Juga nyaris di dalam setiap detail alur perjuangan untuk hal itu. Tekanan mental, batin, emosional. Itu lebih berat bagiku, mungkin, dibanding kerja rodi atau kerja romusha. Mungkin. Aku juga tidak mau kerja rodi atau kerja romusha. Kadang aku merasa malang, tapi senang, karena aku tahu dia masih bersamaku.

Sebenarnya pagi itu, kami tidak terlalu dekat bercengkerama. Aku yang terlalu banyak menutup hatiku, mulutku. Menjadikan pertemuan kami pagi itu, tak lebih dari ritualitas yang kurang bernyawa.

Tapi, pagi itu, di akhir pertemuan sebelum kami mengakhirinya, aku memberikan kepadanya, sebuah draft yang baru. Seperti proposal, hanya saja tidak disusun tidak didesain seserius itu. Aku merancang banyak hal baru disana, banyak keinginan baru. Yang berbeda dari yang ia mau. Cukup berbeda. Meskipun pada akhirnya, aku yakin kalau ia pun tahu, ujung ceritanya. Tujuannya. Panggilan yang sudah ia lukis untukku, sesuatu yang istimewa untukku.

Aku tidak mendengarnya berkomentar. Tidak ada kata ya, acc. Tidak ada kata, tidak, tidak boleh. Atau apa mungkin aku yang terlalu sibuk dan larut dengan draft-ku? Jadi tidak bisa mendengarnya dengan jelas? Atau malah tidak memperhatikan raut wajahnya ketika aku menceritakan ini-itu soal draft-ku?

Aku mengakhiri pertemuan kami pagi itu. Sudah ada draft baru. Itu artinya, di satu sisi pilihanku, aku mengatakan, aku (sudah) tidak mengingini kelulusanku (lagi).



Dia mengabulkannya. Dan itu awalnya, melukaiku juga. Padahal aku sudah ragu-ragu dengan itu. Ketidaklulusan setelah penantian panjang, meyakitkan. Tapi kan memang aku sudah tak mengingininya lagi, bukannya? Lalu apa yang sempat ku sesali? Mungkin bukan karena aku tak mendapatkan kelulusan itu. Tapi karena waktu yang terlalu panjang, menurutku, telah kuhabiskan untuk memperjuangkan itu. Ya, katanya menghibur, dia akan membalasnya nanti. Waktu itu. Aku harus merelakannya saja, karena tak bisa kembali. Lagipula, nyatanya, waktuku tidak habis sesia-sia itu juga. Aku jadi sangat bebas mengikuti banyak acara luar biasa, yang di dalamnya bisa menemui-mengenal banyak teman-teman baru, dan yang terpenting, pengalaman yang membuat waktuku tinggal abadi. Yang juga bisa diabadikan dalam lembaran tulisan, atau kertas-kertas foto. Aku juga kembali, ya benar-benar kembali, bebas menulis lagi! Bukan hanya disini, tapi di beratus lembar halaman demi menghidupkan kembali mimpiku yang sudah menahun ku tinggal pergi.

Hari ini, kami bertemu lagi. Setelah berhari-hari lamanya setelah itu, kami (selalu, dan tak pernah tidak) bertemu tapi aku memilih untuk mendiamkan saja, baik banyak anak pertanyaan yang lahir dari ketidaklulusanku, ataupun draft-ku itu. Dan melalui jam-jam pertemuan hanya berdua dengannya seperti ritual lagi, kebiasaan. Yang tidak ingin kuubah dan tidak ingin kuhilangkan. Sebenarnya bertemu dengan yang kau kasihi itu kebutuhan. Meski kau kadangkala lupa, malu, malas, atau enggan, untuk mengakuinya.

Lalu dia kembali memandang padaku ketika kami duduk berhadapan, dia kembali mengatakan, itu pilihanku. Bukan rencananya. Bukan mutlak diingininya. Kalau aku tidak siap, dia tidak mau memaksaku. Aku harus siap lebih dulu, maka diapun akan siap memberikan apa yang kumau, kuingini. Yang penting, aku tahu panggilanku yang sudah melekat padaku semenjak kelahiranku, setelah ibuku memberikanku sebuah nama istimewa dari tiga nama, atau empat jika ditambah marga atau nama keluarga ayahku, yang kemudian resmi menjadi namaku sampai hari ini. Dan berjanji tidak akan pernah melupakannya, agar hidupku habis berguna dan tidak habis sia-sia. Apa yang sudah tidak kuingini lagi sebelum-dan-sesudah ketidaklulusanku, hanyalah salah satu, salah satu cara untuk memulai panggilanku. Masih banyak, masih begitu banyak, cara-cara lainnya. Dia meyakinkanku. Dia bilang, dia benar-benar memberikanku kehendak bebas, untuk menentukan, untuk merancang, untuk memulai kembali. Meski harus selalu tetap dalam dan dengan acc-nya. Melahirkan sesi-sesi konsultasi dalam pertemuan kami, atau mungkin, lebih tepat disebut sesi berbagi. Antara dua pribadi yang (sudah dan) selalu berbagi banyak hal, benda, cinta. Harus selalu begitu, karena memang aku tahu aku tidak bisa hidup (bahkan tidak bisa berjalan!) tanpa dia. Dia seperti nyawa dari nyawaku. Draft-ku di-acc juga, pada akhirnya. Dia tersenyum, kemudian. Padaku. Ia menanyakan padaku, apa yang bisa ia bantu untukku? Hari itupun, aku bisa tersenyum lagi.


Jadi, darimana kita akan memulainya lagi?
Sepertinya, aku harus mencari dan membuka draft-ku lagi.
Dan pensil, atau keyboard?
Dan, mulai berpikir,
merenung,
mengingat-ingat,
mempertimbangkan, dan
menuliskannya, di dalam sana.



Ralat : 

Aku lupa memberitahu. Seharusnya, setiap kata dia maupun setiap kata ganti –nya ditulis dalam huruf kapital. Sekarang kau tahu, tulisan ini untuk dan tentang siapa.

RESTART #1


“Gak semua yang lo denger itu bener”
#iklantvzamanjadul #kalautaksalah

p.s. :

Kadangkala ada saatnya kau harus benar-benar
mengacuhkan dan menutup mutlak telingamu (dua-duanya), untuk apa-yang-orang-lain-bilang (atau, mungkin bilang). You can’t please anyone, you do not need. Yang penting, kau tahu apa yang kau perbuat. Yang penting, kau yakin dengan apa yang kau perjuangkan. Tak peduli apa kata orang. Dukungan dari Tempat Maha Tinggi, sudah lebih dari cukuplah buatmu. Kau tidak perlu kata-kata manis manusia, yang bisa jadi benar, bisa jadi bohong. Manusia kan hanya bisa berkomentar, menghakimi tanpa memahami atau melihat secara holistik, mengkritik tanpa menjadi solusi. Toh pada akhirnya, kau tidak akan mempertanggungjawabkan segala sesuatu pada mereka kan, tapi pada Yang Maha Tinggi. Jadi, stay cool. Pakai lagi saja, headphone-mu.

Sunday, 22 December 2013

LAGI, SEKALI LAGI


Benar kan, meski aku sudah jauh berlari,
meski aku sudah menutup kedua mata rapat-rapat,
meski aku sudah pergi seperti anak bungsu dari rumah ayahnya,
meski aku sudah menyerah untuk tetap mengejar-Nya,
aku sudah berhenti, dalam kelemahanku,
Dia takkan pernah!



Tertangkap, lagi.
Setelah sekian lama berlari, berpikir tak dicari lagi.
Bersyukur. Berhenti berkabung. Bersukacita.


p.s. :
Hillsong, "Heartbeats" (lyrics)

Love strung out I am found in the price You paid
I know that Your life is the blood running through my veins
My eyes fixed wide on the light of the cross again
I feel the weight drop in the wake of the empty grave

I want You, need You
I love You, Jesus
My heart beats forever
Just to know You
Let go and throw
My future into Your hands
Again

Heart beats loud to the sound of a different drum
Calling me out from the crowd to pursue the One

I want You, need You
I love You, Jesus
My heart beats forever
Just to know You
Let go and throw
My future into Your hands

I want You, need You
I love You, Jesus
My heart beats forever
Just to know You
Let go and throw
My future into Your hands
Again

Break me down till I soar on grace
Lead me on through the fire and rain
The rhythm of my heart beats wild
For Your endless praise
Every waking hour I will seek Your face

I want You, need You
I love You, Jesus
My heart beats forever
Just to know You
Let go and throw
My future into Your hands
Again (3x)


p.s. (lagi) :
akhirnya, aku memutuskan mengisi lagi lembaran-lembaran ini. kenapa harus berhenti?

Friday, 6 December 2013

BYE, PLAN A


If "plan A" did not work, the alphabet has 25 more letters! Stay cool. 

Tanamanku mati. Sayang sekali. Kematiannya nyaris jatuh di tanggal yang sama dengan kematian suatu hal yang tadinya penting di dalam diriku, tapi sekarang aku tidak tahu, pada akhirnya. Tidak benar-benar tahu apakah dia penting, tidak benar-benar tahu apakah dia benar-benar mati. Bahkan tidak benar-benar peduli. Bahkan itu baru saja tiga hari yang lalu, ia mati. Tanamanku.

Di hari kematian-nya, pertanyaan-pertanyaan langsung membanjir. Nyaris melanda seperti tsunami. Menggudang pula. Tentang sesuatu yang tak bisa kau jangkau. Tapi aku tak berniat juga untuk menjangkaunya lagi, apalagi satu-persatu. Biarkan saja. Biarkan pertanyaan-pertanyaan mati sekarat seperti tanamanku. Kadang menjadi super-plegmatis itu perlu dan sangat membantu, iya kan? Seperti orang-orang agnostik, barangkali.

Aku juga baru sadar di hari kematiannya, bahkan seminggu sebelum itu, kalau aku pun ternyata tidak yakin aku benar-benar menyayangi tanamanku. Tidak yakin kalau aku benar-benar menginginkan ia bertumbuh, tidak mati. Dia semacam kaktus bagiku, kurasa. Lebih banyak masa berduri, daripada berbunga, seandainya pun tadinya berhasil bertahan hidup selama-lamanya. Mungkin itu yang menyebabkan aku lupa terus menyiramnya dengan air, tapi sebenarnya apa dia perlu disiram? Tanaman kaktus. Dia kan bisa tumbuh di tempat gersang tak berair sekalipun, bukannya?


Tiba-tiba aku mengingat Weber, mengingat pemaknaan dalam interaksionisme simboliknya, interpretasi pun bisa salah kan? Setiap orang memaknai hal yang sama secara berbeda-beda. Semoga kau tidak memaknai cerita tulisan ini dalam interpretasi yang meleset dari makna yang sebenarnya.

Anggap saja apa yang ku tunggu, ku tanam, ku harapkan, idealisme-ku bahkan, selama bulan-bulan yang kurang menyenangkan di tahun ini, sebenarnya adalah sebuah kesalahan. Tanamanku itu. Ah, tidak hanya sebuah, kurasa. Lebih dari sebuah kesalahan. Lebih dari sebuah. Mungkin. Mungkin. Mungkin saja lebih. Eh, memangnya tanamanku ada berapa ya?

Dan kalau dianggap kesalahan, kesalahan siapa juga? Ahaha, anggap saja memang itulah salah satu kenyataan tak menyenangkannya: kau baru benar-benar mengalami kalau eksklusi sosial ternyata nyata untuk kaum minoritas tak ber-power. Sepertimu. Apa hubungannya menanyakan identitas sensitifmu dengan kartu ujian?

Kurasa malah 2013 ini yang adalah sebuah kesalahan (besar)? Tenang saja, tinggal 25 hari lagi dan dia akan habis berlalu. Takkan kembali padamu lagi.


Siapa peduli? Masih bersyukur kau bisa bernafas hari ini.
Masih bersyukur ketika kau membuka matamu hari ini tidak ada panas-dingin atau bahkan kertak gigi di sekelilingmu, memenuhi telinga dan pemandanganmu.
Siapa peduli?

Sama seperti orang-orang yang pergi dan tak kembali lagi. Hilang. Melupakanmu dan kau lupakan pula. Siapa peduli?


If "plan A" did not work, the alphabet has 25 more letters! (though you didn't truly know what the 25 letters are). 
Stay cool. 



p.s. : mungkin aku tidak akan berkunjung lagi, setidaknya dalam waktu cepat, harapan di lembaran ini rasanya terlalu kabur untuk dimaknai bagiku saat ini. Aku pindah rumah darisini, dari halaman ini, alamat ini.

p.s. : siapapun kau, entah kau mengenal atau tidak mengenalku di luar dunia maya blog ini, jangan tanyakan apapun melalui media apapun, padaku. Aku tidak mau bersapaan dengan pertanyaan apapun, baik darimu atau bahkan, dari dalam diriku sendiri. Apalagi soal tanamanku. Terima kasih atas kebaikan hatimu yang mau mematikan pertanyaan-pertanyaan menyusahkanmu itu. Tapi, mereka jangan lagi dimutilasi. Biarkan mati. Kubur saja, dan lupakan cepat. Seperti tanamanku. Sampai jumpa lagi, meski entah kapan tepatnya, aku tak benar-benar tahu ataupun ingin tahu :)

p.s. : dan oh ya, yang terakhir aku janji, lain kali, jika boleh menyarankan, jangan sok kuat dan sok berani untuk menanam kaktus. Kau bukan ahok. Oke?

Wednesday, 27 November 2013

FATHERLESS GENERATION


Seorang anak perempuan berumur 14 tahun diperkosa oleh ayah kandungnya sendiri, setelah ternyata lebih dulu dia sudah berkali-kali diperkosa oleh abang kandungnya sendiri, bahkan pemerkosaan oleh abangnya itu sudah dimulai semenjak ia masih duduk di bangku kelas 4 SD. Enam tahun lamanya, sudah. Waktu yang tidak singkat untuk sebuah pengalaman akan tindakan pelecehan seksual seperti itu, yang dilakukan berulang kali. Bahkan setelah enam tahun pelecehan seksual oleh abang kandungnya, ayah kandungnya, yang seharusnya sanggup membela-melindunginya malah justru semakin memperburuk keadaan dengan ikut-ikutan memperkosanya juga. Miris.

Lebih miris lagi, ketika diwawancarai, ayahnya berkata seperti ini, "ya, daripada 'jajan' di luar keluar uang, ya 'minta' aja sama anak, uangnya kan bisa buat kebutuhan keluarga." Pas dengar perkataan ayahnya itu, rasanya patah hati luar biasa membayangkan si adik perempuan itu, perasaan-pikiran-harga-diri-dan-kondisinya. Patah hati luar biasa juga menyadari mindset si ayah yang, sedemikian tega pada anak kandungnya sendiri.

Akhirnya, sang ibu hanya bisa menangis meraung-raung ketika mengetahui kabar buruk itu dan mengunjungi suami-anaknya yang sudah mendekam di penjara.

Berita ini kusaksikan sendiri dalam berita tengah malam di SCTV sekitar satu atau dua minggu yang lalu. Sungguh, tak sanggup memikirkan-membayangkan adik perempuan berusia 14 tahun itu, masih begitu muda, yang "dikorbankan" demi hasrat nafsu seksual kedua laki-laki yang seharusnya menjadi sosok laki-laki yang paling penting dalam hidupnya selain suaminya nanti: ayah kandungnya, dan abang kandungnya.

Adik perempuan itu: aku tak sanggup membayangkan bagaimana hancurnya hatinya, dirinya, hidupnya, dunianya karena kejadian itu. Tak sanggup membayangkan bagaimana traumatisnya dia, apalagi terhadap sosok laki-laki. Tak sanggup membayangkan bagaimana dia akhirnya memandang dirinya sendiri kemudian. Tak sanggup membayangkan bagaimana kepercayaannya terhadap orang-orang di sekelilingnya runtuh, dan hancur.

Pernahkah kalian membayangkannya? Punya ayah kandung dan abang kandung sekejam dan setega itu? Miris ceritanya :"( Dari dulu aku sebenarnya ingin punya abang kandung, karena aku anak sulung dan hanya punya seorang saudara kandung laki-laki, adikku. Tapi kalau abangnya seperti abang adik perempuan ini, aku tak yakin aku masih ingin punya abang kandung. Aku juga tak yakin kalau adik perempuan itu ingin punya abang jika sebelumnya sudah tahu abangnya malah menghancurkan keperawanannya, bukan melindungi keperawanannya. Ah, sedih. Menyadari betapa kacaunya institusi keluarga saat ini.



Sedih, karena adik perempuan ini kehilangan sosok ayah dan sosok abang, sosok laki-laki yang baik dan bertanggung-jawab dalam hidupnya. Ya, dalam tulisan ini, sebenarnya aku lebih ingin menyoroti soal masalah kehilangan sosok ayah. Sebuah kenyataan dari generasi kita ini, yang bisa disebut fatherless generation.

Fatherless generation adalah salah satu masalah serius yang harus ditangisi-didoakan-dan-diperjuangkan dari generasi kita: betapa begitu banyak anak-anak dan anak muda kehilangan sosok ayah dalam hidupnya. Kehilangan sosok ayah ini tak sekedar seperti kasus di atas, ketika ayahmu benar-benar melakukan suatu perbuatan sedemikian tega dan kejam padamu. Kehilangan sosok ayah juga terjadi ketika ayahmu benar-benar pergi darimu, mungkin yang paling banyak terjadi adalah ketika keluarga dilanda perceraian atau perselingkuhan. Kehilangan sosok ayah juga terjadi ketika ayahmu kurang memainkan perannya sebagai ayah dengan baik, meski ayahmu mungkin tidak kemana-mana (tidak pergi menghilang, atau bercerai). Tapi mungkin ayahmu terlalu cuek, diam, masa bodoh, sibuk, kasar, atau bahkan sampai KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) terhadap istri dan anaknya. Fatherless generation menunjuk pada generasi yang kehilangan gambaran tentang dan pengalaman dengan ayah yang baik dan ideal.

Permasalahan fatherless generation ini tentu saja mengkuatirkan, karena sosok ayah sebenarnya sosok yang penting dalam hidup seseorang. Dalam kekristenan pun, seorang anak yang kehilangan sosok seorang ayah duniawi juga terancam akan kehilangan gambaran mengenai sosok Ayah, Bapa Surgawi. Kekristenan memang menyebut Tuhan sebagai Allah Bapa Surgawi, untuk mengajarkan bahwa hubungan antara Tuhan dan manusia memang seharusnya sedekat itu, senatural itu, dan sehidup itu. Jika seorang anak tidak mengalami hubungan yang dekat dengan ayah duniawinya, bagaimana ia bisa membayangkan hubungan yang dekat dengan Bapa Surgawinya?

Tapi di beberapa kasus, justru Tuhan bekerja lebih tak terduga dan tak terselami. Karena ada juga anak-anak yang kehilangan sosok ayah duniawinya, ternyata bisa (mendapat anugerah) merasakan-memiliki sosok Bapa Surgawi itu. Pdm. Jeffry S. Tjandra, salah satunya. Jika kamu pernah mendengar lagu "Seperti Bapa Sayang Anaknya", ya itu lagu yang dinyanyikan oleh Pdm. Jeffry S. Tjandra, dan diciptakan oleh Julita Manik dari hasil perenungan dan pengalamannya sendiri: keduanya memang korban fatherless generation juga. Kesaksian hidup dari Pdm. Jeffry S. Tjandra bisa dilihat disini :)

Bapa, besar sungguh kasih setia-Mu
Nyata sungguh perlindungan-Mu
Tak satu kuasa mampu pisahkan
Aku dari kasih-Mu
      
Bapa, ajarku s'lalu hormati-Mu
      Ajarku kuturut perintah-Mu
      B'rikan ku hati, tuk menyembah-Mu

Dan bersyukur s'tiap waktu
 
Reff  :
S'perti Bapa sayang anaknya
Demikianlah Engkau mengasihiku
Kau jadikan biji mata-Mu
Kau berikan s'mua yang ada pada-Mu

     
    S'perti Bapa sayang anaknya
    Demikianlah Kau menuntun langkahku
    Hari depan, indah Kau beri
     Rancangan-Mu, yang terbaik bagiku 

Pdm. Jeffry S. Tjandra ini ditinggalkan begitu saja oleh ayahnya ketika masih kecil, karena ia berasal dari keluarga yang broken home. Jadilah dia besar hanya bersama ibu dan saudara-saudaranya, dengan kehilangan sosok ayah yang diimpikannya. Julita Manik juga kehilangan sosok ayah yang ideal, awalnya banyak kekecewaan yang ia dan saudara-saudaranya rasakan terhadap ayahnya.

Tapi seperti yang sudah kubilang tadi, Tuhan memang sangat baik, terkhusus kepada mereka. Keduanya mengalami kasih Bapa Surgawi yang membuatnya merasa puas, tak lagi menyesali nasibnya yang fatherless di dunia ini. Pdm. Jeffry S. Tjandra sanggup mengampuni ayah duniawinya, dan akhirnya dipakai Tuhan luar biasa untuk menolong orang-orang yang juga mengalami kepahitan dan kekosongan karena kehilangan sosok ayah duniawi. Karena diberi talenta dalam bidang musik, bisa menciptakan lagu dan menyanyi, Pdm. Jeffry S. Tjandra akhirnya melayani dengan talentanya itu sampai sekarang. Sedangkan ayah dari Julita Manik, setelah pergumulan dan doa yang begitu panjang dan setia, Tuhan mengubahkan ayahnya dalam pertobatan menjadi ciptaan yang baru: ayah yang kepadanya Tuhan berkenan.

Sekitar sebulanan lalu, Pdm. Jeffry S. Tjandra melayani di kebaktian minggu di gerejaku di depok. Ini sudah yang ketiga kali, jika aku tidak salah ingat, aku ikut dalam ibadah yang dilayani oleh Pdm. Jeffry S, Tjandra. Dan itu artinya, sudah tiga tahun berturut-turut, karena Pdm. Jeffry S. Tjandra hanya berkunjung untuk pelayanan sekali setahun ke gerejaku di depok itu. Dan, aku selalu merasa, i'm very blessed. Praise God :") Dia adalah salah satu korban dari permasalahan fatherless generation, yang berhasil mengubah masa lalunya menjadi berkat bagi orang lain, bukan menjadi kepahitan atau kenangan buruk yang hanya ingin dilupakan. Kenapa bisa?

Jawabannya hanya satu: ia mengalami kasih Bapa Surgawi yang sangat dalam, lebar, tinggi, luas itu; tak terukur. Memulihkan. Memenuhi. Menjadikannya, baru.



Aku berharap semua korban masalah fatherless generation juga dapat mengalami hal yang sama. Dan bisa menyanyikan lagu "Bapa, Sentuh Hatiku" dengan mendalam, tulus. Lagu yang dibawakan oleh Maria Shandy, dan pernah booming karena jadi soundtrack sebuah film di televisi. Nah, tahukah kalian? Kalau lagu ini ditulis berdasarkan kisah seorang korban fatherless generation juga? Ya, lagu ini ditulis oleh Jason Irwanto Chang, berdasarkan pengalaman hidup teman sekolahnya. Temannya itu, seorang perempuan, yang diperkosa oleh ayah kandungnya sendiri. Lagu ini kemudian ditulis Jason berdasarkan kisah temannya itu. Lagu ini ditujukan kepada Bapa Surgawi, yang begitu mengasihi kita bahkan ketika ayah duniawi kita mungkin kurang atau bahkan tidak mengasihi kita. Kasih Bapa Surgawi itu, selalu untuk kita: kekal.

Betapa ku mencintai / Segala yang t’lah terjadi
Tak pernah sendiri / Jalani hidup ini / Selalu menyertai
Betapa ku menyadari / Di dalam hidupku ini
Kau selalu memberi / Rancangan terbaik
Oleh karena kasih...

Reff :
Bapa.. sentuh hatiku
Ubah hidupku / Menjadi yang baru
Bagai... emas yang murni / Kau membentuk bejana hatiku
Bapa... ajarku mengerti
Sebuah kasih yang selalu memberi
Bagai air mengalir / Dan tiada pernah berhenti...


Aku sendiri, juga salah satu korban fatherless generation: dulunya, sebelum pemulihan besar-besaran terjadi dalam hidupku dan hidup keluargaku. Keluargaku baik-baik saja, tidak bercerai. Tapi relasiku dengan ayahku memang kurang baik. Ayahku tipikal yang agak cuek dan kurang perhatian, terhadap anak dan keluarganya. Ayahku tipikal sanguin yang suka bergaul, teman-temannya banyak. Jadi kadang terlalu sibuk di luar, reuni ini-itu, panitia acara ini-itu, ketemu teman lamanya yang ini-itu. Ayahku juga cenderung galak kalau marah. Entah pada mama, entah pada kami anak-anaknya. Pernah juga ayah dan ibuku berantem hebat, ketika aku mau UN SMP, dan nyaris keluar kata-kata "cerai" (meski sebenarnya secara kristen tidak bisa).

Ketika SMA, aku merasa kepahitan terhadap ayahku. Pengalaman-pengalaman yang kurang menyenangkan dalam karakternya yang terkalkulasi sempurna. Sedih saja rasanya ketika membanding-bandingkan dengan teman-temanku yang punya ayah superhero banget.

Tapi, kasih Bapa Surgawi melawatku ketika aku transisi dari kelas II SMA ke kelas III SMA, seiring dengan aku kenal Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat atas hidup dan hatiku pribadi (bukan atas hidup dan hati orang lain, yang kata pendeta lagi). Tiba-tiba saja rasanya lepas, lega. Aku bisa memaafkan siapa saja yang bersalah padaku seberat apapun, termasuk ayahku dalam perannya yang tak dijalankan maksimal tak sesuai dengan sosok ideal yang kuinginkan.

Kepulihan yang melandaku memang tak serta-merta melanda ayahku. Aku masih mendoakan ayahku agar relasi kami dipulihkan. Sampai ketika aku masuk kuliah dan merantau ke UI, pemulihan besar dari Tuhan Yesus melanda keluarga kami. Relasiku dengan ayahku dipulihkan total. Di tahun pertama kuliah, ayahku bisa telfon satu sampai dua kali, rutin setiap hari, meski dalam 1-3 menit saja, meski hanya menanyakan hal-hal yang kelihatannya sepele: kabarku, aku dimana, sudah makan, kuliah. Itu tak pernah terjadi sebelumnya. Ketika aku pulang ke medan, keluarga juga menjadi lebih hangat. Ayah dan ibuku, semakin mesra. Lawatan kasih Yesus dan jawaban doa yang luar biasa. Sampai hari ini, Tuhan masih terus mengerjakan pemulihan dalam keluarga kami. Aku bersyukur saat ini tidak hanya punya satu ayah yang luar biasa, tapi akhirnya punya dua ayah yang luar biasa! Bapaku di surga, dan ayahku di dunia saat ini. Bersyukur, banyak. Melimpah :) Itu cerita kesaksian pribadiku, apa ceritamu? Hehe :)

Sudahkah kamu merasakan dan mengalami betapa lebarnya, panjangnya, tingginya, dalamnya, luasnya, kasih kekal dari Bapa Surgawi itu? :)


p.s. :
(berikut, aku copy-kan tulisan mengenai kesaksian true story di balik lagu "Bapa Sentuh Hatiku" itu. Tulisan ini disadur dari website majalah Praise, visit them here ;)
Lagu ‘Sentuh Hatiku’ mempunyai cerita yang sungguh menyentuh hati kita semua. Lagu ini merupakan refleksi hidup yang diilhami oleh kisah seorang gadis, teman sekolah Jason, yang diperkosa ayah kandungnya sendiri hingga hamil. Gadis yang tidak mau disebutkan identitasnya ini awalnya tidak bisa mengampuni perbuatan ayah, meskipun dilakukan dengan tidak sengaja, karena saat itu ayahnya dalam kondisi mabuk berat. Tetapi apa yang dilakukan ayahnya tersebut telah menghancurkan masa depannya. Gadis tersebut sempat mau bunuh diri. Bahkan karena musibah yang menimpanya itu, kemudian gadis ini menjadi gila dan dipasung dengan rantai di rumahnya selama belasan tahun lamanya.
    Jason sering datang dan mendoakan sahabatnya itu sambil sesekali menulis lirik lagu. Waktupun berlalu. Jason pun pindah kota dan mulai sibuk dengan kegiatannya sendiri. Suatu ketika anak perempuan itu menelponnya dan ia sangat terkejut. Karena setahunya, anak perempuan itu gila dan juga dipasung. Mengapa bisa lepas bahkan menelponnya?
    Akhirnya anak perempuan itupun bercerita. Suatu hari, rantai yang membelenggu dia bertahun-tahun itu, entah karena sudah berkarat atau apa, tiba-tiba lepas. Satu hal yang langsung diingatnya saat itu adalah ingin membunuh ayahnya. Tetapi waktu dia bangun, ia melihat Tuhan Yesus dengan jubah putihnya, berkata : “Kamu harus memaafkan papamu!” Anak  perempuan itu mengatakan tidak bisa. Ia pun terus menangis, memukul dan berteriak sampai akhirnya Tuhan Yesus memeluk dia sambil berkata : “Aku mengasihimu”. Walaupun bergumul, akhirnya anak perempuan itupun bisa memaafkan ayahnya. Mereka sekeluarga menangis terharu melihat apa yang telah dibuat Tuhan dalam memulihkan keluarga mereka. Apalagi hal itu terjadi sebelum ayahnya meninggal karena stroke.
     Kisah nyata ini sangat luar biasa. Betapa tidak, kasih Tuhan dapat menyentuh hatinya yang paling dalam. Kebencian diganti dengan luapan kasih Tuhan sehingga anak perempuan itu dapat mengampuni bahkan menceritakan kasih Tuhan dalam hidupnya. Ketika dia menoleh ke belakang hidupnya, hal itu tidak membuatnya pahit lagi. Awal lirik lagu ‘Sentuh Hatiku’ benar-benar merupakan kesaksian hidup seseorang yang disentuh kasih Tuhan: “Betapa ku mencintai, segala yang t’lah terjadi...” Apakah peristiwa kelam yang lalu membuat Saudara saat ini hidup dalam kepahitan ? Izinkan Kasih Agape Tuhan itu menjamah Saudara saat ini dan mengubah hidup Saudara sehingga menjadi baru. (Sumber : Praise #3 & #6) (kisah selengkapnya dapat dibaca di Story Behind The Song terbitan Yis Production).