Sunday, 21 January 2018

ONE REASON VS MILLION REASONS



 Every heartbreak makes it hard to keep the faith.
I've got a hundred million reasons to walk away.
But baby, I just need one good one to stay.

Monday, 1 January 2018

LET'S #RESTART, 2018!


Re dapat memicu revolusi atau perubahan drastis. Dengan re (dalam bahasa Inggris, misalnya regain, retry, atau restart), kau bisa mendapatkan kembali sesuatu, mencoba lagi, dan memulai sesuatu yang baru. Dan pada awal kata-kata tertentu, re menghasilkan peluang terciptanya kondisi yang patut disyukuri.

Kata-kata terbaik selalu diawali dengan re.

(Bob Kelly, dalam Heartlifters for The Hurting, 2004)


Forget and forgive. Leave the past, focus on the future. Let’s #restart.
Yes, it’s a brand new beginning. 2018, welcome me too.

Sunday, 31 December 2017

REREFLECTION, GOOD MEMORIES & 2017


Tulisan ini saya tulis untuk mengenang 2017 dalam ingatan yang baik. Bagaimanapun, dalam satu tahun, tentu saja tak selalu suka yang mengisi, atau sebaliknya pun tidak juga duka melulu. Namun, mengenang yang baik – to see the good in bad – penting untuk menikmati perjalanan kehidupan. Yes, I am trying to do so.

©   Untuk kali pertama (akhirnya) merasakan keseruan march bareng teman-teman feminist di Women’s March 2017 Jakarta. Kami berjalan dari Sarinah sampai depan Istana Negara, dengan semangat berbara dan berbagai poster di tangan. Tujuan kami satu, equality dalam berbagai sisi. Di tahun ini juga, ikut Feminist Festival kali pertama di Jakarta. Bertemu dengan tokoh-tokoh feminist Indonesia dan teman-teman rekan feminist Indonesia. Pengalaman berharga :)

©    Melakukan kitten rescue pertama saya dengan menolong anak kucing yang terancam mati karena flu kucing yang serius. Anak kucing memang masih sangat-amat rentan terhadap penyakit karena organnya belum berkembang sempurna, jadi penyakit flu jelas dapat membunuh. Selain karena anak kucing ini adalah satu-satunya anak Nyna (kucing saya di Cikarang) yang tersisa dan hidup karena yang lain hilang (mungkin diambil orang), saya bela-belain sampai beli obat dan vitamin, ngurusin selama di kosan, sampai nyuapin makan-minum karena anak kucingnya gak mau makan atau minum sama sekali. Thankfully, akhirnya anak kucing ini sembuh dan menjadi salah satu kucing kesayangan saya, I named her Ayi.

©   Mulai tahu dan mulai kenal bahwa ada komunitas pencegahan bunuh diri bernama Into The Light Indonesia. Beberapa kali mencoba ikut lingkar studi suicidologi-nya dan teredukasi banyak sekali. Yang jelas, jadi sadar bahwa masalah bunuh diri harus dilihat lebih dalam perspektif psikologis, dibanding spiritual (yang mostly cenderung melihat dan menghakimi bahwa itu dosa dan katanya layak masuk neraka), sehingga lebih dapat menolong banyak orang untuk survive. Mental health is really important, now I know. Terima kasih, Into The Light Indonesia!

©    Tahun ini Beti, adik sponsor saya di Kalimantan (dari Yayasan Wahana Visi Indonesia) masuk jenjang sekolah dasar. Saya ikut berbahagia dan merasakan serunya Beti menyambut sekolah baru, dengan berburu seragam sekolah, sepatu, dan keperluan sekolah as special gift untuk Beti.

©      Tahun ini juga, saya membeli hampir 40 buku. Saya belum pernah benar-benar menghitung berapa buku yang sebenarnya saya beli di tahun-tahun sebelumnya, tapi jumlah hampir 40 buku ini termasuk besar bagi saya untuk setahun (dan saya bahagia koleksi buku di perpustakaan pribadi bertambah lagi, tentunya! Dalam hal ini, tolong lupakan sejenak masalah budget, haha hiks). Ketika mengingat, di 2017 ini memang ada banyak festival, termasuk The 4th ASEAN Literary Festival, dimana ada berbagai stand penjual buku-buku kece – ditambah diskon besar-besaran dari Gramedia.com untuk #Harbolnas (Hari Belanja Online Nasional) di 12 Desember 2017, dimana semua buku diskon 50% dengan free ongkos kirim ke seluruh Indonesia. (Terus habis beli nanya sama diri sendiri : yul, kapan bacanya ini? #eh)

©    Membuat blog kedua di Wordpress. Sebuah blog khusus tulisan feminist dan isu-isu perempuan hasil refleksi personal, sebagai salah satu upaya sederhana yang nyata, dari saya, untuk mendukung gerakan feminisme di Indonesia. Feel free to visit www.jasiridvorah.wordpress.com :)

©     Sukses menjalani dan menikmati liburan short trip ke Yogyakarta bersama dua sahabat saya Citin dan Justice dengan segala keseruannya. Ini kali pertama dalam empat tahun terakhir saya liburan ke luar kota, yang pure liburan tanpa embel-embel tugas kantor, dengan budget sendiri. Kami berkereta-ria dan dibantu banyak oleh salah seorang teman bernama Yosaline yang sedang mengambil S2 di UGM – lalu menyadari kesemua kami ex-anggota ekskul majalah sekolah Eureka di SMA dan trip inipun jadi semacam reunian ex-Eureka juga~ haha

©    Akhirnya, di tahun 2017 ini tulisan feminist pertama saya bisa published di magdalene.co. Juga tulisan yang lain di warungsatekamu.org. Secara khusus, terima kasih untuk Ruth Lidya Panggabean, yang sudah menjadi motivator, supporter, sekaligus editor yang luar biasa kece berandil dalam hal ini :’)

©    Ikut acara Festival Relawan di Bulan Relawan (10 Desember 2017) dengan sahabat saya Angel dan sungguh terinspirasi banyak sekali. Merasa tercerahkan dan sangat positif melihat berbagai jenis dan bentuk social movements, khususnya dari anak-anak muda, untuk kemanusiaan di zaman sekarang ini :)

©    Di tahun 2017 ini, saya banyak membeli self-appreciation gift. Ya, untuk diri sendiri. Bahwa tahun ini, apapun yang terjadi, I’ve done my best so far. Membuat kokoru craft Princess Merida (selama ini bikin kokoru craft hanya buat gift orang lain). Memesan clay craft khusus dari callaye.id. Termasuk membeli boneka Pokemon Eevee (dan nemu yang original!) dari salah satu mall di Jakarta. Haha, ini salah satu memory penting karena sudah lama memang kepingin beli boneka Pokemon Eevee. Semenjak Pokemon Go membawa kembali my childhood memories ;)

©      Akhirnya, menemukan juga komunitas ekofeminisme yang membantu saya banget untuk memahami isu-isu ekofeminisme, secara khusus dalam konteks Indonesia. Sudah lama sekali memang ingin mendalami isu ekofeminisme dan menemukan Resister Indonesia rasanya bahagia. Thank you, Resister Indonesia!

©     Tahun 2017 ini juga, unpredictably, pertama kalinya saya punya pikiran dan keinginan untuk kuliah STT (selama ini emoh membayangkan saya masuk sekolah teologia), khusus untuk belajar Feminist Theology setelah ikut diskusi di salah satu gereja paling feminis di Indonesia. Funny, but i'm serious enough :) Dan yap, tahun ini juga baru sekali-kalinya menemukan simposium bertemakan isu perempuan (berjudul Protestanisme dan Isu Perempuan di Indonesia) diselenggarakan oleh gereja (semoga mungkin sudah ada gereja lain-lain juga yang menyelenggarakan, cuma saya saja yang belum tahu banyak, semoga). Ini juga sekaligus kali pertama saya menemukan gereja yang sama sekali mengatakan tidak untuk patriarkhi dan berperspektif keadilan sosial. Mau nangis sangkin senang campur terharu.

©     And the last, but also the most important one, akhirnya saya pindah juga dari Cikarang dan mendekor ulang kamar saya di Depok sampai jadi amat-sangat-nyaman untuk melakukan segala hal :’)

2017, thank you! I enjoyed the journey! :)

Saturday, 30 December 2017

RANDOM TWEETS & SELF-CONTEMPLATION 2017


Tulisan ini ditulis sebagai catatan pengingat untuk diri sendiri. Kesemuanya termasuk random tweets, yang berasal dari self contemplation yang biasanya saya oceh di akun Twitter. Berhubung Twitter hanya bisa men-scroll sampai post tertentu saja sekarang, jadi ada batas tertentu (dan tidak bisa lagi sampai tweet pertama yang kita post di akun profile kita, seperti bahkan kemarin ternyata saya hanya bisa terakhir scroll sampai tweets saya di bulan May 2017 - padahal saya mulai menggunakan Twitter sejak 2009), saya berpikir tulisan ini sebagai perekam apa yang dibuang sayang. Karena bagaimanapun, saya menyadari bahwa, (hasil) kontemplasi ternyata sangat esensial perannya bagi seorang introvert :)


“Pengalaman, sekalipun sakit atau pedih, sebenarnya adalah juga harta yang sangat berharga. We grow, we learn from it. We can write about it.”

04:53 AM - 30 Oct 2017 from Serang, Indonesia


“We can't control what others think or say about us. But we can control our own mind and heart. The struggle is not easy but we can do it. Believe in ourselves, not in negative talks from others. Yes, we can. #selffulfillingprophecy.”

12:15 AM - 24 Nov 2017 from Serang, Indonesia


“We seek for a better change, not a perfect change. Nothing in this world is perfect enough. #reminder #endurance #perseverance #life.”

07:44 PM - 5 Oct 2017 from Serang, Indonesia


“In fact, there is no one who can be perfect. Let's embrace the weakness, the humanity & celebrate it. Don't give up on it. Don't.”

05:23 AM - 3 Oct 2017 from Serang, Indonesia


“Seandainya setiap orang yang mengaku beragama bertransformasi menjadi lebih rendah hati & mengasihi, mungkin dunia akan jadi lebih baik.”

03:51 AM - 3 Oct 2017 from Serang, Indonesia


“If you love yourself, it also means you believe in yourself. If you don't believe in yourself, it means you haven't loved yourself enough.”


08:14 PM - 19 Sept 2017 from Serang, Indonesia


“Be good to yourself because there is no one who will always be available to take care of you, except yourself. #reminder.”

05:33 AM - 14 Sept 2017 from Serang, Indonesia


“Judge not that ye be not judged. Karma does exist. What you sow, what you reap. #respect #love #tolerance #peace.”

12:59 AM - 13 Jun 2017 from Padalarang, Indonesia


“Requestioning is one part of life process. Do not reject this phase. Embrace it, and walk through it. Till you find the answer.”

06:20 PM - 10 Sept 2017 from Sukmajaya, Indonesia


“Betapa pentingnya proses re-refleksi. Kepekaan, kesadaran akan apa yang terjadi & dialami. Menghubungkan antara masa lalu dan masa depan.”

07:08 AM - 1 Sept 2017 from Menteng, Indonesia


“True act of caring is a consistent prayer. That's what I think. #SaturdayNight.”

05:57 AM - 27 May 2017 from Serang, Indonesia


“Tidak pernah mudah untuk menjadi rendah hati. Kita perlu hati yang lebih luas dan lapang, dalam melihat setiap situasi, pihak lain & aksi.”

02:39 AM - 30 Aug 2017 from Bekasi Barat, Indonesia.


“Menjadi rendah hati bukan berarti menjadi bodoh atau tidak bicara tidak beraksi. Rendah hati adalah soal cara, sikap hati & reaksi.”

02:42 AM - 30 Aug 2017 from Bekasi Barat, Indonesia

 

“Confidence is the best thing a woman can wear. #feminist #feminism.”

01:50 AM - 6 Jun 2017 from Serang, Indonesia


“Small part does matter. Small role is still significant for whole. Do not stop to do our own part & role. It does matter.”

10:22 PM - 25 Jun 2017 from Sukmajaya, Indonesia


“I wonder how tolerance and understanding work. People choose tolerance & understanding just for something they'd known and experienced before. Maybe. Mostly.”

07:17 PM - 17 Jun 2017 from Sukmajaya, Indonesia


“Tidak ada yang bisa menandingi kekuatan pelajaran pengalaman. Pengalaman juga yang melahirkan rasa empati, simpati dan toleransi.”

05:17 AM - 23 May 2017 from Serang, Indonesia


“Suffering is also a lesson, a part of life. But why we hate this part of life lesson so much? Yes, because suffering is surely the hard one.”

04:23 PM - 28 Jun 2017 from Serang, Indonesia


“Penting untuk menerima dan menghadapi kemanusiawian. Sebuah catatan penting untuk mereka yang menganut dan menjalani jalan spiritualitas.”

01:44 AM - 17 Aug 2017 from Serang, Indonesia



Ketika menuliskan ini, saya merasa lucu juga. Kontemplasi itu terjadi begitu saja. Bisa jadi di rumah, di kantor, di mobil, di jalan, dimana saja. Bisa di pagi hari, siang, sore, atau malam hari. Karena pengalaman apa saja. Ketika berelasi sosial, mendengar berita, membaca buku. Ketika mengalami sesuatu, lalu memikirkan dan merenunginya. Berkaca pada situasi, pengalaman, dan perubahan – perenungan lahir tanpa diduga. Twitter ternyata selama ini telah menjadi semacam buku harian (untuk kontemplasi-kontemplasi singkat) saya. Twitter nyatanya masih menjadi social media terfavorit saya. Let’s continue the contemplation next year :)

Friday, 15 September 2017

MERAYAKAN KEBERAGAMAN DALAM FEMFEST ID 2017


Feminist Festival 2017 di Jakarta

Setelah sukses mengadakan Women’s March 2017 di Jakarta pada 8 Maret 2017 lalu, di bulan Agustus 2017 ini Jakarta Feminist Discussion Group (JFDG) kembali menggelar acara lanjutan. Feminist Festival Indonesia (Femfest Id) 2017 diselenggarakan di SMA 1 PSKD, Jakarta Pusat, pada 26-27 Agustus 2017. Jika Women’s March 2017 merupakan aksi menyuarakan isu kesetaraan dalam long march dari Sarinah menuju Istana Negara bersama-sama, Feminist Festival 2017 di Jakarta ini menggelar kelas-kelas untuk mengedukasi dan mensosialisasi peserta mengenai isu-isu kajian feminisme. Keberagaman, tampak jelas dalam Femfest Id 2017 ini. Tak hanya soal identitas peserta dan panitia yang berasal dari berbagai latar belakang sosial-budaya serta gender, namun juga mengenai isu-isu yang diangkat. Sangat banyak, sangat beragam.

Tak menyia-nyiakan kesempatan untuk acara-acara feminist, saya pun ikut menjadi salah satu peserta di Feminist Festival 2017 ini. Tak mahal, uang kontribusi peserta adalah Rp 150.000 untuk peserta umum dan Rp 100.000 untuk pelajar dan mahasiswa. Setiap peserta bisa memilih kelas yang ingin diikuti sesuai isu feminisme yang diminati, maksimal 8 kelas dari total 20 kelas yang ada.


Jadwal Lengkap FemFest Id 2017

Kelas-kelasnya sendiri sangat beragam dan sangat menarik. Saya sempat bingung, seperti ingin mengambil semua kelas – namun ada kelas-kelas yang diselenggarakan bersamaan jadi memang kita harus memilih 1 dari 3 dalam setiap jadwal sesi. Yang jelas, memang ada beberapa kelas yang sangat ingin saya ambil, terkait dengan isunya yang benar-benar menyerap perhatian saya selama ini. Ekofeminisme, salah satunya. Bagi saya, kelas ini merupakan best session dari semuanya. Tiga panelis yang diundang sangat dekat dengan isu ini. Bahkan, panitia juga mengundang Yu Sukinah, salah satu perempuan pejuang aksi Kendeng yang menolak pabrik semen. Dua lagi tak kalah kece. Dewi Candraningrum, yang memang memfokuskan diri dalam kajian ekofeminisme akademik sekaligus seorang seniman yang melukis tentang-dan-bersama alam. Tiza Mafira, yang menginisiasi petisi untuk mengurangi pemakaian kantong plastik di Indonesia, sehingga di tahun 2016 kemarin pemerintah sempat mengadakan uji coba 3 bulan tentang kantong plastik berbayar di swalayan.


Sesi Kelas Ekofeminisme Bersama Dewi Candraningrum

Meskipun bagi saya kelas Ekofeminisme adalah best session, bukan berarti kelas-kelas lainnya tidak bagus atau tidak menarik. Setiap kelas sebenarnya memiliki keunikannya masing-masing. Dari setiap kelas, saya merasa mendapat ilmu pengetahuan berlimpah, sudut pandang yang semakin tercerahkan, dan semangat baru. Berikut 8 kelas dan apa hal yang sangat berkesan bagi saya dalam setiap sesinya.

1. Pleno: Dasar-Dasar Feminisme
Lihat (simbol: mata) --> Analisa (simbol: hati) --> Aksi/Refleksi (simbol: tangan). Gerakan feminism berproses dalam alur ini. Kita melihat-mengalami isu ketidakadilan dan ketidaksetaraan yang terjadi, tetapi sekedar melihat-mengalami itu tidak cukup. Kita harus menganalisa apa yang terjadi, kita berpikir. Kita mencari jawaban dari pertanyaan mengapa. Tidak berhenti sampai menganalisa, kita harus berbuat sesuatu. Kita bergerak dan beraksi. Akan ada dorongan untuk berhenti dan diam. Segala sesuatu yang bisa kita lakukan sesuai kapasitas kita untuk menyuarakan perubahan dan kesetaraan. — Pencerahan dari Valentina Sagala (Institute Perempuan)
2. Panel Diskusi: Pekerja Perempuan
Bagaimanapun, menutup lokalisasi bukanlah solusi. Terbukti, bahwa penutupan lokalisasi tidak bisa meniadakan prostitusi, justru semakin membuatnya menyebar tak terdeteksi. Justru legalisasi itu penting. Mengapa? Karena di dunia yang manusiawi ini akan selalu ada demand, permintaan, akan pekerja seks dan prostitusi. Penutupan lokalisasi justru akan membuat masalah prostitusi tidak terawasi dan menjadi rentan bahaya baik bagi para pekerja seks, pemakai jasa, maupun masyarakat. Misalkan, untuk penanganan pencegahan isu HIV/AIDS. Pemusatan prostitusi di satu area lokalisasi membuat intervensi masalah kesehatan oleh pemerintah maupun pihak swasta menjadi lebih mudah. Pun jika lokalisasi dilegalisasi, pemerintah bisa menetapkan aturan tegas tentang prasyarat mereka yang boleh menjadi pemakai jasa (misalnya usia dan status pernikahan).Pencerahan dari Ikka Noviyanti (Organisasi Perubahan Sosial Indonesia – OPSI)
3. Panel Diskusi: Kebijakan Publik & Marginalisasi
Kelompok teman-teman disabilitas di Indonesia masih mengalami diskriminasi dalam banyak hal. Apalagi, jika mereka disabled dan mereka perempuan, diskriminasi yang dialami malah bersifat ganda. Karena itu, kita butuh menciptakan lingkungan dan kebijakan yang inklusif bagi mereka, bagi semua. Teman-teman disabilitas harus ditolong mencapai kemandirian, yang bertitik tolak dari perspektif bahwa mereka disabled (fokus pada sistem dan lingkungan yang tidak inklusif dan tidak ramah bagi mereka, menekankan bahwa teman-teman disabilitas memiliki potensi untuk berkembang dan hidup mandiri), bukan bahwa mereka cacat (fokus pada kelemahan dan kekurangan, apa yang mereka tidak bisa lakukan).Pencerahan dari Fajri Nursyamsi
4. Panel Diskusi: Kekerasan Berbasis Gender
Di dalam masyarakat, ketidaksetaraan gender sebenarnya sangat terkait dengan gender superior yang berakar dari ideologi patriarkhi dimana seperti ada tingkatan hierarkis yang menempatkan gender dalam kelas-kelas bertingkat. Laki-laki menempati kelas paling atas, perempuan di bawahnya, dan tempat terakhir diberikan kepada kelompok transgender. Gender superior ini merupakan salah satu penyebab secara langsung dan tidak langsung kekerasan berbasis gender yang akhirnya menimpa kelompok paling marginal, baik kelompok perempuan maupun kelompok transgender.Pencerahan dari Rebecca Nyuei, Sanggar Suara
5. Pleno: Relevansi Feminsime
Jangan lupa bahwa, gender equality adalah goal #5 dari SDGs (Sustainable Development Goals). Artinya, dunia juga sudah mengakui bahwa gender equality atau kesetaraan gender merupakan satu cita-cita dan satu tujuan yang penting untuk dicapai dan diusahakan. Gender equality ini juga bukan hanya soal kesetaraan antara gender biner, perempuan dan laki-laki, tetapi kesetaraan untuk semua gender yang ada. Pencerahan dari Hannah Al Rashid, Actor & UN Ambassador Indonesia for Goal #5 SDGs
6. Panel Diskusi: Ekofeminisme
Perspektif ekofeminisme menempatkan kita untuk melihat tanah sebagai daging kita, sungai sebagai aliran darah kita, dan gunung sebagai payudara kita – hal ini juga berarti, jejak lingkungan yang kita tinggalkan di alam sama dengan membuang sampah ke diri kita sendiri. Pengaitan pengalaman dan kebersatuan dengan alam ini perlu diresapi untuk perjuangan menjaga lingkungan alam.Pencerahan dari Dewi Candraningrum
7. Lokakarya: Intervensi Pelecehan Seksual
Candaan seksis, termasuk catcalling, dapat menimbulkan bigger impact dalam masyarakat. Sebuah candaan seksis pun dapat berkontribusi dalam kekerasan seksual yang lebih parah. Jika digambarkan sebagai sebuah piramida yang berproses : candaan seksis atau bahasa yang mengobjektivikasi di bagian paling dasar, berdampak pada sistem nilai masyarakat seperti menciptakan stereotipe bias gender tertentu yang bisa menghambat salah satu gender dalam karir atau pekerjaan, kemudian naik lagi berdampak pada ancaman pelecehan seksual verbal, kemudian naik lagi berdampak pada pemerkosaan, pelecehan seksual, siksaan fisik, emosional dan keuangan, sampai pembunuhan (tingkat paling atas, paling parah). Karena itu, kita harus speak up. Tidak boleh menggangap bercandaan seksis itu sepele atau biasa.Pencerahan dari Angie (Hollaback! Jakarta) dan Sophia Hage (Lentera Sintas Indonesia)
8. Panel Diskusi: Kesehatan Seksual dan Reproduksi
Kesehatan seksual berbeda dengan kesehatan reproduksi. Jika kesehatan reproduksi hanya menyoal mengenai perihal reproduksi manusia, kesehatan seksual mencakup ranah yang lebih luas – tidak hanya soal reproduksi, tetapi juga kesehatan well-being holistik kita terkait seksualitas. Untuk perempuan normatif saja yang cisgender, sudah berusia, heteroseksual, dan belum menikah, akses layanan dan informasi seksualitas-reproduksi masih sulit. Karena, layanan dan informasi seksualitas dan reproduksi sepertinya banyak hanya ditujukan bagi para perempuan normatif yang cisgender, heteroseksual, dan sudah menikah, sehingga mengeksklusi perempuan yang tidak masuk ke dalam kelompok ini. Apalagi untuk kelompok marginal yang lain (seperti disabled, transgender)? Bagaimanapun layanan dan informasi mengenai seksualitas dan reproduksi di Indonesia yang masih sangat bias dan diskriminatif butuh perubahan.Pencerahan dari Asti Widihastuti (Klinik Angsamerah)
 
Keberagaman dalam Femfest Id 2017 juga dirayakan melalui berbagai stand dari organisasi/komunitas/NGOs yang menangangi isu perempuan dan isu keberagaman. Di stand ini, peserta bisa berkunjung dan bertanya mengenai kegiatan dan pergerakan mereka, menanyakan seputar perihal keterlibatan, ataupun mendukung mereka melalui pembelian merchandise khas yang kebanyakan bersifat campaign tentang isu yang diangkat. Ada stand dari Magdalene.co, Rutgers, Migrant Care, Arus Pelangi, Lentera Sintas Indonesia, Kapal Perempuan, Trade Union Rights Centre (TURC), HELP, Jurnal Perempuan, perEMPUan (dan mungkin masih ada yang luput tersebut di list ini). Saya sendiri sangat senang dengan merchandise dari perEMPUan (goodie bag yang berisi informasi bagaimana membantu teman yang mengalami pelecehan seksual), dari Arus Pelangi (pin pelangi yang bertuliskan no bullying untuk ikut campaign anti-bullying bagi teman-teman LGBTQIA), dan dari Jakarta Feminist Discussion Group / JFDG (pin bergambar logo JFDG) yang sempat saya beli ini.


Merchandise dari FemFest Id 2017

Oh ya, Feminist Festival 2017 Indonesia juga mengundang para kolaborator feminis (termasuk para laki-laki pro-feminis, seperti KH Husein dan Syaldi Sahude dari Laki-Laki Baru). Ada satu sesi kelas yang mewadahi diskusi bersama mereka, yaitu dalam Panel Diskusi: Sekutu dan Kolaborator Feminis. Meski tidak dapat mengikuti kelas ini (karena ada kelas Lokakarya Intervensi Pelecehan Seksual), bagi saya, ini adalah salah satu keunikan Feminist Festival Indonesia 2017. Acara ini memang bukan hanya acara tentang dan (eksklusif) untuk perempuan, tapi inklusif bagi semua ;)

Selain 20 kelas yang berlangsung dari 09.00-19:00 WIB, di malam hari ada juga sesi Poetry Night (untuk malam pertama di 26 Agustus 2017) dan sesi Musik (untuk malam kedua di 27 Agustus 2017). Dalam Poetry Night, banyak teman-teman yang membacakan puisi mengenai perempuan dan isu feminisme. Sangat menarik dan sangat menyentuh, bahwa isu perempuan dan feminisme juga dapat disuarakan melalui puisi dan kata-kata sastra.


Simple Campaign di Stand Lentera Sintas Indonesia
*Ikut Menulis, Ikut Bersuara*

Akhirnya, ya, saya sangat menikmati acara Femfest Id 2017 ini. Bagi saya, acara ini adalah acara dimana saya benar-benar bisa melihat indahnya toleransi dan penghargaan keberagaman. Mulai dari kelas-kelas dan isu-isu yang beragam, berbagai jenis aliran feminisme yang dibahas dan penganutnya yang dapat saling menghormati satu sama lain, para peserta dengan gayanya masing-masing dan ekspresi gendernya masing-masing yang tidak saling nyinyir atau menghakimi, ide-ide dan pemikiran yang bisa saja berbeda dalam panel diskusi tetapi tidak menimbulkan perpecahan karena masing-masing belajar untuk saling memahami, berbagai organisasi/komunitas yang ikut berpartisipasi dan sama-sama menyuarakan indahnya keberagaman itu sendiri.

Dan, ya, saya bersyukur dapat ikut merayakan keberagaman itu dalam dua hari yang panjang di Feminist Festival 2017 Indonesia ini (terima kasih untuk setiap panita yang sudah berupaya keras mempersiapkan acara ini). Beragam lebih indah dari seragam.


p.s. :

Untuk yang penasaran dengan serunya diskusi, sesi-sesi kelas dalam Feminist Festival 2017 ini masih bisa diakses di halaman Facebook Feminist Fest Indonesia (masih ada rekaman siaran langsung). Saya pribadi juga sudah merangkum catatan refleksi saya untuk setiap sesi dalam catatan elektronik (file ms word) dan sangat senang serta terbuka untuk berbagi (boleh leave comment atau menghubungi saya via email). Karena masa depan itu feminis, mari terus bersama menyuarakan kesetaraan untuk semua :)