Friday, 15 September 2017

MERAYAKAN KEBERAGAMAN DALAM FEMFEST ID 2017


Feminist Festival 2017 di Jakarta

Setelah sukses mengadakan Women’s March 2017 di Jakarta pada 8 Maret 2017 lalu, di bulan Agustus 2017 ini Jakarta Feminist Discussion Group (JFDG) kembali menggelar acara lanjutan. Feminist Festival Indonesia (Femfest Id) 2017 diselenggarakan di SMA 1 PSKD, Jakarta Pusat, pada 26-27 Agustus 2017. Jika Women’s March 2017 merupakan aksi menyuarakan isu kesetaraan dalam long march dari Sarinah menuju Istana Negara bersama-sama, Feminist Festival 2017 di Jakarta ini menggelar kelas-kelas untuk mengedukasi dan mensosialisasi peserta mengenai isu-isu kajian feminisme. Keberagaman, tampak jelas dalam Femfest Id 2017 ini. Tak hanya soal identitas peserta dan panitia yang berasal dari berbagai latar belakang sosial-budaya serta gender, namun juga mengenai isu-isu yang diangkat. Sangat banyak, sangat beragam.

Tak menyia-nyiakan kesempatan untuk acara-acara feminist, saya pun ikut menjadi salah satu peserta di Feminist Festival 2017 ini. Tak mahal, uang kontribusi peserta adalah Rp 150.000 untuk peserta umum dan Rp 100.000 untuk pelajar dan mahasiswa. Setiap peserta bisa memilih kelas yang ingin diikuti sesuai isu feminisme yang diminati, maksimal 8 kelas dari total 20 kelas yang ada.


Jadwal Lengkap FemFest Id 2017

Kelas-kelasnya sendiri sangat beragam dan sangat menarik. Saya sempat bingung, seperti ingin mengambil semua kelas – namun ada kelas-kelas yang diselenggarakan bersamaan jadi memang kita harus memilih 1 dari 3 dalam setiap jadwal sesi. Yang jelas, memang ada beberapa kelas yang sangat ingin saya ambil, terkait dengan isunya yang benar-benar menyerap perhatian saya selama ini. Ekofeminisme, salah satunya. Bagi saya, kelas ini merupakan best session dari semuanya. Tiga panelis yang diundang sangat dekat dengan isu ini. Bahkan, panitia juga mengundang Yu Sukinah, salah satu perempuan pejuang aksi Kendeng yang menolak pabrik semen. Dua lagi tak kalah kece. Dewi Candraningrum, yang memang memfokuskan diri dalam kajian ekofeminisme akademik sekaligus seorang seniman yang melukis tentang-dan-bersama alam. Tiza Mafira, yang menginisiasi petisi untuk mengurangi pemakaian kantong plastik di Indonesia, sehingga di tahun 2016 kemarin pemerintah sempat mengadakan uji coba 3 bulan tentang kantong plastik berbayar di swalayan.


Sesi Kelas Ekofeminisme Bersama Dewi Candraningrum

Meskipun bagi saya kelas Ekofeminisme adalah best session, bukan berarti kelas-kelas lainnya tidak bagus atau tidak menarik. Setiap kelas sebenarnya memiliki keunikannya masing-masing. Dari setiap kelas, saya merasa mendapat ilmu pengetahuan berlimpah, sudut pandang yang semakin tercerahkan, dan semangat baru. Berikut 8 kelas dan apa hal yang sangat berkesan bagi saya dalam setiap sesinya.

1. Pleno: Dasar-Dasar Feminisme
Lihat (simbol: mata) --> Analisa (simbol: hati) --> Aksi/Refleksi (simbol: tangan). Gerakan feminism berproses dalam alur ini. Kita melihat-mengalami isu ketidakadilan dan ketidaksetaraan yang terjadi, tetapi sekedar melihat-mengalami itu tidak cukup. Kita harus menganalisa apa yang terjadi, kita berpikir. Kita mencari jawaban dari pertanyaan mengapa. Tidak berhenti sampai menganalisa, kita harus berbuat sesuatu. Kita bergerak dan beraksi. Akan ada dorongan untuk berhenti dan diam. Segala sesuatu yang bisa kita lakukan sesuai kapasitas kita untuk menyuarakan perubahan dan kesetaraan. — Pencerahan dari Valentina Sagala (Institute Perempuan)
2. Panel Diskusi: Pekerja Perempuan
Bagaimanapun, menutup lokalisasi bukanlah solusi. Terbukti, bahwa penutupan lokalisasi tidak bisa meniadakan prostitusi, justru semakin membuatnya menyebar tak terdeteksi. Justru legalisasi itu penting. Mengapa? Karena di dunia yang manusiawi ini akan selalu ada demand, permintaan, akan pekerja seks dan prostitusi. Penutupan lokalisasi justru akan membuat masalah prostitusi tidak terawasi dan menjadi rentan bahaya baik bagi para pekerja seks, pemakai jasa, maupun masyarakat. Misalkan, untuk penanganan pencegahan isu HIV/AIDS. Pemusatan prostitusi di satu area lokalisasi membuat intervensi masalah kesehatan oleh pemerintah maupun pihak swasta menjadi lebih mudah. Pun jika lokalisasi dilegalisasi, pemerintah bisa menetapkan aturan tegas tentang prasyarat mereka yang boleh menjadi pemakai jasa (misalnya usia dan status pernikahan).Pencerahan dari Ikka Noviyanti (Organisasi Perubahan Sosial Indonesia – OPSI)
3. Panel Diskusi: Kebijakan Publik & Marginalisasi
Kelompok teman-teman disabilitas di Indonesia masih mengalami diskriminasi dalam banyak hal. Apalagi, jika mereka disabled dan mereka perempuan, diskriminasi yang dialami malah bersifat ganda. Karena itu, kita butuh menciptakan lingkungan dan kebijakan yang inklusif bagi mereka, bagi semua. Teman-teman disabilitas harus ditolong mencapai kemandirian, yang bertitik tolak dari perspektif bahwa mereka disabled (fokus pada sistem dan lingkungan yang tidak inklusif dan tidak ramah bagi mereka, menekankan bahwa teman-teman disabilitas memiliki potensi untuk berkembang dan hidup mandiri), bukan bahwa mereka cacat (fokus pada kelemahan dan kekurangan, apa yang mereka tidak bisa lakukan).Pencerahan dari Fajri Nursyamsi
4. Panel Diskusi: Kekerasan Berbasis Gender
Di dalam masyarakat, ketidaksetaraan gender sebenarnya sangat terkait dengan gender superior yang berakar dari ideologi patriarkhi dimana seperti ada tingkatan hierarkis yang menempatkan gender dalam kelas-kelas bertingkat. Laki-laki menempati kelas paling atas, perempuan di bawahnya, dan tempat terakhir diberikan kepada kelompok transgender. Gender superior ini merupakan salah satu penyebab secara langsung dan tidak langsung kekerasan berbasis gender yang akhirnya menimpa kelompok paling marginal, baik kelompok perempuan maupun kelompok transgender.Pencerahan dari Rebecca Nyuei, Sanggar Suara
5. Pleno: Relevansi Feminsime
Jangan lupa bahwa, gender equality adalah goal #5 dari SDGs (Sustainable Development Goals). Artinya, dunia juga sudah mengakui bahwa gender equality atau kesetaraan gender merupakan satu cita-cita dan satu tujuan yang penting untuk dicapai dan diusahakan. Gender equality ini juga bukan hanya soal kesetaraan antara gender biner, perempuan dan laki-laki, tetapi kesetaraan untuk semua gender yang ada. Pencerahan dari Hannah Al Rashid, Actor & UN Ambassador Indonesia for Goal #5 SDGs
6. Panel Diskusi: Ekofeminisme
Perspektif ekofeminisme menempatkan kita untuk melihat tanah sebagai daging kita, sungai sebagai aliran darah kita, dan gunung sebagai payudara kita – hal ini juga berarti, jejak lingkungan yang kita tinggalkan di alam sama dengan membuang sampah ke diri kita sendiri. Pengaitan pengalaman dan kebersatuan dengan alam ini perlu diresapi untuk perjuangan menjaga lingkungan alam.Pencerahan dari Dewi Candraningrum
7. Lokakarya: Intervensi Pelecehan Seksual
Candaan seksis, termasuk catcalling, dapat menimbulkan bigger impact dalam masyarakat. Sebuah candaan seksis pun dapat berkontribusi dalam kekerasan seksual yang lebih parah. Jika digambarkan sebagai sebuah piramida yang berproses : candaan seksis atau bahasa yang mengobjektivikasi di bagian paling dasar, berdampak pada sistem nilai masyarakat seperti menciptakan stereotipe bias gender tertentu yang bisa menghambat salah satu gender dalam karir atau pekerjaan, kemudian naik lagi berdampak pada ancaman pelecehan seksual verbal, kemudian naik lagi berdampak pada pemerkosaan, pelecehan seksual, siksaan fisik, emosional dan keuangan, sampai pembunuhan (tingkat paling atas, paling parah). Karena itu, kita harus speak up. Tidak boleh menggangap bercandaan seksis itu sepele atau biasa.Pencerahan dari Angie (Hollaback! Jakarta) dan Sophia Hage (Lentera Sintas Indonesia)
8. Panel Diskusi: Kesehatan Seksual dan Reproduksi
Kesehatan seksual berbeda dengan kesehatan reproduksi. Jika kesehatan reproduksi hanya menyoal mengenai perihal reproduksi manusia, kesehatan seksual mencakup ranah yang lebih luas – tidak hanya soal reproduksi, tetapi juga kesehatan well-being holistik kita terkait seksualitas. Untuk perempuan normatif saja yang cisgender, sudah berusia, heteroseksual, dan belum menikah, akses layanan dan informasi seksualitas-reproduksi masih sulit. Karena, layanan dan informasi seksualitas dan reproduksi sepertinya banyak hanya ditujukan bagi para perempuan normatif yang cisgender, heteroseksual, dan sudah menikah, sehingga mengeksklusi perempuan yang tidak masuk ke dalam kelompok ini. Apalagi untuk kelompok marginal yang lain (seperti disabled, transgender)? Bagaimanapun layanan dan informasi mengenai seksualitas dan reproduksi di Indonesia yang masih sangat bias dan diskriminatif butuh perubahan.Pencerahan dari Asti Widihastuti (Klinik Angsamerah)
 
Keberagaman dalam Femfest Id 2017 juga dirayakan melalui berbagai stand dari organisasi/komunitas/NGOs yang menangangi isu perempuan dan isu keberagaman. Di stand ini, peserta bisa berkunjung dan bertanya mengenai kegiatan dan pergerakan mereka, menanyakan seputar perihal keterlibatan, ataupun mendukung mereka melalui pembelian merchandise khas yang kebanyakan bersifat campaign tentang isu yang diangkat. Ada stand dari Magdalene.co, Rutgers, Migrant Care, Arus Pelangi, Lentera Sintas Indonesia, Kapal Perempuan, Trade Union Rights Centre (TURC), HELP, Jurnal Perempuan, perEMPUan (dan mungkin masih ada yang luput tersebut di list ini). Saya sendiri sangat senang dengan merchandise dari perEMPUan (goodie bag yang berisi informasi bagaimana membantu teman yang mengalami pelecehan seksual), dari Arus Pelangi (pin pelangi yang bertuliskan no bullying untuk ikut campaign anti-bullying bagi teman-teman LGBTQIA), dan dari Jakarta Feminist Discussion Group / JFDG (pin bergambar logo JFDG) yang sempat saya beli ini.


Merchandise dari FemFest Id 2017

Oh ya, Feminist Festival 2017 Indonesia juga mengundang para kolaborator feminis (termasuk para laki-laki pro-feminis, seperti KH Husein dan Syaldi Sahude dari Laki-Laki Baru). Ada satu sesi kelas yang mewadahi diskusi bersama mereka, yaitu dalam Panel Diskusi: Sekutu dan Kolaborator Feminis. Meski tidak dapat mengikuti kelas ini (karena ada kelas Lokakarya Intervensi Pelecehan Seksual), bagi saya, ini adalah salah satu keunikan Feminist Festival Indonesia 2017. Acara ini memang bukan hanya acara tentang dan (eksklusif) untuk perempuan, tapi inklusif bagi semua ;)

Selain 20 kelas yang berlangsung dari 09.00-19:00 WIB, di malam hari ada juga sesi Poetry Night (untuk malam pertama di 26 Agustus 2017) dan sesi Musik (untuk malam kedua di 27 Agustus 2017). Dalam Poetry Night, banyak teman-teman yang membacakan puisi mengenai perempuan dan isu feminisme. Sangat menarik dan sangat menyentuh, bahwa isu perempuan dan feminisme juga dapat disuarakan melalui puisi dan kata-kata sastra.


Simple Campaign di Stand Lentera Sintas Indonesia
*Ikut Menulis, Ikut Bersuara*

Akhirnya, ya, saya sangat menikmati acara Femfest Id 2017 ini. Bagi saya, acara ini adalah acara dimana saya benar-benar bisa melihat indahnya toleransi dan penghargaan keberagaman. Mulai dari kelas-kelas dan isu-isu yang beragam, berbagai jenis aliran feminisme yang dibahas dan penganutnya yang dapat saling menghormati satu sama lain, para peserta dengan gayanya masing-masing dan ekspresi gendernya masing-masing yang tidak saling nyinyir atau menghakimi, ide-ide dan pemikiran yang bisa saja berbeda dalam panel diskusi tetapi tidak menimbulkan perpecahan karena masing-masing belajar untuk saling memahami, berbagai organisasi/komunitas yang ikut berpartisipasi dan sama-sama menyuarakan indahnya keberagaman itu sendiri.

Dan, ya, saya bersyukur dapat ikut merayakan keberagaman itu dalam dua hari yang panjang di Feminist Festival 2017 Indonesia ini (terima kasih untuk setiap panita yang sudah berupaya keras mempersiapkan acara ini). Beragam lebih indah dari seragam.


p.s. :

Untuk yang penasaran dengan serunya diskusi, sesi-sesi kelas dalam Feminist Festival 2017 ini masih bisa diakses di halaman Facebook Feminist Fest Indonesia (masih ada rekaman siaran langsung). Saya pribadi juga sudah merangkum catatan refleksi saya untuk setiap sesi dalam catatan elektronik (file ms word) dan sangat senang serta terbuka untuk berbagi (boleh leave comment atau menghubungi saya via email). Karena masa depan itu feminis, mari terus bersama menyuarakan kesetaraan untuk semua :)

Wednesday, 13 September 2017

EMBRACE YOUR (& OTHERS’) UNIQUENESS

“Salah satu perjuangan kita adalah untuk mengakui bahwa tidak semua orang menyukai kita.”
—dr. Nurlan Silitonga, Angsamerah Foundation

Ya, ini salah satu kutipan favorit saya dari dr. Nurlan Silitonga dalam salah satu sesi panel diskusi di Feminist Festival 2017 Indonesia yang membahas mengenai pentingnya kesehatan mental bagi para perempuan. Kutipan dr. Nurlan Silitonga ini benar. Memang salah satu perjuangan kita dalam hidup adalah untuk mengakui bahwa tidak semua orang menyukai kita. Salah satu perjuangan saya dalam hidup adalah untuk mengakui bahwa tidak semua orang menyukai saya. Dan tidak disukai oleh semua orang itu bukanlah masalah.

Namun, saya harus mengakui bahwa mengaminkan ini adalah sebuah perjuangan. Tidak mudah. Mungkin tidak bagi sebagian orang, tapi setidaknya saya harus mengakui bahwa ini tidak mudah bagi saya. Bukan berarti seperti saya, kita, juga sangat desperate untuk disukai semua orang dan menuntut bahwa semua orang harus menyukai saya, kita. Tidak juga. Namun, ada bagian-bagian kenyataan hidup dimana orang-orang tertentu, yang mungkin telah berelasi dengan kita, ternyata pergi atau berhenti berelasi dengan kita, atau menunjukkan sebuah tanda ketidaksukaan terhadap bagian kedirian kita : di saat itulah, proses penerimaan kenyataan bahwa tidak semua orang menyukai kita adalah sebuah perjuangan. Kita pikir, kita cocok. Kita pikir, kita baik-baik saja. Kita pikir, mereka menyukai kita. Dan ternyata kita salah.

Sebaliknya pun, saya merenung, saya juga melakukan hal yang sama pada orang-orang yang ternyata saya pikir dan saya rasa kurang cocok dengan karakter dan sifat kedirian saya. Jadi, pada saat yang sama, saya belajar memahami orang-orang yang merasa tidak cocok terhadap saya tadi. Memang tidak semua orang harus cocok dengan semua orang. Memang kita harus belajar menerima dan mengakui bahwa tidak semua orang menyukai kita. Karena kita manusia, yang masing-masing diciptakan unik dan berbeda. Kita tak seragam, tapi beragam. Perbedaan memang kadang berat untuk kita hadapi sebagai manusia yang hidup dan bersosialisasi.

Suatu kali, saya pernah mendapat komentar dari salah satu rekan kerja, yang menyampaikan pendapat rekan kerja yang lain mengenai saya. Katanya, saya terlalu diam. Saya kurang banyak bicara, ngobrol, bersosialisasi. Saya hanya tersenyum. Saya tahu ini benar dan juga sekaligus tidak benar. Benar, karena ya memang sebagai seorang introvert, saya mungkin termasuk kelompok “the silent ones” dan tidak terlalu banyak bicara di muka umum. Tidak benar, karena sebenarnya perilaku ini sangat tergantung pada situasi. Saya juga bisa jadi terlalu banyak bicara, jika sudah berada bersama sahabat-sahabat inner circle saya atau dengan yang saya anggap dekat, misalnya. Namun, harus diakui, mostly saya memilih untuk diam dan banyak mendengarkan, jika atmosfer sosialnya bukan dalam inner circle saya. Dan, ada kalanya pun, di inner circle sendiri, saya memilih untuk diam daripada ribut bicara itu-ini. Ya, itu tadi, itu bagian dari personality saya sebagai seorang introvert. Introvert will get tired of social interactions, karena sumber energi para introvert berasal dari alone time dan ruang sendiriannya – keterbalikan dari para extrovert yang justru mendapatkan energinya dengan bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain.

Saya menerima masukan rekan kerja saya itu, tapi saya kira memang tidak ada yang perlu diubah banyak. Mungkin kuncinya hanyalah pada perihal saling menerima, menghargai, dan merayakan keunikan orang lain tanpa saling menghakimi. Toh saya juga tidak pernah berkomentar soal teman-teman saya yang sangat berenergi untuk bersosialisasi kesana dan kemari, berharap dan menuntut mereka untuk lebih banyak diam dan duduk tenang. Kira-kira seperti itu.

Salahnya memang, dalam keberagaman keunikan, kita saling berekspektasi yang tidak rasional dan menuntut sana-sini. Kita tidak mencoba saling mengerti dan memahami. Misalnya, jika seorang introvert dituntut untuk go socialize terlalu banyak, she/he will get tired and exhausted. Bisa berpengaruh, tentu, pada kesehatan mental. Sama saja, seorang extrovert dituntut untuk duduk diam dalam waktu sangat lama tanpa interaksi sosial, she/he will get tired and drained. Kesehatan mental, kembali menjadi taruhannya. Toh bukannya saya, sebagai introvert, benar-benar tidak bersosialisasi. Saya bersosialisasi, sewajarnya, sesuai batas kemampuan saya. Toh bukannya teman saya misalnya, sebagai seorang extrovert, tidak bisa dan tidak mengambil waktu duduk diam dan tenang di saat-saat tertentu, bebas dari interaksi sosial.

Belakangan ini, saya terbantu banyak untuk mengenali dan menerima diri saya, dengan bantuan sumber bacaan berkualitas mengenai personalities di list pencarian google. Salah satunya adalah www.introvertdear.com (sumber yang lain seperti hypersensitive.net dan hsperson.com), yang membantu saya menyadari bahwa saya adalah pribadi yang unik dan tidak ada yang salah dengan saya meski saya berbeda. Ya, dari tes-tes yang bisa dipertanggungjawabkan keilmiahannya secara psikilogis itu, saya menemukan bahwa ternyata saya masuk ke kelompok personality INFJ (Introvert-Intuitive-Feeling-Judging) dari 16 personalities MBTI, ditambah dengan trait Highly Sensitive Person (HSP). Ini bukan paduan personality yang mudah saya hadapi dan jalani.

INFJ sendiri merupakan kelompok personality paling langka dari 16 personalities MBTI dan HSP pun dimiliki hanya oleh 15-20% orang dari populasi manusia. Tidak heran bahwa saya merasa sangat berbeda dengan sekeliling (atau dianggap berbeda oleh sekeliling), kadang dalam persepsi yang sangat negatif sampai saya menyalahkan diri sendiri. Padahal, there is nothing wrong with me. All of it is my uniqueness. I must embrace it with grateful heart, and not reject it as shameful weakness. Nyatanya, setelah mengulak-ulik website Introvert, Dear, saya menemukan bahwa keunikan saya adalah kekuatan saya. Meskipun sama dengan personalities lainnya, personality saya pun memiliki kelemahan dan kekurangannya sendiri – saya tidak boleh fokus pada kelemahan atau kekurangan. Saya harus dapat mengelola personality saya agar lebih menjadi kekuatan daripada kelemahan. Supaya tidak merugikan diri saya sendiri ataupun merugikan orang lain. Salah satu kekuatan itu misalnya, adalah kemampuan untuk berempati yang sangat tinggi dari kelompok INFJ & HSP.

Kembali soal belajar menerima fakta bahwa tidak semua orang menyukai kita – saya kira ini terkait erat dengan dua alasan. Alasan pertama, karena kita ingin go well with everyone. Kita ingin mengejar kedamaian. Namun, nyatanya, kedamaian tidak dapat diusahakan oleh satu orang tunggal saja. Kedamaian butuh usaha bersama. Usaha bersama, untuk menerima dan merayakan keberagaman. Saya pikir juga, kedamaian dan penerimaan atas keunikan orang lain bukan berarti kita harus memaksakan diri cocok dengan semua orang. It is okay if we can’t go well with somebody. Asal kita menyikapinya dengan baik, dengan positif, dengan perspektif yang dewasa. Kita tahu karakter kita berseberangan dan kita menjaga jarak tanpa bermusuhan, menjaga jarak agar tidak memicu konflik yang mungkin rentan terjadi. Jikapun konflik terjadi, kita dewasa untuk menyelesaikannya kembali dan saling memahami kondisi dan karakter satu sama lain. Ini tidak berarti sama dengan menolak keberagaman dan menolak perdamaian. Kita hanya menyiasatinya dan menyikapinya dengan sebaik-baiknya.

Alasan kedua, karena sebenarnya kita terlalu fokus terhadap diri sendiri. Ya, kita egois. Kita ingin semua orang menyukai kita karena kita butuh pengakuan dan butuh penerimaan secara sosial. Ada hal yang belum dibereskan dan diselesaikan di masa lalu kita. Semacam menjadi gejala narsistik. Untuk mengatasinya, tentu berarti bukan orang lain yang harus berubah, tetapi kita dulu.

Sangat penting untuk belajar menerima keunikan diri sendiri. Sangat penting pula untuk belajar menerima keunikan orang lain. Dengan menerima keunikan diri sendiri, artinya kita telah mengenali diri kita dan mencintai diri kita apa adanya. Dengan menerima keunikan orang lain, artinya kita telah mencoba berempati dan mengasihi yang lain seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Bukankah ini kunci penting untuk perdamaian sosial, perdamaian dunia?

“Penerimaan akan keunikan orang lain sama pentingnya dengan penerimaan akan keunikan diri sendiri. Beragam lebih indah dari seragam.”
— Perenungan Personal, September 2017

Di akhir tulisan ini, harapan saya, semoga kita bisa terus belajar menerima keunikan satu sama lain dan belajar untuk merayakan keberagaman dalam penghargaan dan penghormatan. Beragam lebih indah dari seragam.

Sunday, 10 September 2017

YOU ARE NOT ALONE (SUICIDE PREVENTION DAY 2017)




For everyone who has suicidal thoughts, please know that we care for you. We want you to keep survive, to not give up on life. Please hold on, please. Let's survive together.

We made this simple poster with our sincere heart to give our support for you, for everyone who has suicidal thoughts. You are not alone, yes we support you to continue life. Yes, you can. Dear friends, hope will arise. We hope you will be brave again, we hope you will gain a new strength to hold on.

And if you need someone to talk to, yes you can contact us privately :') Warm hugs from all of us.


* * * * *


  

Tahukah kamu secara statistik global tercatat setiap tahunnya lebih dari 800.000 orang meninggal karena bunuh diri, atau 1 kematian setiap 40 detik? Angka ini berdasar penelitian selama 10 tahun di 172 negara, seperti yang dituturkan Direktur Bina Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan RI dr Eka Viora, SpKJ (beritasatu.com). Itu belum termasuk yang tidak tercatat karena satu dan banyak hal. Jelas ini tidak bisa dibilang sedikit atau sepele.

Isu bunuh diri harus disingkapi, tanpa stigma maupun glorifikasi. Ya, no stigma, artinya kita sepatutnya tidak menghakimi mereka yang bergumul dengan pikiran/tindakan bunuh diri (dengan cap-cap negatif seperti "kurang beriman" dst), namun mendukung mereka untuk kembali melanjutkan hidup dengan berani. Ya, no glorifikasi, artinya kita juga tidak mengagungkan isu bunuh diri dan memakluminya sebagai sesuatu solusi, tentu tidak. Bunuh diri bukan solusi, pikiran atau tindakan bunuh diri harus diatasi.

Emotional support bagi mereka yang bergumul dengan pemikiran/tindakan bunuh diri dan bagi para survivor, adalah kunci, adalah satu hal yang bisa kita tawarkan berikan untuk menolong mereka. Kenali tanda-tanda kemungkinan bunuh diri, peka berelasi, tidak menghakimi atau mengglorifikasi isu bunuh diri, dan mau mendukung mereka untuk melewati masa sulit dengan sepenuh hati.


Do Care, Do Share, Together Is Better.
#survivetogether September 10th, 2017. World Suicide Prevention Day.
(Memperingati Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia)