Friday, 2 June 2017

BINCANG PAGI


Bangunlah, sudah tinggi mentari.
Kali ini, mari kita upayakan kembali.

Tarik nafasmu sebisanya.
Bangkit dari kasurmu semampunya.
Bersihkan tubuhmu sekedarnya.
Suapkan sesuatu ke mulutmu secukupnya.
Berjalan, bergerak, dengan sisa-sisa daya
dan rekognisi sebagai manusia.

Aku maklum, kemarin memang payah
Hatimu tetap lelah. Jiwamu masih patah.
Namun selimut bukanlah perisai,
dan kamar tak cukup kokoh menangkis.
Tikaman teriak penghakiman dari kepalamu sendiri.
Yang mengendap di permukaan bantal
lalu meringsek hingga alam mimpi.

Aku pun tak janji, di luar petak pembaringan,
segala hunjaman akan berhenti.
Tapi siapa tahu, kau bertemu nyala yang kau cari-cari.
Yang takkan kau dapati dengan meringkuk di balik
pintu yang terkunci.
Dari pagi hingga pagi berikutnya lagi.

Bangunlah, setidaknya untuk menangisi
Hari ini, tanpa topeng sama sekali.



p.s. :
Sekali lagi, dengan empati untuk semua yang lelah.
Sebuah puisi karya rekan penulis & saudara sepenanggungan,
Ruth Lidya Panggabean. Depok, 2017.

Wednesday, 31 May 2017

ISTIRAHAT


1/

Beristirahatlah, kawan
Kau perlu istirahat

Beban di pundak, di hati, dan di pikiranmu
terlalu berat untuk dipikirkan, dirasakan,
dan ditanggalkan, aku merasakannya juga

Kau lelah dengan ritme, alur kehidupan?
Kau ingin menyerah? Akupun sama

Depresi, frustasi, menindih dirimu melemah
Tak ada solusi berarti? Aku tahu rasanya

Kau bosan dengan ekspektasi dan mimpi-mimpi,
masa depan? Kau hanya ingin hidup sederhana
tak berlama-lama? Kita tak jauh berbeda

Tersesat, bingung, lupa arah tujuan
Nyaris berputus-asa dan hilang harapan?
Kita sepenanggungan


2/

Beristirahatlah, kawan
Kau perlu istirahat

Aku tahu kita tak bisa berhenti memikirkan kehidupan yang terpampang di depan, aku tahu tak mudah membuka mata besok hari dan melanjutkan nafas ini, aku tahu keinginanmu untuk mengakhiri — dan aku tak bisa melarang itu dan ini, seperti orang-orang yang tak mengalami seperti kita ini. Berkali-kali aku juga mengingini yang kau ingini, hilang lenyap tak ada lagi dari bumi yang kita pijak ini.

Tapi aku mengulur waktu, untuk beristirahat sebentar lagi. Tanpa alasan, hanya mengulur-ulur saja. Penuh keyakinan sekaligus keraguan.


3/

Beristirahatlah, kawan
Kau perlu istirahat

Istirahatkan jua pemikiran dan pikiran,
istirahatkan mimpi-mimpi dan ekspektasi,
istirahatkan ingatan-ingatan masa lalu dan
kenangan frustasi yang kau benci.

Istirahatlah dari rasa depresi.

Entah bagaimana caranya, beristirahat, aku tak bisa tak ingin menasehatimu dalam caraku — aku hanya mau memberitahumu bahwa, mungkin, aku mengerti — karena depresi itu, akupun mengecap pahit dan kecut rasanya.


4/

Beristirahatlah, kawan
Kita perlu istirahat

Beristirahatlah, kawan
Kau perlu istirahat

Istirahat, seperti caramu, istirahat seperti yang kau mau,
istirahat yang kau yakin bisa menolong jiwamu.

Beristirahatlah, kawan
Beristirahatlah




p.s. :
Cikarang, 22 Mei 2017. Puisi empati untuk semua yang lelah, yang butuh beristirahat.

Monday, 29 May 2017

SIMBOL


Kita hidup dalam dan dengan simbol-simbol. Kita membuat menyusun mengukir melempar atau melepaskannya bagi yang lain. Orang lain melakukan yang sama bagi kita. Kita tak selalu bisa berterus terang. Mengatakan tidak jika tidak, ya jika ya. Kita terbungkus sebuah permainan interaksi, cara metode untuk berkomunikasi. Kita menulis, kita melukis, kita berbicara melalui tulisan dan lukisan kita. Sayangnya, simbol-simbol bisa salah ditangkap, diresap. Simbol-simbol bisa menghujam mereka yang tak berniat kita hujam — simbol-simbol bisa menelanjangi mereka yang tak ingin kita telanjangi — simbol-simbol bisa menyadarkan, menobatkan, yang tak terpikir kita sadarkan atau tobatkan. Kita mendekam dalam simbol-simbol, melihat dan mengoleksi, memberikan dan melupakan. Simbol-simbol bertahan dan mati dalam telapak tangan dan jari-jari kita, hidup serta luluh dalam pandangan kedua bola mata kita. Simbol-simbol gugur dalam kepala kita, seperti daun tanggal dari pohon lapuk hilang dimakan tanah begitu saja jika tidak kita artikan — tapi pun bisa menjadi seperti jenazah di dalam makam yang dirawat dengan bunga warna-warni jika kita defenisikan mendalam.

Di sudut hari dimana kita sendiri, kita diam mempertanyakan lagi hidup yang kita jalani ini. Lelahkah kita hidup dalam simbol-simbol? Yang berulang kali diinterpretasi dan di re-interpretasi — dalam ketepatan tapi juga dalam kesalahan? Relakah kita mati karena simbol-simbol? Jika interpretasi berasa terlampau kejam di hati di pikir ini?

Kadang, aku lelah hidup dalam simbol. Aku lelah melukis atau menulis simbol-simbol. Aku lelah melihat menangkap mencoba mengartikan simbol-simbol. Tapi hidup tak memberi pilihan lain. Kita telah terjebak rutinitas sistem nilai yang sama, untuk terus berinteraksi dalam simbol-simbol yang tak pasti.


p.s. :
Bogor, 20 Mei 2017. Mengingat kelas sosiologi yang bercerita tentang teori interaksionisme simbolik.

Tuesday, 23 May 2017

TWISTS & TURNS


Photo Credit : Baa-Baa-Blacksheep (DeviantArt)
Photo by : Baa-Baa-BlackSheep (DeviantArt)

Setelah tujuh tahun lebih saya telah memulai blog ini dengan satu judul yang tak pernah diganti, hari ini saya memutuskan untuk mengganti. Sebelumnya, saya meminta maaf untuk beberapa rekan penulis sekaligus saudara saya, yang pernah meminta saya untuk tidak mengganti judul dari blog ini. Harus saya akui, di titik ini, saya jenuh dengan kata-kata itu, dengan judul yang lama itu – saya minta maaf karena saya tidak bisa meneruskannya. Di masa-masa sekarang ini, live in hope terlalu positif untuk bisa saya pegang erat-erat. Saya sedang tidak bisa (serba) positif. Saya tidak bisa pura-pura positif. Daripada saya tidak bisa melakukan, saya memutuskan untuk berhenti menyemat nama positif. Toh pun, jika menyadari, tulisan-tulisan dari blog saya belakangan cenderung sangat jujur, sangat apa adanya, sangat tidak positif.

Twists & Turns. Akhirnya, saya memilih judul ini. Judul ini lahir setelah saya berjalan-jalan lagi di halaman-halaman lalu blog ini. Tulisan-tulisan dari tahun 2009, sampai 2017, saya buka satu-satu. Tak semua memang, hanya dengan random, tetapi saya jadi banyak senyum-senyum sendiri. Bisa dibilang, sedikit-banyak hidup saya sudah terekam di halaman-halaman ini. Dari yang masih abege belasan tahun yang baru lulus SMA dan masuk universitas sampai sekarang sudah bekerja. Dari tulisan yang isinya masih curhatan hati tanpa isi (yang sebenarnya saya malu membacanya lagi), sampai tulisan yang dipikir matang-matang agar setidaknya mengandung arti. Dan, saya menyadari, hidup yang saya bagikan-tuliskan disini tak hanya sekedar cerita bahagia, atau cerita penderitaan yang dituliskan dengan penuh perenungan (positif) – kerap kali saya menulis juga dengan apa adanya : lebih banyak implisit seperti dalam sajak dan puisi, tetapi saya tak menutup-nutupi apa yang tengah terjadi dengan berusaha menjadi positif di saat saya tidak bisa menjadi positif.

Saat itulah, saya sadar halaman-halaman di blog yang sudah saya rawat tujuh tahun ini penuh kisah ups & downs diri saya pribadi. Bagi yang suka menghakimi, mungkin akan melihat apa yang saya tulis sebagai inkonsistensi atau ketidakstabilan emosi. Kadang rohani, kadang terlalu berpijak pada bumi. Padahal, bukankah kita manusia semuanya tak jauh berbeda pula? Kita bisa bijaksana dan bisa tidak bijaksana. Kita bisa baik dan kita juga tetap memiliki kecenderungan berdosa di dalam kedirian kita. Kita bisa jatuh dan kita bisa bangkit lagi – tapi kemudian jatuh lagi, bangkit lagi, jatuh lagi – membentuk sebuah siklus yang kita juga tidak sepenuhnya mengerti. Kita percaya kepada Tuhan, tetapi ada kalanya kita meragukan-Nya.

Meski orang bebas berpendapat apa saja mengenai hal ini, bagi saya, tulisan-tulisan saya selama tujuh tahun di blog ini justru menjadi semacam peta untuk memantau perubahan diri sendiri. Dalam tulisan, dalam pemikiran, dalam perasaan, dalam pengalaman, dalam perjalanan.

Itu mengapa saya kemudian memilih judul ini : Twists & Turns. Dalam bahasa Indonesia, saya menyebutnya Lika & Liku. Kadang di atas dan kadang di bawah. Kadang bijak dan kadang tidak. Kadang positif dan kadang negatif. Kadang percaya dan kadang, ada kalanya, meragu. Ups & downs membaur satu sama lain, menjalin cerita alur kehidupan yang kita jalani sampai kita mati nanti. Membuatnya berarti atau bisa jadi depresi. Ujungnya nanti? Itu masih rahasia Ilahi.



The road of life twists and turns 
and no two directions are ever the same. 
Yet our lessons come from the journey, 
not the destination. 
 – Don Williams

Thursday, 18 May 2017

KETIKA KITA LELAH


Ada kalanya kita lelah dengan kata-kata motivasi. Happiness is a choice. Doktrin positivisme. Malas disemangati – Malas dinasehati – Malas dikhotbahi. Bukannya tidak mau, kita sedang tidak bisa. Jiwa kita lelah. Mental kita lemah. Dan kita tidak bisa pura-pura. Kita hanya ingin tampil apa adanya. Bahagia jika sedang dapat bahagia, tapi tak menyangkal jika memang sedang tak bisa. Ini masalah kesehatan jiwa – menyelesaikannya tak semudah dengan meditasi dan berdoa. Berpikir positif lebih banyak? Mereka tak tahu betapa susahnya! Coba dulu terjungkal di dalamnya!

Kita muak dengan perihal menjadi agamis dan orang-orang yang tampak agamis. Nyatanya dari agama-agama yang kita lihat, tak lahir harmonisasi. Justru konflik dan diskriminasi lebih banyak mekar di bangsa kita. Fanatik itu menghancurkan, relativisme itu panutan – kita pahat kesimpulan. Kita benci kepura-puraan dan kepalsuan. Kita menolak jadi sama. Terserah orang mau bilang apa, kita butuh istirahat – jiwa kita butuh. Tak mau bicara Tuhan dan Tuhan asal-asalan. Sejenak melupakan visi, misi, panggilan, kehidupan – yang belakangan malah menyesak bukannya menyejukkan. Realita menyadarkan kita. Tapi kita bukan ateis, kita tak bisa tak ingin. Kita hanya beristirahat. Beristirahat dari urusan agama yang memusingkan kepala.

Kita hilang keyakinan dalam humanity. Masa tak ada manusia yang tak memiliki tendensi dosa di dalam dirinya – tak terkecuali kita? Dosa-dosa kita, kelemahan kekurangan, kemanusiawian dan kedagingan, katanya, mengandung bencana jika saling bersentuhan. Juga jika terlalu banyak disembunyikan dalam bungkus yang berlainan di luar dan di dalam. Kita menyimpan trust issue yang mendalam di dasar hati, yang berakar bercabang dan bertunas. Pohon baru yang tumbuh daripadanya kita sambut sebagai pesimisme dan skeptisme, yang besar rimbun memayungi nyaris seluruh relasi manusia yang kita rajut selama ini.


Ada kalanya kita lelah dikomentari dikritisi. Kita lelah disanggah, tak dihargai. Kita lelah tak diacuhkan, diabaikan. Kita jengah dengan aturan. Ada kalanya kita hanya ingin sedikit pengertian, bukan tuntutan. Saling mengerti dosa masing-masing dan tak saling menghakimi seperti yang paling suci. Tak membahas agama atau masalah kehidupan, melupakan pesimisme skeptisme, dan hanya menikmati hari ini, bersama dan dengan sederhana.



p.s. :
Cikarang, 18 Mei 2017. Untuk semua yang lelah.