Friday, 31 October 2014

THE BEAUTY OF NIAS (5)



Ini mungkin akan menjadi postingan saya yang terakhir mengenai the beauty of Nias. Dari 12 hari liputan di pulau di sisi kanan Pulau Sumatera itu, selain menikmati ritme tugas liputan kantor yang harus saya selesaikan—saya juga amat-sangat menikmati setiap detail keindahan Pulau Nias yang meski sederhana, tetap merupakan lukisan Tuhan yang luar biasa, yang bisa saya nikmati. Kelima seri postingan tentang the beauty of Nias ini saya akhiri dengan tulisan dan foto langit sore (dan langit siang) di Nias. Tepat di hari-hari terakhir saya bertugas di pulau tersebut, sebelum kembali ke ibukota :”)

Awan Sore Berombak
Titik Bulan di Atas Gedung
Cahaya Lurus
Langit Biru Tenang Siang Hari di Nias


Semua foto di atas saya ambil sendiri ketika terpesona melihat bentangan langit sore atau siang di atas Pulau Nias, setelah semua tugas liputan lapangan saya selesai. Semuanya merupakan foto yang saya ambil di kantor kami di Nias. Langit di Atas Kantor Nias. Pulau Nias, Awal Oktober 2014. Akhirnya, saya berharap, keindahan Nias tidak akan terenggut oleh apapun juga.*


Thursday, 30 October 2014

THE BEAUTY OF NIAS (4)


Tulisan saya mengenai Pulau Nias masih belum selesai. Kali ini, tentang sebuah pantai yang cukup ternama di Pulau Nias. Sayangnya, foto-foto yang saya ambil tidak banyak—waktu itu langit Nias sedang mendung dan tim kami juga singgah di pantai ini sudah cukup sore. Maklum, sabtu itu kami ada tugas kantor—bakti sosial untuk anak-anak yang diasuh Compassion-PPA di daerah yang sama, di Teluk Dalam—sehingga baru jam 16:00 ketika bakti sosial selesai, kami bisa singgah di pantai ini. Saya harus mengakui bahwa saya tidak terlalu terpesona akan pantai ini kali ini (sama sekali bukan untuk melemahkan daya tarik wisata Pulau Nias—saya memiliki pengharapan bisa terpesona akan pantai ini di kesempatan kunjungan selanjutnya). Saya berpikir mungkin karena waktu itu, cuacanya juga sedang kurang bagus, sehingga saya tidak bisa melihat langit biru dan laut biru Pulau Nias terpampang luas dan bebas di pantai ini. Tapi, saya tetap menikmati keunikan yang paling menonjol dari pantai ini. Yaitu batu karang yang terhampar di pinggir pantainya, kadang tertinggal menjadi wilayah kering, ketika air surut. Di dalam lekukan karang-karang tersebut, ikan-ikan kecil hidup dan bersembunyi. Selain itu, yang paling mencolok adalah para peselancar yang sangat menikmati ombak di pantai ini dengan papan selancarnya masing-masing. Yang juga mau diajak berfoto atau tidak keberatan jika diambil fotonya. Saya juga baru tahu, ternyata pantai ini menjadi salah satu tujuan wisata terbaik bagi para peselancar di Indonesia. Wonderful Indonesia (atau website resmi dari pemerintah untuk mempromosikan dunia wisata di Indonesia) sendiri mencatat Pantai Sorakhe ini termasuk ke dalam 10 lokasi surfing terbaik di Indonesia—dan harus saya akui, ombaknya memang sangat mempesona bagi para peselancar. Ya, nama pantai ini adalah Pantai Sorake, yang terletak di Pulau Nias bagian selatan :) one of the beauty of Nias!
Penyelancar Pantai Sorake

Pantai Sorake Pulau Nias
Membelakangi Peselancar (Foto oleh : Bapak Nixon)
Dengan Para Kakak Dokter (Foto oleh : Bapak Nixon)
Berfoto Dengan Peselancar



Semua foto diambil oleh saya dan bapak Nixon—rekan kameraman sekantor. Sabtu. 4 Oktober 2014. Di Pantai Sorakhe, bersama seluruh tim bakti sosial OBI untuk PPA Nias bulan September-Oktober 2014.

Wednesday, 29 October 2014

ANAK ASUH JARAK JAUH


Kira-kira dua bulan yang lalu, saya akhirnya memutuskan untuk berkomitmen mengikuti program anak asuh jarak jauh, melalui sponsorship program. Dari sekian NGO yang berfokus pada masalah kemiskinan anak yang saya tahu, saya akhirnya memilih WVI (World Vision Indonesia, atau Wahana Visi Indonesia). Mungkin karena selama kuliah, saya juga sudah cukup tahu mengenai WVI dan saya melihat bagaimana WVI termasuk salah satu NGO yang memahami pentingnya sarjana sosial dalam proyek-dan-programnya, terkhususnya untuk para sarjana berlatar-belakang sosiologi dan ilmu kesejahteraan sosial. Saya memiliki teman yang ketika mahasiswa dulu pernah magang di kantor WVI pusat untuk proyek Jakarta Utara, jadi pernah sharing mengenai program WVI untuk memperjuangkan kesejahteraan anak. Selain itu, yang lebih penting, saya tahu WVI menjangkau daerah-daerah yang memang urgensi untuk dijangkau. Daerah yang tidak hanya merupakan kawasan the poor, tetapi juga kawasan yang termarginalisasi atau berada di pedalaman yang sulit dijangkau.  Saya juga sangat menyukai strategi WVI untuk tidak hanya menjangkau setiap anak secara personal, tetapi juga menjangkau satu komunitasnya secara utuh. Penjangkauan komunitas (community development) merupakan sebuah jawaban bagi upaya memperjuangkan kesejahteraan masyarakat yang efektif, menurut saya.

Setelah menetapkan hati untuk WVI, saya mulai membuka website World Vision Indonesia atau Wahana Visi Indonesia ini. Melalui website mereka, saya pun menemukan alamat email yang bisa saya hubungi untuk memastikan mengenai program sponsor a child ini benar-benar seperti ekspektasi saya. Setelah bertanya beberapa hal dan mengetahui mengenai program sponsor a child di WVI, saya akhirnya mantap untuk mensponsori salah seorang anak melalui WVI. Semuanya sama dengan ekspektasi saya :)

Awalnya, ada tiga kriteria anak asuh yang ingin sekali saya sponsori. Pertama, saya ingin mensponsori anak perempuan. Kedua, saya ingin mensponsori anak yang usianya tidak lebih dari enam tahun. Ketiga, saya ingin sekali mensponsori anak dari NTT (Nusa Tenggara Timur). Untuk ketiga kriteria ini, saya tentu memiliki alasan sendiri.

Pertama, saya ingin mensponsori anak perempuan. Sebenarnya, bukan hanya ingin—tapi harus. Saya menyadari sekali bagaimana perempuan menjadi korban yang paling parah dari masalah kemiskinan. Terutama, anak-anak. Kemiskinan bisa menjadi akar bagi segala masalah baru lainnya bagi perempuan—terutama dalam kaitannya dengan keluarga. Terutama untuk masalah KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) dan prostitusi. Perempuan selalu menjadi korban mayoritas, dibandingkan laki-laki.

Kedua, saya memilih anak dengan usia >6 tahun karena secara psikologis, usia lima tahun pertama bagi seorang anak itu adalah usia yang disebut dengan golden age. Usia awal dimana sangat menentukan arah dan kualitas tumbuh-kembang anak. Di lima tahun pertama kehidupannya itulah, anak memerlukan asupan gizi yang cukup dan pendidikan awal berkualitas. Saya memutuskan untuk mensponsori anak dengan usia >6 tahun, dengan harapan, melalui WVI dan melalui sponsor saya, anak yang saya sponsori bisa lebih tertolong dalam golden age-nya tersebut.

Ketiga, saya (sebenanrya) ingin memilih anak NTT (Nusa Tenggara Timur). Saya tidak tahu kenapa, provinsi ini sudah lama sekali ada di dalam hati dan pikiran saya. Menurut saya, provinsi ini istimewa, lebih istimewa dari provinsi-provinsi di Indonesia Timur yang lainnya. Saya juga mengenal beberapa teman dari NTT semasa mahasiswa dulu, dan sekarang pun di kantor saya, saya memiliki beberapa rekan sekantor yang berasal dari NTT. Tapi di atas semua itu, saya ingat beberapa tahun lalu, ketika memikirkan dan mencaritahu mengenai masalah kemiskinan—saya menemukan data dari salah satu lembaga pemerintah bahwa NTT adalah provinsi yang termiskin di Indonesia (saat itu)—dan itu membuat hati saya patah. Entah kenapa. Saya berharap, kondisinya saat ini sudah berubah. Saya belum pernah menginjakkan kaki di NTT (meski saya sangat amat ingin), tetapi yang saya dengar, kondisi tanah dan ladang disana tidak sesubur pulau Jawa. Mungkin penduduk NTT bergumul dengan masalah kemiskinan, karena hal ini juga. Selain itu, masalah air adalah masalah lainnya bagi NTT.

Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain—saya tahu, perihal anak asuh inipun ada dalam kontrol tangan Tuhan untuk saya. Saya ternyata tidak mendapat anak asuh dari NTT. Saya justru mendapatkan anak asuh dari pulau yang baru saya kunjungi beberapa bulan yang lalu. Pulau Kalimantan.

Ketika tahu mengenai hal ini, sebenarnya saya cukup terkejut. Saya sendiri baru tahu mengenai asal provinsi anak asuh saya ketika profile pack dari WVI sampai di alamat kantor saya, sebulan setelah saya memutuskan untuk mensponsori anak asuh saya. Tim WVI sendiri sebenarnya sudah mengirimkan saya data singkat dari anak asuh saya beserta dengan fotonya via email, tetapi tidak ada tulisan provinsi dengan jelas—membuat saya berpikir kalau anak asuh saya itu memang berasal dari NTT. Namun, memang melihat fotonya, saya tidak berpikir seperti itu. Saya merasa anak asuh jarak jauh saya ini lebih mirip anak suku Dayak—dan feeling saya benar. Anak asuh saya memang berasal dari suku Dayak di pedalaman Kalimantan Barat. Ya ampun. Saya terkejut sekali. Saya sebenarnya agak kecewa karena tidak mendapatkan anak asuh dari NTT—tetapi saya juga tidak keberatan sebenarnya untuk mendapat anak asuh dari pedalaman Kalimantan. Tadinya juga, ketika berpikir mengenai kriteria dari wilayah mana anak yang ingin saya sponsori—selain NTT, saya terpikir mengenai Kalimantan. Pengalaman saya selama seminggu lebih di pedalaman Kalimantan Barat, mengenal begitu banyak anak suku Dayak Bekati disana—sudah membuat saya jatuh hati dengan anak-anak suku Dayak. Saya juga tahu, kalau anak-anak suku Dayak di daerah pedalaman, membutuhkan banyak dukungan untuk bisa hidup lebih sejahtera. Karena itulah, saya lebih menganggap, semuanya ini adalah keputusan Tuhan yang masih mengingini saya untuk tetap memperhatikan Pulau Kalimantan. Memperhatikan dan mengasihinya. Ya, jika kalian tahu bagaimana pergumulan saya untuk berangkat masuk ke pedalaman Kalimantan beberapa bulan lalu, kalian pasti akan sangat memahami mengenai kalimat saya tadi.

Akhirnya, saya ingin bilang, kalau saya bersukacita untuk anak asuh saya yang tinggal di pedalaman Kalimantan Barat sana! :) Untuk dua kriteria lainnya, semuanya tepat seperti yang saya ingini. Anak asuh saya adalah seorang anak perempuan berusia 4 tahun. Dan dia lucu sekali. Saya terharu saya bisa mendapat kesempatan seperti ini. Untuk memiliki seorang anak asuh di suatu daerah di pedalaman yang memang membutuhkan dukungan.

Saya merasa senang sekali bisa bergabung sebagai seorang sponsor anak melalui WVI. Apalagi, ketika sudah mendapatkan paket pertama, yaitu profile pack yang dikirimkan WVI ke kantor saya via JNE. Isinya lengkap :”) Saya juga takjub sendiri karena saya mendapat semacam kartu ATM yang tersambung dengan Bank BCA untuk masalah donasi sponsor. Saya juga mendapat buku panduan pengasuhan anak beserta CD-nya, yang menjelaskan dengan lengkap mengenai sponsorship program WVI ini—termasuk bagaimana caranya saya bisa berkorespondensi dengan anak melalui surat dan kado :) Selain itu, disertakan pula selebaran-selebaran berisi informasi program kantor-kantor cabang WVI di berbagai daerah di pedalaman Indonesia dan majalah Kasih Peduli. Yang terpenting, saya mendapatkan informasi mengenai anak asuh saya juga di dalamnya :) Tidak selengkap yang saya harapkan, tetapi saya bisa memahami maksudnya :) Intinya, saya senang sekali mendapat profile pack itu.

Profile Pack Dari Wahana Visi Indonesia


Kejutannya belum berhenti. Sekitar satu atau dua minggu setelah paket JNE dari WVI berisi profile pack itu, saya mendapat satu paket lagi. Kali ini lebih kecil dan lebih ringan—seperti sebuah surat. Saya sendiri, tidak menduga akan mendapat paket lagi. Ketika saya buka, betapa terharunya saya, karena ternyata itu adalah surat pertama dari anak asuh saya di pedalaman Kalimantan Barat! :”) Memang karena dia belum bisa menulis, staf WVI disana membantunya menuliskan surat itu—tetapi saya tetap saja senang, apalagi karena dia menggambar telapak tanggannya di surat. Gambar telapak tangan itu membuat saya merasa bisa terhubung dan merasa dekat dengannya, meski saya belum pernah bertemu dan kami berada di dua pulau yang terpisah yang cukup jauh jika ditempuh dengan perjalanan udara-air-dan-darat (membayangkan pedalaman Kalimantan Barat, saya masih terus berpikir pasti akan melalui sungai yang panjang dan hutan yang masih cukup liar itu—seperti yang saya alami beberapa bulan lalu dalam perjalanan menuju pedalaman Kalimantan Barat). Saya terharu dan tersemangati sekaligus. Tepat sekali ketika saya butuh dorongan semangat untuk mengejar banyak deadline tulisan di kantor—saya menikmati semuanya tepat dalam kontrol tangan Tuhan, untuk menghibur hati saya juga. Beatiful in His time :”)


Surat Pertama Dari Anak Asuh Saya :")

Nah! 25 November 2014 nanti, anak asuh saya akan berulang tahun yang ke-5. Saya merasa excited sekali memikirkan kado apa yang akan saya berikan untuknya, dan ketika memikirkan apa yang akan saya tuliskan dalam surat balasan untuk surat pertamanya :) Meski pengiriman paket kado dan surat ke daerah tempat tinggalnya yang cukup sulit dijangkau itu mungkin membutuhkan waktu yang mencapai bulan—saya tetap ingin mengiriminya kado di hari pertambahan usianya.

Di akhir tulisan ini, saya ingin berbagi kesimpulan, bahwa rasanya sangat excited bisa mendapat kesempatan untuk mensponsori anak meski jarak jauh. Seperti punya anak beneran, saya merasa banyak berpikir mengenai anak asuh saya. Bagaimana kondisinya hari itu, bagaimana keluarganya disana, bagaimana kebutuhannya. Bagaimana untuk terus tak lupa juga mengingat nama anak asuh saya di dalam setiap doa-doa saya :”) Bagaimana saya berharap anak asuh saya bisa menjadi seorang perempuan suku Dayak yang tangguh, yang bisa menempuh pendidikan tinggi, berprestasi-berkarya-dan-berdampak, serta dapat memperjuangkan pula para anak perempuan suku Dayak yang lainnya. Rasanya bahagia. Rasa bahagia yang unik. Sungguh, kalian harus merasakannya juga. Let’s sponsor a child today! :)