Monday, 29 May 2017

SIMBOL


Kita hidup dalam dan dengan simbol-simbol. Kita membuat menyusun mengukir melempar atau melepaskannya bagi yang lain. Orang lain melakukan yang sama bagi kita. Kita tak selalu bisa berterus terang. Mengatakan tidak jika tidak, ya jika ya. Kita terbungkus sebuah permainan interaksi, cara metode untuk berkomunikasi. Kita menulis, kita melukis, kita berbicara melalui tulisan dan lukisan kita. Sayangnya, simbol-simbol bisa salah ditangkap, diresap. Simbol-simbol bisa menghujam mereka yang tak berniat kita hujam — simbol-simbol bisa menelanjangi mereka yang tak ingin kita telanjangi — simbol-simbol bisa menyadarkan, menobatkan, yang tak terpikir kita sadarkan atau tobatkan. Kita mendekam dalam simbol-simbol, melihat dan mengoleksi, memberikan dan melupakan. Simbol-simbol bertahan dan mati dalam telapak tangan dan jari-jari kita, hidup serta luluh dalam pandangan kedua bola mata kita. Simbol-simbol gugur dalam kepala kita, seperti daun tanggal dari pohon lapuk hilang dimakan tanah begitu saja jika tidak kita artikan — tapi pun bisa menjadi seperti jenazah di dalam makam yang dirawat dengan bunga warna-warni jika kita defenisikan mendalam.

Di sudut hari dimana kita sendiri, kita diam mempertanyakan lagi hidup yang kita jalani ini. Lelahkah kita hidup dalam simbol-simbol? Yang berulang kali diinterpretasi dan di re-interpretasi — dalam ketepatan tapi juga dalam kesalahan? Relakah kita mati karena simbol-simbol? Jika interpretasi berasa terlampau kejam di hati di pikir ini?

Kadang, aku lelah hidup dalam simbol. Aku lelah melukis atau menulis simbol-simbol. Aku lelah melihat menangkap mencoba mengartikan simbol-simbol. Tapi hidup tak memberi pilihan lain. Kita telah terjebak rutinitas sistem nilai yang sama, untuk terus berinteraksi dalam simbol-simbol yang tak pasti.


p.s. :
Bogor, 20 Mei 2017. Mengingat kelas sosiologi yang bercerita tentang teori interaksionisme simbolik.

Tuesday, 23 May 2017

TWISTS & TURNS


Photo Credit : Baa-Baa-Blacksheep (DeviantArt)
Photo by : Baa-Baa-BlackSheep (DeviantArt)

Setelah tujuh tahun lebih saya telah memulai blog ini dengan satu judul yang tak pernah diganti, hari ini saya memutuskan untuk mengganti. Sebelumnya, saya meminta maaf untuk beberapa rekan penulis sekaligus saudara saya, yang pernah meminta saya untuk tidak mengganti judul dari blog ini. Harus saya akui, di titik ini, saya jenuh dengan kata-kata itu, dengan judul yang lama itu – saya minta maaf karena saya tidak bisa meneruskannya. Di masa-masa sekarang ini, live in hope terlalu positif untuk bisa saya pegang erat-erat. Saya sedang tidak bisa (serba) positif. Saya tidak bisa pura-pura positif. Daripada saya tidak bisa melakukan, saya memutuskan untuk berhenti menyemat nama positif. Toh pun, jika menyadari, tulisan-tulisan dari blog saya belakangan cenderung sangat jujur, sangat apa adanya, sangat tidak positif.

Twists & Turns. Akhirnya, saya memilih judul ini. Judul ini lahir setelah saya berjalan-jalan lagi di halaman-halaman lalu blog ini. Tulisan-tulisan dari tahun 2009, sampai 2017, saya buka satu-satu. Tak semua memang, hanya dengan random, tetapi saya jadi banyak senyum-senyum sendiri. Bisa dibilang, sedikit-banyak hidup saya sudah terekam di halaman-halaman ini. Dari yang masih abege belasan tahun yang baru lulus SMA dan masuk universitas sampai sekarang sudah bekerja. Dari tulisan yang isinya masih curhatan hati tanpa isi (yang sebenarnya saya malu membacanya lagi), sampai tulisan yang dipikir matang-matang agar setidaknya mengandung arti. Dan, saya menyadari, hidup yang saya bagikan-tuliskan disini tak hanya sekedar cerita bahagia, atau cerita penderitaan yang dituliskan dengan penuh perenungan (positif) – kerap kali saya menulis juga dengan apa adanya : lebih banyak implisit seperti dalam sajak dan puisi, tetapi saya tak menutup-nutupi apa yang tengah terjadi dengan berusaha menjadi positif di saat saya tidak bisa menjadi positif.

Saat itulah, saya sadar halaman-halaman di blog yang sudah saya rawat tujuh tahun ini penuh kisah ups & downs diri saya pribadi. Bagi yang suka menghakimi, mungkin akan melihat apa yang saya tulis sebagai inkonsistensi atau ketidakstabilan emosi. Kadang rohani, kadang terlalu berpijak pada bumi. Padahal, bukankah kita manusia semuanya tak jauh berbeda pula? Kita bisa bijaksana dan bisa tidak bijaksana. Kita bisa baik dan kita juga tetap memiliki kecenderungan berdosa di dalam kedirian kita. Kita bisa jatuh dan kita bisa bangkit lagi – tapi kemudian jatuh lagi, bangkit lagi, jatuh lagi – membentuk sebuah siklus yang kita juga tidak sepenuhnya mengerti. Kita percaya kepada Tuhan, tetapi ada kalanya kita meragukan-Nya.

Meski orang bebas berpendapat apa saja mengenai hal ini, bagi saya, tulisan-tulisan saya selama tujuh tahun di blog ini justru menjadi semacam peta untuk memantau perubahan diri sendiri. Dalam tulisan, dalam pemikiran, dalam perasaan, dalam pengalaman, dalam perjalanan.

Itu mengapa saya kemudian memilih judul ini : Twists & Turns. Dalam bahasa Indonesia, saya menyebutnya Lika & Liku. Kadang di atas dan kadang di bawah. Kadang bijak dan kadang tidak. Kadang positif dan kadang negatif. Kadang percaya dan kadang, ada kalanya, meragu. Ups & downs membaur satu sama lain, menjalin cerita alur kehidupan yang kita jalani sampai kita mati nanti. Membuatnya berarti atau bisa jadi depresi. Ujungnya nanti? Itu masih rahasia Ilahi.



The road of life twists and turns 
and no two directions are ever the same. 
Yet our lessons come from the journey, 
not the destination. 
 – Don Williams