Friday, 4 December 2015

PANGGILAN HIDUP: PASANGAN UNTUK PASANGAN HIDUP


Namanya pasangan hidup—dan ia memiliki seorang pasangan. Namanya, panggilan hidup. Mereka adalah sepasang pasangan yang tak bisa dipisahkan: sehidup-semati dan ada untuk satu tujuan saja. Isi hati Tuhan. Namun, tak semua memahami. Bahwa panggilan hidup dan pasangan hidup adalah sepasang pasangan, yang tak bisa dipisahkan. Tak semua memahami, tak semua sadar betapa pentingnya mereka untuk bersatu. Tak semua tahu, bahwa jika pasangan hidup tidaklah bahagia tanpa panggilan hidup. Ia akan kehilangan arah dan kehilangan gairah. Ia akan terjebak dalam rutinitas yang tidak diingini, atau malah mempertanyakan ritme dalam hidupnya. Yang paling buruk, ia mungkin salah memilih. Salah memilih yang harusnya ia tidak pilih, ya apalagi? Pasangan itu.

Namanya pasangan hidup dan ia berpasangan dengan panggilan hidup. Namun, panggilan hidup melangkah lebih depan dibanding pasangan hidup. Pasangan hidup yang mengikuti, seperti seorang istri. Panggilan hidup akan memimpin, seperti seorang suami. Dan mereka akan berjalan beriringan, berdampingi, jika sudah bertemu. Mereka akan menjadi seirama, memiliki denyut yang sama. Mereka bersatu, bukan tersusun dalam hierarki. Kristus dalam sebuah kapal pernikahan yang siap berlayarlah yang mempersatukan mereka.

Namanya pasangan hidup dan ia berpasangan dengan panggilan hidup. Sayangnya, lebih banyak orang mengingini untuk menemukan pasangan hidup lebih dulu, dibandingkan panggilan hidup—dan mereka melangkahi urutannya. Rencana-Nya. Bahkan ada yang berpikir sudahlah cukup untuk menemukan pasangan hidup saja, tanpa merasa panggilan hidup harus menjadi pasangan dari pasangan hidup. Tanpa merasa panggilan hidup adalah penting, sama pentingnya, dengan pasangan hidup.

Namanya pasangan hidup dan ia berpasangan dengan panggilan hidup. Dan keduanya bersatu di dalam diri setiap orang, sepasang-sepasang. Ada satu panggilan dan satu pasangan, untuk sepasang laki-laki dan perempuan. Dan aku percaya, ini bukanlah hal sembarangan. Setiap hal telah direncanakan. Oleh Yang Maha Kuasa. Yang isi hati-Nya menjadi tujuan, bagi setiap pasangan hidup dan panggilan hidup yang berpasangan, dalam diri sepasang laki-laki dan perempuan.

Hanya jangan pernah menyalahi iramanya, urutannya. Panggilan hidup, lalu pasangan hidup. Karena kita mungkin hidup tanpa pasangan hidup duniawitahukah kau bahwa pasangan hidup tak selalu mengenai seorang perempuan untuk seorang laki-laki, atau seorang laki-laki untuk seorang perempuan? Lebih dari itu, pasangan hidup bisa menjadi sesuatu yang sangat spiritual: dimana yang menjadi pasangan hidupmu bukanlah seorang laki-laki atau perempuan duniawi, tetapi Tuhan itu sendiri. Yang Maha Kasih dan Maha Segala, yang bisa mencintaimu lebih dari laki-laki manapun, atau perempuan manapun. Sang Kekasih Jiwa. Selibat, namanya, nama pasangan dari pasangan hidup sang panggilan, yang bukan berasal dari duniawi. Panggilan hidup selalu akan berpasangan dengan pasangan hidup—tapi memaknai pasangan hidup ini, tak bisa selalu digeneralisasi sempurna atas setiap orang. Karena akan selalu ada dua pilihan: apa itu berarti pasangan hidup secara duniawi di bumi ini, atau pasangan hidup yang adalah Tuhan sendiri sebagai Kekasih Jiwa satu-satunya. Meski opsi yang terakhir, hanya sedikit orang yang bisa mengerti, dan mengingini. Tidakkah kita perlu melihat Matius 19:11-12 untuk hal ini?

Namanya pasangan hidup dan ia berpasangan dengan panggilan hidup. Ketika panggilan berjalan di depan, berarti panggilan menentukan pasangan hidup. Panggilan yang (menjadi alat Tuhan untuk) memilih(kan) pasangan hidup. Tetap, keduanya tertuju dan terpusat kepada sebuah titik di dalam hati Tuhan. Tak ada yang lain. Panggilan dan pasangan bersatu, untuk memperjuangkan satu keseiramaan yang seimbang, untuk lebih efektif sampai ke dalam titik di dalam hati Tuhan. Sebuah misi. Dengan efektif. Karena itu, pasangan yang tepat akan mengarahkan panggilan untuk dengan tepat pula, menggenapi destiny itu. Ya, tepat seperti itu.


Ketika misteri panggilan hidup terbuka,

maka pasangan hidup tinggallah satu langkah kaki saja.





p.s. :

Untuk dear prayermate sister-ku, Erena Fabyola, yang telah berbagi link website Jerry & Trisa, i thank God for you :) Anyway, tulisan ini lahir dari sharing kita di whatsapp, sis---you know what i mean, don't you? ;)