Tuesday, 27 May 2014

PAYUNG, HUJAN, DAN KEMISKINANMU



Selasa, 27 Mei 2014

Hujan deras mengguyur kota Depok malam itu, menciptakan genangan-genangan air, membuat basah orang-orang yang masih sibuk lalu-lalang di jalanan tak beratap. Meski mereka sudah berlari-lari, menyelamatkan diri dari serangan air hujan. Beberapa selamat terlindungi di bawah bundaran payung-payung beraneka motif yang berseliweran di sepanjang jalan. Aku termasuk yang selamat berlindung di bawah bundaran payung berwarna kuningku, berjalan pelan menyusuri jalan masuk menuju salah satu mall tujuan favorit masyarakat kota Depok. Menembus hujan, berharap segera sampai di bawah teduhan atap pelataran lobby mall.

Ternyata hujan belum lelah turun. Sepasang suami-istri panik begitu turun dari angkutan umum, menyadari hujan tak akan kasihan melihat mereka yang akan basah kuyup. Beberapa orang yang lain juga, di belakangku. Sampai aku menyadari ada payung-payung bundar yang berukuran besar yang dibawa oleh beberapa anak laki-laki. Umurnya mungkin baru belasan, atau bahkan lebih muda. Jika mereka sekolah, mungkin masih duduk di bangku SD atau SMP. Dengan cekatan, mereka menghampiri orang-orang tak berpayung yang panik karena hujan, menawarkan bantuan. Ojek payung, mungkin bisa disebut seperti itu.

Aku terus berjalan, ketika menyadari ada seorang adik laki-laki yang jasa payungnya sudah ‘laku’ dipakai orang. Sebuah keluarga kecil, yang terdiri dari ayah dan ibu beserta satu anaknya sekarang berjalan dalam teduhnya bundaran payung yang cukup besar itu. Anaknya itu, berusia tak berbeda jauh dari si adik pengojek payung, jika aku boleh menerka-nerka. Laki-laki juga, tampak aman, nyaman, dan bahagia, di tengah-tengah perlindungan kedua orang tuanya, di bawah teduhnya payung bundar besar itu. Mereka berjalan bertiga saja, adik laki-laki pengojek payung itu memang tak diajak. Setelah payung itu dioper ke keluarga kecil itu, adik laki-laki pengojek payung itupun harus siap menyambut derasnya air hujan yang mengguyur sekujur tubuhnya. Aku masih berjalan di belakang mereka, tapi sambil terus memperhatikan, dan mengiba. Apalagi ketika melihat si adik laki-laki pengojek payung berjalan dalam pakaian basah-kuyup tanpa alas kaki sama sekali. Juga mengapresiasi ketahanan tubuhnya itu.

Berpikir pula. Kira-kira kedinginankah si adik laki-laki itu? Kira-kira menggigilkah dia? Lebih jauh lagi, aku merenung. Apa yang dirasakannya—adik laki-laki pengojek payung itu yang mengekor di belakang keluarga kecil yang mempergunakan jasa payungnya? Apa yang dirasakannya melihat anak laki-laki seumurannya berjalan aman,nyaman, dan bahagia di tengah-tengah kedua orang tuanya? Apakah adik laki-laki pengojek payung ini juga pernah dan masih merasakan keamananan, kenyamanan, dan kebahagiaan yang sama, dengan orang tuanya?

Aku mengigit bawah bibirku, tak bisa menahan rasa miris dari dalam diri sendiri. Di tengah ada seorang anak laki-laki yang dengan aman, nyaman, dan bahagianya bisa menghabiskan waktu bersama kedua orang tuanya ke sebuah mall yang takkan memakan biaya murah, yang tidak perlu memikirkan darimana dan bagaimana datangnya uang untuknya dan keluarganya—tepat di belakangnya, berjalan sendirian tanpa alas kaki, seorang anak laki-laki lain, yang sedang merasa tidak aman, tidak nyaman, mungkin juga tidak bahagia, ketika tanpa orang tuanya, harus berpikir untuk mengumpulkan lembaran-lembaran uang seribu rupiah. Di hari malam, di tengah dingin dan basahnya hujan, dengan basah kuyup tanpa alas kaki sama sekali. Dan untuk masuk ke mall itu? Boro-boro. Adik laki-laki pengojek payung itu mungkin hanya bisa singgah sebentar di pelataran lobby-nya. Sambil mengambil kembali payungnya dari tangan pelanggan, sambil hanya bisa mengerjapkan mata memandang kemewahan di depannya yang tak bisa disentuhnya. Aku tak sanggup membayangkan.


Kisah ini bukan kisah satu-satunya. Masih banyak anak-anak dari keluarga prasejahtera tak berpunya yang tak bisa menikmati masa kanak-kanaknya. Banyak yang sudah “dipaksa” untuk ikut membantu mencari dan menghasilkan uang, banyak yang terpaksa berkeliaran di jalanan, dari pagi sampai malam, dengan kondisi yang tak aman bagi mereka. Mereka, yang sebenarnya tidak salah apa-apa. Mereka hanyalah korban dari sistem yang memiskinkan atau korban dari jerat rantai kemiskinan.



* * *

Berdasarkan pengalaman nyata penulis,
Awal tahun 2014

* * *

Friday, 2 May 2014

OCEANS



(Tulisan ini ditulis dan diabadikan dalam ingatan akan sebuah cerita perjalanan demi tugas community development, menuju sebuah pulau kecil di atas Pulau Sulawesi.)


Kamis, 30 Januari 2014. Aku tidak akan pernah lupa kejadian malam itu. Sebuah malam yang gelap, namun teduh. Langitnya yang gelap menjadi terang karena taburan begitu banyak bintang yang sungguh tak terhitung jumlahnya, besar dan kecil. Seperti sebuah karya yang maha agung. Seperti sebuah keajaiban alam.

Aku masih ingat. Ketika mobil kami tiba di sebuah pelabuhan kecil, di pesisir Sulawesi Utara. Kapal-kapal, beragam ukuran, menepi. Banyak awaknya yang masih sibuk mengurusi dan mengemasi barang-barang. Malam itu malam yang cukup sibuk di pelabuhan.

Jam delapan malam, aku meningat, ketika aku melirik angka di jam tangan. Kami, enam belas orang, perempuan dan laki-laki, siap menyeberang lautan Sulawesi. Di hari malam. Yang gelap, hanya dengan beberapa lampu pelabuhan yang tak seberapa dibandingkan terang bintang-bintang yang menghampar di atas kami. Setiap orang siap dengan tas ranselnya masing-masing, setiap orang siap untuk mengunjungi sebuah pulau kecil di tengah-tengah laut sulawesi. Yang letaknya berdampingan dengan pulau-pulau yang lainnya, bukan sebuah pulau ternama, tapi kekayaannya tak kalah dibandingkan pulau-pulau ternama.

Aku ingat ketika seorang teman menunjuk sebuah perahu kecil, yang mirip sekoci di kapal titanic tapi ukurannya jauh lebih kecil, yang katanya akan menjadi transportasi yang akan membawa kami tiba di Pulau Gangga. Aku mengamini. Tantangan mulai menyesapi jiwa-raga. Pasrah sempurna. Sampai kami benar-benar naik ke atasnya, perahu kecil yang hanya kuat menampung 20 orang manusia itu.

Kami hanya duduk bersebelahan, berenam-belas orang, belum dengan dua bapak pemilik perahu yang berbaik hati menjemput kami. Mereka duduk masing-masing di ujung kiri dan ujung kanan perahu. Udara dingin menyentuh kulit, menyadarkan kami kalau hari memang sudah malam. Motor dihidupkan. Perahu kecil kami berangkat. Menantang lautan luas Sulawesi.

Aku tak akan pernah lupa. Tak akan mungkin lupa.

Setelah sekian puluh menit yang tak sempat kuhitung kami mengarungi lautan luas, motor perahu terhenti. Tapi kami sudah berada di tengah-tengah laut, terapung-apung sempurna. Kepanikan sempat menyelimuti beberapa teman kami. Meski bukan aku, karena aku memilih menutup mata dan berdoa. Pasrah sempurna. Entah bagaimana caranya kami bisa kembali ke pelabuhan, atau meneruskan perjalanan menuju pulau bernama Gangga itu. Motor perahu belum juga bisa hidup. Sungguh, sebuah gangguan tak terduga. Aku membuka mata, saling melihat dengan beberapa teman-temanku.

Lalu aku tersenyum, lambang kepasrahan yang sempurna. Bukan pada manusia, bukan pada keadaan. Tapi pada tangan Yang Maha Kuasa. Nyawaku ada di dalam sana, aku sadar sepenuhnya.

Kami masih terombang-ambing, terapung-apung di tengah laut Sulawesi. Belum ada perahu lain yang muncul untuk menjadi harapan pertolongan kami. Sinyal ponsel juga lenyap sama sekali. Entah bagaimana caranya untuk pulang, atau pergi. Kami hanya bisa menunggu, berharap cuaca tidak berubah jadi buruk atau berhujan karena perahu kami adalah seb7ah perahu tanpa atap. Berharap tidak ada badai yang sanggup membuat perahu kami tidak hanya terapung-apung di tengah lautan, tapi juga sanggup menjungkar-balikkannya. Akhirnya semua kami menyatu dalam diam, tenang, pasrah. Kedua bapak baik hati masih terus mencoba memperhatikan mesin motor perahu. Tapi salah satunya sudah mengajak untuk siap-siap mendayung. Aku tertegun, tapi mendayung dengan apa? Dayungnya juga hanya ada dua tiga buah. Itu juga bukan dayung, itu hanya papan kayu yang mungkin bisa dialih-fungsikan sebagai dayung. Beberapa teman laki-laki berdiskusi, aku menarik diri.

Aku mengangkat kepalaku, melihat langit gelap yang terang karena titik-titik bintang. Menikmati keajaiban, keindahan alami dari alam kepunyaan Tuhan, di tengah kondisi tak menjamin keselamatan, di tengah laut Sulawesi. Mencoba meresapi ketenangan dan keteduhan langit yang terbentang luas di atas kepalaku, mencoba larut dalam keluar-biasaannya. Aku ingat ketika Petrus dan kawan-kawannya, murid-murid Yesus, terombang-ambing di dalam perahu, di tengah lautan, sama seperti kami saat itu. Hanya saja, mungkin mereka jauh lebih panik dan takut, karena mengalami badai yang mengamuk.

Di tengah lautan, terapung-apung. Lautan luas yang biru gelap di awal malam. Yang kedalamannya tak bisa disepelekan. Lautan yang benar-benar lautan tempat nyawa kami dipertaruhkan. Saat itu. Tiba-tiba, sebuah lagu bersenandung di dalam hatiku, kemudian.


You call me out upon the waters
The great unknown where feet may fail
And there I find You in the mystery
In oceans deep
My faith will stand

And I will call upon Your name
And keep my eyes above the waves
When oceans rise
My soul will rest in Your embrace
For I am Yours and You are mine

Your grace abounds in deepest waters
Your sovereign hand
Will be my guide
Where feet may fail and fear surrounds me
You've never failed and You won't start now

So I will call upon Your name
And keep my eyes above the waves
When oceans rise
My soul will rest in Your embrace
For I am Yours and You are mine

Spirit lead me where my trust is without borders
Let me walk upon the waters
Wherever You would call me
Take me deeper than my feet could ever wander
And my faith will be made stronger
In the presence of my Savior

I will call upon Your name
Keep my eyes above the waves
My soul will rest in Your embrace
I am Yours and You are mine



(Hillsong, 2013, Zion Accoustic Album,
Ocean/Where Feet May Fail)



Aku menutup mataku lagi, dan menyanyikan lagu ini, di tengah lautan. Sebuah lagu yang begitu mengena tentang iman, karena juga berjudul "ocean" (lautan). Sayup-sayup. Dengan suara yang tertelan bunyi deru ombak malam. Dengan gumaman yang menghanyutkan setiap bagian liriknya di dalam hatiku, menyesapinya sampai ke kedalaman.


In oceans deep, my faith will stand.


Sungguh, ini bagian terbaik dari perjalananku. Menikmati Tuhan di tengah lautan dengan sebuah lagu berlirik menyentuh hati. Memasrahkan diri. Bukan dalam ketiadaan iman, tapi justru dalam perjuangan menyempurnakan iman. Kemudian, badai-badai kehidupan di dalam lembar ceritaku mulai kuingat, satu-persatu. Masalah-masalah yang juga terlihat seperti lautan yang dalam, yang menenggelamkan kemampuanku sebagai manusia biasa. Tapi, aku pasti bisa melaluinya. Malam ini, di tengah lautan beratapkan langit teduh berbintang, aku mendeklarasikan imanku di setiap kata dari lagu yang kunyanyikan di dalam hati.


And I will call upon Your name
And keep my eyes above the waves
When oceans rise
My soul will rest in Your embrace
For I am Yours, and You are mine


Setelah berpuluh menit terombang-ambing tanpa kejelasan di tengah lautan luas Sulawesi, akhirnya pertolongan datang. Yang Terkasih masih terus memperhatikan kami. Sebuah perahu taxi, yang lebih besar dari perahu kami, yang memang bertugas berpatroli, akhirnya menarik perahu kecil kami kembali menuju pelabuhan. Perasaan lega membanjiri semua hati. Bersyukur karena doa-doa kami dalam kepanikan dan kepasrahan telah dijawab, pada akhirnya.

Aku tersenyum. Setelah melihat pelabuhan samar-samar dari kejauhan. Aku sungguh tidak menyesali kejadian tadi. Aku justru mensyukurinya, sambil mengagumi betapa Tuhan yang kukenal dan kukasihi itu, sungguh luar biasa. Pengalaman yang tak akan pernah kulupakan sampai detik terakhir hidupku. Sebuah cerita bersama Tuhan di tengah lautan luas, di malam yang gelap, di dalam sebuah perahu kecil yang tak bisa jalan. Aku tahu Dia sedang mengajariku lagi mengenai sebuah pelajaran iman.



Faith that will stand, in oceans deep.






p.s. :



Sekitar dua jam lebih kemudian, kami akhirnya tiba di pulau kecil di atas Pulau Sulawesi itu. Pulau Gangga, yang teduh dan tenang di kawal malam. Setelah mesin motor diperbaiki. Setelah semangkuk indomie. Setelah doa-doa yang meluap dari setiap hati. Setelah menantang untuk mengarungi lautan luas itu lagi. Dan pulau itu, sangat indah dan kaya untuk wisata. Alami, anggun. Langitnya biru, lautnya biru. Sebuah hadiah yang membuatku semakin mengagumi Yang Maha Kuasa. Deepest thanks, beloved Christ Jesus

Thursday, 1 May 2014

AND THE GREATEST OF THESE, IS LOVE





"And now these three remain: 
faith, hope, and love. But the greatest 
of these is love." 


(I Corinthians 13:13 NIV)


Setelah masa degradasi spiritual, aku kembali banyak merenungkan soal cinta kasih Tuhan. Teristimewa padaku. Bagaimana kasih-Nya tak berakhir ketika aku kalah atau salah. Bagaimana kasih-Nya tetap hadir ketika ketidaklayakan menerjang. Bagaimana kasih-Nya tetap tidak gagal di tengah ujian hujan dan badai. Bagaimana kasih-Nya tak pernah menyerah mengejarku di saat keterpurukanku menjedakan dan menjauhkanku dari hati-Nya. Bagaimana kasih-Nya setia, mendampingi, menghibur, menguatkan, meneguhkan, melalui masa-masa degradasi, dan akhirnya mengantarkanku ke sebuah masa yang baru. Masa dari level yang up.

Dari sekian banyak ayat yang kurenungkan, mungkin ayat inilah yang paling mengena saat ini dalam refleksi pribadiku. Tentang faith, hope, and love. Iman, pengharapan, dan kasih. Dan yang terbesar, adalah kasih. Bukan iman, bukan pengharapan. Tapi, kasih.

Aku mengamininya.

Ada kalanya memang iman dan pengharapan menjadi tampak begitu mustahil untuk tetap digenggam dan dipeluk. Ada kalanya ketika mempercayai Tuhan Maha Baik itu sulit, ketika kondisi tak menyamankan dan tak mendukung iman melahirkan banyak benih keragu-raguan. Ketika pertanyaan-pertanyaan soal kuasa dan kedaulatan Tuhan muncul, setelah bingung melihat Dia banyak diam untuk apa yang kita gumulkan. Ada kalanya pengharapan juga bukanlah sesuatu yang kita ingin miliki, ketika sudah begitu parahnya dan dalamnya kita jatuh dalam jurang keragu-raguan. Ketika pengharapan tampak seperti nostalgia saja, atau bahkan intermezzo. Tidak nyata, tidak bisa menjadi sauh yang kuat untuk kita memandang optimis hari depan yang akan datang itu.

Begitulah, ketika iman dan pengharapan surut. Kasih hadir untuk mengisi apa yang kosong. Kasih hadir untuk memberi topangan pada penderitaan hidup, menjadi jawaban di tengah kebingungan yang menyelimuti hari-hari. Kasih hadir sebagai pendamping kita untuk bertahan, tetap setia kepada Tuhan, meski tangan-Nya tak bisa kita lihat sedang berkarya bagi kita. Kita bertahan, sesederhana karena kita (begitu) mengasihi Tuhan.

Hal yang sama berlaku pada manusia. Aku teringat Hosea, seorang nabi dalam zaman Perjanjian Lama, yang di tengah segala ketidaksetiaan istrinya, tetap bertahan. Hosea tetap bertahan karena ia mencintai (Tuhan dan mencintai) istrinya itu, seburuk apapun keadaan bisa membuatnya tidak bisa mempercayai istrinya lagi, seburuk apapun keadaan bisa membuatnya tidak tahu bisa berharap hal apalagi dari istrinya. Hosea tetap bertahan mencintai istrinya.


But the greatest of these,
is love.

Sama juga denganku. Aku bersyukur sanggup bertahan tetap kembali pada-Nya, juga karena kasih itu. Yang muncul, menguat, membara kembali setelah ujian hujan dan api. Setelah up and drop pada masa degradasi. Meski iman terasa kendur, ketika kondisi tak baik benar-benar melemahkan diri sendiri. Meski pengharapan terasa pahit, ketika tak sanggup memandang ke masa depan dalam optimisme karena situasi mengikis iman. Kasih bertahan. Kasih mempertahankanku. Dalam kesetiaan, sampai iman dan pengharapan kembali menerangi alur perjuangan dari perjalananku di samping Yesus Tuhan.

But the greatest of these,
is love.

Do you have that love? Do you desire for that love?
Do you struggle for that love?



Let love makes you stronger to may trust and put your hope in God, everlasting and unending.