Wednesday, 19 February 2014

LANGIT DAN LAUT BIRU PULAU SULAWESI



Aku tidak ingat kapan pastinya mulai menyukai langit biru. Mungkin sejak SMP, setelah pindah dari rumah warisan peninggalan almarhum kakek-nenek dari ayah, ke rumah yang dibeli sendiri oleh kedua orang tuaku. Rumah itu terletak di dalam sebuah kompleks, yang untuk mencapainya harus melalui sebuah jalan masuk dari jalan raya yang cukup panjang. Aku senang berjalan kaki sepulang sekolah melaluinya jika tidak dijemput, di kiri-kanan jalan masih terhampar tanah lapang. Di atasnya, langit biru menyambut. Luas, tenang, biru. Aku mulai menyukainya, mencintainya. Langit biru itu. Kamarku yang terletak di lantai dua, juga memiliki jendela yang memotret langit biru dalam batas-batas ruangnya yang terbuat dari kayu. Di baliknya, ada teras luar lantai dua rumah. Darisanapun, aku suka duduk berlama-lama memandangi langit biru yang membentang di atasku. Sampai ketika SMA, aku masih senang duduk-duduk di teras luar lantai dua rumahku sambil melihati langit biru. Memandanginya sampai habis waktu. Mengambil foto. Karena, bosan tak pernah menghampiri. Kadang sendiri, kadang bersama sahabat-sahabatku jika berkunjung. Kami bahkan memanjat atap, demi senang-senang masa remaja, dan aku, juga demi langit biru.

Setelah pindah ke depok demi melanjutkan studi, aku pikir aku kehilangan langit biruku. Tapi ternyata tidak juga. Meski tak sebiru di medan, langit kota depok tetap biru membentang. Menghibur. Apalagi pondok tempat aku tinggal kos, desainnya seperti asrama dengan kamar-kamar yang langsung menyapa alam luar. Rumput hijau dan langit biru.

Beberapa minggu lalu, sekitar bulan akhir januari, aku mendapat anugerah untuk bisa berkunjung ke Sulawesi Utara demi beberapa tugas, yang mungkin terlalu panjang jika dibagikan disini. Tapi, sungguh aku belum pernah melihat paduan langit dan laut yang sama-sama biru, sama-sama luas, sama-sama tenang, dan sama-sama indah, seperti langit dan laut disana. Aku langsung jatuh hati. Apalagi masa musim penghujan di kota depok dan jabodetabek membuatku tak bisa melihat langit biru sama sekali akhir-akhir ini. Hanya langit mendung, gelap, berawan, kelabu, yang sedih. Yang memadamkan semangat diri sendiri. Karenanya, ketika sampai di pesisir Sulawesi Utara: aku terpana. Kagum dan tertegun, akan sebuah pemandangan lukisan Yang Maha Agung. Sulawesi Utara, langit biru dan biru lautmu, tak tertandingi. Sempurna di mataku.

Belum lagi kunjungan dan wisata (juga) ke desa-desa di pesisirnya. Masyarakat yang ramah, logat bicara yang menarik, masakan dan makanan yang pedas tapi memikat lidah, ikan-ikan yang diolah segar langsung dari lautan yang biru, rumah-rumah sederhana tapi aman dan nyaman, adik-adik yang cepat akrab dan banyak berbagi, alam lalu pantai lalu karang yang keindahannya alami, belum terjamah kepalsuan manusia. Pengalaman pertama terapung-apung dalam perahu kecil mirip sekoci kapal Titanic di tengah laut malam-malam ketika ingin menyeberang ke pulau gangga, karena mesin perahu tiba-tiba mati. Pengalaman pertama wisata hewan-tumbuhan laut serba alami dipandu tanpa rencana oleh teman-teman mahasiswa kelautan Universitas Samratulangi Manado. Pengalaman pertama sedikit merasakan uji nyali seperti anak mapala, yang memanjat tebing berbatu di bibir laut, mendaki gunung menanjak dan menembus hutan ketika pulang dari pantai, ikut panik karena teman-teman setim tertusuk bulu babi (binatang laut berduri--red) ketika asik berenang. Pengalaman pertama melihat langit malam penuh bintang kecil dan besar di atas laut dan di atas kota Manado, yang tak akan pernah ada di jabodetabek menurutku.



Degradasi Warna Biru: Indah
Di Pantai Pulau Tanpa Penghuni
Awan Putih dan Langit Biru Kota Tondano
Terapung
Di Pinggir Pantai Sebuah Pulau Di Tengah Lautan Sulawesi


Sungguh. Langit dan laut biru Pulau Sulawesi, benar-benar membuatku rindu untuk berkunjung lagi. Suatu saat di momentum yang tepat, berharap pasti berkunjung lagi.


p.s. :

Perjalanan mengunjungi Sulawesi Utara tidak lengkap tanpa kalian, terima kasih teman-teman baru yang amat-sangat mengajarkanku banyak hal :) Postingan ini untuk kalian juga, untuk tim yang kemarin berangkat menemani aku dan armel mengunjungi desa tumbak--ka lexi, angel, vany, vian, dan ka miro, untuk tim yang kemarin berangkat bersama-sama aku dan ka moren mengunjungi Pulau Gangga di atas Sulawesi--ka kuts, ka abe, ka harlye, ka ungke, ka ogen, angel, linda, chia, tian, dedi, ari, tya, ka lia, dan anas. Terima kasih juga untuk sambutannya yang luar biasa, teman-teman dari Universitas Sam Ratulangi, khususnya untuk ka bobby, david, glenn, joan, rizky, dan semua yang mungkin tak bisa kusebut satu-satu namanya disini Terima kasih banyak :")

Wednesday, 12 February 2014

SEBUAH PELARIAN


Karena, hidup orang-orang adalah lembaran-lembaran kisah, cerita, yang beda-beda warnanya. Warnanya itu, tergantung pada alur ceritanya, tiap detail skenario di dalamnya, latar belakang kisahnya. Lalu, kau pun bisa mencoba menentukan, setelah mengecap, warnanya. Rasanya. Tak semua cerita, tak semua hidup orang-orang yang kau tahu, pada kenyataannya, berwarna cerah. Indah untuk diikuti, dinikmati. Mudah untuk disyukuri. Baik untuk dikenang. Sempurna untuk dibanggakan. Tidak, tidak semua. Bahkan, kau akan kaget ketika sengaja atau tidak sengaja, menemui warna yang gelap dalam cerita orang-orang. Mendung. Berkabut. Berawan. Hujan. Tidak nyaman untuk didengarkan, apalagi dirasakan. Sulit untuk diterima. Pedih untuk diabadikan. Kompleks untuk diceritakan. Mematahkan hati untuk dibagikan. Jelas tidak bisa dibanggakan.

Tahukah engkau? Seperti anak yang lahir dengan tidak diinginkan, dari sebuah kecelakaan karena hasrat seksual laki-laki atau perempuan yang tak terkendalikan? Lalu ia tumbuh, berkembang, sebagai anak yang terbuang. Tanpa kasih sayang. Tanpa pengakuan. Tanpa penghargaan. Meski ia tak bersalah apapun dan tak tahu menahu tentang dosa yang dilakukan kedua orang tuanya yang tak terikat ikatan komitmen sakral pernikahan, ia tetap dilabel sebagai yang tak layak, yang tak terbuang. Orang-orang di sekelilingnya yang amat kejam, tetap mengenakannya sanksi sosial yang tak seharusnya ditujukan padanya. Orang-orang di sekelilingnya tetap menganggapnya sebagai yang lahir dari dosa, dan ikut berdosa. Seolah-olah mereka tidak berdosa. Hidupnya sulit, keras. Hatinya terluka, masa lalu dan masa depannya tak bisa ia beri sedikit saja pengharapan. Hidupnya miskin, berkekurangan. Sendirian. Tak berkawan.

Atau, yang lahir dalam ketidakmapanan ekonomi. Harus berkeliaran di jalanan, demi mendapat recehan atau lembaran uang yang bisa menolongnya tak dipukuli orang tuanya. Ketika pulang, bukannya bisa sejenak beristirahat, tapi justru mengalami kekerasan seksual dari ayah kandung atau ayah tirinya sendiri. Ibunya tak bisa berbuat apa-apa. Beberapa bahkan, sampai hamil. Hamil anak ayahnya sendiri.

Betapa mendung ceritanya. Betapa gelap warnanya.
Betapa sedih.

Masih banyak cerita lain, yang berbeda-beda. Mendung. Sedih. Bahkan, tragis. Kadang-kadang.

Beberapa orang yang lain, selain yang memiliki cerita yang sepertinya serba-terang atau serba-mendung, atau dominan-terang dan dominan-mendung. Selain mereka, kebanyakan yang lainnya, memiliki lembaran cerita hidup bagai dua sisi gelap dan terang. Ada malam dan ada juga siang. Ada yang menyukakan hati, ada juga yang mematahkan hati. Kata orang, itu seperti roda yang berputar terus-menerus. Kadang di atas, dan kadang di bawah. Tak tentu.

Dalam lembaran cerita hidup dengan warna gelap dan terang seperti ini, kita sering berlari. Mencari tempat pelarian, ketika skenario mendung sudah dekat dan melekat. Kita berlari ke ruang yang terang dari hidup kita: itu bisa jadi kelompok yang lain yang lebih menenangkan dan membahagiakan, ketika kelompok yang satu menyedihkan dan melukai perasaan, membuat tidak nyaman. Itu bisa jadi telinga yang lain yang lebih sabar mendengar keluh-kesah kita yang tertumpah, ketika telinga-telinga sebelumnya tertutup dan tidak mau mendengar. Itu bisa jadi ruang, tempat, yang berbeda, yang lebih nyaman dan aman, ketika ruang atau tempat dimana kita ada sebelumnya sudah panas-dingin seperti neraka.

Pernahkah kau berlari? Mencoba menemukan sebuah tempat dimana kau bisa bersembunyi? Sebuah tempat dimana berteduh dan beristirahat itu mungkin. Berteduh dan beristirahat dari kelelahan hidup dan awan mendung dalam kisahmu, sisi gelap dan sedih. Pernahkah kau? Mencari dan menemukan tempat pelarianmu? Dimana beban terlepas dari pundak, meski sejenak. Dimana terang menghangatkan semangat dalam dirimu, untuk tak mati sekarat.

Warna apa yang sedang kau kecap dalam kisah hidupmu saat ini? Apakah cerah warnanya? Dan terangkah ia? Atau, jangan-jangan, warna gelapnya pun ikut menggelapkan perasaanmu, semangatmu, alur hidupmu?

Carilah tempat perhentian. Tempat pelarian.

Yang mungkin bisa kau temui di dalam hati Tuhan. Yang selalu punya tempat di hati-Nya, untukmu berlari. Untukmu berhenti. Untukmu berteduh.

Aku juga sedang butuh tempat pelarian.
Aku juga sedang dalam pencarian,

Lagi.

Tuesday, 4 February 2014

DEGRADASI PATAH HATI


Masa degradasi ini membuat patah hati, ketika sebelumnya aku belum pernah merasakan patah hati. Entah karena masalah percintaan manusiawi, atau karena seorang laki-laki. Belum pernah. Sama sekali belum. Dan aku bersyukur. Tapi, ternyata patah hati tidak hanya terjadi akibat kisah percintaan antara perempuan dan laki-laki. Patah hati juga mungkin terjadi ketika kita tiba-tiba tapi pasti, terperosok dalam masa degradasi. Ini menyedihkan, menyakitkan, membingungkan. Ketika kau patah hati, karena kondisi, karena masa degradasi. Patah hati karena aku baru sadar betapa jatuhnya aku, betapa jauhnya aku berjalan atau berlari mundur, betapa bodohnya aku untuk tak bisa benar-benar menemukan dan memperjuangkan segala cara untuk kembali lagi. Kembali ke sebuah masa, dimana jatuh bukan masalah, karena bangkit itu mudah. Bangkit itu mungkin. Tapi di masa degradasi ini, jatuh kadang adalah awal meyakitkan. Yang membangkitkan kesadaran kalau bangkit berdiri tidak semudah yang dulunya ku kenal dan ku ketahui. Yang membangkitkan kesadaran mengenai betapa terlukanya aku, karena keadaanku. Yang bukan membangkitkan kemampuan untuk bangkit menuju tempat lebih atas lagi. Semakin terluka, karena kadang tak bisa menggapai Yang Maha, dan segala cinta-Nya yang luar biasa. Merasa tertinggal jauh dari banyak orang-orang yang berlari maju, dengan sorak-sorai. Beberapa juga dengan air mata, tapi mereka tetap maju, dan tidak melangkah mundur sepertiku. Entah kenapa mereka bisa, dan aku tidak. Aku mempertanyakan banyak. Ini sakit, sakit ketika aku sebenarnya tidak ingin berjalan mundur. Tapi sepertinya maju juga bukan pilihan, kadangkala. Aku sadar benar kalau aku benar-benar terjatuh. Terluka. Parah.

Aku tidak tahu apakah membanding-bandingkan menjadi sebuah langkah bijak untuk merenung di masa ini, atau justru tidak sama sekali. Tapi hatiku patah, semakin patah ketika mendengar cerita orang-orang yang berjalan bahkan berlari maju. Menuju Yang Maha. Tidakkah mereka yang sanggup berjalan atau bahkan berlari maju itu berhenti sejenak untuk sedikit menolong yang tertinggal? Yang ragu-ragu untuk melanjutkan perjalanan, untuk berjalan maju? Yang merasa mundur adalah pilihan satu-satunya yang sanggup dilakukannya? Yang hatinya patah. Patah dan entah bagaimana bisa pulih kembali.

Apakah seseorang bisa patah hati hanya karena ia terlalu mencintai? Apakah itu juga berlaku untukku? Apakah aku terlalu mencintai? Sehingga aku patah hati? Mencintai apa? Mencintai siapa, tapi?

Aku juga tak bisa bilang, tak terlalu yakin, kalau dalam masa ini, masa degradasi, adalah mungkin bagiku, untuk mencintai sosok Yang Maha itu. Maha Kudus. Maha Sempurna. Ketika aku sama sekali tak sempurna. Mungkin ini bisa dibilang, perkara soal perasaan layak tak layak? Mungkin, seperti itulah.

Jika aku patah hati karena terlalu mencintai, cinta seperti apa yang kupunya? Aku merasa bohong, merasa salah, merasa bodoh, merasa bingung; untuk menyimpulkannya. Untuk menyimpulkan, yang terkesan lebih seperti mengamini, kalau aku terlalu mencintai. Tapi, jikapun aku tidak terlalu mencintai, atau bahkan tidak mencintai, kenapa bisa patah hati ini terjadi? Atau, bisakah seseorang mencintai tanpa sadar kalau ia memang mencintai, dan telah jatuh dalam kondisi "terlalu" itu?