Tuesday, 29 April 2014

DO YOU DESIRE HIM THAT MUCH?


Memasuki dunia alumni dan dunia kerja itu tak selalu menyenangkan, apalagi ketika sekeliling mulai sibuk membicarakan dan mengkuatirkan masalah masa depan. Seiring dengan umur yang diramaikan oleh begitu banyak tuntutan. Pasangan hidup, future wife, future husband. Sama seperti di kantor saya sekarang. Mulailah banyak becandaan soal masalah pendamping hidup. Atau status-status galau di social media mengenai pasangan hidup dan cinta, yang selalu menjadi topik utama. Ah, saya lelah. Lelah melihat dan menyadari sekeliling saya yang terlalu sibuk memikirkan cinta manusia.


Kadang saya merenung seperti ini: apakah kita mengingini pribadi Yesus seperti kita mengingini pasangan atau pendamping hidup? Apakah kita mengingini cinta Yesus seperti kita mengingini cinta manusia?

Terlalu banyak orang yang ribut dan repot memikirkan masalah masa depannya saat ini: pasangan hidupnya (future wife atau future husband), keluarga masa depan, cinta manusiawi. Saya tidak menghakimi kalau itu salah, bagi orang-orang pada umumnya itu memang sebuah kebutuhan. Tapi, harus diakui, banyak orang yang terlalu banyak galau (dan kegalauannya tidak dibawa diserahkan ke hadapan Tuhan) dan memikirkan "kebutuhan" (akan cinta manusiawi) itu, luput untuk memikirkan sejauh sedalam dan sekuat apa cintanya pada Tuhan. Belum yakin kalau cintanya pada Tuhan sudah teruji dalam tantangan hujan dan api. Lalu saya tergelitik, lebih merefleksikan renungan ini ke diri sendiri dengan tidak bermaksud ingin menghakiminorang lain: apakah wajar kita mengkuatirkan percintaan manusiawi lebih dari mengkuatirkan keintiman personal kita dengan Yesus? Apakah wajar untuk lebih mengejar dan memprioritaskan cinta kita kepada manusia dibandingkan cinta kita kepada Tuhan?

Bukankah Tuhan harus selalu menjadi yang pertama dan terutama?

Saya berpikir, saya merasa guilty feeling sendiri. Saya sebenarnya bukan tipikal perempuan muda yang kuatir akan pasangan hidup masa depan, atau bahkan dari masa kini. Galau juga bukan pilihan bagi saya. Mungkin bagi saya, lebih banyak hal yang butuh diurus dan diprioritaskan saat ini, dibandingkan hal itu. Bukan berarti acuh tak acuh juga mengenai masalah pasangan hidup itu, tapi setidaknya sekarang ini mendoakan dengan setia sudah cukup bagi saya. Toh saya masih muda, masih terlalu banyak yang harus dipersiapkan dan dimatangkan. Hanya saja, saya guilty feeling ketika berefleksi, kenapa sebagai manusia, kita memiliki kecenderungan untuk menomor-sekiankan Tuhan, seolah-olah Tuhan tak pantas menjadi nomor satu dan yang terutama dalam hidup dan hati kita. Bukan hanya soal pasangan hidup, tapi juga untuk terlalu banyak hal.

Saya merenung, membayangkan betapa sedihnya hati Tuhan, ketika melihat kita lebih mementingkan cinta kita pada seseorang yang istimewa itu, dibandingkan cinta kita yang kita tujukan pada-Nya. Membayangkan betapa kecewanya Dia, ketika kita betah dan memang mengingini intensitas kebersamaan yang sangat tinggi dan padat dengan seseorang yang istimewa itu, dibandingkan intensitas berduaan dengan-Nya dalam saat teduh dan doa. Membayangkan betapa hancur hati-Nya, ketika kita bilang kita kacau-balau jika kehilangan cinta seseorang yang istimewa itu atau jika hubungan kita dengan seseorang yang istimewa itu sedang tak bisa dibilang baik, tapi sama sekali tenang-tenang saja ketika hubungan kita dengan Tuhan berantakan atau cinta kita pada Tuhan benar-benar butuh dipertanyakan.

Then,
Do you desire Jesus that much?
Do you desire Jesus more than wife and husband?
Do you desire the love of Jesus more than the love of your special someone?




Dan setiap hari, pertanyaannya akan tetap sama saja. Apakah cintamu dan cintaku pada Yesus melebihi cintamu pada manusia dan dunia?



P.S. :

Untuk melengkapi tulisan ini, saya harus mengakui saya sangat suka dan sangat mengapresiasi tulisan seorang adik saya yang sama-sama bertumbuh di komunitas yang sama di maker dan di PO FISIP UI. Saya sangat suka tulisanmu rut, karena keberserahanmu yang penuh pada Tuhan dalam masa penantian mengenai masalah pasangan hidup. Itu menyentuh. Akhirnya, Tuhan tetap menjadi yang pertama dan terutama. Silahkan, mengunjungi :)




Sunday, 27 April 2014

STRENGTHENING VISION




I was wrong. After read this inspiring book, Chazown by Craig Groeschell. Now, let us just walk straight and keep dreaming.

Sunday, 20 April 2014

KEABADIAN


"Tidak ada yang abadi di dunia ini. Satu-satunya yang abadi di dunia ini hanyalah perubahan."

Seperti itu kira-kira, yang pernah dikatakan seorang guru saya ketika saya duduk di penghujung bangku sekolah menengah atas. Saya mengingat waktu itu, setelah mendengar kalimat ini dari guru saya, saya tertegun. Saya lupa guru saya mengutip dari tokoh siapa, tapi yang penting apa yang dikutip merupakan sebuah perenungan yang menahun bagi saya.

Pernahkah kalian berpikir tentang keabadian? Ini bukan tentang surga. Ini tentang dunia, tentang apa yang abadi di dunia yang tak maya ini. Pernahkah kalian merenung? Tentang apa yang tak abadi?

Apa yang tak abadi? Rencana dan strategi terlaksana, berganti ketika habis masa. Hari-hari lalu pergi. Tahun-tahun lewat. Semuanya berjalan dalam irama angka-angka yang senantiasa dihitung di lembar-lambar kalender. Kekayaan bisa habis. Kepopuleran bisa surut. Kebanggaan bisa redup. Kepuasan bisa berkurang. Keinginan bisa terpenuhi, dan kemudian berganti muncul lagi. Yang disebut cinta bisa berubah semu, kaku, pura-pura tak di-aku. Manusia-manusia bergilir menutup dan membuka matanya, lahir dan mati. Tempat tinggal mungkin berpindah. Cuaca berubah. Pendidikan, pekerjaan naik level. Talenta dan bakat-bakat berkembang. Relasi-relasi berubah. Yang dekat menjadi jauh, yang jauh menjadi dekat. Yang baru ditemui. Yang lama kadang terlupakan.

Kenangan juga, ikut menjadi tak abadi. Seiring memutihnya helai-helai rambut dan menuanya usia. Kenangan terlupa, terkubur, tersimpan, dalam masa muda yang sudah lewat di generasi waktu yang tertinggal di belakang.

Apa yang tak abadi? Tak ada. Semua yang tak abadi berubah.

Apa yang tak abadi terlalu banyak.
Apa yang tak abadi nyaris tak bisa terhitung.
Apa yang tak abadi bisa dibilang, adalah semuanya,
Kecuali, satu:


Perubahan.
Perubahan adalah satu-satunya yang abadi di tengah segala bentuk dan jenis ketidakabadian di muka bumi ini.


Akhirnya, jangan berharap pada apa yang tak abadi dan jangan juga sesali apa yang tak abadi. Apa yang berganti. Apa yang berubah. Ritme alur kehidupan manusia memang begitu. Nikmati saja perubahan yang abadi, dalam setiap detailnya, dalam setiap denyutnya, dalam setiap gerakannya. Dalam keseluruhan prosesnya. Dan, bersyukur. Karena masih ada yang abadi di tengah dunia yang tak mengenal keabadian ini. Setidaknya kita bisa terus belajar akan perubahan dari apa saja yang ternyata tak abadi itu. Kehidupan yang tak abadi memang harus dihadapi dengan berani.