Sunday, 14 February 2016

LOVEOLOGY: A GIFT FOR FEBRUARY


A very recommended book about love to be read,
Happy Valentine's Day! ;)



(Tulisan berikut dikutip dari Loveology: John Mark Comer, Hlm.34)

Ahava


Dalam bahasa Ibrani, terdapat kata ahava, dan merupakan anugerah pada saat kita belajar tentang cinta. Dalam bahasa Inggris, kita hanya memiliki satu kata—love—untuk menunjukkan luasnya wilayah perasaan positif, tetapi dalam bahasa Ibrani, ada beberapa dan masing-masing menggambarkan perbedaan yang spesifik.

Anda dapat rayah seseorang. Yakni cinta yang anda rasakan terhadap seorang sahabat. Sesungguhnya rayah dapat diterjemahkan "teman" atau "teman dekat". Dalam sebuah kisah kitab Ibrani Kuno, seorang pria mengatakan pada kekasihnya, "bangunlah, rayah-ku, jelitaku, datanglah kepadaku." Rayah digunakan ketika anda ingin ke luar kota, menghabiskan waku bersama, bercerita, bermain, bersantai, dan menjalani kehidupan dengan bahu-membahu. Kita semua membutuhkan rayah yang baik.

Kemudian ada dod. Kata ini digunakan dalam baris pembuka kitab Kidung Agung. Wanita itu berkata, "kiranya ia mencium aku dengan kecupan—karena cinta(dod)-mu lebih nikmat daripada anggur." Ketika anda bertemu dengan seorang wanita dan seketika anda ingin mendapatkan anak darinya, itu adalah dod. Ketika anda betemu seorang pria dan ingin merasakan sentuhannya. Ketika anda memasukkan tangan anda ke dalam saku anda dan berusaha mengambil setiap kekuatan dalam kehidupan anda, itu adalah dod.

Kita akan bahas dod kemudian...

Sekarang, mari kita menggali lebih dalam kata ahava. Jenis kata ini merupakan sesuatu yang lebih. Sesuatu yang lebih dalam, lebih luas, dan lebih kuat. Menyangkut kedua kata di atas—rayah dan dod—ditambah beberapa. Cinta yang mengalir ke dalam jiwa, bagian yang terdalam dari kehidupan anda. Cinta yang tegas dan tabah dalam situasi apapun, dan tidak mengenal jawaban tidak untuk sebuah pertanyaan. Tak kenal lelah dan tidak keras kepala.

Pada puncak dari puisi yang disebut Kidung Agung, terdapat bait yang menggugah hati...

Taruhlah aku sepeti meterai pada hatimu,
Sepeti meterai pada lenganmu;
Karena cinta (ahava) kuat seperti maut
Kegairahannya gigih seperti dunia orang mati.
Nyalanya adalah nyala api,
Seperti nyala api Tuhan.
Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta (ahava);
Sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya.

Apakah anda menangkap perumpamaan itu?

Ahava bagaikan maut, seperti dunia orang mati—suatu kekuatan yang tidak dapat dibendung sehingga kita tidak kuasa untuk membendungnya. Ahava sepeti air yang tidak dapat diatasi, mengepung hutan dan kota. Tak dapat dipadamkan.

Dan ahava seperti tsunami, gelombang laut yang sangat besar, kekuatan yang tidak terkontrol begerak dengan cepat menuju daratan.

Makna penting pada kumpulan puisi itu adalah bahwa ahava itu kuat. Perasaan-perasaan yang dalam perjalanan panjangnga begitu lemah, seberapapun kuatnya. Perasaan-perasaan itu datang dan pergi. Tetapi ahava kokoh. Mampu bertahan. Ia mengandung kata yang cenderung kita hindari—komitmen. Sepanjang waktu berjalan, ia mendapatkan energi dan ia mematahkan setiap rintangan. Itulah cinta dari hati, dan cinta dari kehendak.

Pada musim panas tahun ini, kakek dan nenek saya dari pihak ibu saya telah menikah selama enam puluh tahun, tetapi beberapa bulan yang lalu dokter menemukan tumor di otak nenek saya. Mereka melakukan operasi, dan sekarang ini nenek saya sedang dalam pemulihan. Ia sulit merangkai sebuah kalimat, tetapi kakek saya selalu berada di sisinya 24 jam sehari/7 hari seminggu. Dan inilah hal yang luar biasa—mereka semakin jatuh cinta dari sebelumnya. Itulah ahava.

Ahava adalah satu-satunya cinta yang akan membawa suatu hubungan melewati perasaan awal "suka yang mendalam" dan melewati seluruh dekade kehidupan—saat-saat berada di atas dan di bawah, pernikahan dan keluarga, memiliki karier dan pengangguran, penderitaan dan perayaan, sakit dan sehat, dan itulah epilog kehidupan.

Anda tidak dapat membangun sebuah pernikahan semata-mata atas dasar perasaan-perasaan cinta yang mendalam, karena perasaan-perasaan itu tidak tahan uji. "Mudah retak" mungkin seperti meremehkan. Anda juga tidak dapat membangun sebuah hubungan hanya di atas rayah. Persahabatan sangat penting, tetapi anda memerlukan hubungan ekstra, sesuatu yang lebih. Dod juga tidak cukup. Tak peduli betapa cantik atau tampannya dia, seiring waktu berlalu, tubuh akan mulai berkeriput dan menua, serta kekuatannya menurun. Maka apa yang akan terjadi kemudian? Kapan anda masih memiliki dekade kehidupan ke depan? Anda memerlukan sesuatu yang lebih.

Anda memerlukan ahava.



(Lebih banyak: let's buy online Loveology)

Friday, 12 February 2016

WE DON’T NEED DEBORA, IF WE HAVE (BRAVE) BARAK



“Para laki-laki, tolong jangan biarkan para perempuan menjadi Debora. Jadilah Barak yang berani. Jadilah Barak yang berani maju ke medan perang, dan tidak membuat perempuan terpaksa harus menjadi Debora. Penuhilah peranmu, tugasmu, panggilanmu, untuk menjadi pemimpin. Jangan takut, jangan mundur. Jangan membuat Debora terpaksa mengambil-alih peran Barak. Berpegangan pada janji Tuhan, beriman dan berkuat hati. Siaplah mengambil resiko.

Laki-laki, para Barak, kalian harus menjadi berani, kalian terlahir sebagai pemimpin. Jadilah pemimpin. Jika harus berperang, pergilah berperang. Jika harus menjawab ya pada panggilan Tuhan, jawablah ya pada panggilan Tuhan—berapapun harganya.”


Tulisan ini lahir dari kegelisan saya. Setelah tahun ini melepas feminisme (liberal) yang saya pegang erat, salah satu fakta yang akhirnya saya sadari adalah bahwa tidak ada pemulihan perempuan tanpa pemulihan laki-laki. Setelah membolak-balik halaman kitab suci, inilah kebenarannya. Bahwa perempuan dan laki-laki diciptakan setara dalam perbedaannya masing-masing, untuk saling melengkapi. Menyeimbangkan.

Tulisan ini lahir dari kegelisahan saya. Ketika menemukan kenyataan bahwa para perempuan terpaksa harus menjadi Debora. Karena para laki-laki mencontoh Barak—Barak yang kurang berani. Dalam segala perkara. Termasuk, masalah spiritual. Karena para laki-laki tidak siap, para perempuan harus menjadi Deborah bagi para laki-laki yang ingin memberi diri menjadi tentara perang seperti Barak. Demi memimpin dan menolong mereka untuk menjadi Barak yang berani, para perempuan memberi dirinya turun, masuk, ke dalam peperangan.

Tulisan ini lahir dari kegelisahan saya. Saat melihat banyak rupa dan wajah. Dari keluarga. Yang berbeda-beda. Betapa sosok ayah telah kabur dan samar-samar. Betapa anak-anak lahir dan tumbuh tanpa pengenalan yang benar akan bagaimana para pemimpin seharusnya menjadi pemimpin. Tanpa pengenalan yang tepat akan bagaimana para laki-laki seharusnya menjadi Barak yang berani.

Tulisan ini lahir dari kegelisan saya. Dan pengalaman saya. Kadang, menjadi Deborah bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah. Ada hal-hal yang harus dikorbankan, dipertaruhkan. Demi peperangan. Kadang, untuk menjadi Deborah, para perempuan harus rela. Menembus batas yang membuat orang-orang yang tidak mengerti akhirnya menuduh sana-sini. Mereka yang tidak tahu betapa Deborah sudah mempertaruhkan  begitu banyak hal demi masuk ke medan perang. Hanya demi mengerjakan tugas dari Tuhan yang enggan dikerjakan oleh Barak, yang kurang berani.

Tulisan ini lahir dari kegelisahan saya. Yang melahirkan kembali banyak harapan dan doa. Untuk pemulihan kaum laki-laki, agar Barak menjadi Barak yang tak kehilangan keberaniannya. Agar Barak tidak mundur dari perannya sehingga perempuan harus bangkit menggantikan peran laki-laki. Agar perempuan dan laki-laki bisa mengerjakan perannya masing-masing dalam keharmonisan yang saling melengkapi. Secara khusus dalam ranah pelayanan kepemimpinan spiritual.



Para laki-laki, jadilah Barak yang berani,
Sungguh jika kita memiliki banyak Barak yang berani, kita tak lagi
memerlukan Deborah yang harus bangkit mengambil-alih
peran Barak.

Kita hanya memerlukan Deborah, para perempuan,
yang mengerjakan peran pelayanannya sebagai perempuan,
tanpa harus mengerjakan bagian pelayanan yang seharusnya dikerjakan
para Barak.


Dan akhirnya,
terciptalah ruang keharmonisan.




p.s. :

Referensi Kisah Debora dan Barak dapat dibaca dalam Hakim-Hakim 4. Tulisan ini sendiri lahir bukan dalam artian untuk men-generalisasi bahwa semua laki-laki seperti Barak yang tidak berani. Tentu tidak. Saya sendiri bersyukur untuk setiap saudara laki-laki dan rekan pelayanan-pergerakan saya selama di kampus dan di komunitas, juga adik kandung saya sendiri, yang membuktikan dan memberikan saya gambaran mengenai Barak yang berani. Jumlah mereka pun tidak bisa dibilang sedikit. Melihat mereka membuat saya menyadari bahwa pemulihan laki-laki, secara khusus, dalam hal kepemimpinan spiritual, adalah mungkin.