Friday, 12 February 2016

WE DON’T NEED DEBORA, IF WE HAVE (BRAVE) BARAK



“Para laki-laki, tolong jangan biarkan para perempuan menjadi Debora. Jadilah Barak yang berani. Jadilah Barak yang berani maju ke medan perang, dan tidak membuat perempuan terpaksa harus menjadi Debora. Penuhilah peranmu, tugasmu, panggilanmu, untuk menjadi pemimpin. Jangan takut, jangan mundur. Jangan membuat Debora terpaksa mengambil-alih peran Barak. Berpegangan pada janji Tuhan, beriman dan berkuat hati. Siaplah mengambil resiko.

Laki-laki, para Barak, kalian harus menjadi berani, kalian terlahir sebagai pemimpin. Jadilah pemimpin. Jika harus berperang, pergilah berperang. Jika harus menjawab ya pada panggilan Tuhan, jawablah ya pada panggilan Tuhan—berapapun harganya.”


Tulisan ini lahir dari kegelisan saya. Setelah tahun ini melepas feminisme (liberal) yang saya pegang erat, salah satu fakta yang akhirnya saya sadari adalah bahwa tidak ada pemulihan perempuan tanpa pemulihan laki-laki. Setelah membolak-balik halaman kitab suci, inilah kebenarannya. Bahwa perempuan dan laki-laki diciptakan setara dalam perbedaannya masing-masing, untuk saling melengkapi. Menyeimbangkan.

Tulisan ini lahir dari kegelisahan saya. Ketika menemukan kenyataan bahwa para perempuan terpaksa harus menjadi Debora. Karena para laki-laki mencontoh Barak—Barak yang kurang berani. Dalam segala perkara. Termasuk, masalah spiritual. Karena para laki-laki tidak siap, para perempuan harus menjadi Deborah bagi para laki-laki yang ingin memberi diri menjadi tentara perang seperti Barak. Demi memimpin dan menolong mereka untuk menjadi Barak yang berani, para perempuan memberi dirinya turun, masuk, ke dalam peperangan.

Tulisan ini lahir dari kegelisahan saya. Saat melihat banyak rupa dan wajah. Dari keluarga. Yang berbeda-beda. Betapa sosok ayah telah kabur dan samar-samar. Betapa anak-anak lahir dan tumbuh tanpa pengenalan yang benar akan bagaimana para pemimpin seharusnya menjadi pemimpin. Tanpa pengenalan yang tepat akan bagaimana para laki-laki seharusnya menjadi Barak yang berani.

Tulisan ini lahir dari kegelisan saya. Dan pengalaman saya. Kadang, menjadi Deborah bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah. Ada hal-hal yang harus dikorbankan, dipertaruhkan. Demi peperangan. Kadang, untuk menjadi Deborah, para perempuan harus rela. Menembus batas yang membuat orang-orang yang tidak mengerti akhirnya menuduh sana-sini. Mereka yang tidak tahu betapa Deborah sudah mempertaruhkan  begitu banyak hal demi masuk ke medan perang. Hanya demi mengerjakan tugas dari Tuhan yang enggan dikerjakan oleh Barak, yang kurang berani.

Tulisan ini lahir dari kegelisahan saya. Yang melahirkan kembali banyak harapan dan doa. Untuk pemulihan kaum laki-laki, agar Barak menjadi Barak yang tak kehilangan keberaniannya. Agar Barak tidak mundur dari perannya sehingga perempuan harus bangkit menggantikan peran laki-laki. Agar perempuan dan laki-laki bisa mengerjakan perannya masing-masing dalam keharmonisan yang saling melengkapi. Secara khusus dalam ranah pelayanan kepemimpinan spiritual.



Para laki-laki, jadilah Barak yang berani,
Sungguh jika kita memiliki banyak Barak yang berani, kita tak lagi
memerlukan Deborah yang harus bangkit mengambil-alih
peran Barak.

Kita hanya memerlukan Deborah, para perempuan,
yang mengerjakan peran pelayanannya sebagai perempuan,
tanpa harus mengerjakan bagian pelayanan yang seharusnya dikerjakan
para Barak.


Dan akhirnya,
terciptalah ruang keharmonisan.




p.s. :

Referensi Kisah Debora dan Barak dapat dibaca dalam Hakim-Hakim 4. Tulisan ini sendiri lahir bukan dalam artian untuk men-generalisasi bahwa semua laki-laki seperti Barak yang tidak berani. Tentu tidak. Saya sendiri bersyukur untuk setiap saudara laki-laki dan rekan pelayanan-pergerakan saya selama di kampus dan di komunitas, juga adik kandung saya sendiri, yang membuktikan dan memberikan saya gambaran mengenai Barak yang berani. Jumlah mereka pun tidak bisa dibilang sedikit. Melihat mereka membuat saya menyadari bahwa pemulihan laki-laki, secara khusus, dalam hal kepemimpinan spiritual, adalah mungkin.