Thursday, 28 July 2016

EPHPHATHA!


Ephphatha! Aku menanti kata itu terucap. Aku menantikan Ephphatha untuk pintu-pintu. Pintu yang menghubungkan aku dengan masa depanku. Di baliknya, ada jalan yang selanjutnya harus kutempuh. Tapi Ephphatha yang berkuasa menjadi kunci pintu terbuka hanya bisa terucap dari satu Pribadi yang kukenal bertahta atas waktu. Dan itu bukan aku. Aku menunggu. Aku hanya bisa menunggu, dan sudah seharusnya memang aku menunggu.

Tapi penantian tidak semudah itu untuk dilewati. Ketidaksabaran porak-poranda di dalam hati. Melahirkan keraguan, lalu ketidakpercayaan. Dimana Ephphatha? Akankah dia benar-benar terucap dan datang menghampiri pintu kita? Harus seberapa lama? Akankah itu bisa jadi selama-lamanya?

Aku menahan diri. Cukuplah aku butuh Ephphatha terucap bagi pintu-pintu kehidupanku. Aku tidak mau jadi tuli akan apa yang dikatakan-Nya karena telah ragu. Aku tidak mau jadi bisu akan kebesaran karya-Nya dalam hidupku karena ketidakpercayaanku.

Tapi banyak orang membutuhkan Ephphatha untuk dapat kembali percaya dan tidak ragu. Banyak orang membutuhkan Ephphatha untuk dapat kembali mendengar kata-kata-Nya dan menceritakan kebesaran-Nya. Dan siapatahu akhirnya aku juga perlu. Ephphatha yang membukakan telinga, mulut, dan hatiku.

Aku ingin menjadi takjub, aku ingin tercengang. Aku ingin berkata,  Ia menjadikan segala-galanya baik. Sekali lagi. Meskipun seharusnya aku terus dan akan terus bisa berkata, Ia menjadikan segala-galanya baik. Dengan keyakinan seteguh batu karang dalam setiap kata yang kuucapkan. Dengan percaya yang menyelimuti sempurna. Dengan sederhana, cukup seperti seorang anak kecil saja.



Ia menjadikan segala-galanya baik.
Ya, meski Ephphatha belum terucap. Meski belum ada apapun,
yang terlihat terbuka bagi kita. Berimanlah saja!

Ia, sudah sedang dan akan selalu, menjadikan segala-galanya baik.
Ya, tak terkecuali untuk kita.


p.s. :

(Cikarang, 28 Juli 2016: Setelah membaca tentang Ephphatha  
dalam Mark 7:31-37 di waktu berdua dengan Yang Berkuasa atas
waktu dan nyawa).

Tuesday, 26 July 2016

AS SIMPLE AS TRUST




When it doesn’t go my way, i know that it is not the end.
I’m trusting You have better plans. I haven’t even dreamt it yet.
I know that You are for me, when everything’s against me.
I put all my hope in You.

Jesus, i will trust You. I will trust You.
I know You never fail. I will trust You.
Jesus, i will. I will.

I don’t know how the story ends, but i know that You finished it.
I’ll close my eyes and just let go. And fall into my only Hope.
There’s safety in the falling, when i surrender fully.
I put all my hope in You.

Jesus, i will trust You. I will trust You.
I know You never fail. I will trust You.
Jesus, i will. I will.

The only thing i know, is God You’re in control.
In every little detail, You are close. I’ll never be alone, here in the unknown.
The power of Your presence, fills my soul.

Now everything i know, is God You’re in control.
In every little detail, You are close. I’ll never be alone, here in the unknown.
The power of Your presence, fills my soul.

Jesus, i will trust You. I will trust You.
I know You never fail. I will trust You.
Jesus, i will. I will.


(Trust, by Hillsong Young & Free)


p.s. :

Ini adalah salah satu favorit dalam playlist saya belakangan.  
Trust,  dari album terbaru 2016, Youth Revival, Hillsong Young And Free. 
Menjadi salah soundtrack hidup, yang menolong tetap berlari meski hati bilang  
kaki lelah. Yang menolong tetap percaya meski mata belum melihat apa-apa. 
As simple as trust, is the source of our strength to go through.
 

Wednesday, 13 July 2016

KETIKA KASIH BERARTI LEBIH


“You’re familiar with the old written law, ‘Love your friend,’ and its unwritten companion, ‘Hate your enemy.’ I’m challenging that. I’m telling you to love your enemies. Let them bring out the best in you, not the worst. When someone gives you a hard time, respond with the energies of prayer, for then you are working out of your true selves, your God-created selves.

This is what God does. He gives His best—the sun to warm and the rain to nourish—to everyone, regardless: the good and bad, the nice and nasty.”

                                                                         —Matthew 5:43-47 MSG


Bagaimana kalau saya menulis dan berbagi mengenai kasih disini? Membaca ayat ini membuat saya harus mengakui: mengasihi, bagi saya saat ini, adalah hukum terutama yang paling sulit dilakukan dalam praktik iman kekristenan. Mengasihi yang membenci. Mengasihi tanpa mengenal lelah. Mengasihi tanpa syarat. Mengasihi dengan iman tanpa melihat yang terjadi. Mengasihi tanpa alasan lain selain ketulusan dan kesejatian. Mengasihi yang lain lebih dari diri sendiri. Mengasihi sampai terluka. Mengasihi sampai mati. Mengasihi seperti Yesus. Berat sekali.

Tentu, kebanyakan kita ingin take and give. Mengasihi jika kita dikasihi. Mengasihi jika mereka layak dikasihi. Mengasihi jika tidak menyalibkan diri sendiri. Mengasihi jika tidak menguras harga diri. Mengasihi jika keadaannya baik terkendali. Mengasihi jika kasih itu seperti apa yang kita ingini. Mengasihi jika ada banyak alasan rasional yang melatarbelakangi. Mengasihi jika ada imbalan kasih akan didapati. Mengasihi jika kasih terjadi sesuai dengan apa yang ada dalam imajinasiseperti kisah cerita novel atau drama, yang ditulis oleh manusia tapi sering dikonsumsi.

Sayangnya, mengasihi sebenarnya tidak pernah mengenai kita. Kasih yang sejati menempatkan Dia di nomor pertama-terutama, dan sesama setelahnya. Diri yang sebenarnya cenderung kita kasihi lebih dari keduanya, justru di urutan terakhir harus berada.

Bagi saya, kasih selalu menantang agar pusat diri berpindah. Dari kita ke sesama. Dari kita ke Tuhan yang dipuja. Disitulah kesulitannya. Karena terlalu sering kita tidak rela berpindah. Kita melihat sesama, lalu menjadi ragu. Kenapa kita harus memberi ketika kita tidak diberi? Kenapa kita harus berpindah ketika kita bisa tidak berpindah? Tapi apakah kasih mengenal relasi untung dan rugi?

Ketika itulah, kasih menjadi sebuah pilihan yang harus mantap ditentukan. Bukan hanya tentang siapa yang bisa kita kasihi dengan mata dan hati, tetapi juga tentang Dia yang tak kasat mata yang harus kita kasihi lebih dari siapa yang bisa kita kasihi di bumi, termasuk diri sendiri. Yang sudah lebih dulu mengasihi kita sebelum kita mengenal apa itu kasih yang sejati. Yang sudah lebih dulu mengasihi kita sehebat itu sampai mengorbankan tahta dan harga diri.

Kasih memang bukan perihal hitung sana dan sini. Kasih bukan sekedar tentang balas budi. Kasih juga bukan perintah soal kerjakan dan jangan kerjakan itu dan ini. Tapi mengenai kemauan hati: sebuah kerelaan yang mengalir karena anugerah tanpa alasan. Terlalu rumit untuk dijelaskan, hanya dapat sungguh-sungguh dijalani dan dialami dalam satu Pribadi.

Tuhan yang rela miskin agar yang dikasihi menjadi kaya. Tuhan yang rela patah agar yang dikasihi bahagia. Tuhan yang rela mati agar yang dikasihi merasakan hidup lagi. Tuhan yang rela menyalibkan diri agar yang dikasihi bisa kembali.

Bagaimana seandainya kasih adalah mengenai memberi lebih dari menerima? Bagaimana seandainya kasih meminta egoisme harus runtuh tanpa sisa? Bagaimana seandainya kasih membutuhkan kesabaran, pengampunan, kesetiaan, kepercayaan, ketekunan, ketulusan, kerendahan hati, dan keteguhan hati—lebih dari ekspektasi yang terealisasi? Bagaimana seandainya kasih menuntut pengorbanan sebesar nyawa di dalam diri?

Bagaimana seandainya kita tidak perlu alasan lain untuk mengasihi
selain karena Tuhan sendiri?

Sepertinya kita harus lebih menyiapkan hati.



p.s. :

Jujur, tulisan ini saya tulis untuk diri sendiri. Bukan karena saya sudah mampu mengasihi, kebalikannya. Untuk mengingatkan dan ber-re-refleksi. Agar tidak menyerah untuk dapat menjawab pertanyaan sendiri. Agar tidak menyerah untuk dapat terus mengasihi. Agar tidak menyerah untuk menjadi seperti Yesus yang diikuti. Karena, sungguh, saat ini saya ingin menyerah untuk mengasihi.


(Setelah Hari Hujan: Cikarang, 13 Juli 2016)