Tuesday, 26 August 2014

PRESENCE, DAILY PRAYER



Presence 

As I sit here, the beating of my heart,
the ebb and flow of my breathing, the movements of my mind
are all signs of God's ongoing creation of me.
I pause for a moment, and become aware
of this presence of God within me.


p.s. :

Di istirahat lunch di kantor siang ini, ketika aku merasa stuck untuk memulai jam doa syafaat siangku—berharap menemukan lagi the strength unknown He provides.—dan Dia benar-benar menyediakannya lagi. Ketika hati dan tanganku tergerak untuk googling dengan keyword “prayer”, aku menemukan website ini. Sacred Space, begitu sebutan nama address-nya, yang memuat daily prayer yang terlihat sederhana tapi sangat menyentuh bagiku ini. Aku menulis ulang daily prayer hari ini. Ya, sebuah doa merenungi kehadiran Tuhan yang bersama dengan kita. Selalu.

Monday, 25 August 2014

HANYA SATU (1) ALASAN



“Mungkin ada 1.000 alasan untuk mundur dan menyerah, dan hanya ada satu alasan tunggal untuk tetap bertahan dan berjuang sampai akhir. Tapi, meski alasan untuk tetap bertahan dan berjuang itu hanya satu dan satu-satunya, jika alasan satu-satunya itu adalah Yesus Kristus—that’s more than enough for me to continue these struggles with the brave heart.


Yuliana Martha Tresia N
Dalam perenungan pagi. Senin, 25 Agustus 2014.
Mengingat pergumulan 2PH yang
dari dan demi Kristus itu.




P.S. :

I don't have choice to give up, keep going! Keep going, with Jesus is beside : )

Friday, 22 August 2014

STRONG WOMAN



You don't have to play masculine to be a strong woman.



p.s. :

Well, this quote is interesting to be thought of. Because it’s truly true. Woman can be strong, even in her feminine reality. Talking about ‘strong woman’ is not really talking about some characterictics, but about conditions that we face. So, be strong in your feminine reality, women ;)

Thursday, 21 August 2014

PEREMPUAN: DI DESA & DI KOTA


Pemandangan Desa Lokasi Liputan: Foto Ini Diambil Dari Dalam Mobil Yang Bergerak

Dua hari yang lalu, aku baru saja turun lapangan lagi, meliput keluarga salah seorang pasien anak yang punya kelainan ketiadaan lubang anus semenjak lahir. Aku masih ingat ketika menanyakan pada ibunya yang memang masih kelihatan muda itu, mengenai usianya. 22 tahun. Hanya berbeda satu tahun dengan usiaku yang sebulan lalu baru menginjak 23 tahun. 22 tahun dan dia sudah memiliki satu orang anak berusia 1,5 tahun. Ya ampun.

Suaminya tak jauh berbeda usia dengannya. Suaminya masih 23 tahun juga, seusia denganku. Ketika aku menanyakan lebih lanjut mengenai kapan mereka menikah, ternyata ibu muda ini sudah menikah di usia 19 tahun. Memang sudah tidak bisa disebut child marriage, tapi aku masih cukup terkejut mendengarkannya. Membayangkan diri sendiri ketika berusia 19 tahun—ya ampun, aku baru saja masuk Universitas dan baru saja menjadi seorang mahasiswa baru—dan di usia yang sama, ibu muda ini sudah menikah. Aku bahkan sama sekali belum pernah berpikir mengenai pernikahan ketika usiaku menginjak 19 tahun. Yang ada di dalam pikiranku hanyalah: masuk Universitas, demi orang tua yang sudah mencurahkan segenap kekuatan dan hidupnya untuk mengurus dan membiayaiku dan demi Tuhan yang sudah menganugerahkan kesempatan berkuliah di UI, aku ingin berjuang sampai lulus—masih memikirkan kemungkinan untuk bisa lulus cumlaude atau lulus cepat 3,5 tahun. Keinginan lulus cepat 3,5 tahun pun sama sekali tidak ada kaitannya dengan keinginan untuk menikah (muda). Yang menjadi rantai pemikiran selanjutnya yang menyambung mimpi itu adalah: kerja dan mandiri, sesuai dengan panggilan dan passion yang ada di dalam hati sendiri.

Sangat berbeda. Aku baru menyadarinya. Betapa jauh perbedaan antara perempuan yang lahir dan besar di kota dan perempuan yang lahir dan besar di pedesaan.

Sungguh, dalam tulisan ini, aku tidak bermaksud untuk men-judge mana yang lebih baik—apakah perempuan yang menjalani hidupnya dalam arus perkotaan, atau perempuan yang menjalani hidupnya dalam arus pedesaan. Dalam setiap detail tuntutannya masing-masing, konteksnya masing-masing, tantangannya masing-masing, suka-dukanya masing-masing—menurutku, keduanya sama susahnya.

Ibu muda yang kusebut dari awal cerita tadi memang tinggal di sebuah desa di daerah pedalaman Bekasi (yang sebenarnya akses ke kota sudah cukup terjangkau—setidaknya tidak seperti pedalaman Kalimantan yang kukunjungi Juli lalu). Dengan berpendidikan seadanya, dan sekarang hidup sebagai ibu rumah tangga tanpa pekerjaan lain di luar rumah (ngomong-ngomong, ibu rumah tangga itu juga pekerjaan. Saya tidak suka anggapan bahwa ibu rumah tangga yang berurusan dengan pekerjaan domestik keluarganya sendiri setiap hari dicap ‘tidak bekerja’. Dia bekerja. Bekerja dalam ranah domestik di keluarganya sendiri—menyapu, mengepel, menjaga anak, memasak, mencuci, dan sederet pekerjaan rumah tangga lainnya yang percayalah, itu bukan pekerjaan sepele yang bisa kita anggap bukan pekerjaan, hanya karena tidak dibayar dengan uang). Di desanya, rata-rata penduduk bekerja sebagai petani. Petani inipun sebenarnya lebih tepat disebut sebagai buruh tani, dimana lahan yang ia garap bukan miliknya sendiri—tetapi lahan orang lain (sebuah realita sosial yang menggelisahkan juga bagiku untuk masyarakat pedesaan di daerah Pulau Jawa ini). Ketika para laki-laki, termasuk suami dari ibu muda inipun sangat sulit untuk mengakses pekerjaan yang layak bahkan di desanya sendiri, bagaimana lagi dengan perempuan? (Pertanyaan ini didasarkan dalam pengakuan kontekstual dimana sistem patriarkhi menempatkan laki-laki sebagai kepala rumah tangga bertanggung jawab untuk bekerja mencari nafkah dibandingkan perempuan).

Di perkotaan? Perempuan “sudah mendapat kesempatan dan akses yang kurang lebih sama (kada sudah disini kutulis dengan italic dan dengan dikawal tanda kutip, karena ini adalah pengalaman yang ku alami—tidak menutup kemungkinan untuk realita lain yang belum kuketahui di perkotaan, yang menempatkan perempuan di belakang laki-laki dalam hal akses pada pekerjaan). Sungguh kehidupan perempuan yang lahir, tinggal, dan besar di pedesaan memang berbeda konteks dengan para perempuan yang lahir, tinggal, dan besar di kota. Dengan pendidikan yang bisa dikejarnya setinggi mungkin karena kesempatan dan akses yang lebih terbuka. Dengan banyak peluang pekerjaan yang bisa dilamarnya. Perempuan kota memang memiliki lebih banyak peluang untuk hidup lebih sejahtera, dalam standar ekonomi.

Sebenarnya, yang menjadi masalah adalah dua hal. Pertama, apakah perempuan tersebut bahagia dalam keputusan yang diijalaninya (entah itu menikah muda atau menunda menikah karena mengejar pendidikan dan pekerjaan yang layak). Kedua, apakah perempuan tersebut memilih dalam kebebasan pilihannya sendiri atau tidak.

Pertama, karena kebahagiaan merupakan sesuatu yang relatif sifatnya—perempuan di pedesaan yang menikah muda dan sudah memiliki banyak anak sebelum umurnya menginjak kepala tiga, bisa jadi bahagia dalam kehidupan itu. Sama saja, perempuan di perkotaan yang menunda menikah demi pekerjaan dan pendidikan bisa jadi bahagia juga dalam kehidupan itu. Semuanya kembali pada siapa yang melihat dalam sudut pandang yang mana. Tidak ada yang bisa men-judge kalau salah satu pilihan dari dua pilihan di atas lebih baik dari yang lainnya. Kedua, mengenai kebebasan pilihan. Akan menjadi masalah ketika perempuan menikah muda, atau sebaliknya, perempuan mengejar pendidikan dan pekerjaan, melakukannya karena tuntutan (sosial dari) orang lain—yang kemungkinan besar adalah keluarganya. Pemaksaan, dalam konteks ini, tentu saja akan berakibat pada masa depan yang mempengaruhi faktor pertama. Atau memang ia dipaksa oleh keterbatasan situasi (mungkin ia ingin sekolah tetapi tidak ada akses ke sekolah yang dekat, atau tidak ada biaya). Yang jelas, siapa yang suka menjalani kehidupan dalam pilihan yang dipaksakan?

Akhirnya, aku tidak tahu apakah tulisan ini feminis atau tidak—aku hanya mengingat aliran feminisme posmodern dan aliran feminisme post-kolol ketika menuliskan ini. Singkatnya, kedua aliran feminisme ini menolak untuk mengeneralisasi pengalaman perempuan—karena pengalaman perempuan pada kenyataannya memang berbeda-beda, tergantung berbagai konteks dan faktor sosial-budaya yang mempengaruhi. Termasuk perempuan kota dan perempuan desa—jelas berbeda. Contoh konkrit, jika seorang aktivis (perempuan) dari perkotaan ingin menolong para perempuan di pedesaan, aktivis (perempuan) dari perkotaan tersebut tidak boleh serta-merta membawa nilai-nilai dari lingkungan sosial atau budaya asalnya. Apalagi men-judge suatu budaya hanya dari perspektif budaya asalnya sendiri. Dia harus melihat konteks apa, mengapa, dan bagaimana.

Karena itu, tulisan ini hanya lahir sebagai hasil perenunganku—ketika turun ke lapangan dengan konteks yang jauh berbeda dengan konteks sehari-hari tempat dimana aku tinggal. Meski bukan yang pertama kali aku menemui yang seperti ini, baru kali ini aku merasa shocked berat. Mungkin karena masalah usia kami yang nyaris sama itu. Hasil perenungan akan perbedaan, di antara perempuan.*

Wednesday, 20 August 2014

LOVE IS WAR



Pernahkah kau merasakan perasaan putus asa ketika sedang jatuh cinta? Putus asa karena kesadaranmu akan setiap kelemahan dan kekurangan dirimu untuk bisa memberikan seluruh hati dan cintamu pada sosok yang kau cintai itu? Putus asa ketika menyadari betapa terbatasnya kau untuk bisa mencintai dengan seutuh dan sepenuh? Putus asa karena kau merasa sudah berjuang dan berusaha tapi kemudian selalu merasa jatuh lagi dan gagal lagi, tak benar-benar selalu bisa menyenangkan sosok yang kau kasihi? Pernahkah kau merasakan perasaan-perasaan ini ketika mencintai Tuhan—ketika mencintai Yesus? Sama seperti yang akhir-akhir ini sedang kurasakan?

Ada saatnya semuanya terasa berjalan lancar, baik, indah—cintamu pada Yesus teruji dalam segala totalitas dan kesungguhannya. Membuatmu ingin selalu menyanyikan sederet love song untuk-Nya. Membuatmu ingin banyak cerita, bersaksi—bahwa mencintai Tuhan adalah hal yang terbaik yang bisa dilakukan, dialami, dan didapatkan seorang manusia seumur hidupnya.

Tapi ada saatnya juga ketika semuanya terasa berjalan stuck—cintamu pada Yesus ternyata tak mampu kau buktikan dalam realitas nyata. Ketika kau tersandung berbagai kelemahan dan kekurangan manusiawimu, kedagingan yang terus membuatmu bergumul. Ketika kau merasa sudah berbuat dosa yang terlambat disadari, dan dosa itu seperti menjauhkanmu dari Tuhan yang kau cintai itu. Ketika kau akhirnya hanya ingin untuk diam, sendirian. Tak ingin banyak terlibat dengan hal-hal seperti pelayanan, karena terintimidasi oleh kejatuhan dan kegagalan pribadimu.

Pernahkah kau? Pernahkah?

Untuk kesekian kalinya, aku mengakui lagi kalau aku pernah melakukannya. Aku sedang mengalaminya. Sedang menggumulkannya—beberapa orang yang kuanggap saudara mungkin menyebutnya ketidakstabilan rohani. Aku menyebutnya kekacauan rohani, kekacauan spiritual. Tapi sebenarnya, aku pun tak mengingini itu terjadi. Tapi, itulah realita yang sekarang ini kugumuli. Kenapa bisa? Aku tidak tahu. Aku hanya berharap, dalam kefrustasian yang kadang mendadak menyerangku, kalau dalam segala kekacauan spiritual ini—Tuhan tak membuangku, tak meninggalkanku.

Lalu, apakah kemudian Dia membuangku? Apakah Dia kemudian meninggalkanku?
Karena kadangkala, aku merasa kacau secara rohani?

Sederet pertanyaan di atas ini kemudian terjawab melalui lagu yang tiba-tiba terputar acak dalam playlist music player-ku ini. Sebuah lagu yang menjadi jawaban, dari Yang Maha Tinggi dan Maha Agung itu—tapi yang juga Maha Dekat dan Maha Setia. Maha Kasih.

In Your justice and Your mercy
Heaven walked the broken road
Here to fight this sinner's battle
Here to make my fall Your own

Turn my eyes to see Your face
As all my fears surrender
Hold my heart within this grace
Where burden turns to wonder

I will fight to follow
I will fight for love
Throw my life forever
To the triumph of the Son


Let Your love be my companion
In the war against my pride
Long to break all vain obsession
Till You're all that I desire

Turn my eyes to see Your face
As all my fears surrender
Hold my heart within this grace
Where burden turns to wonder

I will fight to follow
I will fight for love
Throw my life forever
To the triumph of the Son 

And I know Your love has won it all
You took the fall
To embrace my sorrows
I know You took the fight
You came and died but the grave was borrowed
I know You stood again
So I can stand with a life to follow
In the light of Your name

Turn my eyes to see Your face
As all my fears surrender
Hold my heart within this grace
Where burden turns to wonder

I will fight to follow
I will fight for love
Throw my life forever
To the triumph of the Son

And I know Your love has won it all
You took the fall
To embrace my sorrows
I know You took the fight
You came and died but the grave was borrowed
I know You stood again
So I can stand with a life to follow
In the light of Your name




“Love Is War”
© Hillsong United, 2013
Zion Accoustic Album


Dan, aku pun tahu benar, kalau Dia tidak meninggalkanku—apalagi membuangku. Sebagaimana kemudian, Dia menganugerahkanku sebuah buku berjudul Messy Spirituality untuk ku baca itu, Dia berkata kalau aku tidak perlu banyak berpikir dan terintimidasi. Aku tidak perlu. Aku hanya perlu untuk tidak putus asa berjuang sampai akhir. Berjuang sampai akhir untuk mencintai Yesus, untuk menyenangkan hati Yesus, untuk memberikan Yesus, my all in all. Karena cinta kepada Yesus adalah sebuah peperangan. Peperangan melawan apa? Peperangan melawan (kedagingan) diri sendiri. Till He’s all that I desire.

Let Your love be my companion
In the war against my pride
Long to break all vain obsession
Till You're all that I desire

Perang melawan setiap sifat kemanusiawian kita yang menjauhkan kita dari kekudusan Tuhan. Perang melawan kecenderungan manusiawi kita yang lebih mencintai dosa daripada mencintai Tuhan. Perang melawan kedirian kita yang ingin berpusat pada diri sendiri, dan bukan pada Tuhan yang adalah sumber segala sesuatu dan seharusnya selalu menjadi titik akhir dimana segala sesuatu dikembalikan. Perang melawan self-centered-life untuk bisa mencapai Christ-centered-life.

Tidak mudah, harus ku akui. Banyak penyangkalan diri yang harus rela dilakukan. Banyak pengorbanan yang harus dipersembahkan. Banyak proses memikul salib yang harus dijalani. Kadangkala gagal, jatuh, di tengah jalan—tapi bukan seberapa banyak kita jatuh yang terpenting kan, tetapi seberapa banyak kita sanggup berdiri lagi dan bangkit dalam anugerah untuk kembali mengejar Tuhan yang kita cintai?

And I know Your love has won it all
You took the fall
To embrace my sorrows
I know You took the fight
You came and died but the grave was borrowed
I know You stood again
So I can stand with a life to follow
In the light of Your name




Dan, pada akhirnya, aku belajar lagi mengenai cinta dari dan untuk Tuhan. Cinta yang akan terus berjuang, meski jatuh bangun, untuk tetap mencintai sosok yang dicintai. Yang tidak pernah menyerah. Yang tak takut berperang, berperang untuk mengalahkan segala halangan untuk sepenuhnya mencintai—meski halangan itu adalah dirimu sendiri. I will fight to follow, I will fight for love. For the love for Christ Jesus.*