Tuesday, 30 April 2013

PENANTIAN


Semangat bisa datang dari mana saja, iya kan? :) Dia bisa pakai banyak hal, bahkan sering tak terduga, untuk menambah-nambah kapasitas semangat dalam diri kita. Deep thanks Dear God, akhirnya masa degradasi sudah lewat, meski saat ini juga masih dalam masa "penantian" yang masih berlanjut, melimpah syukur karena pemulihan Dia berikan seiring dengan tuntunan-Nya membawa aku masuk ke dalam pemahaman akan grand design-Nya yang sungguh luar biasa di dalam hidupku, ke belakang dan ke depan. Terkait, terjalin indah! Jesus is truly awesome forever! Ke depan ini, hidup terlihat semakin seru, meski aku tahu mungkin ada beberapa tantangan yang menunggu, He is with me whenever wherever i go. Senang dan kembali passionate, karena Tuhan semakin menyingkapkan berbagai hal di depan, many dreams and missions, next! Berikut, beberapa simbolisasi semangat yang ingin ku abadikan di lembaran-lembaran blog-ku ini :)

postcard dari ka jenny dan ezra, untuk my graduation day, tampak depan
bagian belakang, ada quote unyu-nya :") amen, untuk quote-nya itu!

1. Postcard, dari ka jenny dan ezra, di graduation day-ku februari kemarin, yang dihadiahkan bersama coklat cadbury :) Yesaya 40:28-31 masih tetap me-rhema, dan ku pegang erat-erat di hati dan jiwa. Baru sadar kemarin, ketika menemukan postcard ini lagi, kalau ayat yang tertulis di postcard, adalah ayat rhema dari Yang Terkasih itu :")

sms sahabat menjelang tengah malam :)

2. sms/bbm/tweet dari citien, geges, jujus yang masih berjuang total untuk skripsinya :" minggu yang lalu, jujus sudah sidang outline. geges sedang turun lapangan di medan, dan citien sedang berjuang skripsi dengan hal-hal yang kusebut "kegiatan-kegiatan-memperlengkapi-diri" yang menyenangkan :) thankyou Jesus, because i have had my other prayermates, finally.

commitment card, from student congress 3 bali :)

3. Ingatan-ingatan mengenai south-east-asia student congress tahun lalu, terutama commitment card di atas. Tak terasa, setahun nyaris berlalu, dan bagaimana kabar komitmennya? :) tapi, mengingat student congress 3 bali, membuatku semakin percaya, God had planned many things, they are sooo complex, but beatiful. Salah satu yang Tuhan singkapkan, ya, ada di dalam ingatan mengenai student congress 3 bali itu :")

________________________________________


"Kalau ada yang menanyakanmu, apakah kamu takut menjalani masa penantian,

kamu harus bisa untuk selalu bilang,

Ada pengharapan yang tidak pernah mengecewakan, yang ku punya, dan selalu ku pegang erat-erat. Jadi, apa aku punya alasan untuk takut? :)" 

Thursday, 18 April 2013

SIAPA SEPERTI DIA?


Allah Di Atas Semua Allah 
Siapa yang menakar air laut dengan lekuk tangannya
dan mengukur langit dengan jengkal,
menyukat debu tanah dengan takaran,
menimbang gunung-gunung dengan dacing,
atau bukit-bukit dengan neraca?

Siapa yang dapat mengatur Roh Tuhan
atau memberi petunjuk kepada-Nya sebagai penasihat?

Kepada siapa Tuhan meminta 

nasihat untuk mendapat pengertian,
dan siapa yang mengajar Tuhan untuk menjalankan keadilan,
atau siapa yang mengajar Dia pengetahuan
dan memberi Dia petunjuk supaya Ia bertindak dengan pengertian?

Sesungguhnya, bangsa-bangsa adalah 

seperti setitik air dalam timba
dan dianggap seperti sebutir debu pada neraca.
Sesungguhnya, pulau-pulau tidak lebih dari abu halus beratnya.

Libanon tidak mencukupi bagi kayu api
dan margasatwanya tidak mencukupi bagi korban bakaran.

Segala bangsa seperti tidak ada di hadapan-Nya
mereka dianggap-Nya hampa dan sia-sia saja.

Jadi dengan siapa hendak kamu samakan Allah,
dan apa yang dapat kamu anggap serupa dengan Dia?

Patungkah? Tukang besi menuangnya,
dan pandai emas melapisinya dengan emas,
membuat rantai-rantai perak untuknya.

Orang yang mendirikan arca,
memilih kayu yang tidak lekas busuk,
mencari tukang yang ahli
untuk menegakkan patung yang tidak lekas goyang.

Tidakkah kamu tahu? Tidakkah kamu dengar?
Tidakkah diberitahukan kepadamu dari mulanya?
Tidakkah kamu mengertu dari sejak dasar bumi diletakkan?

Dia yang bertakhta di atas bulatan bumi
yang penduduknya seperti belalang;
Dia yang membentangkan langit seperti kain
dan memasangnya seperti kemah kediaman!

Dia yang membuat pembesar-pembesar menjadi tidak ada
dan yang menjadikan hakim-hakim dunia sia-sia saja!
Baru saja mereka ditanam,
baru saja mereka ditaburkan,
baru saja cangkok mereka berakar di dalam tanah,
sudah juga Ia meniup kepada mereka, sehingga mereka kering dan diterbangkan oleh badai seperti jerami.

Dengan siapa hendak kamu samakan Aku,
seakan-akan Aku seperti dia?
firman Yang Mahakudus.

Arahkanlah matamu ke langit
dan lihatlah: siapa yang menciptakan semua bintang itu
dan menyuruh segenap tentara mereka keluar,
sambil memanggil nama mereka sekaliannya?
Satupun tiada yang tak hadir,
oleh sebab Ia maha kuasa dan maha kuat.

Mengapakah engkau berkata demikian, hai Yakub,
dan berkata begini, hai Israel:
“Hidupku tersembunyi dari Tuhan,
dan hakku tidak diperhatikan Allahku?”

Tidakkah kautahu,
dan tidakkah kaudengar?

Tuhan ialah Allah kekal
yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung;
Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu,
tidak terduga pengertian-Nya.

Dia memberi kekuatan kepada yang lelah
dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya.
Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu
dan teruna-teruna jatuh tersandung,
tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan 

mendapat kekuatan baru:
mereka seumpama rajawali yang naik terbang
dengan kekuatan sayapnya;
mereka berlari dan tidak menjadi lesu,
mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.



 


Lagi, Sebuah Perenungan Panggilan Hidup
Yesaya 40:1-31

Tuesday, 9 April 2013

KASIH (DALAM KEMISKINAN)


"Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya."

2 Korintus 8 : 9


Merelakan diri menjadi miskin untuk orang lain, ketika kita kaya, tidaklah mudah. Siapa yang mau menjadi miskin, apalagi untuk orang lain? Dimana-mana, orang selalu ingin kaya. Meninggalkan kenyamanan yang seharusnya milik kita, dan memilih berkorban maksimal untuk orang lain. Hanya satu kunci yang memampukan kita melakukan itu: kasih, sebagaimana yang telah dilakukan Kristus Yesus, untuk kita, yang dicintai-Nya, meski kita kadang tak menghargai kasih (dalam kemiskinan-Nya) itu. Selamat paskah :)

Sunday, 7 April 2013

MOVED OUT, NEW LIFE BEGAN


Ngomongin tempat tinggal di postingan kali ini, aku jadi ingat rumah di medan, dan kangen. Ini gambar iseng yang diambil dari atap rumah, tempat dimana aku suka melihat langit biru. Home sweet home :*

Sudah seminggu lebih lalu kira-kira, aku pindah. Meninggalkan tempat yang disebut-sebut Pondok Cempaka, kamar kosan yang ku tempati selama kuliah di Universitas Indonesia. Tiga tahunan lebih kurang. Rasanya? Aku tidak tahu harus menyatakan apa. Rasanya seperti membayangkan gado-gado, banyak hal bercampur tak terlalu jelas. “Rumah yang baru” bagiku ini menjadi media Yang Terkasih mengajariku banyak hal. Terutama yang kusebut “kemandirian tingkat lanjutan”—-yaitu kemandirian yang tidak sekedar mengurusi kamar kosan yang tak terlalu luas (yang kadang tak terlalu berefek jika skip melakukannya kalau deadline tugas atau banyak kerjaan di kampus), makan tinggal beli (banyak warteg, rumah makan, yang ramah dengan kantong dan dompet anak kosan kan), baju tinggal ke laundry (laundry kiloan di daerah kosan benar-benar ramah-tamahlah dengan dompet anak kos, kalo dibandingkan dengan laundry di daerah rumah baru sekarang ini), ATM deket, alfamart-indomaret deket, fotocopy-tempat-print-studio-foto semua tersedia, komplit. Rumah tempat tinggalku sekarang ini memerlukan yang lebih dari itu, upaya-upaya kemandirian ala anak kosan, maksudku. Bahkan aku, yang paling ogah masak dulu, akhirnya belajar masak mau tak mau karena mama mengurus ketersediaan kompor gas, kulkas, dan rice cooker. God’s providence in them all. Bersih-bersih “rumah” (bukan hanya kamar kos dan kamar mandi loh). Mencuci sendiri (akibat laundry yang tak terlalu ramah ke dompet sepertinya). “Kemandirian tingkat lanjutan” ini membuatku merasa benar-benar seperti orang dewasa: yah, umurku juga sudah kepala dua kan pada kenyataannya? *tutup mata* ahaha, lupakanlah soal umur.

Dan, entahlah. Semingguan ini, dalam keseluruhan ritme di rumah baru, aku mulai memahami ketika aku mulai mengalami sendiri bagaimana tugas domestik atau perihal rumah tangga yang dikerjakan ibuku. Terus terang, selama masa sekolah, karena di rumah ada dua orang tante yang sangat ku sayangi yang juga tinggal bersama kami, rasanya semua pekerjaan rumah tangga itu tak terasa maksimal sensasinya (oke, sensasi haha) karena pekerjaan dibagi-bagi kan? Tapi ini, berbeda. I do it by myself. Wow, congratulation dear self! Dan jujur rasanya, tak selalu mudah. Apalagi tanpa mba-mba PRT. Membayangkan sebelum makan harus masak untuk keluargamu, setelah selesai makan juga belum bisa tenang karena masih ada tugas cuci piring. Terasa simpel, tapi coba bayangkan kalau ini dilakukan terus-menerus, dalam ritme rutinitas seumur hidup dan tanpa apa yang disebut kasih sayang? Luar biasa, menekan, haha. Aku sedikit-banyak dapat memahami pikiran seorang feminis akhirnya, haha.

Rumah baru juga berbicara soal lingkungan baru, dan re-adaptasi dengan lingkungan baru itu. Semuanya komplit menjadi satu paket. Aku kadang merasa agak ganjil ketika menyadari bahwa tetangga-tetangga sekitar yang baik hati dan ramah berbeda umur cukup jauh denganku. Kepala tiga, kepala empat, kepala lima, dan kepala enam. Efeknya bagi orang dengan karakter melankolis-dominan sepertiku ini? Kadang tak tahu harus membicarakan apalagi ketika ngobrol, misalnya ketika membeli gado-gado.

Tapi karena kepindahan itu sudah di-set dan direncanakan oleh Bapa Yang Luar Biasa itu, ya, intinya simpel sebenarnya. Semua terangkum dalam satu kata: belajar. Termasuk, belajar bersyukur karena masih memiliki rumah yang baik yang bisa dihuni. Happy life, yoels!