Tuesday, 9 April 2013

KASIH (DALAM KEMISKINAN)


"Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya."

2 Korintus 8 : 9


Merelakan diri menjadi miskin untuk orang lain, ketika kita kaya, tidaklah mudah. Siapa yang mau menjadi miskin, apalagi untuk orang lain? Dimana-mana, orang selalu ingin kaya. Meninggalkan kenyamanan yang seharusnya milik kita, dan memilih berkorban maksimal untuk orang lain. Hanya satu kunci yang memampukan kita melakukan itu: kasih, sebagaimana yang telah dilakukan Kristus Yesus, untuk kita, yang dicintai-Nya, meski kita kadang tak menghargai kasih (dalam kemiskinan-Nya) itu. Selamat paskah :)

Sunday, 7 April 2013

MOVED OUT, NEW LIFE BEGAN


Ngomongin tempat tinggal di postingan kali ini, aku jadi ingat rumah di medan, dan kangen. Ini gambar iseng yang diambil dari atap rumah, tempat dimana aku suka melihat langit biru. Home sweet home :*

Sudah seminggu lebih lalu kira-kira, aku pindah. Meninggalkan tempat yang disebut-sebut Pondok Cempaka, kamar kosan yang ku tempati selama kuliah di Universitas Indonesia. Tiga tahunan lebih kurang. Rasanya? Aku tidak tahu harus menyatakan apa. Rasanya seperti membayangkan gado-gado, banyak hal bercampur tak terlalu jelas. “Rumah yang baru” bagiku ini menjadi media Yang Terkasih mengajariku banyak hal. Terutama yang kusebut “kemandirian tingkat lanjutan”—-yaitu kemandirian yang tidak sekedar mengurusi kamar kosan yang tak terlalu luas (yang kadang tak terlalu berefek jika skip melakukannya kalau deadline tugas atau banyak kerjaan di kampus), makan tinggal beli (banyak warteg, rumah makan, yang ramah dengan kantong dan dompet anak kosan kan), baju tinggal ke laundry (laundry kiloan di daerah kosan benar-benar ramah-tamahlah dengan dompet anak kos, kalo dibandingkan dengan laundry di daerah rumah baru sekarang ini), ATM deket, alfamart-indomaret deket, fotocopy-tempat-print-studio-foto semua tersedia, komplit. Rumah tempat tinggalku sekarang ini memerlukan yang lebih dari itu, upaya-upaya kemandirian ala anak kosan, maksudku. Bahkan aku, yang paling ogah masak dulu, akhirnya belajar masak mau tak mau karena mama mengurus ketersediaan kompor gas, kulkas, dan rice cooker. God’s providence in them all. Bersih-bersih “rumah” (bukan hanya kamar kos dan kamar mandi loh). Mencuci sendiri (akibat laundry yang tak terlalu ramah ke dompet sepertinya). “Kemandirian tingkat lanjutan” ini membuatku merasa benar-benar seperti orang dewasa: yah, umurku juga sudah kepala dua kan pada kenyataannya? *tutup mata* ahaha, lupakanlah soal umur.

Dan, entahlah. Semingguan ini, dalam keseluruhan ritme di rumah baru, aku mulai memahami ketika aku mulai mengalami sendiri bagaimana tugas domestik atau perihal rumah tangga yang dikerjakan ibuku. Terus terang, selama masa sekolah, karena di rumah ada dua orang tante yang sangat ku sayangi yang juga tinggal bersama kami, rasanya semua pekerjaan rumah tangga itu tak terasa maksimal sensasinya (oke, sensasi haha) karena pekerjaan dibagi-bagi kan? Tapi ini, berbeda. I do it by myself. Wow, congratulation dear self! Dan jujur rasanya, tak selalu mudah. Apalagi tanpa mba-mba PRT. Membayangkan sebelum makan harus masak untuk keluargamu, setelah selesai makan juga belum bisa tenang karena masih ada tugas cuci piring. Terasa simpel, tapi coba bayangkan kalau ini dilakukan terus-menerus, dalam ritme rutinitas seumur hidup dan tanpa apa yang disebut kasih sayang? Luar biasa, menekan, haha. Aku sedikit-banyak dapat memahami pikiran seorang feminis akhirnya, haha.

Rumah baru juga berbicara soal lingkungan baru, dan re-adaptasi dengan lingkungan baru itu. Semuanya komplit menjadi satu paket. Aku kadang merasa agak ganjil ketika menyadari bahwa tetangga-tetangga sekitar yang baik hati dan ramah berbeda umur cukup jauh denganku. Kepala tiga, kepala empat, kepala lima, dan kepala enam. Efeknya bagi orang dengan karakter melankolis-dominan sepertiku ini? Kadang tak tahu harus membicarakan apalagi ketika ngobrol, misalnya ketika membeli gado-gado.

Tapi karena kepindahan itu sudah di-set dan direncanakan oleh Bapa Yang Luar Biasa itu, ya, intinya simpel sebenarnya. Semua terangkum dalam satu kata: belajar. Termasuk, belajar bersyukur karena masih memiliki rumah yang baik yang bisa dihuni. Happy life, yoels!