Saturday, 19 October 2013

NOT TAKEN FOR GRANTED


Orang-orang yang berani mengikuti passion, panggilan, dan mimpinya, sekalipun itu sangat berbeda dengan orang-orang kebanyakan di sekelilingnya, itu langka. Orang-orang yang berani untuk menjadi nonkonformis di antara konformitas yang pasti memberikan tekanan akan pilihan nonkonformis mereka. Orang-orang yang siap menanggung resiko, sebuah harga yang mahal, demi menjadi "hidup" tidak semata-mata mengikuti arus orang banyak---seperti perumpamaan: hanya ikan yang mati yang akan berenang mengikuti arus, ikan yang masih hidup akan terus bejuang berenang melawan arus, itulah yang menandakan dia hidup.

Tetapi tak bisa disangkal, kebanyakan orang memang mengikuti arus. Karena mengikuti arus itu nyaman, dan melawan arus itu tak nyaman. Siapa yang tidak suka kenyamanan? Tapi orang-orang yang mengikuti passion, panggilan, dan mimpi mereka siap mengorbankan segala kenyamanan mereka demi menjadi "hidup" dalam passion, panggilan, dan mimpi mereka. Kebanyakan orang suka mengikuti arus, pasrah saja untuk taken for granted akan banyak hal di dalam hidup mereka, karena orang-orang terdekat atau orang-orang di sekeliling mereka juga menjalani hal yang sama. Kebanyakan orang tidak lagi mempertanyakan banyak hal sebelum menjalaninya. Bukan kurang kerjaan, atau terlalu mempersulit segala sesuatu yang tadinya mudah, alasannya hanya untuk menemukan esensi di balik segala sesuatu itu dan memilikinya. Itulah yang membuat kita "hidup" dalam mengerjakan segala sesuatu, bukan ikut arus, ikut mati.

Bersyukur belajar ilmu sosiologi selama tiga setengah tahunan, aku dilatih untuk bersikap kritis, berpikir beyond common sense, tidak mau taken for granted. Mempertanyakan segala sesuatu. Jujur saja, untuk mempertanyakan segala sesuatu itu saja tidak mudah, tidak nyaman. Tapi esensi yang didapatkan setelah pertanyaan itu diselesaikan, sangat berharga. Aku bersyukur.

Bagaimana dengan kalian? Apa jangan-jangan selama ini kalian menjalani banyak hal yang kelihatan penting dan wajar di muka bumi ini dengan taken for granted? Ikut arus?

Coba, pertanyakan sederet pertanyaan berikut kepada diri kalian sendiri sebelum mengakhiri membaca postingan blog ini. Semoga mendapat pencerahan setelah mempertanyakan ulang segala sesuatu :)

1. Kenapa kita harus sekolah? Jenjang dan waktu yang tidak pendek untuk ditempuh, biaya yang tidak murah, segala pengorbanan dan perjuangan yang tidak sedikit? Karena semua orang sekolah? Karena sekolah itu wajib? Karena mengejar "jadi pintar"? Terus bagaimana kalau kita pintar? Ukuran siapa kepintaran yang kita kejar?

2. Lalu setelah sekolah, ingin kerja, jadi apa? Mengejar pekerjaan-pekerjaan (atau jika berkuliah sebelumnya, memilih jurusan-jurusan) yang "dibutuhkan" market place, yang laku di pasaran, yang banyak peluangnya? Apa yang kita kejar? Uang? Sampai berapa banyak? Akhirnya pun ketika (jurusan atau) pekerjaan yang "laku keras" di market place itu didapatkan, tapi tidak sesuai dengan bakat atau keinginan terdalam hati kita, akankah kita tahan melakukan pekerjaan yang sama--setiap hari kerja--mungkin nyaris seumur hidup? Dari pagi sampai sore atau malam? Sanggup? Tidakkah ada kesia-siaan yang terlihat di dalam kesemuanya itu?

3. Lalu apakah kamu ingin menikah? Kenapa? Karena orang lain menikah? Karena kalau tidak menikah, takut jadi omongan dan gossip seperti lagu yang kurang bermutu secara moralitas yang sering dinyanyikan sembarangan itu? Kamu harus menikah meski menikahi orang yang salah? Yang akan tidur di sebelahmu mungkin seumur hidupmu setiap hari, makan semeja, tinggal serumah, mengurus anak dan keluarga, berbagi apapun bersama? Yang tidak akan membuatmu bahagia? Atau bahagia di awal tapi tidak sampai akhir? Sebuah keluarga atau pernikahan yang akhirnya mengenal kata "cerai" atau "pisah"?

4. Lalu setelah menikah, apakah kamu ingin memiliki anak? Karena semua orang yang menikah pasti memiliki anak-anak? Karena keluarga tanpa anak terasa kurang lengkap? Anak hanya sebagai pelengkap tak lain seperti perabotan rumah tangga, begitu? Ingin memiliki anak tanpa alasan yang jelas, dengan banyak pengorbanan, nyawa untuk sang ibu ketika mengandung-melahirkan, biaya dan waktu untuk membesarkan anak, kasih sayang yang harusnya dilimpahkan tanpa dibuat-buat? Sanggupkah? Apakah kita ingin memiliki anak tanpa peduli akan jadi seperti apa anak-anak itu nanti tanpa segala hal ideal yang mungkin tidak sanggup kita upayakan?

5. Dan, soal apa yang kita percayai. Kenapa kita menganut agama tertentu? Karena keluarga kita, orang tua kita juga menganut agama yang sama? Lalu kita takut menjadi berbeda? Percaya pada agama itu karena "ikut" arus orang tua, keluarga, atau orang-orang terdekat? Tanpa benar-benar mengenal Siapa Tuhan Yang Kita Sembah? Hanya menjalankan ibadah keagamaan masing-masing seperti ritual yang terus berulang?

6. Jika daftar ini mau diperpanjang, mungkin bisa mempertanyakan ulang hal-hal spesifik dalam kehidupan kita masing-masing, seperti kenapa harus tergabung ke organisasi atau komunitas tertentu? Kenapa harus ini itu dst. Hanya satu kesimpulan penting, sekali lagi, mempertanyakan ulang semuanya itu bukan bermaksud untuk mengacaukan segala sesuatu yang sudah teratur dalam "sistem" kehidupan kita. Tetapi untuk meyakinkan diri sendiri bahwa kita melakukan sesuatu karena memahami benar esensi, karena kita ingin hidup dalam segala passion-panggilan-mimpi kita, dan tidak sekedar ikut-ikutan arus.

Atau, kita tidak ingin susah-susah bertanya lagi? Betah dan pw menjadi seorang konformis yang ikut arus, apa kata orang, dan nyaman menjadi "mati" atau "dimatikan" dalam arus yang membutakan?

Beranilah menjadi seorang nonkonformis, ketika konformis itu tidak membawa kita ke arah yang benar atau baik. Beranilah. Jadilah berani.

Thursday, 17 October 2013

SEBUAH PERNIKAHAN


Aku mengutip beberapa foto-foto real wedding dari Andrew dan Rachel, berikut, karena merasa foto-foto ini mengabadikan momentum-momentum yang begitu tak terjelaskan. Sebuah pernikahan, esensial.





foto yang ini sangat menyentuh bagiku secara pribadi, ketika mereka berdua didoakan oleh para pendamping wanita dan pria dalam kesatuan-kesehatian ketika mereka berdua benar-benar dipegang erat oleh mereka yang mendoakan mereka :")




for more photos and info about this wedding of andrew and rachel, you can check it out : http://www.100layercake.com/blog/2013/09/30/vintage-woodland-california-wedding-rachel-andrew/

Aku tidak tahu apa yang ada di dalam isi hati dan kepala setiap orang ketika memikirkan, membicarakan, atau membayangkan sebuah pernikahan. Yang ku tahu, mungkin tidak semua orang mengetahui rahasia agung-Nya di balik sebuah pernikahan: sebuah hubungan yang intim antara seorang suami dan seorang istri, seorang laki-laki dan seorang perempuan.

Andai setiap orang tahu bahwa pernikahan di bumi adalah model dari sebuah kebersamaan yang akan abadi di surga antara kita dan Sang Maha Kasih, andai setiap orang tahu bahwa hubungan suami-istri adalah gambaran antara hubungan keintiman kita dengan Yang Terkasih itu. Karena Dia bukan semata-mata Pencipta, atau Tuhan, yang jauh, tak terjangkau atau tak bisa dikenal. Dia dekat, sangat dekat, dan setiap orang yang mengalami-Nya pasti memiliki relasi, sebuah hubungan yang sangat personal dan intim dengan Tuhan. Ya, sebuah hubungan yang hidup, bukan sekedar pengetahuan tentang agama atau Tuhan, tanpa benar-benar mengenal Tuhan dengan sedekat itu.

Tahukah kamu bahwa pernikahan sebegitu pentingnya di mata Tuhan? Sehingga Ia membuka Kitab Suci dengan sebuah pernikahan di Taman Eden, antara Adam dan Hawa; kemudian menutupnya dengan sebuah pernikahan pula di surga, pernikahan Anak Domba Allah. Tahukah kamu bahwa pernikahan itu adalah sebuah rencana yang benar-benar agung di mata-Nya? Simbolisasi komitmen, cinta dan kesetiaan, keintiman, kebersamaan? Ya, sebuah pernikahan yang monogami, heteroseksual, dan sekali untuk seumur hidup--kenapa? Karena itulah lambang, model, kebersamaan dan hubungan kita dengan Yang Terkasih.

Andai setiap orang, setiap laki-laki dan perempuan, setiap pasangan, menjalani pernikahannya sebagai sebuah pembelajaran dan pengenalan lebih dalam akan Yang Maha Kasih, banyak pernikahan di muka bumi ini akan menjadi pernikahan yang luar biasa.

Wednesday, 16 October 2013

HE HAS A PLAN



He still ask to us, whether we wanna trust Him (and His plan) or not. He always remember about our free will. He hopes we use the free will wisely, yes, to choose Him. And, I? Honestly, after the mystery I experienced before, it's not always easy to decide to trust Him without using my rationality. But for this time, I try to trust. Trust His heart. Trust His desire. Trust His plans. Trust Him, fully.

I try.



______________________________________

inspiring picture from : http://verseinspire.tumblr.com/
if you have a tumblr account, maybe you can follow verseinspire and i hope you'll be blessed with the blogpost.

Friday, 4 October 2013

PLANT A HOPE, AGAIN


lihat matahari sore yang tetap bersinar di tengah itu, tetap muncul mengatasi awan kelabu yang berusaha menyembunyikannya: ya, sebuah (simbolisasi) pengharapan bagiku :)


Beberapa minggu lalu aku berkunjung ke Gramedia dan menemukan sebuah buku terbaru tulisan Pendeta Gilbert Lumoindong. Dalam satu halamannya, di paragraf terakhir di pojok kanan buku, aku begitu terberkati-terbangunkan-terteguhkan. Disana tertuliskan, dengan tinta hitam yang jelas, kata-kata yang intinya kurangkai-simpulkan dengan kata-kataku sendiri sebagai berikut—

Rencana Tuhan tidak akan pernah tergagalkan oleh kelemahan manusia, kebodohan manusia, kekerasan hati manusia. Tidak. Tidak bisa. Tidak akan. Tidak akan pernah bisa. Rencana Tuhan tetap akan terlaksana, bagaimanapun manusia atau bahkan si jahat berusaha menggagalkannya. Tuhan tidak akan pernah tergagalkan oleh apapun, dan siapapun. Dia Tuhan, kuasa-Nya penuh. Dia Tuhan, Dia Maha Kuasa. Siapa yang bisa melawan?



Hari ini, aku membangkitkan, mendasarkan imanku lagi pada kemahakuasaan-Nya itu, pada rencana-Nya yang tidak akan pernah tergagalkan itu, pada karakter-Nya yang agung tak berubah.

Dan pengharapan, kembali bertunas. Berbunga. Tumbuh.




Aku akan menantikan buahnya :)