Thursday, 29 October 2015

KEHILANGAN



“Jatuhlah pada titik siap kehilangan apapun, siapapun. 
Segala sesuatu, kecuali kehilangan Yesus.”


Tak bisa disangkal, banyak manusia menakuti pengalaman kehilangan. Sesuatu, seseorang. Atau bahkan, dalam takaran jamak—banyak hal, banyak orang. Dan itu wajar, secara manusiawi, ketika sesuatu atau seseorang memiliki arti khusus atau istimewa. Ketika sesuatu atau seseorang berharga, maka akan lebih sulit juga bagi manusia untuk kehilangan. Akhirnya memang, kehilangan pun ditakuti karena akan memberikan perasaan-perasaan yang tidak menyamankan. Kekecewaan dan kesakitan, termasuk di antaranya.

Setiap orang tentu memiliki “yang berharganya” masing-masing. Ada yang mungkin menjadikan kepemilikan barang dan kondisi finansial sebagai “yang berharga”. Ada yang mungkin menjadikan kenyamanan atau comfort zone sebagai “yang berharga”. Ada yang mungkin menjadikan keluarganya, atau sahabatnya, atau kekasihnya, sebagai “yang berharga” baginya. Ada yang mungkin menjadikan pekerjaannya atau gaya hidupnya sebagai “yang berharga”. Ada yang mungkin menjadikan relasi-relasi sosial yang ia miliki sebagai “yang berharga”. Ada yang mungkin menjadikan pride, prestise, pencapaian, dan prestasinya sebagai “yang berharga”. Setiap hal bisa menjadi “yang berharga” bagi orang-orang yang berbeda.

Itu tidak masalah. Yang jadi masalah adalah perasaan takut kehilangan, karena “yang berharga” ternyata telah kita tempatkan terlalu istimewa di dalam hidup kita, bahkan mungkin sampai menggeser posisi Tuhan sebagai yang terutama. Dan yang paling berharga. Kita lebih takut kehilangan “yang berharga” dibanding “yang (seharusnya) paling berharga”. Karena “yang berharga” telah menjadi berhala. Saat itulah, pengalaman kehilangan akan menjadi lebih sakit daripada yang seharusnya. Harus diakui, pengalaman kehilangan memang tetap mengejutkan atau menyakitkan—secara daging dan manusiawi—tetapi efeknya tidak akan berkepanjangan atau berlebihan jika kita mengingat bahwa setidaknya kita tidak kehilangan “yang paling berharga”. Siapa? Yesus, Tuhan. Tapi jika “yang berharga” telah menggeser posisi “yang paling berharga”—dan kita kemudian kehilangan “yang berharga” yang telah kita jadikan “yang paling berharga”—tentu pengalaman kehilangan akan semakin menyakitkan kan? Bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang kita anggap “yang paling berharga” dalam hidup? Tentu menyakitkan. Dan mengecewakan. Sayangnya, perasaan seperti ini tidak perlu karena kehilangan “yang berharga” tidak seharusnya kita sesali sedalam itu.

Ada begitu banyak “yang berharga” yang mungkin kita miliki dan pegang erat-erat di dalam hidup kita. Dan hanya kita yang tahu percis, apa itu, siapa itu. Tapi apakah begitu banyak “yang berharga” itu telah menggeser tempat “yang paling berharga”—tempat tunggal milik kepunyaan Tuhan? Dan jika kita harus kehilangan “yang berharga” itu—apakah kita siap dan berani menghadapinya?


Sungguh. Jatuhlah pada titik dimana kita siap kehilangan apapun, siapapun, segala sesuatu. Kecuali satu, kehilangan Yesus. Yesus, sebagai “yang paling berharga”. Jatuhlah pada titik itu—meski ketika jatuh di titik itu, berarti siap kehilangan segala sesuatu dan mampu berkata, “Christ is enough for me.” Jatuhlah pada titik itu—titik dimana kita mungkin kehilangan batu-batu berlian yang berharga, tetapi kita tahu kita masih memiliki sumber batu berlian yang lebih, jauh, dan paling berharga.

Pengalaman kehilangan tentu juga memerlukan iman. Iman yang bisa menyatakan dengan teguh bahwa Yesus adalah satu-satunya, yang paling berharga, melebihi apapun yang tampak berharga. Iman yang bisa mendeklarasikan bahwa Yesus adalah yang paling berharga, yang posisinya tak bisa digeser atau digantikan oleh apapun yang lain yang tampak berharga.

Pengalaman kehilangan itu terjadi setidaknya untuk mengingatkan kita, agar kita tidak berpegangan terlalu erat pada hal-hal yang tampak berharga, yang mungkin sudah menggeser atau menggantikan posisi yang paling berharga, di dalam hidup kita. Pengalaman kehilangan itu terjadi untuk mengajari kita, bahwa Christ is enough for us. We don’t need a thing. We don’t need another. Pengalaman kehilangan itu terjadi untuk menyadarkan kita bahwa segala sesuatu yang kita miliki di dunia ini tidak akan ada yang abadi, kecuali Tuhan itu sendiri.

Siaplah untuk kehilangan apapun, siapapun, kecuali kehilangan Yesus. Karena, kehilangan apapun-siapapun sebenarnya bukan masalah besar bagi kita ketika kita kembali menyadari bahwa semuanya itu memang bisa hilang kapan saja. Dan semuanya itu bisa dicari kembali, bisa didapat kembali, bisa diganti kembali. Kehilangan apapun-siapapun itu juga sebenarnya bukan masalah besar, dibandingkan jika kita kehilangan Yesus—yang adalah yang paling berharga dan yang adalah segala-galanya. Jika kita kehilangan Yesus, bayangkan betapa besar kehilangan yang akan kita alami. What a great loss.

Tulisan ini lahir sebagai sebuah perenungan diri sendiri. Ya, saya juga mengalami kehilangan belakangan kemarin. Perubahan relasi-relasi sosial yang sangat saya anggap penting. Dalam sekejap, segala sesuatu berubah. Tidak bisa saya kendalikan. Tidak bisa saya hentikan. Tidak bisa saya benar-benar kembalikan. Yang saya bisa hanya duduk di hadapan Tuhan Yesus, dan berserah. Belajar bersyukur—meski mungkin manusia-manusia mengecewakan (bukan hanya saya menjadi subjek yang dikecewakan tetapi termasuk saya yang mungkin menjadi subjek yang mengecewakan), saya masih memiliki Yesus yang tidak pernah mengecewakan—yang bersama-Nya, relasi saya aman dan tetap. Saya tetap anak-Nya, sahabat-Nya, sekaligus murid-Nya. Lalu saya jatuh pada titik kesadaran itu: bahwa saya harus siap kehilangan apapun dan siapapun, kecuali kehilangan Yesus. Kehilangan relasi-relasi dan orang-orang ini mungkin memang berat bagi saya, tetapi kehilangan itu akan bisa saya atasi juga. Karena mereka hanyalah sebagian dari kehidupan saya, bukan seluruh bagian dari hidup saya. Tapi jika saya kehilangan Yesus? Saya tidak bisa membayangkan, bahwa saya akan kehilangan seluruh bagian dari hidup saya. Saya bahkan kehilangan hidup saya itu sendiri. Betapa kacaunya saya jika saya kehilangan Yesus! Saya benar-benar tidak siap kehilangan Yesus—tidak siap kehilangan Sahabat 24 jam saya, tidak siap kehilangan Ayah saya yang selalu mencintai saya, tidak siap kehilangan Guru saya yang selalu siaga mengajari dan berjaga-jaga atas saya.

Pengalaman kehilangan mengajari saya bahwa Yesus tiada ternilai artinya dalam hidup saya. Termasuk karena Dia berkuasa atas relasi-relasi yang telah berubah, relasi-relasi yang akan datang, maupun relasi-relasi yang masih terjaga. Saya bersyukur Dia menghibur saya dengan relasi-relasi yang tinggal tetap ketika saya kehilangan beberapa relasi-relasi yang berubah. Saya bersyukur untuk sahabat-sahabat yang setia, yang benar-benar merupakan sahabat yang seperti saudara, yang Tuhan tempatkan di dalam hidup saya—ketika saya kehilangan orang-orang yang sudah saya anggap seperti sahabat namun ternyata tidak menganggap saya sahabatnya. Saya bersyukur untuk komunitas keluarga rohani dan saudara-saudara rohani yang bisa menolong saya bertumbuh, menggantikan pembimbing rohani saya.  Saya bersyukur untuk orang-orang baru dengan relasi-relasi yang baru, yang Tuhan tempatkan di hidup saya, untuk menggantikan yang lama. Meski, tentu tidak boleh ada kepahitan ada ganjalan yang saya genggam atas orang-orang yang lama, yang telah pergi dan relasi-relasinya telah berubah secara mengejutkan itu. Bagaimanapun, saya bersyukur pernah mengenal mereka—karena saya tahu, Tuhan mempertemukan dan mengenalkan untuk sebuah rencana yang baik juga. Tuhan tidak pernah merancang kecelakaan bagi kita kan, selalu rancangan damai sejahtera. Roma 8:28-30 :)

Akhirnya, kehilangan harus bisa mengajari kita sebuah respon hati yang benar. Kehilangan tidak boleh menanamkan kekecewaan di dalam hati kita. Kehilangan tidak boleh menanamkan kepahitan di dasar hati kita. Kehilangan harus dapat membuat kita mengucap syukur—atas segala sesuatu yang masih belum hilang. Atas yang paling berharga yang kita terus miliki—Yesus Tuhan. Kehilangan harus dapat mengingatkan kita bahwa selama hidup berpijak di atas dunia yang tidak abadi ini, kita tidak seharusnya menggenggam apapun terlalu erat, kecuali tangan Yesus Tuhan itu sendiri.





“Sungguh. Jatuhlah pada titik dimana kamu siap kehilangan apapun, siapapun, 
segala sesuatu bahkan. Kecuali, kehilangan Yesus.”

—Yuli


(Sebuah Perenungan Personal: Cikarang, Oktober 2015)