Monday, 30 May 2016

JIKA JALANNYA SULIT




Jika tahu jalannya sulit, akankah kau tetap melangkah sungguh? Jika tahu jalannya adalah cerita derita, maukah kau tetap bertahan bersamanya? Jika tahu jalannya menuntut pengorbanan yang paling dalam dari hidupmu, maukah kau terus memberikannya? Jika jalan itu tampak tak secemerlang yang kau harapkan, tak seindah yang kau pikirkan, bahkan terlalu banyak batu, lubang, air mata, hujan dan api, akankah kau tetap meneruskan perjalananmu?

Jika jalannya tak akan pernah menjanjikanmu untuk bahagia seperti defenisimu, jika jalannya berarti ada banyak paku yang harus kau tancap ke salibmu, jika jalannya tak terlihat semenarik jalan pendahulu atau tak sehebat jalan sesama rekan pejalan kakimu, jika jalannya jelas tampak sangat berbeda dari jalan yang ditempuh semua orang di sekelilingmu, maukah kau tetap memilih jalan yang sebenarnya telah kau pilih itu?

Jika jalannya mengharuskanmu untuk jatuh, lalu terluka, jika jalannya menuntutmu untuk menangis demi belajar apa yang baru, jika jalannya membuatmu berguling-guling bingung dan pusing demi tiba di tingkatan yang lebih lagi, relakah kau tetap bertahan di jalanmu? Jika jalannya memintamu tinggal dan berhenti ketika kau justru ingin pergi, jika jalannya membawamu untuk berkali-kali naik dan turun hanya untuk meruntuhkan ego di dalam hatimu, akankah kau membiarkannya mengajarimu sesuatu?

Jika memilih jalan itu berarti siap untuk tenggelam dalam pertanyaan-pertanyaan orang, kadang tanpa bisa atau yakin untuk menjawabnya, jika memilih jalan itu berarti siap dicela atau dihina karena ekspektasi manusia yang melihatmu tak bisa mencapainya, jika memilih jalan itu berarti membiarkan orang sanggup menyilet-nyilet harga dirimu, maukah kau tak berpaling dari jalanmu?

Jika tidak akan ada buah, jika tidak akan ada panen, jika tidak akan ada ladang yang di matamu tampak menguning, jika tak akan ada hadiah, jika tak akan ada prestasi atau prestise apapun, di sepanjang perjalanan bahkan sampai di ujungnya nanti—akankah kau tetap tabah dan berjalan dan menerima apa yang menjadi kehendak yang menciptakan jalan dan menginginkanmu berjalan di jalan itu?

Jika dari awal sampai ujungnya ia hanya mengandung penderitaan dan memintamu tanpa henti ikut berkorban menyangkal dan mengecilkan diri, jika akhir jalannya bukanlah cerita dimana kau bisa menutup mata sambil tersenyum atau tertawa—akankah kau tetap memilihnya?


Masih banyak jalan lain, kata mereka. Terlalu banyak. Terlalu indah dibandingkan yang ini. Yang lebih mewah. Yang lebih mulus. Yang lebih menawan. Yang lebih memikat. Yang lebih membanggakan. Yang lebih menggiurkan. Yang dipilih banyak orang. Yang dijalani banyak orang.  Dan yang lebih “kita” inginkan, bisik raga dalam dirimu. Yang bisa disukai dan dipuja tanpa disadari secara manusiawi. Jika memang ada banyak jalan lain yang bisa kau pilih—selain jalanmu yang sulit yang penuh penderitaan dan pengorbanan itu—akankah kau pilih yang lain?


(Sebuah Perenungan: Jakarta-Cikarang, Akhir Mei 2016)







p.s. (dikutip dari pesan sang pembuat jalan sulit itu) :