Saturday, 25 June 2016

OUR ROLE IS NOT OUR REWARD


“Our role is not our reward, Jesus is. Roles will begin and they will end. The only way for us to end well is to have our hearts recalibrated, Jesus must increase and we must decrease.

What rises in your heart at the thought of Jesus giving another person a more prominent role in His Wedding? How much do you long to have a more prominent role? How well are you prepared to let go of the role He has given you? What if He gives another your role?

In our individual and temporary earthly roles, the Wedding is not about us. It’s about Jesus and His bride. And we should never compete with the Bridegroom for the bride’s attention and affection.”


(Jon Bloom, in “Things Not Seen”:
A Fresh Look At Old Stories Of Trusting God’s Promises, 2015: Desiring God,
Chapter 2 Page 31, “He Must Increase But I Must Decrease”—
John Baptist And Humility)


p.s. :
(Personal Reflection)

We don’t need to compare ourselves and our works to others. Believe, that God has already given each of us, the beatiful part, the unique roles, to prepare the Wedding. You may see your part differently from God: you think it is easy, small, unsignificant—but you are absolutely wrong. Every part or role, if we do in His calling & in His will (in “yes” to Him), is always be important to Him. The thought of comparison, or the feeling that we do the unsignificant part or roles for His Wedding and Kingdom, may become the signs, that we are struggling with our inner conflict. Our pride, our selfish ambition. But again, we must remind, “He must increase but i must decrease.

It’s not about our part or role, that is important—
Our role is not our reward—
Jesus is.



(Cikarang, June 25th, 2016)

Thursday, 23 June 2016

THE IDEA OF ENOUGH


“Jika ada sebuah gelas yang setengahnya berisi air—bagaimana kau melihatnya? Apakah itu setengah penuh? Ataukah setengah kosong?”


Apa yang salah jika kita menjawab setengah kosong? Dalam perenungan saya, saya pikir ini tidak hanya sekedar mengenai cara pandang pesimisme, yang menjadi lawan dari cara pandang optimisme—sebagaimana filosofinya berkata. Tidak sengaja menemukan kembali pertanyaan ini di sebuah halaman website yang biasa saya baca setiap pagi, saya kemudian menguji diri sendiri dengan mencoba menjawabnya. Dan menemukan jawabannya menuntun saya ke sebuah perenungan yang lebih jauh. Perenungan ini.

Ini tentang apa yang kita sebut sebagai contentment. Istilah yang tidak populer, mungkin. Bahkan kurang dipahami orang. Contentment tidak sekedar mengenai kepuasan, arti harafiahnya dalam bahasa Indonesia. Lebih dalam bagi saya, contentment menunjuk soal sikap hati. Ada kemampuan untuk menerima, ada juga rasa syukur di dalamnya.

Contentment juga bukan soal rasa cepat berpuas diri. Itu jelas berbeda. Contentment justru sulit untuk diraih, menurut saya. Ada paradoks di dalamnya. Ketika kita merasa sulit untuk merasa puas, menerima, bersyukur (to be content), maka kita berjuang untuk merasa puas, menerima, dan bersyukur. Saat itulah, kita membutuhkan contentment.

Sudut pandang yang melihat gelas itu sebagai setengah kosong, bagi saya, juga bisa menjadi indikator contentment ini di dalam diri seseorang. Kita berfokus kepada apa yang kurang, apa yang tidak ada. Kita tidak melihat dan tidak benar-benar menyadari bahwa sudah ada setengah gelas air di dalam gelas itu.

Memang harus diakui, to be content or to have that contentment bukanlah hal sepele yang mudah dilakukan. Jika gaji di dalam rekeningmu setiap bulan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan, jika pekerjaan yang sekarang kau geluti bertentangan dengan idealisme-mu, atau ketika kau mengevaluasi hidupmu dan menyadari bahwa kau belum mencapai apapun yang ada dalam daftar mimpi atau misimu, ketika teman-temanmu sudah mendapatkan ini-itu dan kau merasa masih stuck di titik yang sama saja, misalnya. Contentment akan menjadi sangat menantang bagi sisi manusiawi diri sendiri. Apalagi jika ada variabel independen lain, yaitu kehendak Tuhan. Ya, kondisi-kondisi itu bisa jadi terjadi sebagai cara-Nya untuk mengajarimu sesuatu, seperti contentment itu. The idea of enough. Dan kau tak bisa lari.

Menerima, bersyukur, dan tidak mengeluh—atau yang saya bahasakan sebagai contentment—bukan berarti tidak berbuat apa-apa untuk mengubah keadaan. Ini lebih seperti menyadari bahwa kita berada dalam kondisi itu, karena sebuah alasan. Alasan yang mendatangkan kebaikan, tentu saja. Sebuah pelajaran, tak sekedar karena kemungkinan kesalahan. Contentment menolongmu menyadari bahwa Dia berdaulat atas hidupmu dan kau hanya perlu menikmati sampai detail-detail kecil kehidupanmu dengan hati yang jauh dari mengeluh. Bahwa ada saatnya, keadaan berubah dan kau juga harus melakukan sesuatu untuk mengubah keadaannya—tapi tidak memaksanya. Jadi, selagi ada disana, kau harus berusaha menemukan pelajaran-pelajarannya. Ya, pelajaran kehidupan dari pengalaman kehidupanmu.





Epilog :

To be content adalah sebuah pelajaran untuk menjadi sanggup, ketika kau tidak sanggup. Sanggup menerima diri dan situasi, sanggup mensyukurinya sebagai anugerah Yang Ilahi, dan sanggup tidak membandingkan diri dengan yang lain atau mengeluh akan apa yang tengah terjadi. Sanggup untuk berkata, “ini cukup bagi saya saat ini.

Jadi, tanyakan lagi,

Sanggupkah kita bersyukur jika apa yang di hadapan mata tak sama seperti apa yang diekspektasi hati? Sanggupkah kita bersyukur jika apa yang dapat kita raih tak sama seperti apa yang ingin kita gapai? Sanggupkah kita bersyukur jika apa yang ditunggu tak datang dalam waktu dan cara yang kita duga, mungkin lebih lama dan lebih sulit dalam prosesnya?

Sanggupkah kita bersyukur jika realita tak merealisasi apa yang lahir dalam imajinasi kita? Sanggupkah kita bersyukur jika realita seperti tak merealisasi janji-janji yang kita dapat daripada-Nya? Sanggupkah kita bersyukur jika realita justru menantang apa yang dengan iman kita bawa dalam ruang waktu doa kita?

Sanggupkah kita bersyukur jika iman menantang kita, to live by it—
yes to live by faith, and not by sight?



p.s. :

Live by faith, ya iman itu, tidak berfokus pada apa yang dapat kita capai di masa yang akan datang. Live by faith, ya iman itu, berfokus pada siapa yang dapat menolong kita mencapainya. Iman bahwa Dia itu, tak mungkin merancangkan kecelakaan untuk kita. Jadi, bukan apa yang menjadi penting, tapi siapa. Kita butuh kehidupan spiritual yang berfokus benar seperti itu. Sebenarnya, inilah kunci utama, contentment itu.

(Sebuah Perenungan: Cikarang, 23 Juni 2016)

Monday, 20 June 2016

ENJOY EVERY DETAIL



Belakangan, saya belajar untuk lebih menikmati kehidupan—sampai detail-detail terkecil. Masalah memang tak bisa benar-benar dicegah untuk datang sesekali kan, tapi rasanya sangat tak adil untuk membiarkan masalah menjajah kehidupan sampai membutakan mata akan hal-hal baik yang masih dianugerahkan untuk kita. Jika kehidupan terasa berat, jangan membuatnya semakin berat—sebaliknya, nikmatilah setiap hal menyenangkan yang pasti masih ada disana, untuk menghidupkan kembali suasananya. Mungkin kita perlu untuk mengambil waktu beristirahat, karena kadangkala kita harus berhenti menjadi terlalu serius. Nikmatilah kehidupan. Pergilah berjalan-jalan atau mengobrol dengan sahabat-sahabat terdekat. Cobalah bermain balon. Makan es krim. Minum secangkir teh hijau atau segelas cokelat panas. Pergi menonton film yang menginspirasi di bioskop. Bisa juga bermain games di aplikasi smartphone. Membaca Webtoon. Karaoke. Menonton drama Korea. Menginap dan menghabiskan waktu di tempat sahabat. Makan bakmi atau mie ayam yang enak. Berkunjung ke toko buku. Membeli buku baru. Membaca. Memasang headphone dan mendengarkan musik. Bernyanyi-nyanyi. Memandangi luasnya langit biru. Pergi ke pantai. Menatap bintang-bintang di langit malam. Mengambil pensil dan mulai menggambar doodles. Menulis jurnal atau blogpost. Tertawa yang banyak. Tidur yang lelap. Sampai menghabiskan waktu berdua dengan Kekasih Jiwa. Setidaknya itu yang saya coba.

Semangat carpe diem, kata seorang teman, perlu diresapi untuk menikmati kehidupan. Saya mensimplifikasinya dengan kesimpulan, kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.


~*~


“Give your entire attention to what God is doing right now, and don’t get worked up about what may or may not happen tomorrow. God will help you deal with whatever hard things come up when the time comes.” –Matthew 6:24 MSG

Wednesday, 1 June 2016

MERENUNGI KEMBALI 2015


Sebagian saya kumpulkan dari halaman facebook saya, sebagian dari buku catatan jurnal pribadi saya. Tapi asal-muasalnya, sebenarnya bukanlah darisana. Bukan juga dari (pikiran) saya. Tapi dari Dia, yang membawa terang yang mencerahkan saya, ketika pelajaran penderitaan terlalu gelap untuk dibaca. Perenungan-perenungan ini lahir begitu saja dalam pengaturan-Nya. Dilahirkan pengalaman kehidupan, yang tak mengenal tempat dimana atau kemana. Kebanyakan tiba setelah kapal goncang, dan keakuan digorat-goret. Tak jarang membuat lidah saya kelu, atau mata saya basah. Di atas segala, tetap saya bersyukur: Dia mengajari lewat terang setelah gelap, tentu karena rasa sayang-Nya. Perenungan-perenungan ini, yang menjadikan lembaran 2015 begitu berharga—meski jalannya sungguh tak mudah. Saya mengumpulkannya kembali dan merangkainya satu, di halaman ini, lebih untuk mengingatkan diri saya sendiri, supaya tak melupakan pelajaran-pelajaran ini. Pelajaran-pelajaran ini harus saya bawa sampai mati.


“Bagaimana jika bagian yang dianugerahkan kepadamu adalah hanya untuk menabur dan bukan untuk menuai? Apakah itu menjadi masalah? Bukankah yang terpenting bukanlah siapa yang menabur atau siapa yang menuai, tetapi siapa yang memiliki ladang tuaian? Tidaklah penting siapa yang menabur, atau siapa yang menuai, asal mereka bekerja di ladang yang sama, dengan visi yang sama, dan untuk tuan yang sama.” 

 (Cikarang, November 2015: Sebuah Perenungan Personal Tentang Pride & Untiy)


“Bagaimana jika Tuhan mengizinkanmu kehilangan segala hal yang bisa kau banggakan dalam hidupmu, sampai hanya Tuhan satu-satunya yang bisa menjadi kebanggaan dalam hati dan hidupmu—dan tidak perlu yang lain? Kadang seluruh jubah harus dicopot demi sebuah pakaian sederhana, yang sangat penting yang dinamakan, kerendahan hati.

(Cikarang, November 2015: Sebuah Perenungan Personal Tentang Kerendahan Hati)


“Kehilangan harus bisa mengingatkan kita bahwa selama kita masih hidup berpijak di dunia yang tidak abadi ini, kita seharusnya tidak menggenggam apapun terlalu erat, selain tangan Yesus Tuhan itu sendiri.”

(Cikarang, Oktober 2015: Sebuah Perenungan Personal Tentang Kehilangan)


“Let the true light will naturally shine.
The light will shine for sure, when you fully abide in Him.
Terang itu bercahaya di dalam kegelapan, dan kegelapan itu tidak menguasainya.”

(Dalam Penerbangan Di Atas Langit Malam Kota Jakarta, Oktober 2015:
Sebuah Perenungan Personal Tentang Terang)


“Kadang memiliki pilihan (lain) merupakan hal yang lebih sulit dibandingkan jika kita tidak punya pilihan sama sekali. Tantangannya adalah, apakah kita bisa tetap memilih Tuhan, ketika kita punya banyak pilihan lain, selain pilihan Tuhan?”

(Hedwin’s House of Prayer—Jakarta, Juli 2015: Sebuah Perenungan Tentang Pilihan)


“Sepenting mata bagi tubuh, sepenting itulah Injil bagi hidup.”

(Bangka Belitung, Dalam Tugas Kantor Untuk Kegiatan Bantuan Operasi Katarak,
November 2015: Sebuah Perenungan Tentang Mata & Injil)


“It’s really okay untuk meragukan manusia, sebaik apapun dia di mata kita selama ini—asalkan keraguan terhadap manusia itu tidak akan pernah mempengaruhi pandangan kita akan Tuhan dan tidak membuat kita ikut meragukan Tuhan. Tuhan tetaplah Tuhan, dan dalam kedaulatan serta kasih-Nya, Dia tetap memakai manusia yang lemah dan berdosa, dengan alasan yang mungkin sulit diterima oleh manusia. Termasuk oleh kita.”

(Cikarang, September 2015: Sebuah Perenungan Tentang Manusia)


“Mengapa kita harus takut untuk berjalan sendiri melewati padang gurun jika Allah memimpin dan beserta kita, dengan janji bahwa sekalipun Ia takkan pernah meninggalkan kita?”

(Jakarta, Oktober 2015: Sebuah Perenungan Tentang Padang Gurun)


“Apakah kau tega untuk tidak berhenti ketika di tengah perjalananmu, kau bertemu seorang pengelana yang menanyakan arah tujuan kepadamu? Apalagi, jika tujuan itu adalah kepada Yesus? Tegakah kau untuk melewati dan tidak berhenti, mengabaikan pertanyaan yang menentukan hidup dan mati?”

(Cikarang, November 2015: Sebuah Perenungan Tentang Amanat Agung)


“Tidak perlu lautan luas, badai dashyat, atau ikan besar seperti yang menelan Yunus untuk mengingatkanmu atau memanggilmu pulang pada panggilan dan isi hati Tuhan. Ikan besar itu, di masa kini, bisa berwujud apa saja—orang-orang di sekelilingmu, kondisi, pengalaman-pengalaman yang mungkin sepele dan sederhana—yang diatur-Nya berada di tempat dan waktu yang tepat untuk mengingatkanmu bahwa, panggilan-Nya tak bisa ditolak. Panggilan itu secara naturally menjadi bagian yang penting dari hidupmu, yang meski disangkal atau dilupakan akan terus memanggil pulang.”

(Cikarang, November 2015: Sebuah Perenungan Tentang Panggilan: To Serve The Poorest Of The Poor)




Blessing,
Yoels