Tuesday, 10 November 2015

CERITA TENTANG KAKTUS: HOPE & PERSEVERANCE



Ini adalah cerita tentang dua kaktus. Kaktus-kaktus yang adalah milik saya, hadiah pemberian dari dua rekan di kantor. Yang pertama, saya sematkan nama "Hope" dan yang kedua, saya sematkan nama "Perseverance". Keduanya hidup bersama saya dalam masa yang berbeda. Saya menuliskan ini sebagai pengingat akan mereka.

Hope

Hope, itu nama kaktus saya yang pertama. Itu kali pertama keinginan saya untuk mencoba memelihara kaktus akhirnya bisa terealisasi. Saya menamakannya Hope, sebagai pengingat. Bahwa hidup harus memiliki harapan untuk mampu melihat masa depan dengan iman, yang sebenarnya belum bisa kita lihat dengan mata sendiri.


Saya mengurus Hope setiap hari. Minum air dan sinar matahari. Ia terlihat sehat-sehat saja sampai suatu kali kejadian itu terjadi. Saya menitipkan Hope di teras pos satpam di kantor saya, untuk dijemur demi sinar matahari, agar tetap terlindung di bawah atapnya, jaga-jaga jika hujan tak bisa ditebak turun tiba-tiba. Saya lupa membawa pulang Hope hari itu, sampai akhir pekan berlalu dan saya harus meninggalkan Cikarang dan pulang ke Depok. Ketika senin datang, saya mencari Hope, saya tidak menemukannya sama sekali. Saya menyerah, saya pikir, Hope sudah diambil orang. Suatu kali, seminggu telah berlalu, dan seorang Bapak Security baik hati menanyakan saya apakah saya pernah menitip kaktus di pos satpam. Saya kaget. Ternyata, Hope masih ada. Hanya saja, akibat tak diberi minum sekian lama, warnanya sudah berubah kekuning-kuningan dan saya tidak yakin apakah Hope masih bisa diselamatkan lagi. Meski begitu, saya masih mengusahakannya. Memberi minum setiap hari dan sinar matahari. Sayang, akhirnya saya harus menyerah saat menyadari bahwa Hope telah mati. Saya hanya memiliki sisa-sisa batu dan potnya sampai saat ini.

Kejadian kematian Hope mengawali perenungan saya mengenai harapan. Hope. Saya pikir, harapan bisa mati jika kita lengah menjaganya setiap hari. Harapan harus dihidupi setiap hari. Ada kalanya kita berpikir kita tak lagi memiliki harapan karena suatu keadaan, dan sebenarnya itu tidak benar. Kita masih dan selalu memiliki harapan, hanya saja harapan itu mungkin memang tak bisa kita lihat. Kita perlu untuk beriman, sekaligus berusaha. Sampai harapan kita menghasilkan sesuatu yang baik di masa depan yang kita nantikan dan rindukan, jangan menyerah akan pengharapan itu. Realistisnya, tadinya mungkin kita melihat masa depan dengan harapan yang baik. Harapan itu menolong kita untuk bertahan, mengusahakan masa depan. Namun mungkin di tengah jalan, keraguan-kebingungan-dan-kebimbangan menerpa (harapan) kita. Itulah keadaan sulit. Keadaan sulit bisa mengubur dan menyembunyikan harapan kita sampai kita kehilangan. Lalu, tanpa harapan, bagaimana kita bisa tetap melangkah menuju masa depan dengan iman?


Perseverance

Perseverance, itu kaktus kedua saya. Ia terlihat lebih sederhana dari Hope, tapi saya juga menganggapnya istimewa. Jika Hope terlihat indah, Perseverance terlihat tangguh. Saya menamakannya Perseverance, juga sebagai pengingat. Bahwa hidup membutuhkan ketekunan, untuk melalui setiap langkah perjuangan di dalamnya, yang tak bisa dikatakan selalu mudah.


Seorang rekan lain yang memiliki banyak kaktus di rumahnya menghadiahkan saya Perseverance setelah saya kehilangan Hope. Perseverance kemudian menjadi tugas saya yang baru. Minum setiap hari dan sinar matahari. Sampai suatu ketika, saya akhirnya memilih untuk menjemur Perseverance di rumah kos saja. Pagi itu, saya ingat saya meletakkan Perseverance di teras depan, untuk dijemur dan ditinggal selama saya pergi ke kantor. Sayangnya, Perseverance hilang ketika saya mencarinya sore itu. Saya sudah mencari keras, kalau-kalau ia jatuh ke semak yang tidak bisa saya lihat, tapi Perseverance memang tidak ada. Sepertinya ia memang diambil orang. Rumah kos saya memang berada di dalam sebuah cluster yang setiap rumah terbuka seperti model amerika, tanpa pagar sama sekali. Siapa saja bisa masuk ke teras rumah siapa saja. Sampai saat ini, saya kehilangan Perseverance.

Kehilangan Perseverance juga mengajari saya sesuatu, perenungan tentang ketekunan. Perseverance. Saya pikir, ketekunan juga harus dijaga setiap saat. Ketekunan harus dipertahankan, agar terus berdenyut, beririma. Mengawal perjuangan kehidupan yang tak bisa dilalui dengan sekedar biasa-biasa saja. Hati-hati, ketekunan rentan dipengaruhi orang lain. Orang lain bisa "mencuri" ketekunan kita, sehingga kita kehilangan. Realistisnya, ketika orang-orang mungkin merespon atau berkomentar negatif tentang apa yang kita lakukan dalam ketekunan. Realistisnya, ketika orang-orang mungkin tak mendukung, bahkan menentang ketekunan kita. Realistisnya, ketika orang-orang mungkin berpendapat berbeda, yang kita biarkan mempengaruhi ketekunan kita, karena kita tidak punya pagar pelindung untuk mempertahankan ketekunan kita. Lalu tanpa ketekunan, bagaimana perjuangan bisa dilanjutkan dengan berkemenangan?


Oh, ayolah. Jangan biarkan kondisi apapun mengambil pengharapan masa depanmu. Ayolah, jangan biarkan orang manapun meruntuhkan ketekunan perjuanganmu. Anggaplah itu hanya pencobaan kehidupan yang bisa dilalui, tanpa harus ada pengalaman kehilangan pengharapan atau ketekunan. Jagailah mereka, harapan dan ketekunan itu, tetap ada dan tetap hidup.

Jagailah harapanmu, agar harapan itu tetap memantapkan langkahmu melihat dan melangkah menuju masa depan. Jagailah ketekunanmu, agar ketekunan itu terus mengawal setiap perjuangan kehidupanmu, sampai tiba pada akhirnya. Sebuah kemenangan. Sebuah akhir cerita yang indah, happy ending, dengan dua buah kata sebagai penutupnya. "Well done."



p.s. :

Tulisan ini sebagai pengingat sekaligus ucapan perpisahan untuk dua kaktus saya, Hope & Perseverance. Saya bersyukur karena kehadiran mereka di dalam hidup saya, meski singkat, telah dipakai Tuhan mengajari saya sesuatu. Perenungan penting bagi saya ini, yang selalu mengingatkan saya, untuk tidak menyerah. Kehilangan mereka bukan berarti saya kehilangan harapan dan ketekunan saya yang sebenarnya kan. Justru kehilangan mereka mengajarkan saya untuk lebih tangguh menjagai harapan dan ketekunan yang sebenarnya itu. Saya bersyukur kepada Tuhan :')



Bible Reference :

Amsal 23:18. Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.

Ibrani 10:23 TB. Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia.

Yakobus 1:2-4 TB. Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun.

Ibrani 10:36 TB. Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu.

Roma 5:3-5 TB. Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.