Friday, 4 December 2015

PANGGILAN HIDUP: PASANGAN UNTUK PASANGAN HIDUP


Namanya pasangan hidup—dan ia memiliki seorang pasangan. Namanya, panggilan hidup. Mereka adalah sepasang pasangan yang tak bisa dipisahkan: sehidup-semati dan ada untuk satu tujuan saja. Isi hati Tuhan. Namun, tak semua memahami. Bahwa panggilan hidup dan pasangan hidup adalah sepasang pasangan, yang tak bisa dipisahkan. Tak semua memahami, tak semua sadar betapa pentingnya mereka untuk bersatu. Tak semua tahu, bahwa jika pasangan hidup tidaklah bahagia tanpa panggilan hidup. Ia akan kehilangan arah dan kehilangan gairah. Ia akan terjebak dalam rutinitas yang tidak diingini, atau malah mempertanyakan ritme dalam hidupnya. Yang paling buruk, ia mungkin salah memilih. Salah memilih yang harusnya ia tidak pilih, ya apalagi? Pasangan itu.

Namanya pasangan hidup dan ia berpasangan dengan panggilan hidup. Namun, panggilan hidup melangkah lebih depan dibanding pasangan hidup. Pasangan hidup yang mengikuti, seperti seorang istri. Panggilan hidup akan memimpin, seperti seorang suami. Dan mereka akan berjalan beriringan, berdampingi, jika sudah bertemu. Mereka akan menjadi seirama, memiliki denyut yang sama. Mereka bersatu, bukan tersusun dalam hierarki. Kristus dalam sebuah kapal pernikahan yang siap berlayarlah yang mempersatukan mereka.

Namanya pasangan hidup dan ia berpasangan dengan panggilan hidup. Sayangnya, lebih banyak orang mengingini untuk menemukan pasangan hidup lebih dulu, dibandingkan panggilan hidup—dan mereka melangkahi urutannya. Rencana-Nya. Bahkan ada yang berpikir sudahlah cukup untuk menemukan pasangan hidup saja, tanpa merasa panggilan hidup harus menjadi pasangan dari pasangan hidup. Tanpa merasa panggilan hidup adalah penting, sama pentingnya, dengan pasangan hidup.

Namanya pasangan hidup dan ia berpasangan dengan panggilan hidup. Dan keduanya bersatu di dalam diri setiap orang, sepasang-sepasang. Ada satu panggilan dan satu pasangan, untuk sepasang laki-laki dan perempuan. Dan aku percaya, ini bukanlah hal sembarangan. Setiap hal telah direncanakan. Oleh Yang Maha Kuasa. Yang isi hati-Nya menjadi tujuan, bagi setiap pasangan hidup dan panggilan hidup yang berpasangan, dalam diri sepasang laki-laki dan perempuan.

Hanya jangan pernah menyalahi iramanya, urutannya. Panggilan hidup, lalu pasangan hidup. Karena kita mungkin hidup tanpa pasangan hidup duniawitahukah kau bahwa pasangan hidup tak selalu mengenai seorang perempuan untuk seorang laki-laki, atau seorang laki-laki untuk seorang perempuan? Lebih dari itu, pasangan hidup bisa menjadi sesuatu yang sangat spiritual: dimana yang menjadi pasangan hidupmu bukanlah seorang laki-laki atau perempuan duniawi, tetapi Tuhan itu sendiri. Yang Maha Kasih dan Maha Segala, yang bisa mencintaimu lebih dari laki-laki manapun, atau perempuan manapun. Sang Kekasih Jiwa. Selibat, namanya, nama pasangan dari pasangan hidup sang panggilan, yang bukan berasal dari duniawi. Panggilan hidup selalu akan berpasangan dengan pasangan hidup—tapi memaknai pasangan hidup ini, tak bisa selalu digeneralisasi sempurna atas setiap orang. Karena akan selalu ada dua pilihan: apa itu berarti pasangan hidup secara duniawi di bumi ini, atau pasangan hidup yang adalah Tuhan sendiri sebagai Kekasih Jiwa satu-satunya. Meski opsi yang terakhir, hanya sedikit orang yang bisa mengerti, dan mengingini. Tidakkah kita perlu melihat Matius 19:11-12 untuk hal ini?

Namanya pasangan hidup dan ia berpasangan dengan panggilan hidup. Ketika panggilan berjalan di depan, berarti panggilan menentukan pasangan hidup. Panggilan yang (menjadi alat Tuhan untuk) memilih(kan) pasangan hidup. Tetap, keduanya tertuju dan terpusat kepada sebuah titik di dalam hati Tuhan. Tak ada yang lain. Panggilan dan pasangan bersatu, untuk memperjuangkan satu keseiramaan yang seimbang, untuk lebih efektif sampai ke dalam titik di dalam hati Tuhan. Sebuah misi. Dengan efektif. Karena itu, pasangan yang tepat akan mengarahkan panggilan untuk dengan tepat pula, menggenapi destiny itu. Ya, tepat seperti itu.


Ketika misteri panggilan hidup terbuka,

maka pasangan hidup tinggallah satu langkah kaki saja.





p.s. :

Untuk dear prayermate sister-ku, Erena Fabyola, yang telah berbagi link website Jerry & Trisa, i thank God for you :) Anyway, tulisan ini lahir dari sharing kita di whatsapp, sis---you know what i mean, don't you? ;)
 

Tuesday, 10 November 2015

CERITA TENTANG KAKTUS: HOPE & PERSEVERANCE



Ini adalah cerita tentang dua kaktus. Kaktus-kaktus yang adalah milik saya, hadiah pemberian dari dua rekan di kantor. Yang pertama, saya sematkan nama "Hope" dan yang kedua, saya sematkan nama "Perseverance". Keduanya hidup bersama saya dalam masa yang berbeda. Saya menuliskan ini sebagai pengingat akan mereka.

Hope

Hope, itu nama kaktus saya yang pertama. Itu kali pertama keinginan saya untuk mencoba memelihara kaktus akhirnya bisa terealisasi. Saya menamakannya Hope, sebagai pengingat. Bahwa hidup harus memiliki harapan untuk mampu melihat masa depan dengan iman, yang sebenarnya belum bisa kita lihat dengan mata sendiri.


Saya mengurus Hope setiap hari. Minum air dan sinar matahari. Ia terlihat sehat-sehat saja sampai suatu kali kejadian itu terjadi. Saya menitipkan Hope di teras pos satpam di kantor saya, untuk dijemur demi sinar matahari, agar tetap terlindung di bawah atapnya, jaga-jaga jika hujan tak bisa ditebak turun tiba-tiba. Saya lupa membawa pulang Hope hari itu, sampai akhir pekan berlalu dan saya harus meninggalkan Cikarang dan pulang ke Depok. Ketika senin datang, saya mencari Hope, saya tidak menemukannya sama sekali. Saya menyerah, saya pikir, Hope sudah diambil orang. Suatu kali, seminggu telah berlalu, dan seorang Bapak Security baik hati menanyakan saya apakah saya pernah menitip kaktus di pos satpam. Saya kaget. Ternyata, Hope masih ada. Hanya saja, akibat tak diberi minum sekian lama, warnanya sudah berubah kekuning-kuningan dan saya tidak yakin apakah Hope masih bisa diselamatkan lagi. Meski begitu, saya masih mengusahakannya. Memberi minum setiap hari dan sinar matahari. Sayang, akhirnya saya harus menyerah saat menyadari bahwa Hope telah mati. Saya hanya memiliki sisa-sisa batu dan potnya sampai saat ini.

Kejadian kematian Hope mengawali perenungan saya mengenai harapan. Hope. Saya pikir, harapan bisa mati jika kita lengah menjaganya setiap hari. Harapan harus dihidupi setiap hari. Ada kalanya kita berpikir kita tak lagi memiliki harapan karena suatu keadaan, dan sebenarnya itu tidak benar. Kita masih dan selalu memiliki harapan, hanya saja harapan itu mungkin memang tak bisa kita lihat. Kita perlu untuk beriman, sekaligus berusaha. Sampai harapan kita menghasilkan sesuatu yang baik di masa depan yang kita nantikan dan rindukan, jangan menyerah akan pengharapan itu. Realistisnya, tadinya mungkin kita melihat masa depan dengan harapan yang baik. Harapan itu menolong kita untuk bertahan, mengusahakan masa depan. Namun mungkin di tengah jalan, keraguan-kebingungan-dan-kebimbangan menerpa (harapan) kita. Itulah keadaan sulit. Keadaan sulit bisa mengubur dan menyembunyikan harapan kita sampai kita kehilangan. Lalu, tanpa harapan, bagaimana kita bisa tetap melangkah menuju masa depan dengan iman?


Perseverance

Perseverance, itu kaktus kedua saya. Ia terlihat lebih sederhana dari Hope, tapi saya juga menganggapnya istimewa. Jika Hope terlihat indah, Perseverance terlihat tangguh. Saya menamakannya Perseverance, juga sebagai pengingat. Bahwa hidup membutuhkan ketekunan, untuk melalui setiap langkah perjuangan di dalamnya, yang tak bisa dikatakan selalu mudah.


Seorang rekan lain yang memiliki banyak kaktus di rumahnya menghadiahkan saya Perseverance setelah saya kehilangan Hope. Perseverance kemudian menjadi tugas saya yang baru. Minum setiap hari dan sinar matahari. Sampai suatu ketika, saya akhirnya memilih untuk menjemur Perseverance di rumah kos saja. Pagi itu, saya ingat saya meletakkan Perseverance di teras depan, untuk dijemur dan ditinggal selama saya pergi ke kantor. Sayangnya, Perseverance hilang ketika saya mencarinya sore itu. Saya sudah mencari keras, kalau-kalau ia jatuh ke semak yang tidak bisa saya lihat, tapi Perseverance memang tidak ada. Sepertinya ia memang diambil orang. Rumah kos saya memang berada di dalam sebuah cluster yang setiap rumah terbuka seperti model amerika, tanpa pagar sama sekali. Siapa saja bisa masuk ke teras rumah siapa saja. Sampai saat ini, saya kehilangan Perseverance.

Kehilangan Perseverance juga mengajari saya sesuatu, perenungan tentang ketekunan. Perseverance. Saya pikir, ketekunan juga harus dijaga setiap saat. Ketekunan harus dipertahankan, agar terus berdenyut, beririma. Mengawal perjuangan kehidupan yang tak bisa dilalui dengan sekedar biasa-biasa saja. Hati-hati, ketekunan rentan dipengaruhi orang lain. Orang lain bisa "mencuri" ketekunan kita, sehingga kita kehilangan. Realistisnya, ketika orang-orang mungkin merespon atau berkomentar negatif tentang apa yang kita lakukan dalam ketekunan. Realistisnya, ketika orang-orang mungkin tak mendukung, bahkan menentang ketekunan kita. Realistisnya, ketika orang-orang mungkin berpendapat berbeda, yang kita biarkan mempengaruhi ketekunan kita, karena kita tidak punya pagar pelindung untuk mempertahankan ketekunan kita. Lalu tanpa ketekunan, bagaimana perjuangan bisa dilanjutkan dengan berkemenangan?


Oh, ayolah. Jangan biarkan kondisi apapun mengambil pengharapan masa depanmu. Ayolah, jangan biarkan orang manapun meruntuhkan ketekunan perjuanganmu. Anggaplah itu hanya pencobaan kehidupan yang bisa dilalui, tanpa harus ada pengalaman kehilangan pengharapan atau ketekunan. Jagailah mereka, harapan dan ketekunan itu, tetap ada dan tetap hidup.

Jagailah harapanmu, agar harapan itu tetap memantapkan langkahmu melihat dan melangkah menuju masa depan. Jagailah ketekunanmu, agar ketekunan itu terus mengawal setiap perjuangan kehidupanmu, sampai tiba pada akhirnya. Sebuah kemenangan. Sebuah akhir cerita yang indah, happy ending, dengan dua buah kata sebagai penutupnya. "Well done."



p.s. :

Tulisan ini sebagai pengingat sekaligus ucapan perpisahan untuk dua kaktus saya, Hope & Perseverance. Saya bersyukur karena kehadiran mereka di dalam hidup saya, meski singkat, telah dipakai Tuhan mengajari saya sesuatu. Perenungan penting bagi saya ini, yang selalu mengingatkan saya, untuk tidak menyerah. Kehilangan mereka bukan berarti saya kehilangan harapan dan ketekunan saya yang sebenarnya kan. Justru kehilangan mereka mengajarkan saya untuk lebih tangguh menjagai harapan dan ketekunan yang sebenarnya itu. Saya bersyukur kepada Tuhan :')



Bible Reference :

Amsal 23:18. Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.

Ibrani 10:23 TB. Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia.

Yakobus 1:2-4 TB. Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun.

Ibrani 10:36 TB. Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu.

Roma 5:3-5 TB. Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.

Thursday, 29 October 2015

KEHILANGAN



“Jatuhlah pada titik siap kehilangan apapun, siapapun. 
Segala sesuatu, kecuali kehilangan Yesus.”


Tak bisa disangkal, banyak manusia menakuti pengalaman kehilangan. Sesuatu, seseorang. Atau bahkan, dalam takaran jamak—banyak hal, banyak orang. Dan itu wajar, secara manusiawi, ketika sesuatu atau seseorang memiliki arti khusus atau istimewa. Ketika sesuatu atau seseorang berharga, maka akan lebih sulit juga bagi manusia untuk kehilangan. Akhirnya memang, kehilangan pun ditakuti karena akan memberikan perasaan-perasaan yang tidak menyamankan. Kekecewaan dan kesakitan, termasuk di antaranya.

Setiap orang tentu memiliki “yang berharganya” masing-masing. Ada yang mungkin menjadikan kepemilikan barang dan kondisi finansial sebagai “yang berharga”. Ada yang mungkin menjadikan kenyamanan atau comfort zone sebagai “yang berharga”. Ada yang mungkin menjadikan keluarganya, atau sahabatnya, atau kekasihnya, sebagai “yang berharga” baginya. Ada yang mungkin menjadikan pekerjaannya atau gaya hidupnya sebagai “yang berharga”. Ada yang mungkin menjadikan relasi-relasi sosial yang ia miliki sebagai “yang berharga”. Ada yang mungkin menjadikan pride, prestise, pencapaian, dan prestasinya sebagai “yang berharga”. Setiap hal bisa menjadi “yang berharga” bagi orang-orang yang berbeda.

Itu tidak masalah. Yang jadi masalah adalah perasaan takut kehilangan, karena “yang berharga” ternyata telah kita tempatkan terlalu istimewa di dalam hidup kita, bahkan mungkin sampai menggeser posisi Tuhan sebagai yang terutama. Dan yang paling berharga. Kita lebih takut kehilangan “yang berharga” dibanding “yang (seharusnya) paling berharga”. Karena “yang berharga” telah menjadi berhala. Saat itulah, pengalaman kehilangan akan menjadi lebih sakit daripada yang seharusnya. Harus diakui, pengalaman kehilangan memang tetap mengejutkan atau menyakitkan—secara daging dan manusiawi—tetapi efeknya tidak akan berkepanjangan atau berlebihan jika kita mengingat bahwa setidaknya kita tidak kehilangan “yang paling berharga”. Siapa? Yesus, Tuhan. Tapi jika “yang berharga” telah menggeser posisi “yang paling berharga”—dan kita kemudian kehilangan “yang berharga” yang telah kita jadikan “yang paling berharga”—tentu pengalaman kehilangan akan semakin menyakitkan kan? Bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang kita anggap “yang paling berharga” dalam hidup? Tentu menyakitkan. Dan mengecewakan. Sayangnya, perasaan seperti ini tidak perlu karena kehilangan “yang berharga” tidak seharusnya kita sesali sedalam itu.

Ada begitu banyak “yang berharga” yang mungkin kita miliki dan pegang erat-erat di dalam hidup kita. Dan hanya kita yang tahu percis, apa itu, siapa itu. Tapi apakah begitu banyak “yang berharga” itu telah menggeser tempat “yang paling berharga”—tempat tunggal milik kepunyaan Tuhan? Dan jika kita harus kehilangan “yang berharga” itu—apakah kita siap dan berani menghadapinya?


Sungguh. Jatuhlah pada titik dimana kita siap kehilangan apapun, siapapun, segala sesuatu. Kecuali satu, kehilangan Yesus. Yesus, sebagai “yang paling berharga”. Jatuhlah pada titik itu—meski ketika jatuh di titik itu, berarti siap kehilangan segala sesuatu dan mampu berkata, “Christ is enough for me.” Jatuhlah pada titik itu—titik dimana kita mungkin kehilangan batu-batu berlian yang berharga, tetapi kita tahu kita masih memiliki sumber batu berlian yang lebih, jauh, dan paling berharga.

Pengalaman kehilangan tentu juga memerlukan iman. Iman yang bisa menyatakan dengan teguh bahwa Yesus adalah satu-satunya, yang paling berharga, melebihi apapun yang tampak berharga. Iman yang bisa mendeklarasikan bahwa Yesus adalah yang paling berharga, yang posisinya tak bisa digeser atau digantikan oleh apapun yang lain yang tampak berharga.

Pengalaman kehilangan itu terjadi setidaknya untuk mengingatkan kita, agar kita tidak berpegangan terlalu erat pada hal-hal yang tampak berharga, yang mungkin sudah menggeser atau menggantikan posisi yang paling berharga, di dalam hidup kita. Pengalaman kehilangan itu terjadi untuk mengajari kita, bahwa Christ is enough for us. We don’t need a thing. We don’t need another. Pengalaman kehilangan itu terjadi untuk menyadarkan kita bahwa segala sesuatu yang kita miliki di dunia ini tidak akan ada yang abadi, kecuali Tuhan itu sendiri.

Siaplah untuk kehilangan apapun, siapapun, kecuali kehilangan Yesus. Karena, kehilangan apapun-siapapun sebenarnya bukan masalah besar bagi kita ketika kita kembali menyadari bahwa semuanya itu memang bisa hilang kapan saja. Dan semuanya itu bisa dicari kembali, bisa didapat kembali, bisa diganti kembali. Kehilangan apapun-siapapun itu juga sebenarnya bukan masalah besar, dibandingkan jika kita kehilangan Yesus—yang adalah yang paling berharga dan yang adalah segala-galanya. Jika kita kehilangan Yesus, bayangkan betapa besar kehilangan yang akan kita alami. What a great loss.

Tulisan ini lahir sebagai sebuah perenungan diri sendiri. Ya, saya juga mengalami kehilangan belakangan kemarin. Perubahan relasi-relasi sosial yang sangat saya anggap penting. Dalam sekejap, segala sesuatu berubah. Tidak bisa saya kendalikan. Tidak bisa saya hentikan. Tidak bisa saya benar-benar kembalikan. Yang saya bisa hanya duduk di hadapan Tuhan Yesus, dan berserah. Belajar bersyukur—meski mungkin manusia-manusia mengecewakan (bukan hanya saya menjadi subjek yang dikecewakan tetapi termasuk saya yang mungkin menjadi subjek yang mengecewakan), saya masih memiliki Yesus yang tidak pernah mengecewakan—yang bersama-Nya, relasi saya aman dan tetap. Saya tetap anak-Nya, sahabat-Nya, sekaligus murid-Nya. Lalu saya jatuh pada titik kesadaran itu: bahwa saya harus siap kehilangan apapun dan siapapun, kecuali kehilangan Yesus. Kehilangan relasi-relasi dan orang-orang ini mungkin memang berat bagi saya, tetapi kehilangan itu akan bisa saya atasi juga. Karena mereka hanyalah sebagian dari kehidupan saya, bukan seluruh bagian dari hidup saya. Tapi jika saya kehilangan Yesus? Saya tidak bisa membayangkan, bahwa saya akan kehilangan seluruh bagian dari hidup saya. Saya bahkan kehilangan hidup saya itu sendiri. Betapa kacaunya saya jika saya kehilangan Yesus! Saya benar-benar tidak siap kehilangan Yesus—tidak siap kehilangan Sahabat 24 jam saya, tidak siap kehilangan Ayah saya yang selalu mencintai saya, tidak siap kehilangan Guru saya yang selalu siaga mengajari dan berjaga-jaga atas saya.

Pengalaman kehilangan mengajari saya bahwa Yesus tiada ternilai artinya dalam hidup saya. Termasuk karena Dia berkuasa atas relasi-relasi yang telah berubah, relasi-relasi yang akan datang, maupun relasi-relasi yang masih terjaga. Saya bersyukur Dia menghibur saya dengan relasi-relasi yang tinggal tetap ketika saya kehilangan beberapa relasi-relasi yang berubah. Saya bersyukur untuk sahabat-sahabat yang setia, yang benar-benar merupakan sahabat yang seperti saudara, yang Tuhan tempatkan di dalam hidup saya—ketika saya kehilangan orang-orang yang sudah saya anggap seperti sahabat namun ternyata tidak menganggap saya sahabatnya. Saya bersyukur untuk komunitas keluarga rohani dan saudara-saudara rohani yang bisa menolong saya bertumbuh, menggantikan pembimbing rohani saya.  Saya bersyukur untuk orang-orang baru dengan relasi-relasi yang baru, yang Tuhan tempatkan di hidup saya, untuk menggantikan yang lama. Meski, tentu tidak boleh ada kepahitan ada ganjalan yang saya genggam atas orang-orang yang lama, yang telah pergi dan relasi-relasinya telah berubah secara mengejutkan itu. Bagaimanapun, saya bersyukur pernah mengenal mereka—karena saya tahu, Tuhan mempertemukan dan mengenalkan untuk sebuah rencana yang baik juga. Tuhan tidak pernah merancang kecelakaan bagi kita kan, selalu rancangan damai sejahtera. Roma 8:28-30 :)

Akhirnya, kehilangan harus bisa mengajari kita sebuah respon hati yang benar. Kehilangan tidak boleh menanamkan kekecewaan di dalam hati kita. Kehilangan tidak boleh menanamkan kepahitan di dasar hati kita. Kehilangan harus dapat membuat kita mengucap syukur—atas segala sesuatu yang masih belum hilang. Atas yang paling berharga yang kita terus miliki—Yesus Tuhan. Kehilangan harus dapat mengingatkan kita bahwa selama hidup berpijak di atas dunia yang tidak abadi ini, kita tidak seharusnya menggenggam apapun terlalu erat, kecuali tangan Yesus Tuhan itu sendiri.





“Sungguh. Jatuhlah pada titik dimana kamu siap kehilangan apapun, siapapun, 
segala sesuatu bahkan. Kecuali, kehilangan Yesus.”

—Yuli


(Sebuah Perenungan Personal: Cikarang, Oktober 2015)

Tuesday, 11 August 2015

24TH BIRTHDAY: WISHES & GIFTS


Pertambahan usia di tahun ini menjadi suatu momentum dimana banyak hal yang saya harapkan, tidak terjadi—dan sebaliknya, banyak hal yang tidak pernah saya harapkan dan bahkan bayangkan, saya dapatkan. Saya belajar bahwa expectations kill (terutama our expectations toward human)—dan keberserahan sepenuh kepada Tuhan merupakan jawaban. Harus saya akui, di tahun ini, saya memiliki beberapa ekspektasi—yang saya cukup kecewa ketika tidak melihat apa yang saya ekspektasikan itu menjadi kenyataan. Saya belajar untuk berhati-hati untuk berekspektasi. It’s better to giving, than receiving.

Tapi pertambahan usia di tahun ini tetap menjadi sesuatu momentum yang istimewa bagi saya. Berikut beberapa hal istimewa yang tak pernah saya bayangkan atau ekspektasikan—tetapi saya dapatkan di tahun ini. As beatiful gifts from Dear God. I thank God. I really thank God.

1. Video Happy Blessed Birthday dari Tanah Nusa Tenggara Barat
 

Video ini menjadi sebuah kado paling istimewa bagi saya, tepat di tanggal 18 Juli—hari ulang tahun saya. Sebagian dari rekan-rekan saya memang sedang berlibur ke Nusa Tenggara Barat. Dan di hari itu, mereka khusus membuatkan video “Happy Milad Yuli” dari Tanah Nusa Tenggara Barat. Sudah lama sebenarnya Nusa Tenggara ini (baik NTB maupun NTT) ada di dalam hati saya, dan saya sangat-amat ingin menginjakkan kaki disana—tapi keinginan ini memang belum bertemu dengan rencana Tuhan untuk direalisasikan. Karena itu, ketika mereka mengirimkan sebuah video darisana, rasanya istimewa sekali. Terima kasih, semuanya! Tak lupa juga, birthday wishes dalam voice notes dari rekan-rekan saya yang lain dari Kairos Camp (yang sayangnya gak bisa saya upload disini). Di tengah segala kerepotan mereka untuk mengurus camp itu, mereka masih meluangkan waktu untuk memberi ucapan istimewa untuk saya—saya sangat bersyukur dan terharu. Terima kasih, semuanya!


2. Kaktus “Hope” dari Kak Miracle

 

Ini adalah birthday gift yang paling berkesan bagi saya di tahun ini. Saya tidak menyangka saja akan mendapat kaktus hias, yang sangat cantik dengan batu-batuan warna-warni pengganti tanahnya, dari seorang saudara, rekan satu kantor dan satu gereja. Apalagi, Kak Mira mengemasnya dengan sangat beatiful—dengan kertas bertuliskan ayat dan pesan singkat yang sangat me-rhema, dengan tulisan tangannya sendiri. Gambar “jangkar” atau “sauh” (atau, saya lebih senang menyebutnya anchor) dengan kata “hope” tepat di bawahnya, langsung mengingatkan saya akan Hebrews 6:19 NIV. Dan tidakkah kalian juga ingat judul blog ini? It’s “Live In Hope”, karena saya sangat menyenangi ingatan akan “hope” atau pengharapan ini. Karena itu, saya pun memberikan sebuah nama istimewa kepada kaktus pertama saya ini. Perkenalkan, namanya “Hope” :’)


3. Bola Dunia Saya Sendiri!

 

Di bulan Juli 2015 inipun, saya berniat membeli hadiah ulang tahun saya sendiri. Satu dari tiga benda yang paling saya ingini—yang tidak ada orang lain yang tahu. Salah satunya? Sebuah bola dunia! Untuk apa? Sederhana, untuk berdoa. Untuk mengenal dunia. Untuk mengingatkan saya, bahwa saya tak lebih dari sebuah titik yang amat-sangat kecil di bumi ini—namun sangat diperhatikan dan dikasihi oleh Sang Pencipta. Juga untuk belajar mengasihi bangsa-bangsa.


4. Sebuah Kado Di Atas Meja Kantor

 

Yang ini adalah sebuah kado dari rekan kantor saya. Diletakkan di atas meja saya sebelum saya datang. Saya sangat menyenangi warna kertas kadonya yang berwarna-warni, ditambah beatiful simple wishes-nya. Terima kasih, Kak Imelda Priscillia! :’)


5. Celebrating Birthday With TMAI Family


Dan di tanggal 31 Juli 2015, di Doa Semalaman Bulan Juli di komunitas (sekaligus keluarga spiritual) saya, saya tidak menyangka bahwa saya akan mendapat birthday surprise, lagi, tahun ini. Kali ini, brothers & sisters TMAI merayakan ulang tahun saya sekaligus digabung dengan ulang tahun Kak Dhorkas Donna Marpaung (yang berulang tahun di tanggal 30 Juli). Kami berdua sangat senang, dan terharu juga, melihat perhatian dan kasih mereka. Sebuah kue tart sederhana dengan tulisan “Happy Bday Yuli & Dhorkas”. Dinyanyiin lagu happy birthday versi istimewa (can’t share in detail here, sorry), dan didoakan juga. Ditutup dengan selfie bersama yang dipimpin oleh Ko Alex ini. I really thank God for giving me them, as my brothers and sisters in Christ, as my family.


6. Kado Scrapbook dari Kota Medan

  
Saya juga tidak pernah menyangka bahwa saya akan mendapat birthday gift dari sahabat-sahabat saya di Medan, jauh-jauh darisana yang dikirimkan via TIKI! Sampai di kantor saya tepat di Hari Persahabatan Internasional, dan membuat saya sangat terharu ketika mengetahui isinya: sebuah scrapbook yang, saya sangat suka sekali! Dengan beberapa foto jadul masa lalu persahabatan kami :’) Warna frame-nya yang kuning cerah juga saya suka sekali! Saya benar-benar bersyukur sudah dianugerahkan Tuhan sahabat-sahabat seperti mereka, dengan sebuah persahabatan yang tak terhalang jarak dan waktu. Terima kasih, dear Utari-Cidhu-Angel!


7. Kado Paling Kocak Selama 24 Tahun Usia Saya
 

Sungguh yang ini merupakan kado yang paling kocak selama 24 tahun usia saya. Ini kreatif banget! Jadi kado ini dibuat oleh sahabat-sahabat saya sekaligus officemates saya di kantor—kami berkumpul di satu geng (sebut saja begitu), bernama cuubuts (oke, jangan tanya apa artinya, karena itu mungkin sedikit alay—kami memang berniat mau ganti nama, haha). Jadi sahabat-sahabat saya ini (diana, irvan, meity, jilli) keliling-keliling mengumpulkan foto-foto teman-teman sekantor yang dekat dengan saya dalam wajah-wajah jelek, dan dikumpulinlah di dalam wadah ini. Kata diana, untuk menghibur saya ketika stres karena deadlines menerpa, haha. Tak lupa, mereka merancang surprise buat saya sepulang kantor di tanggal 21 Juli 2015 dengan menyanyikan lagu batak dan divideoin. Videonya pun di-edit oleh sahabat saya, Diana Lidya, yang memang segment producer di kantor—sejam kemudian sudah muncul di halaman facebook. I really thank God for them.


8. Postcard dari India


Pertambahan usia saya ditutup dari sebuah pertemuan dan kado dari seorang adik sekaligus sister in Christ saya, Klara Puspita. Kado dari Klara sangat istimewa buat saya, karena birthday wishes-nya ditulis di atas sebuah Postcard dari India. Additional information, saya mulai "mengoleksi" postcard sejak tahun 2012 mendapat kenang-kenangan postcard dari rekan-rekan student congress III di Bali. Jadi, ketika mendapatkan postcard lagi kali ini, rasanya bahagia! Koleksi postcard saya bertambah lagi :') Dan, yang semakin membuatnya istimewa, adalah gambar Postcard-nya ini--gambar biarawati di India. Postcard ini mengingatkan saya akan Mother Teresa, seorang biarawati yang sangat menginspirasi saya terkait panggilan hidup (meski tentu tidak melebihi tempat Tuhan Yesus untuk menginspirasi saya). Terima kasih, sister Klara!

Terakhir, saya menutup tulisan ini dengan sebuah birthday wishes yang sangat menyentuh bagi saya di tahun ini. Birthday wishes menurut saya, merupakan sesuatu yang paling penting, ketika kita mengucapkan happy birthday untuk seseorang. Tentu saja, saya tetap bersyukur untuk setiap rekan dan teman yang mengucapkan selamat ulang tahun di hari pertambahan usia saya, karena itu juga tanda perhatian dan kasih mereka. Tapi, jika boleh jujur, bagi saya, sekedar ucapan happy birthday tanpa wishes menjadi kurang bernyawa. Birthday wishes itu, yang diberikan dengan ketulusan dan kesungguhan hati, yang menurut saya menghidupkan. Birthday wishes ini berasal dari seorang saudara saya di komunitas TMAI. Ia juga seorang intercessor, yang meski saya baru mengenalnya belum lama ini, saya belajar banyak mengenai kehidupan doa daripadanya. Yang kedua, dari seorang abang, yang sudah saya anggap sebagai bapak rohani saya (dan istrinya sebagai ibu rohani saya). Mereka berdua memainkan peran penting juga dalam pertumbuhan spiritual saya selama masih mahasiswa, setelah hidup baru di tahun 2010. Ketiga, birthday wishes yang sangat menyentuh, dari seorang sahabat saya di kota Medan (yang juga ikut mengirimkan kado scrapbook, jauh-jauh lho dari Kota Medan).


“Happy Birthday Yuli! Christ is building His church,
and no gates of hell can prevail. And thru faith-filled prayers and grace-empowered perseverance, you shall reach the finish line, with the Author and Finisher of our faith, Jesus. Thank God for your presence & intercessions, and especially your love for God & others.
God bless you, Yuli, this year with sharpened vision and deepened humility, which He will provide abundantly for those who humble themselves. Semangat! #fire icon.



Mba Yuli, selamat ulang tahun. Makin bertumbuh
 kehidupan doanya, kasih naturalnya makin terlatih dan makin luas lingkarannya untuk memancarkan kasih Kristus bagi banyak yang terhilang. Tuhan Yesus selalu menyertai.



“Yoely… Happy Birthday ya dear. Segala sesuatu pergumulanmu akan indah pada waktu-Nya Tuhan. Yesaya 55:8—Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman Tuhan. Berjalanlah bersama Yesus dalam usia yang ke-24 ya sob. Semoga kualitas iman semakin berbuah lebat. He loves ya dear. Amin amin. Loveeee you yoelyyy.
I always thank God for having you as my bestfriend like my sibling. ({})”



p.s. :

Ada satu wish istimewa personal saya, yang tidak bisa saya ceritakan kepada siapapun, yang ternyata belum terwujud dalam kehendak Tuhan tahun ini. Apakah tahun depan wish istimewa personal saya itu akan terwujud? Saya tidak tahu, tapi saya belum berhenti untuk tetap meminta, dan berharap. Let Thy will be done. Anw, Happy Blessed Birthday To Me! ;)