Sunday, 16 December 2012

MENANTI SAATNYA CHECK-OUT


Perenungan iseng, ngomong-ngomong, akhir-akhir ini saya berpikir saya sangat ingin cepat menutup usia. Maksudnya, cepat mengakhiri hidup. Ya, bukan berarti bunuh diri juga -.- tapi seperti berharap Tuhan panggil lebih cepat, jangan lama-lama. Umur 30-an, sudahlah ya. Ahaha, perenunganku x)

Entahlah, bukan berarti bosen hidup, tapi untuk satu dan dua atau beberapa hal mungkin, keinginan ini semakin besar. Kalau boleh sih, kalau di-acc sama Tuhan di sorga, mati cepat itu keuntungan. Saya sama sekali tidak takut mati. Justru itu tadi, saya ingin cepat-cepat saja. Dasarnya adalah, saya tahu kemana tujuan saya setelah saya check-out dari kehidupan yang ini. Suatu tempat dimana saya bersama-sama Tuhan selama-lamanya, tak terpisahkan lagi, jadi kenapa saya harus takut mati?

Ini juga bukan sebuah keyakinan tanpa alasan. Bukan juga karena keyakinan, karena saya merasa saya sudah cukup baik selama hidup di bumi ini.

Keyakinan saya karena saya sudah pernah mati, dan sudah hidup kembali. Jadi kematian yang nanti akan menunggu itu tidak lagi menakutkan bagi saya. Pernah mendengar mengenai hidup lama dan hidup baru? Ya, soal itu. Itu maksud saya. Saya tidak takut mati karena saya sudah pernah mati bersama kematian Yesus, dan sudah (di)-hidup-(kan) lagi dalam kebangkitan Yesus. Ini rahasia besar. Dan jujur saja, mungkin tidak semua orang kristen juga menyadari atau mengetahuinya, karena memang pada kenyataannya belum semua orang yang menyebut dirinya kristen atau beridentitas kristen di kartu pengenalnya (kartu apapun itu) pernah mengalaminya. Tidak semua orang kristen sudah mengalami hidup (baru) dan mati bersama Yesus.

Pengalaman hidup baru ini biasanya akan menjadi begitu spesifik dan khusus bagi setiap orang yang mengalaminya. Yang ekstrim, mungkin seperti salah satu bapak pendeta yang pernah berkhotbah di gereja saya yang semenjak muda langganan keluar-masuk penjara karena hidupnya hancur semenjak masih muda di jalanan yang keras, tapi setelah bertemu Yesus, Yesus mengubah total hidupnya dengan mengajaknya mati terhadap hidupnya yang lama itu dan masuk kepada hidup baru. Atau saya, haha, andaikan kalian tahu bagaimana saya ketika SMA kelas 1. Dan rute-rute kehidupan saya yang sungguh tidak teratur sebelum itu, sampai akhirnya saya bertemu Yesus di kelas 2 SMA di semester kedua, dan diubahkan tahap demi tahap—masih terus diubahkan sampai saat ini. Pengalaman paling indah seumur hidup.

Kadang, kebanyakan kita terlalu fokus kepada kematian Yesus. Tapi sebenarnya itu bukan esensi satu-satunya. Yesus tidak sekedar mati, Dia bangkit dan hidup. Kedua hal ini seperti koin mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Intinya, disambungkan ke keyakinan saya soal saya yang pasti akan ke surga dan hidup tenang bahagia disana selama-lamanya: karena Yesus sudah mati buat saya—saya pun sudah mati buat hidup lama dan dosa saya yang lalu, dan karena Yesus sudah bangkit-hidup buat saya—saya pun turut ikut bangkit-hidup dari dosa dan hidup lama itu menuju hidup baru. Semuanya terjadi setelah saya percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat saya, secara personal. Bukan secara massal. Ini penting, saya yakin dan ingin meyakinkan siapapun itu bahwa agama (atau, saya lebih senang menyebutnya keyakinan karena agama itu buatan manusia supaya dunia ini tidak kacau-balau) tidak seharusnya kita terima dengan “taken for granted”. Simpelnya, karena nyokap-bokap gue beragama A ya gue beragama A juga. Atau, karena keluarga gue dari kakek-nenek buyut udah percaya agama A ya udah gue mesti ikutan dong agama A, masa gue lain sendiri. Bukan seperti itu. Yang terpenting dari keyakinan yang kita pegang adalah kita punya relasi dengan Siapa Yang Kita Puja itu, dengan Tuhan. Bukan sekedar kenal, Tuhan itu baik, penuh kasih, pengampun, dst dst tapi ya mengalami kalau memang Tuhan itu baik untukku, penuh kasih untukku, mengampuni aku. Itulah, iman.

Dalam kesemuanya itu, saya bersyukur karena saya sudah bertemu Yesus. Yesus, bukan semata-mata kekristenan. Dia, bukan saya, yang sudah menemukan saya. Dia, bukan saya, yang sudah memanggil. Dia memanggil dan memberi saya jaminan di sorga itu juga bukan karena saya cukup baik. Dia memberi saya hidup baru, hidup kekal, dan jaminan di sorga itu semata-mata karena Dialah Yang Paling Baik—karena Dia terlalu baik. Dia tahu saya tidak layak dan saya tidak baik, akhirnya Dialah yang mengubahkan saya di dalam kematian-kebangkitan-Nya itu agar saya layak dan saya menjadi baik. Berlimpah syukur.

Teman saya pernah bercerita kepada saya, sebuah perumpamaan seperti ini: misalnya ketika kamu bertamu ke rumah seseorang dan dibuatkan minum. Tapi ketika si pemilik rumah membuatkanmu minum, kamu secara tidak sengaja tahu, kalau dia membubuhkan sedikit (sedikit saja!) racun tikus ke minumanmu. Katakankanlah hanya 1%. Sedikit kan ya? Tapi, apa kamu masih mau minum minuman segar "beracun-tikus-dengan-kadar-hanya-1%" itu kemudian, sehaus apapun kamu saat itu? Orang berakal sehat manapun pasti memutuskan untuk cepat-cepat pulang dan tidak mau tahu soal minuman segar "beracun-tikus-dengan-kadar-hanya-1%" itu. Seperti itulah juga Tuhan, dan kita.

Meski rajin berbuat baik setiap hari, tapi setiap hari pula kita rajin menabung dosa, dan membuat diri sendiri terlihat kotor di hadapan-Nya, apa bedanya kita dengan minuman segar "beracun-tikus-dengan-kadar-hanya-1%"? Ingatlah, Tuhan itu Maha. Tidak ada kompromi untuk itu. Dan, ngomong-ngomong, Tuhan itu Mutlak Maha Kudus. Akankah menurutmu dia akan kompromi dengan dosa kita meski hanya 1%? Karena Dia tahu sampai kapanpun manusia tidak akan bisa membuat dirinya bersih di hadapan-Nya, justru itu kemudian Tuhan turun tangan membersihkan kita, dalam penebusan dosa Yesus Kristus. Jadi jelas bukan karena saya baik, tapi karena Dia baik. Setelah itu, selama masih hidup di dunia rentan dosa, memang kita mungkin saja jatuh lagi dalam dosa, tapi darah Yesus sudah-dan-akan-selalu menguduskan kita dari segala dosa-dosa itu, asal kita percaya. That's the way.



Beratus-ribu orang sudah mengalami mati-dan-hidup di dalam Yesus, di seluruh muka bumi ini. Dan, saya sungguh bersyukur sudah menjadi salah satunya.

Nah, jadi kapan saatnya check-out darisini, Tuhan Terkasih? #masihtetep :D

Saturday, 15 December 2012

DEAR DECEMBER 14TH


02:05 am, saya masih terbangun, seperti akhir-akhir ini. Semenjak bergaul sangat akrab dengan skripsi, harus diakui jadwal tidur dan jadwal mata-melek berubah banget. Saya mungkin hanya tidur 4-6 jam setiap hari (masih banyak ya?) tapi dibandingkan yang sebelumnya, saya bisa tidur dari 6-8 jam sehari. Hm, mungkin karena kondisi badan yang kadang, suka cepat letih kalau sudah menjelang petang, gelap, dan banyak kerjaan seharian kesana-kemari.

Tapi tengah malam ini, saya sedang rehat bergaul akrab dengan skripsi :)

Baru saja kemarin, 14 Desember 2012, draft skripsi dikumpulin ke jurusan. Deadline, tahap-I. Rasanya masih merasa luar biasa dalam His perfect providence: 5 bab, 130-an halaman belum termasuk lampiran (yang output SPSS saja bisa mencapai 39 halaman),  dan 2 rangkap untuk jurusan dan mas riki, dosen pembimbing saya, tadi.

Memandangi sampul cover skripsi itu, saat ini, rasanya: bersyukur melimpah!

Masih suka merenung kalau ingat, keinginan saya sebenarnya tidak ingin lulus cepat-cepat. Tetapi Yang Terkasih itu, yang mengintervensi. Berkali-kali bergumul, berdoa, menanyakan pada-Nya. Ceritanya (ya, tentang skripsi ini) dimulai dari nyaris, setahun lalu, bahkan di malam natal, 24 Desember 2011. Sekali-sekali menawar siapatau Tuhan berubah keputusan jadi acc untuk gak tiga setengahan. Tapi Tuhan Yesus tidak pernah berubah. Kata-Nya, ini saatnya akselerasi. Sisa waktunya, sudah sangat singkat. Dan, kita harus bersiap-siap untuk itu. 

Mengingat bagaimana pemeliharaan-Nya dari awal sampai saat ini, rasanya mau nangis. Meski rasanya saya anteng-anteng saja di publik (misalnya, di blackberry messenger atau social networking media), cuma saya dan Dia yang tahu bagaimana titik-titik ter-drop saya sepanjang perjuangan skripsi ini. Begadang nyaris tiap hari. Harap-harap cemas kadang kalau pembimbing belum balas sms, untuk jadwal bimbingan, mungkin sangkin sibuknya hehe atau ketika merasa guilty feeling pada-Nya karena hal-hal perintilan di penelitian saya yang saya kurang total. Tapi, tetap di tengah badai-badai ini, kekuatan ekstra melimpah dari Tempat Maha Tinggi. Ah, You are awesome forever, Dear Jesus :")
 
Sejujurnya, saya juga belum tahu akan pergi kemana, kerja apa, jadi apa, tepatnya setelah lulus tahun depan. Hanya berusaha taat meski seperti Abraham, masih belum tahu percis kemana Dia ingin kita melangkah. Karena itulah, pergumulan panggilan hidup sepertinya akan semakin serius dilanjutkan :) Yang jelas, saya tidak mau salah kerja, salah menjalani hidup dunia alumni menjadi seorang orang dewasa. Saya ingin berbuat sesuatu buat masyarakat, ya setidaknya buat orang-orang di sekeliling saya, bukan hanya kerja untuk mencari makan. Berbuat sesuatu yang seturut kehendak-Nya, Yang Terkasih. Semoga.



Tapi, sekali lagi, saya sungguh bersyukur untuk grand design-Nya dalam cerita skripsi saya ini. Mengerjakan skripsi yang gak sekedar buat lulus itu, rasanya beda. Mengerjakan skripsi bukan karena ambisi saya pribadi, tetapi karena ikut kata hati Tuhan itu, sesuatu hal yang luar biasa bagi saya. Mengerjakan skripsi yang mengandung sebuah misi itu, menantang banget. Mengerjakan skripsi dengan memegang janji-Nya dari Pengkhotbah 3:11 itu, benar-benar menenangkan.

Bersyukur, bersyukur, bersyukur.
Berjuang, berjuang, berjuang. Karena perjuangan belum selesai, sedikit lagi.


p.s. :
terima kasih, Tuhan Terkasih.
terima kasih, Tuhan Yesus.

Wednesday, 7 November 2012

MPS B SANTAI




Tidak terasa sudah setengah tahun lebih, masa-masa MPS (metode penelitian sosial; sebuah mata kuliah wajib untuk mahasiswa sosiologi), berlalu. Seiring dengan skripsi saya yang memilih metode penelitian kuantitatif, saya kembali didorong untuk "kembali" ke halaman-halaman hari dimana kami menikmati masa-masa MPS: ribetnya inventarisasi-kategorisasi pertanyaan terbuka kuesioner, begadang dimana-mana bersama mr. SPSS dan ms. word, diskusi ngalur-ngidul kadang kala ketika membicarakan soal research design dan hasil penelitian kami.

Saya ingat bagaimana kelompok kami disebut kelompok MPS yang paling santai, pertama karena ketua kelasnya, teman saya sarani pitor. Kedua, karena sepertinya kami adalah kelompok paling mandiri (hm, dosen pembimbing kami memang membimbing kami dengan cara yang sedikit berbeda hehe), dan santai-santai saja dalam mengerjakan segala laporan penelitian itu, jika dibandingkan dengan kelompok lain, kelompok MPS A dan kelompok MPS C. Jadilah, kami menyebut diri MPS B SANTAI! haha :")

Salah satu yang cukup saya rindukan, sebenarnya, adalah kunjungan ke email bersama kami. Demi mencari file compile-an lengkap dari laporan penelitian kami, untuk referensi skripsi, beberapa saat lalu saya kembali login ke alamat email kami---ke "rumah" kami, yang sudah begitu sepi sekarang.

Merasakan menjadi seorang mahasiswa tingkat akhir memang kadang terharu-biru kalau menolehkan kepala lagi, ke lembaran catatan kuliah di belakang. Sosiologi, tidak pernah saya sesali. Sebuah perjalanan, hadiah Yang Mahakasih :*

Sunday, 14 October 2012

SEMANGAT DARI TEMPAT JAUH


 "Hujan sedang tidak turun ketika Nuh membangun bahtera."

--Howard Ruff,
Manna Sorgawi Oktober 2012



many thanks, for my dear sisters (ka ami, prayermate-yola, dan adik-adikku, ucy-liza) untuk semangat-dari-jauh-nya (depok-medan loh :*) via media social networking, twitter ini. semangat dari kalian menjadi alat-Nya memacu semangatku juga untuk terus berjuang menyelesaikan semuanya ini, terima kasih :'')


p.s. :
03:29 pagi saat ini, dan saya masih terus berjuang dengan inventarisasi jawaban pertanyaan terbuka dari kuesioner-kuesioner penelitian skripsi saya. kuantitatif, setelah turun lapangan, ternyata tetap tidak sesederhana yang dikatakan para senior tetua atau para dosen selama ini...entah kenapa merasa, kualitatif jauh lebih sederhana. ah tapi, tetap ganbatte myself! kuantitatif tetap menyenangkan, apalagi ketika di sela-sela inventarisasi jawaban ini, menemukan-membaca jawaban-jawaban polos yang kocak dari adik-adik responden :D anggaplah, hiburan selingan ;p

God-bless-our-struggles ;)

Wednesday, 3 October 2012

INSIGHT

these two broadcast messages from bang alex in my blackberry, invited me again to think about this matter. I wanna say thanks to him, and to God, because it gave me another insight.


The Call To Singleness
(John Stott)

Acceptance or tolerance of a same-sex partnership rests on the assumption that sexual intercourse is ‘psychologically necessary’. That is certainly what our sex-obsessed contemporary culture says. But is it true? Christians must surely reply that it is a lie.

There is such a thing as the call to singleness, in which authentic human fulfilment is possible without sexual experience.

Our Christian witness is that Jesus Himself, though unmarried, was perfect in His humanness. Same-sex friendship should of course be encouraged, which may be close, deep & affectionate. But sexual union, the ‘one flesh’ mystery, belongs to heterosexual marriage alone.

Have a blessed Sunday :)
GBU.



A Broadcast Message From : Alex Nanlohy,
Sunday, September 30, 2012. 06:09 WIB.



and, then the next morning :



Fully Human
(John Stott)

If sex is for marriage, what does the Bible say about singleness?

First, it reminds us that Jesus Himself was single, although He is also set before us as God’s model for humanness. This should not lead us to glorify singleness (since marriage is God’s general will for human beings, Genesis 2:18), but rather to affirm that is possible to be single and fully human at the same time! The world may say that sexual experience is indispensable to being human; the Bible flatly disagrees.

Secondly, both Jesus and His apostle Paul refer to singleness as a divine vocation for some (Matthew 19:10-12; 1 Cor. 7:7). Paul adds that both marriage and singleness are a “charisma”, a gift of God’s grace.

Thirdly, Paul indicates that one of the blessings of singleness is that it releases people to give their “undivided devotion” to the Lord Jesus (1 Cor. 7:32-35).

The truth is: although unmarried people may find their singleness lonely (and at times acutely so), we will not end up in neurotic turmoil if we accept God’s will for our lives. Unhappiness comes only if we rebel against His will.

Happy Monday :)
GBU




A Broadcast Message From : Alex Nanlohy,
Mon, October 01, 2012. 05:29 WIB.



i do agree with bang alex, one most important thing that you should do before decide, is to ask God for what plan He wants you to become. God's will must be the one that we totally follow, not our own will.

Wednesday, 20 June 2012

MENERJEMAHKAN KESENDIRIAN


Bagaimana kita menterjemahkan "kesendirian"? Apakah kesendirian adalah sesuatu yang menakutkan? Atau mungkin, kesendirian adalah sesuatu yang dihindari, berusaha kita jauhkan. Bagaimana kita menterjemahkan kesendirian? Apakah kesendirian adalah sesuatu yang tidak membuatmu nyaman dan merasa aman?

Aku menemukan diriku ada di dalam kondisi yang ku terjemahkan sebagai kesendirian itu beberapa hari terakhir kemarin ini. Ketika saudara-saudara sepergerakanku sedang bermisi pelayanan kasih ke gereja-gereja di Lampung. Ketika teman-teman sepelayanan sibuk dengan perihal magang, dengan pulang ke rumah masing-masing. Ketika kakak rohaniku (baca: PKK) sibuk dengan deadline pengumpulan skripsi. Ketika di kosan, tidak lagi ada ka merry. Ketika teman-teman dekat sejurusan seangkatan juga tidak lagi intens ke kampus ketika sudah memasuki masa liburan ini. Ketika keluarga jasmaniku, jauh secara jarak fisik daripadaku. Ketika sahabat-sahabatku semenjak SMA, sedang disibukkan dengan UAS dan tugas-tugas pra-UAS di kampusnya masing-masing. Ketika aku sedang menghadapi masalah pelik. Kemarin.

Rasanya nyaris tidak ada yang bisa diajak bercerita dan berbagi masalah pelikku. Rasanya tidak ada yang bisa diminta membantuku dalam doa. Rasanya tidak ada yang bisa diajak berkumpul dalam kelompok kecil, sekedar berdoa sharing ataupun berbagi rhema atau firman. Tidak tega sih, tidak tega mengganggu dan tidak tega merepotkan.

Ketika itu hanya bisa mengambil waktu berdiam di kamar kosan, sambil merenungi rhema-rhema yang ku dapati lagi sebagai hadiah daripada-Nya di waktu-waktu teduhku, berdua dengan-Nya. Hanya Dia saja, yang takkan pernah membiarkanku sendirian. Untuk sekian kalinya, aku menyadari itu kembali. Untuk sekian kalinya, Dia memang menyatakan itu kembali, padaku.

Aku mengaminkan kesendirian sebagai suatu ruang; tempat berhenti, berteduh, berdiam sejenak di dalam hati Tuhan. Ruang dimana aku tidak perlu meributkan diri dengan segala hal sosial sementara waktu. Bukannya anti sosial, tapi memang orang-orang yang menjalin relasi sosial denganku sedang tidak sedang "available" untuk dihubungi, untuk diajak bercerita, untuk diajak bertemu. Aku mengaminkan kesendirian sebagai cara-Nya mendekatkan aku kembali intim di hati-Nya, cara-Nya menyatakan padaku bahwa hanya Dia-lah harapanku dan tempatku bergantung ekstrim selama-lamanya.



Bagaimana aku menterjemahkan kesendirian? Setelah segala perenungan setelah menuliskan tulisan ini, aku ingin bilang, aku ternyata tidak mengenal kesendirian. Tidak mengenalnya lagi, semenjak bertemu Yesus. Aku tidak lagi mengenal kesendirian, karena nyatanya aku memang tidak pernah sendirian. Aku tidak mengenal kesendirian, karena Dia selalu bersamaku. Dan tidak sedetikpun, Ia beranjak pergi daripadaku. Penyertaan-Nya tetap, setetap kasih-Nya, setia-Nya, tegak seperti langit. Selalu beserta. Allah Emmanuel.



Experience God.
Experience Christ Jesus.

It is always beatiful. It is always wonderful.

Monday, 18 June 2012

KEMBALI KE 5 ATAU 6 TAHUN YANG LALU



photo story ♥ :
September 2008, halaman perpustakaan daerah Sumatera Utara, Medan. (Kiri ke kanan) dear olind, angel, thari, cidhu, oni, yuli, dan fanni. Foto oleh our dear bestfriend, carine.


"Hadiah terbaik yang paling istimewa yang dapat diberikan seorang sahabat adalah sesederhana sebuah doa. Kenapa? Karena dalam relasinya dengan Yang Maha Penting, ternyata sahabatmu masih mengingat namamu."


p.s. :
Mengingat 6 tahun lalu, ketika berdoa memintakan pada-Nya untuk menemukan sahabat-sahabat yang baik di lingkungan jenjang sekolah yang baru, dan akhirnya 5 tahun yang lalu, Dia menganugerahkanku, kalian. Senang rasanya menyadari saat ini, ketika menemukan nyaris semua dari kalian ada di daftar contact blackberry messenger-ku. Dan jika persahabatan itu masih terus terjaga sampai saat ini, itulah salah satu hal yang ku sebut, anugerah. Terima kasih kepada-Mu yang mendengarkan doa, dan memberikan aku mereka sebagai jawaban doa, Yang Terkasih :')


"And friends are friends forever, if the Lord's the Lord of them" (Michael W. Smith, Friends Are Friends Forever Lyrics)

Sunday, 17 June 2012

MAY-JUNE STORIES





(photo of) my dear small-group sisters: 
clara, mima, riris :*

"Kita tidak bisa memilih untuk bertambah tua karena kita memang tidak memiliki kendali terhadap usia kita, tetapi kita selalu bisa memilih untuk bertambah dewasa."


Happy Bornday To You :)

Saturday, 16 June 2012

(WHEN YOU DON'T SEE HIS PLAN) TRUST HIS HEART


all things work for our good
through sometimes we don't see how they could
struggles that break our hearts in two
sometimes blind us to the truth

our Father knows what best for us
His ways are not our own
so when your pathway grows dim
and you just don't see Him
remember you're never alone

God is too wise to be mistaken
God is too good to be unkind
so when you don't understand
when you don't see His plan
when you can't trace His hand
trust His heart

He sees the master plan
and He holds our future in His hand
so don't live as those who have no hope
all our hope is found in Him
we see the present clearly
but He sees the first and the last
and like a tapestry
He's weaving you and me
to someday be just like Him


__________________
p.s. : lagu ini menjadi soundtrack akhir-akhir ini untukku, menjawab sebuah pergumulan yang aku mungkin masih dalam proses mencari-menemukan jawaban dari pertanyaan "kenapa harus" yang ku ajukan pada-Nya. ketika aku merenung, mungkin sebenarnya kita tidak perlu repot menanyakan pertanyaan "kenapa harus" itu. ikutilah saja Dia dengan percaya, percaya seutuhnya kalau rancangan Tuhan bukanlah rancangan kecelakaan. God knows, God provides. Berimanlah, yoels.

Thursday, 14 June 2012

PATAH


“Korban sembelihan kepada Allah adalah jiwa yang hancur, hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah. “

“Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka.”

(Mazmur 147:3,  51:19)

Patah hati itu bukan hanya ketika seseorang menolak pernyataan cintamu dan memilih yang lain. Kita sering kali mempersempit pemaknaannya. Kita bisa mengekspresikan kata patah hati itu dengan begitu luas, dengan begitu banyak makna. Bukan hanya soal hubungan cinta kasih antara seorang manusia dan manusia yang lain. Kita mendefenisikan patah hati dengan terlalu sederhana.

Patah hati itu juga terjadi ketika orang tuamu mengingini kau melakukan A tapi ternyata kau tidak sanggup dan kau juga mengingini untuk melakukan B. Patah hati itu juga terjadi ketika ada sesuatu yang tidak beres dengan hatimu, keadaan emosionalmu. Patah hati itu juga terjadi ketika kau dikhianati sahabatmu, atau orang yang kau percaya.

Patah hati itu juga terjadi ketika kau merasa mengecewakan Dia. Ketika Dia menyuruhmu memilih dan melakukan “plan a” tapi kau merasa lebih baik memilih dan melakukan “plan b”, karena menurutmu, kau tidak sanggup menjalani segala konsekuensi yang dituntut dari plan a. Tetapi kau juga tidak bisa untuk tidak memilih plan a. Kau tidak sanggup melawan Dia dalam kehendak bebasmu, kau memang tidak ingin melawannya. Kau patah hati karena tidak bisa memilih plan b, tetapi kau juga patah hati karena sadar kau sedang tidak sehati dengan-Nya untuk memilih plan a—sesuatu yang seharusnya tidak lagi terjadi. Kau patah hati karena kau kurang percaya pada-Nya. Kau patah hati karena kau membatasinya dalam rasionalitasmu. Kau patah hati karena kau belum melihat rancangan rencana itu, seutuhnya.

Patah hati itu ketika kau ingin mengikuti Dia dengan taat sepenuhnya, tetapi nyatanya kau masih belum bisa mengikuti Dia sepenuhnya. Patah hati itu ketika kau ingin mengaminkan rencana pilihan-Nya yang terbaik, tetapi nyatanya kau belum bisa mempercayai rencana itu di dalam hati dan pikiranmu. Patah hati itu ketika kau ingin menyerahkan seluruh tentangmu seutuhnya pada-Nya, tetapi ternyata belum bisa benar-benar kau lakukan. Patah hati itu ketika kau sebenarnya sudah dan selalu tau kalau Dia selalu mengasihimu dengan kasih yang tidak pernah terbatas, tetapi nyatanya, kadang kau meragukannya.


Wednesday, 23 May 2012

WHO AM I IN HIS EYES?



Sore ini aku merenung lagi: ada dua hal acara besar yang Tuhan izinkan untuk aku ikut di dalamnya. Sekali lagi. Setelah hal-hal besar lainnya. Liburan tiga bulan mendatang inipun menjadi sesuatu yang ditunggu. Bulan agustus.

Mungkin aku tidak bisa menyebutkan acara apa secara pastinya kedua acara yang akan ku ikuti itu saat ini – yang jelas aku melihat betapa tangan Tuhan memang mengatur dan mengendalikan. Ku pikir tadinya aku memang harus memilih salah satu di antara dua: karena jadwalnya benar-benar bentrok. Baru saja aku mengatakan pada temanku, nana, kemarin sore, bahwa aku sepertinya sudah pasti tidak akan bisa ikut yang satunya – sampai tadi pagi membaca sms dari mas agus, dan mengetahui bahwa acara yang ku pilih prioritas untuk ikut itu diubah tanggalnya. Setelah semingguan tidak ada lagi kabar terbaru dari acara itu. Perubahan tanggal itu menjadi jawaban Tuhan bahwa aku bisa ikut keduanya, dan Dia memang memintaku ikut keduanya. Aku terkesima saja.

Aku sadar kedua acara – big events – ini bukan main-main. Sesuatu yang istimewa. Untuk ikut juga memang harus memenuhi beberapa persyaratan tertentu. Tapi Tuhan berikan. Tapi Tuhan izinkan. Aku merenung beberapa hari ini: siapa aku ini sampai Tuhan mau mempercayakan hal-hal besar ini kepadaku?

Aku sungguh merasa tidak layak. Dalam segala kelemahan, kekurangan, hal-hal yang ku lakukan yang kadang mendukakan hati-Nya – semuanya itu membuat aku sadar betapa sebenarnya Tuhan bisa tidak mempercayakan semua itu padaku. Tapi tidak. Dia tetap memilih mempercayakannya padaku.

Aku merasa tidak layak – dan memang begitulah seharusnya seorang manusia melihat dirinya. Renungkanlah betapa kita sebenarnya tidak memiliki suatu milik apapun yang bisa kita sombongkan di hadapan Tuhan Yang Maha Kaya itu! Apa yang menurut kita, adalah milik kita: kekayaan, kepintaran, rupa wajah, atau apapun itu – sadarilah kalau semuanya itu berasal daripada-Nya saja. Itu sesungguhnya bukan milik kita. Tuhan bisa ambil kapan saja.

Aku teringat kisah Beethoven yang dikutip buku saat teduh-ku hari ini – bagaimana seorang komposer musik seterkenal dan “se-cakap” dia dalam musik akhirnya kehilangan pendengarannya – pendengarannya! Apa jadinya seorang komposer musik tanpa bisa mendengar musik yang ia ciptakan atau musik yang dimainkan orang lain?  Dan Beethoven sudah seterkenal itu? Apa jadinya kalau dia kehilangan pendengarannya? Nyaris mustahil ia bisa terus bertahan menjadi seorang komposer musik. Di titik itu dia menyadari bahwa segala sesuatu ini hanyalah titipan Tuhan Yang Mahakuasa itu. Tidak ada yang patut kita sombongkan. Sama sekali tidak ada. Semuanya daripada-Nya dan (sudah seharusnya kita) kembali(-kan) pada-Nya.

Sama. Aku berpikir siapakah aku ini sebenarnya – rasanya begitu biasa-biasa saja. Beberapa teman mungkin berpikir, aku bisa ikut acara-acara itu karena aku “cukup” memenuhi syarat – “cukup” layak. Tetapi hanya aku dan Dia saja yang tau bagaimana kondisiku sebenarnya. Hanya aku dan Dia yang tau segala kegagalan dan kekurangan yang masih terus ku perjuangkan untuk benar-benar berubah dalam segenap kekuatan daripada-Nya. Dalam segenap kesalahanku, yang mendukakan hati-Nya, kadangkala aku berpikir aku benar-benar tidak layak untuk memperoleh kepercayaan-Nya lagi sebenarnya. Tapi tidak begitu. Dia masih tetap percaya padaku. Dia masih tetap mengasihiku.

Seringkali aku berpikir hal ini tidak seperti dalam kisah cinta manusia – seseorang akan terus berusaha meyakinkan dirinya bahwa dia memang layak untuk dicintai pasangannya: entah karena dia cantik – entah karena dia kaya – entah karena dia pintar – entah karena dia bisa menarik hati pasangannya. Tapi aku sadar bahwa cinta kasih Tuhan tidak seperti itu. Tuhan tidak mengasihi kita karena kita cukup cantik. Tuhan juga tidak mengasihi kita karena kita cukup pintar. Tuhan juga tidak mengasihi kita karena kita kaya. Tuhan mengasihi kita bukan karena kita cukup baik. Menurutmu Tuhan tidak mengasihi orang-orang yang berdosa? Big no, readers. Tuhan mengasihi kita karena Dia mau mengasihi kita.

Tuhan mengasihi kita bukan karena apa yang kita (seolah-olah) miliki. Seperti yang sudah ku tuliskan di atas – apakah ada sebenarnya yang benar-benar kita miliki yang bukan miliknya Tuhan? Sama sekali tidak ada.

Di titik inilah aku sadar bahwa cinta kasih Tuhan begitu berbeda dengan cinta kasih manusiawi kita. Kita mengasihi atau mencintai seseorang karena dia “cukup layak” untuk kita kasihi. Karena dia baik, dia pintar, dia menawan, dia kaya, dia idola. Tapi Tuhan tidak. Tuhan mengasihi kita sekalipun kita sungguh tidak layak untuk mendapatkan kasih-Nya itu. Tuhan mengasihi kita sekalipun kita cemar dalam kesalahan-kesalahan kita yang kita sadari maupun tidak kita sadari.

Adakah manusia yang cukup baik untuk dikasihi oleh Tuhan? Yang tidak pernah berbuat dosa sekalipun? Remember, readers. Tuhan itu Maha Suci – Dia tidak tersentuh dan tidak tercemar oleh dosa. Setitikpun dosa tidak ada pada-Nya. Dan apakah kita merasa layak mendekati Tuhan dan dicintai oleh Dia Yang Mahasuci dengan dosa kita yang tidak hanya setitik – tetapi mungkin berpuluh-ribu titik selama kita hidup?

Tetapi bersyukurlah dengan sepenuh hatimu kepada-Nya: karena justru dalam kasih-Nya yang masih tetap dicurahkan-Nya untuk kita di tengah kondisi ketidaklayakan kita itu, Dia mendemonstrasikan betapa dalam dan tidak terselaminya kasih-Nya itu.

Salib Tuhan cukup untukku: untuk membuktikan Tuhan memang mengasihiku di tengah segala keberdosaan dan ketidaklayakanku. Kalau saja kalian tau betapa bandelnya aku dulu. Yang mau mati untuk orang baik – apalagi yang baik terhadapnya – mungkin banyak. Tetapi siapa yang mau mati untuk orang berdosa? Kalau bukan karena kasih yang luar biasa? Dalam salib itu, ada pengampunan yang melampaui akal manusia. Ada kasih yang tidak terselami dari Tuhan untuk setiap manusia ciptaan-Nya. Karena itulah, memang harus ada penebusan pada kayu salib. Tuhan bisa saja memilih untuk tidak mati di salib – Tuhan bisa saja memilih untuk TIDAK mengasihi kita – (aku pernah merenungkan ini) toh ada bermilyar manusia di dunia, Tuhan tinggal cabut nyawa kita ketika kita terus membandel dan berdosa – dan menyayangi orang lain saja yang “mungkin” cukup tidak membandel kepada-Nya. Kata orang, neraka mungkin sudah siap menampung kita. Untuk apa Tuhan berletih-letih memperjuangkan kita supaya kembali sadar akan keberdosaan dan kebandelan kita itu? Menurutmu ada berapa milyar manusia di dunia yang melakukan hal yang sama? Berapa banyaknya manusia yang harus “diperjuangkan” oleh Tuhan? Tapi tidak. Tuhan tidak membiarkan kita mati dalam keberdosaan dan kecemaran, dan terhilang daripada-Nya. Dia justru menggantikan kita – Dia mau mati untuk setiap manusia ciptaan-Nya: karena kasih yang luar biasa – entah kita terus membandel atau membandel kadang-kadang pada-Nya. Entah dosa kita sampai dosa membunuh orang lain atau sepertinya “hanya” berkata-kata kotor. Sadarilah dosa tetap dosa, readers. Dan Tuhan tetap Yang Maha Suci, yang tidak tersentuh oleh setitik dosa APAPUN. Dosa tetap dosa. Dan kasih Tuhan tetap luar biasa atas setiap dosa kita.

Kisahnya tidak selesai sampai disitu saja. Dan inilah pengharapan tetap-ku untuk tidak menyerah dalam perjuangan apapun. Tidak sekedar mati karena kasih-Nya, Dia juga bangkit dari kematian dan kebangkitan itulah yang memampukan setiap manusia yang percaya pada-Nya itu, ikut bangkit pula dari setiap kesalahan, dosa, dan kebandelan. Like what i had experienced. Like what i have experienced.


Dua hadiah besar ini menjadi sebuah awal perenungan kembali akan kasih Tuhan yang begitu panjang, lebar, tinggi, dan dalam itu: tidak terselami. Have you experienced the same love, readers? Let’s experience the same love – God loves everyone on earth. Because we belong (only) to Him.

Let’s celebrate His love for us forever-ever :’)

p.s. (epilog) :

“Semakin kita sadar bahwa kita sungguh tidak layak untuk dicintai oleh Tuhan, semakin dalam kita akan memahami betapa dalam dan luar biasa kasih-Nya itu telah dan selalu Ia anugerahkan untuk setiap kita. Semakin kita sadar bahwa kita sungguh tidak layak untuk dicintai oleh Tuhan, semakin dalam kita akan terus belajar mencintai-Nya – seperti Ia telah terlebih dulu mencintai kita.”

 

Thursday, 17 May 2012

A PRAYER OF LOVE


Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa, yang daripada-Nya semua turunan yang di dalam sorga dan di atas bumi menerima namanya. Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.


Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan.


Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin.

Efesus 3 : 14-21.

For this reason i kneel before the Father, from whom His whole family in heaven and on earth derives its name. I pray that out of His glorious riches He may strengthen you with power through His Spirit in your inner being, so that Christ may dwell in your hearts through faith.


And i pray that you, being rooted and established in love, may gave power, together with all the saints, to grasp how wide and long and high and deep is the love of Christ, and to know this love that surpasses knowledge—that you may be filled to the measure of all the fullness of God.


Now to Him who is able to do immeasurably more than all we ask or imagine, according to His power that is at work within us, to Him be glory in the church and in Christ Jesus throughout all generations, for ever and ever! Amen.

Ephesians 3 : 14-21.


Beatiful prayer, isn’t it? :’) By the way, i really ask Father in Heaven for this prayer for each of you, readers. Hope you always live in God’s wonderful love. Everytime. Every breath. Have a lovely day, readers :))

Saturday, 12 May 2012

BEATIFUL IN ITS TIME



"He has made everything beatiful in its time. He also set eternity in the hearts of men; yet they cannot fathom what God has done from beginning to end." (Ecclessiastes 3 : 11 NIV)


Sebentar lagi genap tiga tahun sudah menjadi seorang mahasiswi. Berkuliah. Menikmati sosiologi. Semester VI ini menjadi semester yang cukup penuh dan padat. Ada 24 sks dengan 8 mata kuliah. Yang (mungkin) menjadi semester terakhir kuliah kelasku. Jika memang Tuhan mengizinkan, semester VII depan, hanya akan ambil mata kuliah skripsi dan magang – yang tidak masuk kelas lagi. Aku rasa-rasanya akan merindukan kuliah kelas.

Bulan mei ini juga semakin sibuk dibanding bulan lalu-lalu. Menjelang UAS di akhir bulan, banyak agenda akademis ini-itu. Ada 1 penelitian individu (MPS Kualitatif), 2 penelitian-presentasi-laporan kelompok (DDPS dan perubahan sosial), 2 site visit beserta laporannya yang akan menjadi take home UAS (demografi sosial yang ke BKKBN dan akan ada penelitian lanjutan ke daerah Jakarta, serta sosiologi perubahan ekonomi yang sudah berkunjung ke daerah miskin di Cilincing, Jakarta Utara), dan 2 proposal (seminar dan magang). Banyak. Itu baru perihal akademis, belum kegiatan organisasi lain-lain.

Tapi thanks God, dalam segala kepadatan jadwal masih terus merasa pemeliharaan Tuhan. God’s providence control. Di MK DDPS kelompokku menjadi kelompok yang terakhir sekali presentasi di minggu terakhir – kelompok 8 dari jumlah total 8 kelompok – ketika diundi. Ingat sebelum timoti pergi mewakili ambil undian, berdoa spontan ke Tuhan memohon kami dapat giliran di minggu paling terakhir supaya bisa mempersiapkan dengan baik. Soalnya kalau saja dapat di minggu I senin besok – akan ribet karena berbarengan dengan presentasi MK perubahan sosialku. Dan, tadaa. Prayer answer. God is great. Thanks God.

Sejujurnya akhir-akhir ini juga kembali bergumul mendoakan apakah aku beneran mau maju 3,5 tahun banget atau 4 tahun saja. Memang seminar udah diambil sekarang, tapi entahlah – rasanya banyak hal harus dipertimbangkan untuk cepat-cepat lulus. Juga ingat gimana kakak-kakak senior 2008 2007 yang saat ini sedang mengejar deadline pengumpulan skripsi/TKA untuk bisa sidang secepatnya dan wisuda september ini – sudah mulai menasehati kami untuk menanyakan panggilan hidup kepada Tuhan. Have you known about your calling in this life, readers? Nyatanya memang kita tidak hidup asal hidup. Kita tidak hidup untuk diri kita sendiri. Kita hidup untuk menjadi berkat bagi yang lain, dan pastinya kita harus hidup sesuai dengan apa yang Ia telah rancangkan bagi kita. Jadi bukan hanya memilih kerjaan A karena kerjaan A itu bisa kasih kita peluang dapat gaji yang gede, misalnya. Atau memilih kerjaan A karena kita suka, karena kerjaan itu cocok aja sama hobi dan minat kita. Tapi penting dipikirkan apakah di kerjaan A, kita bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk menolong orang lain, memperbaiki bangsa bahkan, dan menyenangkan hati Tuhan. Seperti manusia adalah makluk sosial – bukan makluk individualis, seperti itulah harusnya manusia menjalani hidupnya. Orientasi bukan semata-mata pada ke-“aku”-an, tapi kita.

Jadi, memang banyak yang harus dipikirkan menjelang pra-alumni ini: kerja di ranah apa dari sosiologi, kerja di instansi apa tepatnya, kerja dimana (di pulau Jawa, atau kembali ke medan, atau bahkan ke pulau selain Jawa dan Sumatera), dsb.

Tapi ya pada akhirnya ingat lagi ayat yang ku kutip di atas, itu sebuah rhema (p.s.: rhema itu ayat Alkitab yang seperti “meloncat” ke hatimu ketika kamu mendapatinya, because God speak to You through it) dari Tuhan Yesus di ibadah tahun baru kemarin. Ingat bagaimana ayat ini meneguhkan dan menjawab pergumulan terbesarku soal apakah aku maju seminar di semester VI atau tidak waktu itu. Beatiful in its time. God designs the best master plan. Trust and hope, like we always do.



p.s. :
Gambar dalam foto adalah kartu janji Tuhan di 2012 yang ku dapati dari gerejaku di awal tahun ini – yang di dalamnya Tuhan taruh rhema dari Pengkhotbah 3:11 itu, indah. Aku menempatkan kartu janji ini di meja belajarku, agar dalam setiap perjuangan, bisa senantiasa mengingat – He had made beatiful in its time, remind this thing always :* God leads you too, dear readers!

Monday, 7 May 2012

TRANSEKSUAL: SEBUAH PERENUNGAN

Hari ini membaca salah satu artikel berita di yahoo dengan tidak sengaja. Liputan dari luar negeri, Barat. Berita itu simpelnya, mengenai seorang perempuan yang menerima suaminya yang akhirnya mengaku seorang transeksual: suaminya akhirnya berpakaian dan bersikap seperti seorang perempuan. Suaminya lulusan teologia kristen, dan sepertinya seorang pendeta dari salah satu sekte yang tidak kukenal. Yang lebih mengagetkanku lagi adalah istrinya menerima suaminya dengan rela, juga karena akhirnya ia menyadari seksualitas dirinya yang tersembunyi selama ini – bahwa istrinya tertarik pada wanita. Bisakah kalian membayangkan, ini? Rasanya sungguh amat kacau dan terbalik-balik.

Akhirnya mereka keluar dari sekte itu. Karena jelas, gereja dan umat bersikap kontra terhadap fenomena yang terjadi di dalam keluarga mereka itu.

Aku berpikir mengenai transeksual setelah membaca ini. Merenung kembali tentang apa yang mulai dikenal sebagai homoseksualitas. Yang penting bukan soal aku tidak setuju terhadap hal itu (karena itu bertentangan dengan nilai-nilai moralitas kekristenan), tetapi soal bagaimana kaitannya hal itu dengan anggapan manusia kemudian tentang Tuhan. Aku mengingat beberapa kasus, dimana banyak yang merasa bahwa mereka “terjebak” di tubuh yang salah. Secara biologis, mereka adalah seorang laki-laki misalnya, tetapi mereka merasa kalau mereka perempuan. Mungkin kalau bisa kukatakan mereka menganggap: Tuhan menempatkan mereka di tubuh yang salah. Tuhan salah mencipta.

Menurutmu apakah Tuhan pernah salah mencipta?

Kalau memang benar, untuk apa Tuhan harus menciptakan mereka yang sebenarnya perempuan di dalam tubuh seorang laki-laki, atau sebaliknya?

Ini seperti menaruh curiga pada Tuhan – bahwa rancangan Tuhan salah. Bahwa Tuhan tidak tau caranya bagaimana menciptakan. Bahwa Tuhan mungkin saja melakukan suatu bentuk keisengan yang membuat manusia ciptaan-Nya menderita.

Bagaimana menurutmu?


“Betapa kamu memutarbalikkan segala sesuatu! Apakah tanah liat dapat dianggap sama seperti tukang periuk, sehingga apa yang dibuat dapat berkata tentang yang membuatnya: ‘Bukan dia yang membuat aku’; dan apa yang dibentuk berkata tentang yang membentuknya ‘Ia tidak tahu apa-apa’?” (Yesaya 29:16).

“Adakah tanah liat berkata kepada pembentuknya: ‘Apakah yang kaubuat?’ atau yang telah dibuatnya: ‘Engkau tidak punya tangan!’” (Yesaya 45:9).

“Sebab aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu RANCANGAN DAMAI SEJAHTERA DAN BUKAN RANCANGAN KECELAKAAN, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11)


Tidak temanku, Tuhan tidak pernah salah menciptakan.

Rancangan-Nya tepat dan sungguh amat baik. Kita yang merasa tahu yang terbaik untuk kita dalam keterbatasan kita. Padahal Dia yang lebih tau dan Dia tidak terbatasi oleh kita. Adakah menurutmu, seseorang yang mengasihi tetapi sengaja memberikan sesuatu yang tidak baik bagi orang yang dikasihinya itu? Jika ada, itu berarti dia memang tidak mengasihinya. Tapi tidak dengan Tuhan. Tuhan sudah pasti selalu memberikan yang terbaik untukmu, untukku, karena Tuhan begitu dalam mengasihi kita. Kasihnya bukan kasih biasa sebagaimana yang kita kenal dari manusia selama ini. Kasihnya agape.


p.s. :
Kasus yang diberitakan dalam artikel itu cukup membuatku mengamini bahwa memang mengenal Tuhan itu anugerah. Pada kenyataannya, tidak semua orang Kristen memang mengenal Tuhan – laki-laki yang memutuskan menjadi seorang transeksual itu nyatanya adalah seorang pendeta. Kekristenan bukan semata-mata soal apakah kamu konformis terhadap sejumlah norma-nilai moralitasnya, tapi jauh melebihi itu, apakah kamu sudah mengalami Kristus Yesus Tuhan? Tidak ada yang lebih penting dari Yesus Kristus di dalam kekristenan. Dan Dia bukan sekedar cerita tentang Tuhan yang pernah datang di masa lalu, menjadi manusia untuk menebus kita dari salah dan dosa. Dia hidup: Tuhan yang begitu dekat dari dulu sampai selama-lamanya. Sampai saat ini – Dia terus menyatakan Diri-Nya kepada setiap orang yang mau percaya dan datang dengan segenap kerendahan hati dan hancur hati kepada-Nya. Yesus Kristus Tuhan, sudahkah engkau mengalami Dia?

Seorang Kristen lahir baru yang mengenal dan mengikut Kristus dengan sepenuh hati pasti memahami bahwa Tuhan tidak pernah merancangkan yang salah atau yang buruk – dari dulu memang Ia hanya menetapkan ikatan kasih antara Adam dan Hawa (Adam and Eve), bukan Adam dan Steve.

Ngomong-ngomong, ini hanya sebuah perenungan personalku. Aku sama sekali tidak mau menghakimi atau mempersalahkan teman-teman yang mungkin merasa diri transeksual atau homoseksual dalam hal ini. Aku sendiri masih mengamini analisis sosiologis dalam kasus transeksual dan homoseksual – lingkungan sosial (keluarga, teman bermain, masyarakat) adalah pihak yang paling bertanggung jawab mempengaruhi “identitas” seksual seseorang. Jadi bukan karena “memang pada awalnya sudah transeksual/homoseksual seperti itu” tapi ya, dengan sadar maupun tidak disadari, karena ada orang-orang di sekelilingmu yang memperkenalkan-mendorongmu untuk menjadi seperti itu.

Aku malah ingin mengatakan sesuatu untuk kalian, yang mungkin transeksual atau homoseksual: Tuhan Yesus begitu mengasihimu. Jangan cari cinta manusiawi yang begitu terbatas dan tidak sempurna di dalam hal seksualitasmu, yang pada akhirnya akan mengecewakanmu, temanku. Alami cinta Yesus dan kenallah Dia. Dia tidak pernah salah merancangkan sesuatu padamu. Hanya kita manusia yang tidak mengenal Dia dengan utuh. Taukah kamu, bahwa dengan mengenal Tuhan Yang Menciptakanmu merupakan cara awal bagi kita mengenal siapa kita sebenarnya? Sekali lagi aku ingin bilang: Tuhan Yesus begitu mengasihimu, temanku. Lebih dari yang pernah kamu kira.

“Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu; apabila kamu mencari Aku, apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, Aku akan memberi kamu menemukan Aku, demikianlah firman Tuhan, dan Aku akan memulihkan keadaanmu...” (Yeremia 29:12-14).

Sunday, 15 April 2012

HEARTLIFTERS FOR THE HURTING


apakah kamu sedang, terluka?
apakah kamu sedang merasa beban berat yang tidak sanggup lagi kamu pikul sendirian? apakah kamu sedang mencari "obat" untuk lukamu, pertolongan untuk bebanmu? 




Tahukah kamu, Dia selalu ada disana, untuk-Mu? Siap sedia.
Ya, Dia disana. Di sebelah kananmu, temanku. Dia tidak jauh. Dia tidak pernah jauh. Dia selalu berada begitu dekat denganmu, hanya saja mungkin kamu tidak menyadarinya.


Run to Him. Run to Jesus.


_________________________________

images, taken from : 
Heartlifters for the Hurting, Bob Kelly. PT Bhuana Ilmu Populer, Kelompok Gramedia. 2004.

Sunday, 8 April 2012

REMEMBER THESE TWO THINGS


Apa yang kita ingat setiap kali kita melihat salib? Apakah menurutmu itu hanya sebatas sebuah "simbol" yang dilegitimasi dan diformalisasi begitu rupa oleh manusia? Kamu salah. Makna salib sebenarnya begitu dalam, menyentuh pengalaman personal setiap manusia dengan Allah, sampai seharusnya kita malu dan benar-benar bersyukur secara bersamaan setiap kali kita memandang salib itu. Ingatlah akan dua hal ini setiap kali kamu melihat salib, temanku.

Pertama, ingatlah betapa mengerikannya dosa. Tahukah kamu kenapa Yesus Kristus Tuhan harus mati dengan cara disalib? Bukan dipancung, misalnya. Atau cara-cara lain yang mungkin? Ketahuilah temanku bahwa hukuman salib itu adalah hukuman paling sakit dan paling hina, sesuai konteks zaman itu. Ketahuilah temanku, Tuhan itu mau merendahkan Diri-Nya serendah-rendahnya, demi menebusmu kembali dari si jahat, karena dosa-dosamu. Padahal Dia Tuhan, Tuhan Yang Mahakuasa, mau meninggalkan segala kemahakuasaan-Nya itu. Dan ujung dari salib itu? Kematian. Sebagaimana upah dari dosa, ialah maut. Ingatlah bahwa dosa membawa kematian, temanku. Ingatlah bawa dosa pada akhirnya membawa penderitaan yang pedih, sepedih penderitaan Yesus pada salib itu.

"Kristus telah menebus kita dari kutuk Hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!"" (Galatia 3:13). "Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya." (II Korintus 8:9). "Tetapi Dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, Dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepada-Nya, dan oleh bilur-bilur-Nya kita menjadi sembuh." (Yesaya 53:5)

Kedua, ingatlah betapa indahnya dan dalamnya kasih Allah itu. Kalau Allah tidak mengasihimu, Ia tidak akan mau menggantikan tempatmu untuk menanggung hukuman dosa itu. Harusnya engkau dan akulah yang ada di salib itu, harusnya kitalah yang selayaknya disalibkan karena dosa-dosa kita telah membuat kita begitu kotor, hina, dan tidak berharga. Selayaknya kita dibuang oleh-Nya, dan ditinggalkan disana, di salib itu. Atau di kematian selama-lamanya. Tetapi pahamilah betapa dalamnya kasih Allah tidak terselami oleh kita. Kita yang begitu kotor, hina, dan tidak berharga pun, Dia mau tebus dan bawa kembali "pulang" kepada-Nya. Banyak orang mungkin mau mati untuk orang yang baik, yang sudah berjasa padanya. Tapi siapa yang mau mati untuk orang jahat dan orang-orang yang tidak layak seperti kita, manusia berdosa? Hanya Satu Pribadi, temanku.Yesus Kristus Tuhan.

"Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar -- tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati -- Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa." (Roma 5:7-8)

Kisah kematian-Nya bukan suatu dongeng atau lelucon, temanku. Kisah kematian-Nya itu berkuasa. Dan cerita penebusan itu tidak berhenti hanya pada kematian. Karena pada hari ketiga setelah Ia mati, Ia benar-benar bangkit dari antara orang mati. Itulah, paskah. Kematian dan kebangkitan Yesus Kristus Tuhan berkuasa menghidupkan engkau dan aku. Kematian-Nya menyanggupkan kita mati terhadap dosa-dosa kita, dan kebangkitan-Nya menyanggupkan kita bangkit dan masuk ke dalam hidup yang baru, totally new. Ketika semuanya dimulai kembali dengan Allah, dan engkau, dalam sebuah hubungan pribadi yang begitu intim, lekat, dan dekat. Dalam sebuah kasih yang agape, sempurna. Alamilah Dia.

"Karena kita tahu, bahwa Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia. Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah. Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus." (Roma 6:9-11).

Jadi, ingatlah dua hal ini setiap kali kamu memandang salib, temanku. Ingatlah,
(1) betapa mengerikannya dosa, dan
(2) betapa indahnya dan dalamnya kasih Allah itu, untuk setiap manusia, teristimewa untukmu


Jadi, sampai kapan kita akan terus menunda untuk seutuhnya, datang pada-Nya?

____________
inspired by : Alex Nanlohy, april 2012.

Saturday, 31 March 2012

BERITA DUKA

Sekali lagi. Ada berita duka sampai kepadaku tadi pagi. Setelah akhir-akhir kemarin – di bulan maret ini – sepertinya cukup banyak berita duka yang terdengar. Mulai dari awal maret, bouku (sebutan untuk tante dalam bahasa batak) yang paling tua, kakak dari ayahku, dipanggil pulang ke dalam kekekalan. Tepat beberapa hari setelah ayah seorang teman sepelayanan dan sepersekutuanku di kampus juga dipanggil pulang ke dalam kekekalan. Setelah itu, berita duka dari kampus, seorang dosen senior sosiologi, yang juga salah satu pendiri FISIP UI, dipanggil juga pulang ke kekekalan. Dan yang terakhir, baru ku terima tadi pagi. Amangboruku (sebutan om, suami dari bou/tante dalam bahasa batak) akhirnya dipanggil pulang juga.


Aku jadi banyak merenung mengenai kematian akhir-akhir ini. Sungguh manusia paling kaya dan berkuasa sekalipun tidak berkuasa atas umurnya sendiri. Di titik dimana setiap manusia harus menemui ajal dan kematian – disitulah ada pengakuan akan keberadaan Yang Mahakuasa, Tuhan yang mungkin selama ini teracuhkan oleh kesibukan realitas dunia. Sebuah kekuatan di luar kekuatan manusia. Jauh melebihi kekuatan manusia.


Jangan naif. Bagaimanapun juga di dalam kedalaman dasar hati manusia sebenarnya setiap kita manusia pasti takut mati. Siapa yang tau ada apa setelah nafas kita berhenti? Tapi untuk mengatur umur kitapun, kita tidak mampu.


Aku sendiri yakin, ada dua hal menanti setelah kematian kita. Kehidupan kekal setelah kematian. Atau kematian kekal setelah kematian. Yang mungkin didefenisikan kebanyakan orang sebagai surga dan neraka. Yang dikenal nyaris dalam setiap agama di seluruh dunia ini.


Menurutku kesedihan terbesar ketika menerima kabar duka adalah ketika aku tidak yakin akan pergi kemana orang yang ku kasihi itu setelah mereka bertemu dipanggil pulang. Ketika aku tidak yakin apakah orang-orang yang ku kasihi ini akan berbahagia setelah mereka dipanggil pulang. Bukankah yang paling diingini seseorang untuk orang yang dikasihinya adalah kebahagiaan orang yang dikasihinya tersebut?


Kesedihan terbesar ketika menerima kabar duka bagiku adalah ketika aku tidak yakin orang-orang yang ku kasihi itu akan masuk ke dalam kehidupan kekal setelah kematian.


Di kehidupan kekal, setiap orang akan pasti berbahagia. Kenapa? Karena di dalam kehidupan itu, setiap orang akan bersama-sama dengan Tuhan Yang Mahakasih dan Mahakuasa, selama-lamanya.


Justru karena itu.


Aku jadi ingat kisahku sendiri. Harus diakui, dulu juga aku adalah salah seorang yang tidak suka memikirkan kematian. Kenapa? Karena aku tidak siap. Kematian itu menyedihkan, dan sangat tentatif. Aku tidak yakin akan pergi kemana setelah aku mati nanti. Tetapi sekarang tidak lagi. Aku yakin, yakin penuh. Kehidupan kekal menjadi tujuan, dan kematian untuk mengakhiri kehidupan sementara ini nanti sama sekali bukan sesuatu yang harus ditakuti.


Kenapa? Karena kematian kekalku sudah digantikan oleh Dia yang mati untuk setiap manusia. Pernah berpikir mengapa Tuhan harus menjadi manusia dan mati untuk kita? Ya. Untuk menggantikan kita supaya kematian kekal tidak menjadi bagian kita. Supaya kita beroleh: hidup. Kehidupan yang kekal.


Tidak ada manusia yang cukup baik untuk kehidupan kekal. Manusia sarat dosa dan kesalahan. Manusia tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Manusia memang sudah dirancang untuk bergantung penuh pada Sang Pencipta. Jika manusia mengandalkan kebaikannya untuk pergi ke tempat yang disebut-sebut surga, yang ku sebut kehidupan kekal, lalu sebenarnya dimana tempat Sang Pencipta dalam kehidupan manusia?


Yesus Kristus Tuhan sudah melakukannya bagiku. Dia mati untuk menggantikan kematianku. Dan dia juga mati bagi setiap orang untuk menggantikan kematian mereka, mereka yang mau percaya kepada kedatangan, kematian, dan kebangkitan-Nya. Hanya sesederhana menaruh kepercayaan dan bergantung penuh pada-Nya, Yesus Kristus, dan masuki hidup baru yang akan mengantarkan kita ke kehidupan kekal. Tidak ada jalan lain. Tuhan bukan seperti kita yang berubah-ubah dan tentatif. Dia tetap untuk selama-lamanya dalam segala hal mengenai Dia. Satu dan esa. Seperti jalan menuju kehidupan kekal itu. Hanya ada satu.


Apa kamu juga termasuk salah satu orang yang takut menghadapi kematian, temanku?


Apa kamu sudah tau dan yakin akan pergi kemana setelah kamu dipanggil pulang ke kekekalan, temanku? Apakah ke kematian kekal atau ke kehidupan kekal?


Pikirkan lagi. Bagaimana jika hari ini, setelah kamu membaca tulisan ini, ternyata waktumu bernafas sudah habis, siapkah kamu? Jangan sampai salah memilih jalan temanku. Aku sudah menceritakan padamu kebenaran yang sudah ku temukan. Sekarang terserah padamu. Aku hanya ingin bilang, carilah jalan yang pasti. Bukalah hatimu. Carilah siapa Tuhan itu sebenarnya. Dia begitu dekat, dan Dia amat menyayangimu.


“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3:16.

Tuesday, 14 February 2012

LOVE LETTER FROM CORINTHIANS


If i speak in the tongues of men and of angels, but have not love, i am only a resounding gong or a clanging cymbal. If i have the gift of prophecy and can fathom all mysteries and all knowledge, and if i have a faith that can move mountains, but have not love, i am nothing. If i give all i possess to the poor and surrender my body to the flames, but have not love, i gain nothing.

Love is patient, love is kind. It does not envy, it does not boast, it is not proud. It is not rude, it is not self-seeking, it is not easily angered, it keeps no record of wrongs. Love does not delight in evil but rejoices with the truth. It always protects, always trusts, always hopes, always preserves.

Love never fails. But where there are prophecies, they will cease; where there are tongues, they will be stilled; where there is knowledge, it will pass away. For we know in part and we prophesy in part, but when perfection comes, the imperfect disappears. When i was a child, i talked like a child, i thought like a child, i reasoned like a child. When i became a man, i put childish ways behind me. Now we see but a poor reflection as in a mirror; then we shall see face to face. Now i know in part; then i shall know fully, even as i am fully known.

And now these three remain: faith, hope and love. But the greatest of these is love.


I Corinthians 13 : 1 – 13 NIV

Have you ever found a love that never fails?
Have you ever found an everlasting love? Have you ever found an unconditional love?

God provides it to you. God loves you more than your boyfriend or girlfriend. God loves you more than your mother or your father, or your family.

Find God’s truly love. You will never regret.
Happy Valentine’s Day Readers! :)

Thursday, 2 February 2012

SUDAH NYARIS SELESAI :')

Sudah nyaris selesai: perjuangan dan perjalanan di Universitas Indonesia, di Departemen Sosiologi, sebuah kisah mendekati hati Tuhan, cerita yang ditulis oleh tangan Tuhan sendiri.



Afternoon Reflection

 
Aku lulus. Proposal seminar skripsiku diterima. Aku benar-benar maju seminar skripsi semester ini. Bahkan tanpa harus revisi proposal lagi. Hasil pengumumannya sudah keluar tadi siang.

Tuhan Yesus benar-benar mengizinkan ini terjadi.
Rasanya: bahagia.

Nyaris sebulanan berjuang menyusun outline dan proposal bersama Tuhan. Mengorbankan waktu libur dan kepulangan ke rumah di medan. Apa yang ku perjuangkan bersama Tuhan di awal tahun ini tidak sia-sia. Walaupun aku juga tidak tau apakah benar-benar tiga setengah atau akan empat – aku tetap ikut jalurnya Tuhan Yesus dulu.

With trust. Trust His heart.


Ingin nangis rasanya jika kembali melihat proposal tugas seminar akhir yang sudah diterima dan di-acc oleh departemen sosiologi itu ya Tuhan Yesus, rasanya masih – terkagum-kagum karena proposal ini benar-benar rampung juga. Dan sudah diterima untuk maju seminar semester depan. Aku masih benar-benar terkagum-kagum oleh karya Tuhan Yesus sepanjang penulisan dan perancangan, kalau bukan Tuhan yang ikut campur memimpin dan menyertai, bagaimana aku bisa? Kuantitatif lagi. Seperti mengulang satu semester MPS Kuantitatif-I dalam beberapa minggu.

Terima kasih, Tuhan :’)

Di saat yang sama –
Ketika melihat lambang makara oranye terang dan tulisan departemen sosiologi di draft proposal outline seminarku ini, aku ingin menangis. Terharu ketika ingat lagi seluruh ceritanya.

Universitas Indonesia memang sebuah cerita yang ditulis oleh tangan Tuhan sendiri. Untukku. Dengan istimewa.

Indah.

Di perjalanan menjadi seorang mahasiswa di kampus ini, aku belajar mengenal dan mendekat ke hati-Nya. Tinggal intim.

Sudah dua setengah tahun berlalu. Tinggal sebentar lagi.

Andai saja aku tidak di Universitas Indonesia ini – aku mungkin tidak akan mengenal Tuhan Yesus dengan benar. Mungkin aku juga masih terhilang, di arus dunia yang ku kira biasa dan aman.

Tapi Tuhan memanggilku mendekat disini.

Hari ini juga Universitas Indonesia merayakan ke-62 tahun berdirinya. Rasanya begitu tepat sekali. Tepat dengan ceritaku.



UI memang sebuah rencana indah, dari Yang Maha Kasih.
Sekali lagi, terima kasih, Tuhan :*

Saturday, 21 January 2012

EVERYTHING IS FROM ABOVE


Everything is from Above – aku mengalaminya lagi sore ini : ketika dengan belum tenang membuka halaman website siak ng UI. Aku mendapati bahwa – Tuhan begitu baik dan begitu setia.

IP/IPK-ku naik. Puji Tuhan Yesus.

Di tengah segala kepesimisan dua hari lalu menantikan tanggal 20 – tanggal terakhir publish nilai di siak ng, Tuhan ternyata selalu sediakan pengharapan yang ku taruh di dalam kuasa Yesus Kristus.  Bukan apa-apa, aku pribadi merasa kurang optimal dan kurang radikal memperjuangkan perjuangan akademis di satu semesteran di semester V ini, dibanding semester-semester sebelumnya. Tapi Tuhan masih begitu baik menganugerahkan hasil seperti ini, aku mengembalikan semuanya pada-Nya. Dari Tuhan Yesus, untuk Tuhan Yesus. 

Sudah dua setengah tahun ini berarti, aku menjalani perkuliahan ini dengan bergantung pada-Nya. Masih begitu percaya bahwa Tuhan yang memegang kendali. Dua setengah tahun ini mengalami bahwa kepercayaan kepada diri sendiri, tidak menolong. Hanya Satu yang bisa menolong, Tuhan. Alamilah sendiri, readers ;)

Kembali menyadari bahwa memang segala keoptimisanku selama ini dalam hal akademis sejujurnya hanyalah datang dari Tuhan. Keoptimisanku selama ini hanyalah keoptimisan karena yakin : Tuhan memelihara dan campur tangan ketika kita melakukan apa seperti yang Ia inginkan.

 

Lega dan bahagia. Terima kasih, Tuhan.

Thursday, 12 January 2012

BEATIFUL AT HIS TIME



Let’s open 2012 with simply trust in God, in Christ Jesus: perkuliahan semester VI dan segala hal mengenai seminar dari mulai tema sampai kapan, dan segala pernak-perniknya; juga setiap alur cerita pelayanan, pemuridan, dan kepengurusan. Mungkin, sisa waktu terakhir di Universitas Indonesia, jika ada sebuah awal, akan ada bagian akhirnya pula, dan: do you think I will miss this time?


I will. I will miss His beatiful designs in my life, this time.