Thursday, 27 November 2014

BALI, 2.5 TAHUN LALU


prayer time in our centrin bali team

Pagi ini, ketika aku tak sengaja melihat-lihat postingan-postingan lama di wall facebook-ku sendiri, aku menemukan foto ini. Dalam sebuah album milik seorang kakak staf yang bertugas sebagai fotografer dan seksi dokumentasi saat itu—dia men-tag foto-foto yang diambilnya ke semua kami yang dikenalnya. Aku baru sadar foto-foto itu ada disana. Di wall facebook-ku sendiri. Sudah lebih dari satu tahun, atau dua tahun ini? Ah, yang jelas, momentum itu sendiri—student congress III bali—sudah lewat lebih dari dua setengah tahun yang lalu. Aku masih ingat. Agustus 2012, di sebuah hotel berbintang di pulau bali. Dari sekian foto yang mengabadikan kebersamaan tim kami disana—tim central indonesia atau yang lebih akrab kami singkat menjadi “centrin” bali—satu foto ini membuatku tersentuh. Amat tersentuh. Momentum yang terekam dan terabadikan dalam foto ini sendiri merupakan momentum paling berkesan bagiku di acara itu, di bali. Ketika kami bersebelas orang bersehati untuk berdoa. Saling berpegangan tangan mensimbolisasi satu kesatuan dan kesepakatan. Dengan hati sungguh dan semangat sepenuh. Berbicara kepada Tuhan Yang Agung itu, memohonkan hal yang sama, dalam waktu yang sama. Aku tidak menyangka momentum ini ternyata terabadikan oleh kamera kakak staf itu. Pagi ini, ketika bisa melihat foto dan momentum ini lagi, aku bersyukur. Rasanya seperti nostalgia ke bali, dua setengah tahun yang lalu. Bersama tim centrin bali.* 

Wednesday, 26 November 2014

SEBATANG POHON DI MUSIM GUGURNYA



Seperti sebuah pohon yang tinggal ranting dan cabang tanpa daun sama sekali di pinggir jalan raya atau jalan tol. Pernahkah kau melihat dan pernahkah kau menyadarinya? Kadangkala, di deretan pepohonan yang ditanam di pinggir jalan itu, di musim kemarau, ada satu pohon—satu saja—yang semua daunnya gugur sendiri. Sementara banyak pohon lain di deretan itu masih hidup dan berdiri dengan cabang dan ranting yang penuh lebat dengan dedaunan hijau segar. Tapi pohon yang gugur itu, tak berdaun, dalam kondisi seperti itupun—tetap hidup. Itu adalah musim yang harus dialaminya. Musim gugur. Meski yang lain tak harus mengalami seperti yang ia harus alami.

Baru kemarin, sepulang liputan bakti sosial, dengan kondisi fisik dan kondisi hati yang tidak keruan karena kurang sehat—saya hanya duduk di kursi mobil elf kantor paling belakang di sebelah jendela, memandangi jalan tol di sebelah kanan saya. Memandangi pepohonan di seberang jalan, yang berderet menghijaukan kegersangan hari siang yang terik di daerah ibukota. Lalu, saya menemukan pohon itu. Yang seperti telanjang tanpa baju, karena tak berdaun. Hanya sendirian, sendirian menjalani musim gugurnya—pepohonan lain tidak. Pepohonan lain tetap hijau dan tetap bersemi. Setiap pohon memiliki musimnya masing-masing. Ya, setiap orang juga. Setiap orang memiliki musimnya masing-masing.

Saya mendadak tersentuh menyadari pohon yang sedang mengalami musim gugurnya itu. Saya ingat pelajaran biologi ketika kelas ilmu pengetahuan alam waktu sekolah dulu. Memang beberapa jenis pohon harus mengalami musim gugurnya secara rutin, dimana ketika musim itu datang menghampirinya, ia harus rela melepaskan semua daun-daunnya dan bertahan hidup tanpa satupun daun yang masih melekat di rantingnya. Itulah musim. Sesuatu yang sudah diatur untuk dijalani.

Lama saya memandangi pohon yang sendirian itu menjalani musim gugurnya sampai mobil elf kantor saya terus berlalu dan melaju. Kenapa saya tersentuh? Saya merenungi bahwa kadang, manusia juga seperti itu. Betapa kuat si pohon yang melalui musim gugurnya sendirian, padahal di sekitarnya, semua pohon masih tampak hijau dan tampak segar. Meski begitu, tak satupun pohon hijau dan segar itu yang sanggup membantu si pohon gugur untuk tetap bertahan hidup. Saya prihatin dan kagum secara bersamaan. Dan juga ingin melihat, saat dimana pohon yang kuat dan berani untuk menghadapi musim gugurnya sendirian itu, mulai kembali mempersilahkan pucuk-pucuk daun hijaunya bertumbuh. Saya ingin sekali melihat kali pertama ia memasuki musim semi, kali pertama dimana pucuk daun mulai kembali bertumbuh. Melihat daun pertama. Melihat ranting pertama yang kembali benar-benar menghidupkannya.

Kadang kita juga seperti itu. Hidup kelihatan terlalu kejam dan gersang hanya untuk diri kita sendiri, dan kita harus melalui musim gugur kehidupan kita sendirian. Dalam kondisi sulit itu bahkan, kita harus bertahan, meski di sekeliling kita, semua orang kelihatan tidak tampak gersang dan tidak tampak kesulitan karena tidak harus mengalami musim gugur seperti yang kita alami. Musim gugur, musim dimana daun-daun hijau kita, segala hal-hal yang tampak baik mulai gugur. Harus gugur. Justru untuk membuat kita bisa bertahan hidup jauh lebih lama. Mempertahankan hal-hal baik itu ternyata bisa membunuh kita jauh lebih cepat, sebagaimana sebuah pohon harus mengugurkan dedaunan hijaunya di musim gugur agar ia tidak perlu berjuang memberi mereka sari makanan yang akan menguras tenaga mereka jauh lebih cepat.

Kadang kita juga seperti itu. Sendirian dan berguguran. Tapi tidak mati. Kita masih hidup, kita tetap hidup. Kita hanya sedang diuji untuk memasuki musim yang lebih baik dan lebih menjanjikan di masa depan. Asal kita menang, asal kita menang. Asal kita bertahan. Bertahan.



Dan itulah harapanku,

Agar pohon itu bisa terus bertahan di musim gugurnya. Sama seperti aku berharap untuk diriku sendiri.
Atau untuk siapapun, yang kesusahan bertahan sendirian, di tengah musim gugurnya.



Cikarang, Jawa Barat, 26 November 2014.*

Tuesday, 4 November 2014

(KEMBALI KE) KALIMANTAN



Akhir-akhir ini saya merenungi kalau, hidup saya diwarnai dan dicerahkan oleh semangat belajar mengenal suku dayak dan saya sangat excited untuk anugerah Tuhan ini :") mulai dari kunjungan ke kalimantan bersama tim tengkuyung (dari TMAJ) dan tim PSD agustus lalu. Lalu Tuhan memilihkan anak asuh dari WVI yang ternyata berasal dari suku dayak di daerah Sekadau, pedalaman Kalimantan Barat. Lalu kenal sama rekan sekantor, satu bapak dan satu kakak perempuan, yang ternyata orang dayak perantauan. Dan akhirnya, menemukan sebuah buku novel sosial-budaya mengenai adat suku dayak karangan Korrie Layun Rampan ini (sastrawan asal Samarinda, kelahiran 1953) baru sabtu kemarin, di Gramedia. Kebetulan-kebetulan yang pasti-bukan-kebetulan, di dalam tangan Tuhan, yang menyenangkan :"D Makin merasa yakin, bahwa Pulau Kalimantan dan Suku Dayak itu istimewa di dalam rencana Tuhan :) #facebookrepost