Wednesday, 12 October 2016

A CROWN


  “My crown is called content, 
a crown that seldom kings enjoy.”
(William Shakespeare)

Bertemu dengan teman-teman baik yang kau kenal sejak kuliah sama artinya dengan larut dalam berjam-jam obrolan tentang ini dan itu. Kami pindah dari Papua sampai Eropa, lalu singgah di Nias. Berbagi cerita, berbagi apa yang katanya menjadi harta karun masa sebelum hari ini: pengalaman. Kami membahas politik sampai agama. Gereja tak luput jua. Kami takjub akan apa yang telah terjadi, sambil tak kuasa menanti apa yang akan terjadi. Rencana-rencana terpapar di atas meja: dari pernikahan sampai studi lanjut ke luar negeri, dari keinginan pindah kantor sampai pindah domisili. Tentu, toleransi masih berdiri di tengah-tengah kami. Saling menghargai adalah kunci dari pertemanan itu sendiri. Lalu obrolan kian kembali lagi kepada power relation yang sepertinya terus menjadi sumber banyak masalah di bumi ini, juga segala kenang-kenangan kelas zaman kuliah yang masih tersisa di dalam kepala kami. Kami menyebut satu sama lain teman baik, dan kami berharap baik waktu maupun jarak atau mungkin usia, yang berubah-ubah, tak akan pernah mengubah cara kami mengingat dan menyebut satu sama lain.

Setelah itu saya tiba di sudut refleksi hari itu. Bahwa contentment adalah sebuah baju sederhana yang dapat dipakai dengan nyaman, jika kau memang betul mengingininya. Kau tidak akan sibuk berpikir tentang baju milik orang lain, kau puas mensyukuri bajumu sendiri—sekaligus ikut bahagia dengan baju yang sedang dikenakan orang lain. Contentment bisa kita bahasakan sesederhana itu, karena kesederhanaan—seperti menurut saya dan timoti—jauh lebih baik dan menarik dibandingkan kemewahan yang kehilangan esensi.



Cikarang, 12 Oktober 2016
Mengingat pertemuan empat jam di Kota Jakarta, 8 Oktober 2016