2018, Thank You

December 31, 2018

Mulai tahun lalu, saya memulai satu kebiasaan baru untuk menutup tahun: mengenang kembali perjalanan kehidupan selama setahunan itu dan menuliskan hal-hal baik yang telah terjadi. Hal ini penting—sebagai upaya untuk menutup tahun dalam ingatan yang baik, agar dapat meredam hal-hal yang mungkin berat dan menyakitkan. Supaya saya lebih mudah untuk move on dan memulai tahun yang baru dengan gairah yang baru.

2018 sendiri bagi saya, bisa dibilang jauh lebih baik dibandingkan 2017, jika ingin dibandingkan. Jelas, 2018 penuh dengan hal-hal baru: pengalaman baru, komunitas baru, kenalan baru, dan pencerahan baru. Meskipun, tentu tidak 365 hari selama tahun ini penuh dengan hal-hal yang menyenangkan—bagi saya, karena momen-momen di bawah ini juga, 2018 masih tetap jauh lebih baik dibanding 2017.

1. Mendapat kesempatan untuk bergabung dengan komunitas pencegahan bunuh diri, Into The Light Indonesia, sebagai salah satu relawan Lightbringers 2018 dan belajar amat sangat banyak mengenai isu pencegahan bunuh diri dan kesehatan jiwa, khususnya dalam konteks Indonesia, apalagi di Rise & Shine Training 2018 (Februari-Juli). Saya menjadi bagian Divisi Media, sebagai Mental Health Writer & Promotor. Senang rasanya bisa menjadi bagian dari Into The Light Indonesia untuk #HapusStigma #PeduliSesama dan #SayangiJiwa. (Februari 2018)


2. Jika tahun lalu adalah pengalaman pertama saya menjadi peserta Women’s March, di tahun ini saya mendapat pengalaman menjadi salah satu relawan di divisi acara. Yes, untuk Women’s March 2018. Dalam kesempatan ini, saya bisa berkenalan dengan para kakak-kakak aktivis senior perempuan dalam dunia perburuhan, yang saya ditugaskan untuk menjadi LO mereka. Ada Mba Tiasri Wiandani yang bergerak untuk para buruh perempuan di sektor formal dan ada Mba Leni Suryani yang bergerak untuk para perempuan asisten rumah tangga. (Maret 2018)


3. Akhirnya bisa melihat dan mengunjungi langsung Rainbow Warrior Ship Greenpeace di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Salah satu kapal Greenpeace yang sudah beraksi dan berkampanye ke berbagai lokasi di seluruh dunia demi isu lingkungan. Meskipun berpetualang ke Jakarta Utara itu sungguh menghabiskan waktu, energi, juga biaya transportasi (ehem), bagi saya worth it dengan pengalaman langka bertemu Rainbow Warrior Ship Greenpeace ini. (April 2018)


4. Ikut acara Kebelet Hidup dari I Am On My Way, belajar dan merenung banyak sekali mengenai tujuan hidup selama tiga hari penuh, pun akhirnya bergabung dalam komunitas Purposeful People. Bertemu juga dengan teman-teman baru yang barengan terus selama dua hari terakhir. (Juni 2018)


5. Mempublikasi tulisan bertema feminist lainnya di Konde.co, pun satu lagi tulisan saya berhasil dipublikasi lagi di Magdalene.co. Dibandingkan dengan teman-teman penulis perempuan lain yang bahkan menjadi kontributor rutin tentu ini belum seberapa, tapi ini merupakan langkah yang menyenangkan hati saya (yang memang harus belajar untuk rutin menulis). Khususnya, karena tulisan di Konde.co itu, merupakan salah satu perenungan terdalam saya mengenai feminisme & spiritualisme, di awal tahun ini. (Januari 2018)


6. Mendapat kesempatan untuk mengikuti camp dari Sekolah Tinggi Filsafat Teologia Jakarta (STFT-J) yang memberi pandangan baru dan pengetahuan lebih mengenai isu LGBTQ. Saya tahu isu ini masih termasuk isu yang cukup sensitif, banyak pro dan kontra, banyak nilai yang diperdebatkan. Banyak juga stigma dan penghakiman yang ditujukan kepada teman-teman LGBTQ. Saya memilih untuk menolak ikut mengeksklusi dan memarginalisasi, tetapi justru membuka pikiran dan perasaan, untuk lebih memahami pengalaman perjalanan kehidupan dan perbedaan mereka, dengan menjunjung kemanusiaan. Apalagi, saya baru tahu bahwa teman-teman LGBTQ mengalami depresi dan suicidal karena segala stigma dan penghakiman yang terpaksa dialami. Saya tidak ingin hitam-putih dan ikut menilai-menghakimi—yang tidak berhak saya lakukan. Seperti kata Pope Francis—who am I to judge? (April 2018)

7. Melewati proses sterilisasi untuk tiga kucing kesayangan (Ayi, Momong & O(re)ong) di rumah Depok, demi kesehatan dan kesejahteraan mereka. Bukan proses mudah, tentu. Harus tega mengurung mereka di kandang sehari sebelumnya (yang biasanya bebas berkeliaran begitu saja di dalam rumah) dan mempuasakan mereka menjelang operasi (yang biasanya hobi makan). Belum lagi pasca operasi, melihat mereka masih lemah, berjuang memberi minum obat dan merawat luka bekas operasi (pakai kejar-kejaran dan sembunyi). Demi menyelamatkan kucing-kucing meong saya dari penderitaan hamil-melahirkan setiap tiga bulan sekali, karena ketiganya adalah betina. Sekarang, mereka sudah sehat dan bahagia. Makin lincah dan makin aktif.


8. Menjadi relawan di Festival Sastra & Seni Rupa Kristiani 2018, belajar banyak mengenai sastra & seni rupa dalam kaitannya dengan kekristenan, pun bonusnya, dapat bertemu dengan salah satu penulis favorit saya, Ayu Utami. Ini salah satu momen yang saya syukuri (sekali), karena Ayu Utami juga datang bersama suaminya, Erik Prasetya (yang memang ingin saya jumpai juga semenjak selesai menghabiskan baca buku Cerita Cinta Enrico dari Trilogi Parasit Lajang karya Ayu Utami yang menceritakan banyak mengenai kisah mereka berdua yang bagi saya sangat unik dan menarik—terutama Erik a.k.a Enrico). Saya bisa mendapat tanda tangan keduanya langsung di dalam buku mereka yang saya beli di tempat (Estetika Banal dan Spiritualisme Kritis, 2015) dan foto bersama. (Agustus 2018)


9. Akhirnya mengunjungi Gereja Katedral Jakarta, bersama salah satu sister saya, Getha, sekaligus city tour di seputaran Jakarta. Saya sudah lama sekali ingin ke Gereja Katedral, tapi terhalang waktu dan momen terus. Gereja Katedral memiliki pesonanya sendiri, khususnya sebagai tempat untuk berdoa dan ketika misa yang khusyuk sedang berlangsung. (Juni 2018)

Candid Photo by Getha, Katedral Church Jakarta

10. Jadi tour guide buat sahabat saya, Utari, yang kebetulan sedang liburan ke Pulau Jawa. Meskipun karena keterbatasan waktu, hanya bisa berkeliling di Depok, bersyukur untuk quality time dengan Utari. (Agustus 2018)


11. Wisata kuliner yang random dan dadakan seputaran Jakarta bersama beberapa teman (baru). Ini salah satu jenis self-care yang sangat direkomendasikan, meski saya juga tidak sehobi itu untuk makan. Sayangnya, tahun ini saya batal untuk mencoba all-you-can-eat di Hanamasa bersama teman-teman terdekat yang sudah direncana dari lama (itu berarti saya belum bisa checklist poin ke-16 dari daftar ini). (Juli 2018)


12. Mendapat kesempatan untuk bergabung menjadi salah satu kontributor penulis di Ignite GKI dan dapat berbagi perenungan spiritual melalui tulisan-tulisan kontribusi saya (meski bukan anggota jemaat di GKI). Saya bersyukur di tengah masa gunung-dan-lembah ini, dalam segala ketidaklayakan, ternyata masih mendapat kesempatan untuk sesekali menulis dan berbagi. Soli deo gloria. Terima kasih banyak untuk saudara saya, Ruthie & Christan, yang besar andilnya dalam memperkenalkan Ignite GKI dan sering bertanya, "gak mau nulis di Ignite juga?" yang sukses membuat saya mencoba, hehe. (Mei 2018)


13. Bersama Josephine, menjadi guest mewakili Into The Light Indonesia, di siaran RPK FM x KPSI yang membahas tentang World Suicide Prevention Day (WSPD) 2018. Ini pertama kalinya saya jadi guest di siaran radio. (September 2018)


14. Bersama Mine, menjadi guest di Talkshow Anak Muda (pertama kalinya juga), mewakili Into The Light Indonesia, di GKI Summercamp University, di Cianjur. Karena ini undangan dari komunitas agamis (gereja), saya harus mengakui saya terkesan. Saya harus mengapresiasi GKI sebagai salah satu gereja yang sudah memberi diri terbuka terhadap isu kesehatan jiwa, yang harus diakui sering mendapat stigma juga dari pihak agamis (karena kurang berdoa, karena kurang iman, dst). Semoga kelompok agamis dari agama-agama lain di Indonesia juga mau melakukan hal yang sama, ya, lebih terbuka terhadap perbincangan mengenai isu kesehatan jiwa dan pencegahan bunuh diri. (Agustus 2018)


15. Mendapat kesempatan untuk edukasi pencegahan bunuh diri di kelas mahasiswa S1 mewakili Into The Light Indonesia, dalam kerja sama dengan Departemen Bimbingan Konseling (BK) UNJ. Sebenarnya saya masih merasa belum mumpuni, tapi ini pengalaman yang menarik. Apalagi, saya baru tercerahkan, bahwa para alumni lulusan BK (Bimbingan Konseling) dapat memainkan peran yang sangat signifikan untuk masalah kesehatan jiwa para remaja di sekolah-sekolah nanti. Angka kecenderungan bunuh diri remaja Indonesia cukup mengkuatirkan lho. (September 2018)


16. Ke Pameran “Namaku Pram” bersama sahabat saya, Angel. Beruntung bisa melihat beberapa karya asli tulisan tangan Pram secara nyata di depan mata. Terkagum-kagum dengan karya-karya Pram. Tapi saya memang belum banyak membaca karya-karya Pram, baru beberapa yang menurut saya prioritas isu saja. Ini harus baca banget. (Mei 2018)


17. Ke Big Bad Wolf 2018 bersama sahabat saya, Carolin, dan lumayan bisa menemukan dua buku import yang diskonnya menyenangkan hati. Hardcover dengan harga tidak sampai 100k? Sudah pasti senang dong. (Maret 2018)

18. Bisa ikut “liburan” relaksasi santai di hotel sekaligus jalan-jalan di Bogor bersama sahabat saya, Justice, dan di lain kesempatan di Bintaro bersama ibu saya. Salah satu alternatif liburan di perkotaan, ya ini. Bisa menyewa kamar di hotel yang bagus untuk sehari atau dua hari, bersama orang terdekat, dan mengambil waktu meluangkan hati dan kepala sejenak dari jenuhnya urusan sehari-hari. Bogor pilihan yang baik lho. Udara lebih adem. (Januari & Mei 2018)

Aviary Hotel Bintaro

19. Pertama kalinya ke Car Free Day Jakarta, tapi bukan untuk olahraga untuk promosi isu pencegahan bunuh diri, dalam acara “Freshen Up Your Mind” Into The Light Indonesia. Selama ini cukup mager ke Car Free Day Jakarta karena pagi banget dan cukup berjuang menempuh jarak via KRL kalau dari Depok. Meski sudah pernah juga berencana bersama salah seorang sahabat saya, mungkin karena memang saya bukan orang yang bisa dibilang suka olahraga. Car Free Day Jakarta membuat saya waw juga. Bisa melihat jalan di daerah Sudirman bebas kendaraan dan dipenuhi banyak orang lari-olahraga itu pemandangan yang unik juga. Refreshing. (September 2018)


20. Terkait momen no.5, saya tidak menyangka tahun ini, karena dua tulisan saya yang published di Magdalene.co, bisa ikut dimuat sebagai salah satu sumber pendukung dari skripsi seorang teman baru dan tesis seorang teman lama. Keduanya se-almamater dari FISIP UI. (Terima kasih atas apresiasinya ya, Alya, juga Tua!). Ini benar-benar tidak pernah terpikirkan oleh saya. Senang bisa sedikit membantu dengan apa yang sudah dituliskan dan dibagikan :”)

21. Mengganti desain template blog Twists & Turns ini menjadi lebih baru, lebih mengikuti trend masa kini, dan lebih fresh di mata (: (Januari 2018)
Tampilan versi mobile phone
22. Pengalaman jadi admin media sosial komunitas, yang berbeda dari pengalaman saya ngadmin di ex-kantor. Ketika ada yang cerita tentang bebannya bergumul dengan suicidal thoughts. Ketika ada netizen yang (seenak jidat masih) stigma. Ketika ada yang justru mendorong orang lain untuk bunuh diri (sedih). Ketika ada juga yang mengapresiasi komunitas yang sudah membantu coping untuk masalah suicidalnya. Pengalaman baru yang mengajarkan saya begitu banyak hal. (Juni-Desember 2018)

23. Akhirnya bisa ikut diskusi Resister Indonesia secara face-to-face di Jakarta. Setelah bergabung dalam Whatsapp Group Lingkar Studi Ekofeminisme dari Resister Indonesia di tahun lalu, saya menyadari bahwa banyak anggota berasal dari daerah Jawa (Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta), jadi lebih banyak kegiatan juga berlangsung disana. Namun, awal tahun ini, akhirnya Resister Indonesia menggelar diskusi untuk publik di Jakarta. Mengundang Melanie Subono (seniman dan aktivis) dan Asfinawati (Ketua YLBHI), serta Tunggal Pawestri (yang berhalangan hadir karena bandara di Bali ditutup mendadak mengingat bencana alam yang terjadi) sebagai narasumber, diskusi ini berjudul “Tidakkah Perempuan Manusia?”—bertujuan untuk mendedah kembali konsep dasar HAM dan ragam konvensi untuk hukum perundang-undangan yang ekologis sensitif-gender sebagai bentuk penolakan tegas terhadap RKUHP. (Maret 2018)


24. Meskipun sebenarnya saya belum terlalu ingin merayakan pertambahan usia saya yang ke-27 di bulan Juli tahun ini, saya bersyukur karena orang-orang terdekat saya masih mengingat dan berbahagia bersama saya. Saya berbahagia untuk surprise sederhana yang sangat bagi saya sangat berkesan dari sahabat-sahabat saya. Saya berbahagia untuk sahabat-sahabat dan saudara-saudara saya yang masih ingat mengirimkan pesan selamat ulang tahun dan mengirimkan doa tulus untuk saya. Saya berbahagia untuk hadiah ulang tahun istimewa dari sister saya, Ruth Lidya, yang favorit banget karena mengusung semangat feminist saya, haha. Terakhir, di hari ulang tahun saya tahun ini, akhirnya saya mendapat surel dari 26 years old Yuli yang dikirimkan tepat satu tahun yang lalu (terima kasih, futureme.org), yang menjadi kekuatan tersendiri bagi saya untuk tetap melangkah di tengah segala tantangan ketidakpastian masa depan di usia yang baru. (Juli 2018)


25. Menulis satu tulisan yang dipublikasi di igniteGKI.com sebagai dukungan sosial-emosional saya untuk teman-teman penyintas ataupun teman-teman yang masih bergumul dengan pemikiran bunuh diri. Tulisan ini juga dituliskan menjelang peringatan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia 2018. Khusus, bagi teman-teman penyintas yang tidak sedikit yang enggan untuk coming out dengan masalah kesehatan jiwanya, karena konsekuensi stigma masyarakat yang terlalu banyak dan berat untuk ditanggung, apalagi di dalam gereja. Saya sungguh berharap seberapapun sulit, setiap teman-teman penyintas dan yang masih bergulat dengan pemikiran bunuh diri, bisa terus bertahan dan bertarung melawan. Secara khusus, sekali lagi, terima kasih untuk Ruthie, yang sudah berbaik hati menjadi editor yang berandil besar dalam menggodok draft tulisan ini sebelum dikirimkan ke redaksi. (Agustus 2018)


26. Akhirnya bisa juga mengikuti acara Light A Candle dari Into The Light Indonesia, dalam rangka World Suicide Prevention Day 2018. Bahkan, turut menjadi panitia. Momen ini penting, karena sebenarnya sejak tahun lalu, sebelum bergabung sebagai Lightbringers, saya ingin sekali ikut acara Light A Candle. Sayangnya tahun lalu, meski sudah RSVP, menjelang keberangkatan tiba-tiba hujan deras. Tahun ini, hujan deras dadakan ternyata masih di hari-H (saya juga tidak tahu juga mengapa), tapi niat saya untuk datang sudah terlalu teguh, sampai menembus hujan dan rela menunggu driver ojek online yang memang sulit di tengah hujan. Light A Candle dari Into The Light Indonesia memang highly recommended, khususnya bagi para pencinta sastra. Berkontemplasi dalam pembacaan puisi terkait isu (pencegahan) bunuh diri memiliki daya tarik sendiri. Harus coba, ada setiap tahun lho. (September 2018)


27. Tahun ini, saya mulai mencoba dan menikmati me-time untuk nonton bioskop tanpa teman sama sekali, sendirian saja. Apalagi, kalau memang butuh konsentrasi karena itu film favorit yang ingin di-review dalam tulisan blog. Dimulai dengan Avengers: Infinity War di awal tahun ini. Ternyata, cukup nagih, di tengah kebutuhan untuk men-charge energi diri sebagai seorang introvert—yang memang sangat mencintai waktu-waktu sendirian yang berkualitas. Mengucapkan terima kasih untuk CGV Depok Mall yang baru dan nyaman, pun dengan harga yang terjangkau, yang menjadi tempat pelarian terbaik untuk me-time ini. (Mei 2018)

28. Kenalan dengan banyak sekali kawan-kawan baru. Di Into The Light Indonesia, di Women’s March Jakarta 2018, di Resister Indonesia, di event Kebelet Hidup – I Am On My Way, di Festival Sastra & Seni Rupa Kristiani 2018, di Camp STFT-J, di whatsapp grup kontributor penulis Ignite GKI, and etc. Berkenalan dengan banyak orang juga menolong saya untuk belajar banyak—tentang keberagaman dan pengalaman hidup orang lain, tentang perbedaan karakter dan kepribadian, serta perbedaan pandangan dan nilai hidup. Ada sisi-sisi yang sebenarnya cukup menantang, tapi saya tetap melihat proses pengenalan dan pembelajaran ini sebagai sesuatu yang menarik sekali. (Sepanjang tahun)

Last Assignment Group : New Inner Circle :)

29. Merayakan momen bahagia sahabat saya, Utari Romauli Sitorus, yang melangkah ke jenjang pernikahan di 21 Desember 2018 ini, dengan bridal shower yang sederhana di Medan. Tapi, dengan bincang-bincang yang heart-to-heart terkait banyak banyak banyak sekali hal seputar pernikahan dan pasangan hidup. Setelah mendengar Ulik, salah satu yang terdekat dalam inner circle kami, akan menikah, saya dan sahabat-sahabat saya di CJ8 baru benar-benar merasa “waw, fase hidup kita memang sudah berubah.” Meski tidak bisa ikut menghadiri pernikahan Tari di Tarutung, saya ikut berbahagia masih bisa ikut menghadiri Martupol di Medan. (Desember 2018)

Ulik's Bridal Shower, Not Full Team Without Olind & Onik
Ulik's Martupol Day, With Cidhu
30. Pulang ke Medan kembali setelah satu setengah tahun belum mendapat waktu yang pas untuk pulang. Meskipun rasanya nano-nano, karena memang kepulangan saya bukan untuk “liburan” karena ayah saya sakit stroke—tapi dalam momen kepulangan ini, ada saja hal-hal yang tetap saya syukuri dan menghibur hati. Banyak perenungan kembali. Flashback. Retreat. Serta, proses berdamai dengan masa lalu. (Desember 2018)

Saya-Yang-Masih-Balita Dua Puluhan Tahun Lalu & Ayah, Yang Masih Muda & Sehat

Tahun 2018 sendiri bagi saya juga bisa dibilang tahun kerelawanan—selain tahun “istirahat” dan penantian. Di tahun ini, di tengah masa rehat dari bekerja setelah resign di awal tahun, sebagaimana sudah saya bagikan di atas, saya banyak mencoba beberapa pengalaman (baru) menjadi relawan di beberapa komunitas dan acara yang berbeda-beda. Rasanya seru. Terpapar lebih banyak isu dan memperluas wawasan. Pengalaman, memang adalah guru yang terbaik. Saya, termasuk salah seorang yang senang mencari dan mengejar pengalaman-pengalaman itu. Tahun ini, saya bertemu banyak :)

2018, thank you. Sejauh ini, kita telah bergulat dan bertarung, berlelah-lelah dan kadangkala hampir menyerah, tetapi akhirnya, perjuangan melaluimu telah selesai sampai disini. Untuk segala hal-dan-momen baik yang masih terjadi, terima kasih. I thank God for you.

No comments:

Powered by Blogger.