Wednesday, 9 November 2016

SEJARAH


Bertahun-tahun lalu, sejarah telah menjadi salah satu pelajaran favorit saya. Meskipun, saya masih siswa perempuan yang polos memilih-milih bagian mana yang tampak seru, bagian mana yang terasa jemu. Jujur, saya tak begitu tertarik dengan dunia pra sejarah dengan segala jenis manusia purba. Saya juga tak begitu senang dengan sejarah masa kejayaan kerajaan-kerajaan di Indonesia—dari masa masuknya Hindu, Buddha, dan Islam. Rajanya terlalu banyak, ceritanya terlalu kompleks. Mungkin juga, karena buku sejarah yang saya punya tak sekomplit itu memuat ceritanya. Ketika ujian seberat ujian masuk universitas tiba, pertanyaan-pertanyaan seputarnya jauh dari yang saya tahu dari pembelajaran bertahun. Tidak seru. Saya pun tak terlalu memperhati sejarah penjajahan Belanda—bagi saya, itu terlalu lama. Tiga setengah abad itu bahkan, sangat lama. Berapa generasi bisa berganti hidup di dalamnya, coba? VOC, kerja paksa, semuanya agak rusuh di ingatan saya. Saya ingat saya suka sejarah dunia, seperti sejarah Revolusi Industri atau Revolusi Perancis, termasuk dampaknya untuk bangsa sendiri. Saya serius memperhatikan sejarah menjelang kemerdekaan Indonesia, yang diawali dengan pendudukan Jepang atas Indonesia. Tiga setengah tahun tak seberapa dibanding tiga setengah abad, kan? Meski sebenarnya saya tak terlalu suka masa itu, masa zaman penjajahan Jepang, yang di mata saya, nenek moyang banyak yang lebih menderita karena kekejamannya. Bukan berarti saya membela Belanda, sejarah penjajah tentu saja tetap tak terbela oleh warga negara yang dijajah.

Bertahun-tahun kemudian, setelah saya berhenti mendapat pelajaran sejarah seperti bangku sekolah, meski muatan yang beberapa mirip, banyak saya dapat di mata kuliah sosial-politik bangku kuliah—saya menemukan sejarah kembali dalam lembar halaman-halaman novel historical fiction. Rasanya seperti nostalgia. Meski itu kadangkala bukan tentang bagian sejarah yang saya suka, seperti soal penjajahan Belanda. Tapi ternyata, sejarah yang dikemas dalam lembaran novel lebih memukau dan lebih cantik daripada yang tidur panjang dalam buku-buku pelajaran sejarah di sekolah—dan baru bangun ketika kita baca. Saya terkesima, dan jatuh cinta lagi pada sejarah. Itu ketika selera baca saya ikut berubah: dari cerita ringan menghibur menjadi cerita berlatar-belakang konteks sejarah. Jangan lupa, dibumbui sosial-budaya. Semuanya berdasar realita, meski mungkin tidak semua, tidak dengan seluruh cerita tokohnya. Tiga serangkai kembar yang mengubah novel fiksi menjadi lebih berarti, bagi saya sendiri.

Nyatanya, kiblat jenis bacaan saya memang berubah drastis sejak zaman masih remaja. Saya tak lagi suka cerita sekedar drama cinta. Ya, mungkin dengan konteks zaman modern saat ini yang diselip ada dan tiada di lembarannya sudah terlalu membosankan bagi saya. Meski saya tak boleh menyangkal, saya masih menonton drama-drama dari Korea. Tapi untuk novel dan cerita fiksi, saya sudah lama tak lagi betah. Kisah romance dengan latar belakang konteks sejarah lebih menarik minat saya: semuanya tidak hanya tentang sepasang kekasih itu, tetapi juga tentang dunia di sekitarnya—yang bisa jadi sedang kacau-balau dan carut-marut. Atau jika kisah cinta terlalu klise, kita bisa ganti dengan kisah keluarga. Konflik sosial. Politik. Sampai agama. Yang tak hanya dikarang-karang belaka. Pertanggung-jawaban tetap ada disana, merujuk sejarah.

Belakangan saya membaca banyak soal Eka Kurniawan. Ia sastrawan cerdas dan berani, menurut saya. Sudah memiliki tiga novelnya, saya sudah membaca dua. Dua-duanya memukau saya. Cantik Itu Luka, merupakan novel dengan ratus halaman yang menagih untuk dibaca habis, berkisah tentang seorang perempuan Indo-Belanda yang di masa peralihan kekuasan dari penjajahan Belanda-Jepang-Sekutu (ingat, bahwa Indonesia baru diakui kemerdekaannya oleh Belanda di 1949 dan bukan 1945 sehingga empat tahun itu merupakan masa agresi militer, meski kemudian akhirnya masalah pengakuan kemerdekaan ini telah dikoreksi Belanda pada 2005), terpaksa jadi pelacur setelah menjadi tawanan perang. Kisahnya sebagai pekerja seks itu dimulai ketika kuasa Belanda di Indonesia dilucuti Jepang dan diganti. Kisah itu tak berhenti bahkan kemudian sampai ia berusia cukup tua. Dari pekerjaan itu, ia melahirkan tiga anak, yang kesemuanya cantik. Percampuran keturunan Indo-Belanda dengan Jepang yang mengalir dalam darah dan gen-sel mereka, menciptakan itu semua. Sampai tiba suatu ketika, Dewi Ayu, namanya, hamil kembali dan berharap ia akan melahirkan seorang bayi buruk rupa yang bagaimanapun akan diberikannya nama si Cantik. Karena saya tidak mau spoiler, lebih ingin siapapun yang tertarik membaca untuk membeli, saya tidak akan menceritakan lebih. Tapi kisah-kisah di dalamnya, sungguh panjang dan beragam. Seperti memuat berapa puluh tahun dalam satu benang merah yang pintar sekali. Novel Lelaki Harimau-nya tak kalah menarik. Meski menjadi yang cukup tipis di antara novel-novelnya, kisahnya tetap seru untuk disimak. Tentang seorang bocah bernama Margio yang terperosok dalam tragedi pembunuhan paling brutal. Masalahnya, ketika ditanya, Margio mengaku bukan dialah pelakunya. Ia lanjut berkata, “Ada harimau di dalam tubuhku.” Flashback yang mencoba membongkar motif dan alasan mengapa dan apa yang tengah terjadi sebenarnya adalah yang diceritakan sepanjang novel ini. Bukan oleh polisi tentunya, tapi oleh penullis sendiri. Pintar sekali. Kedua novel inipun sudah diterjemahkan ke dalam begitu banyak bahasa di Asia dan Eropa. Tanda bahwa apa yang diciptakan Eka Kurniawan memang sesuatu yang berarti untuk dibeli dan dibaca.

Saya juga menyenangi novel-novel dengan semangat feminisme. Ada beberapa yang sudah saya temu dan saya baca. Yang paling berkesan bagi saya adalah Tarian Bumi dari Oka Rusmini. Novel ini berlatar-belakang budaya Hindu-Bali. Dengan segala kasta. Dan penari-penari. Saya tak lupa akan novel Okky Madasari. Entrok, salah satunya. Dengan front cover yang sudah anti-mainstream bergambar bra yang dipakai seorang perempuan tampak belakang, novel ini memang bercerita banyak tentang perempuan dengan latar belakang konteks sejarah. Kali ini, tentang politik di Indonesia zaman Orde Baru dan Orde Lama.

Meski saya juga banyak membeli dan membaca novel terjemahan dari Barat, kebanyakan berkisah mengenai sosial dan banyak menyoal anak, sebenarnya saya lebih suka membaca karya bangsa sendiri. Perbedaan bahasa menjadi salah satu faktor pasti. Bahasa sastra, itu kelebihan lain yang nyata dari novel-novel historical fiction negeri ini.

Saya tidak tahu berapa penikmat novel seperti yang saya sebut di sepanjang tulisan ini—apakah lebih banyak atau cenderung lebih sedikit dibanding yang melumat novel roman biasa? Nyatanya, memang tak semua orang suka kemasan seberat sejarah atau politik. Jika mereka membaca novel untuk hiburan maka mereka akan memilih yang bukan ini, sepertinya.

Terakhir, terlanjur bicara soal sejarah, saya ingin menutup tulisan ini dengan satu ide—yang mungkin sudah pernah digagas yang lain sebelum saya, tapi anggap saja ini sebagai sebuah penekanan dan pengulangan berharap melahirkan inovasi. Saya ingat betapa jemunya belajar sejarah hanya dari buku-buku pelajaran di sekolah. Sejarah yang sangat lampau, tak terjamah, apalagi. Rasanya ada rentang waktu yang tak dimengerti membatasi. Generasi muda butuh jembatan untuk sampai tepat pada sejarah. Jembatan itu perlu dibangun secara kreatif, tak hanya melalui jam-jam belajar menjemukan di kelas. Kita perlu keluar, menelusuri jejak sejarah. Langsung menatap peninggalannya, dengan penjelasan komprehensif kreatif holistik agar tidak kehilangan esensinya. Mengunjungi museum, atau mempraktikkannya dalam drama di atas panggung, atau menonton film, atau memakai segala media yang perlu dan yang bisa agar sejarah bisa dinikmati lebih lagi. Atau bahkan, mencoba berkenalan dengannya melalui novel-novel historical fiction. Apa sajalah. Yang penting pelajaran sejarah tidak dikemas sedatar itu. Agar sejarah tak terlupa atau dilupa, generasi muda perlu tahu. Ya, mereka perlu tahu, sebanyak itu.

Wednesday, 12 October 2016

A CROWN


  “My crown is called content, 
a crown that seldom kings enjoy.”
(William Shakespeare)

Bertemu dengan teman-teman baik yang kau kenal sejak kuliah sama artinya dengan larut dalam berjam-jam obrolan tentang ini dan itu. Kami pindah dari Papua sampai Eropa, lalu singgah di Nias. Berbagi cerita, berbagi apa yang katanya menjadi harta karun masa sebelum hari ini: pengalaman. Kami membahas politik sampai agama. Gereja tak luput jua. Kami takjub akan apa yang telah terjadi, sambil tak kuasa menanti apa yang akan terjadi. Rencana-rencana terpapar di atas meja: dari pernikahan sampai studi lanjut ke luar negeri, dari keinginan pindah kantor sampai pindah domisili. Tentu, toleransi masih berdiri di tengah-tengah kami. Saling menghargai adalah kunci dari pertemanan itu sendiri. Lalu obrolan kian kembali lagi kepada power relation yang sepertinya terus menjadi sumber banyak masalah di bumi ini, juga segala kenang-kenangan kelas zaman kuliah yang masih tersisa di dalam kepala kami. Kami menyebut satu sama lain teman baik, dan kami berharap baik waktu maupun jarak atau mungkin usia, yang berubah-ubah, tak akan pernah mengubah cara kami mengingat dan menyebut satu sama lain.

Setelah itu saya tiba di sudut refleksi hari itu. Bahwa contentment adalah sebuah baju sederhana yang dapat dipakai dengan nyaman, jika kau memang betul mengingininya. Kau tidak akan sibuk berpikir tentang baju milik orang lain, kau puas mensyukuri bajumu sendiri—sekaligus ikut bahagia dengan baju yang sedang dikenakan orang lain. Contentment bisa kita bahasakan sesederhana itu, karena kesederhanaan—seperti menurut saya dan timoti—jauh lebih baik dan menarik dibandingkan kemewahan yang kehilangan esensi.



Cikarang, 12 Oktober 2016
Mengingat pertemuan empat jam di Kota Jakarta, 8 Oktober 2016

Saturday, 3 September 2016

BEJANA TANAH LIAT: SEBUAH CERITA (1)


Dalam bejana-bejana tanah liat itu, sebuah panggilan bertunas. Sang Penanam tidak menanamnya di dalam sebuah bejana yang terlalu indah, atau terlalu sempurna—Ia memilih bejana tanah liat, yang bisa pecah dan yang rentan. Yang bisa tergores atau terluka. Tentu dengan sebuah maksud istimewa.

Dalam bejana-bejana tanah liat itu, sebuah pesan terkandung seperti harta. Sang Pemilik Pesan tak memilih bejana seperti sepatu kaca yang tampak begitu cemerlang, atau bejana penuh berlian berkilauan—Ia memilih bejana tanah liat, yang terlihat apa adanya. Lugu dan polos. Biasa saja. Yang tanpa pesan itu, tak menimbulkan kesan apa-apa. Tapi justru dengan pesan itu sebagai harta, menjadi sangat berharga.

Dalam bejana-bejana tanah liat itu, kasih dituangkan seperti air tercurah. Sang Penuang tak memilih bejana yang terlalu besar—Ia memilih bejana yang kecil sengaja agar kasih itu bisa tumpah, meluap mengairi sekitarnya. Bukan bejana besar yang menampung kasih itu sendiri di dalam diri. Bukan bejana besar yang tak ingin berbagi.

Sang Penanam, Pemilik Pesan, dan Penuang itu memilih dan membentuk bejana-bejana tanah liat, juga seperti seorang Penjunan yang ahli. Setiap bejana tanah liat diciptakan dengan telapak tangan-Nya sendiri. Bejana tanah liat yang diukir menjadi indah dengan cara-Nya. Bejana tanah liat yang disempurnakan seturut kehendak-Nya. Dan jika bejana itu rusak? Ia mengulang mengerjakannya agar bejana itu siap kembali. Untuk menunaskan sebuah panggilan, untuk mengandung sebuah pesan, untuk menampung dan mengalirkan kasih yang tumpah. Sang Penjunan memastikan: Tak ada bejana yang tak bisa diperbaiki. Tak ada bejana yang dibiarkan rusak selamanya. Tak ada yang bejana yang tak menuntaskan tugasnya.

Bejana-bejana tanah liat dipilih untuk sebuah maksud istimewa. Untuk membuktikan kekuatan yang lebih besar dari kekuatan manusia. Untuk menumbuhkan rasa percaya. Untuk menghindari keangkuhan. Untuk menjadi sebuah media dan sarana, dari sebuah rencana. Agar pesan yang lebih indah dari bejana, bisa dilihat, didengar, dan dipahami, dengan fokus yang tidak salah tujuannya.




p.s. :

But we have this treasure in jars of clay to show that this all-surpassing power is from God and not from us. Yes, if you only look at us, you might well miss the brightness. We carry this precious Message around in the unadorned clay pots of our ordinary lives. That’s to prevent anyone from confusing God’s incomparable power with us. (Reference: 2 Corinthians 4:7 NIV & MSG, penekanan ditambahkan).

(Sebuah Pelajaran Setelah Kebingungan:
Pulau Nias, Sumatera Utara, 3 September 2016)

Thursday, 28 July 2016

EPHPHATHA!


Ephphatha! Aku menanti kata itu terucap. Aku menantikan Ephphatha untuk pintu-pintu. Pintu yang menghubungkan aku dengan masa depanku. Di baliknya, ada jalan yang selanjutnya harus kutempuh. Tapi Ephphatha yang berkuasa menjadi kunci pintu terbuka hanya bisa terucap dari satu Pribadi yang kukenal bertahta atas waktu. Dan itu bukan aku. Aku menunggu. Aku hanya bisa menunggu, dan sudah seharusnya memang aku menunggu.

Tapi penantian tidak semudah itu untuk dilewati. Ketidaksabaran porak-poranda di dalam hati. Melahirkan keraguan, lalu ketidakpercayaan. Dimana Ephphatha? Akankah dia benar-benar terucap dan datang menghampiri pintu kita? Harus seberapa lama? Akankah itu bisa jadi selama-lamanya?

Aku menahan diri. Cukuplah aku butuh Ephphatha terucap bagi pintu-pintu kehidupanku. Aku tidak mau jadi tuli akan apa yang dikatakan-Nya karena telah ragu. Aku tidak mau jadi bisu akan kebesaran karya-Nya dalam hidupku karena ketidakpercayaanku.

Tapi banyak orang membutuhkan Ephphatha untuk dapat kembali percaya dan tidak ragu. Banyak orang membutuhkan Ephphatha untuk dapat kembali mendengar kata-kata-Nya dan menceritakan kebesaran-Nya. Dan siapatahu akhirnya aku juga perlu. Ephphatha yang membukakan telinga, mulut, dan hatiku.

Aku ingin menjadi takjub, aku ingin tercengang. Aku ingin berkata,  Ia menjadikan segala-galanya baik. Sekali lagi. Meskipun seharusnya aku terus dan akan terus bisa berkata, Ia menjadikan segala-galanya baik. Dengan keyakinan seteguh batu karang dalam setiap kata yang kuucapkan. Dengan percaya yang menyelimuti sempurna. Dengan sederhana, cukup seperti seorang anak kecil saja.



Ia menjadikan segala-galanya baik.
Ya, meski Ephphatha belum terucap. Meski belum ada apapun,
yang terlihat terbuka bagi kita. Berimanlah saja!

Ia, sudah sedang dan akan selalu, menjadikan segala-galanya baik.
Ya, tak terkecuali untuk kita.


p.s. :

(Cikarang, 28 Juli 2016: Setelah membaca tentang Ephphatha  
dalam Mark 7:31-37 di waktu berdua dengan Yang Berkuasa atas
waktu dan nyawa).

Tuesday, 26 July 2016

AS SIMPLE AS TRUST




When it doesn’t go my way, i know that it is not the end.
I’m trusting You have better plans. I haven’t even dreamt it yet.
I know that You are for me, when everything’s against me.
I put all my hope in You.

Jesus, i will trust You. I will trust You.
I know You never fail. I will trust You.
Jesus, i will. I will.

I don’t know how the story ends, but i know that You finished it.
I’ll close my eyes and just let go. And fall into my only Hope.
There’s safety in the falling, when i surrender fully.
I put all my hope in You.

Jesus, i will trust You. I will trust You.
I know You never fail. I will trust You.
Jesus, i will. I will.

The only thing i know, is God You’re in control.
In every little detail, You are close. I’ll never be alone, here in the unknown.
The power of Your presence, fills my soul.

Now everything i know, is God You’re in control.
In every little detail, You are close. I’ll never be alone, here in the unknown.
The power of Your presence, fills my soul.

Jesus, i will trust You. I will trust You.
I know You never fail. I will trust You.
Jesus, i will. I will.


(Trust, by Hillsong Young & Free)


p.s. :

Ini adalah salah satu favorit dalam playlist saya belakangan.  
Trust,  dari album terbaru 2016, Youth Revival, Hillsong Young And Free. 
Menjadi salah soundtrack hidup, yang menolong tetap berlari meski hati bilang  
kaki lelah. Yang menolong tetap percaya meski mata belum melihat apa-apa. 
As simple as trust, is the source of our strength to go through.
 

Wednesday, 13 July 2016

KETIKA KASIH BERARTI LEBIH


“You’re familiar with the old written law, ‘Love your friend,’ and its unwritten companion, ‘Hate your enemy.’ I’m challenging that. I’m telling you to love your enemies. Let them bring out the best in you, not the worst. When someone gives you a hard time, respond with the energies of prayer, for then you are working out of your true selves, your God-created selves.

This is what God does. He gives His best—the sun to warm and the rain to nourish—to everyone, regardless: the good and bad, the nice and nasty.”

                                                                         —Matthew 5:43-47 MSG


Bagaimana kalau saya menulis dan berbagi mengenai kasih disini? Membaca ayat ini membuat saya harus mengakui: mengasihi, bagi saya saat ini, adalah hukum terutama yang paling sulit dilakukan dalam praktik iman kekristenan. Mengasihi yang membenci. Mengasihi tanpa mengenal lelah. Mengasihi tanpa syarat. Mengasihi dengan iman tanpa melihat yang terjadi. Mengasihi tanpa alasan lain selain ketulusan dan kesejatian. Mengasihi yang lain lebih dari diri sendiri. Mengasihi sampai terluka. Mengasihi sampai mati. Mengasihi seperti Yesus. Berat sekali.

Tentu, kebanyakan kita ingin take and give. Mengasihi jika kita dikasihi. Mengasihi jika mereka layak dikasihi. Mengasihi jika tidak menyalibkan diri sendiri. Mengasihi jika tidak menguras harga diri. Mengasihi jika keadaannya baik terkendali. Mengasihi jika kasih itu seperti apa yang kita ingini. Mengasihi jika ada banyak alasan rasional yang melatarbelakangi. Mengasihi jika ada imbalan kasih akan didapati. Mengasihi jika kasih terjadi sesuai dengan apa yang ada dalam imajinasiseperti kisah cerita novel atau drama, yang ditulis oleh manusia tapi sering dikonsumsi.

Sayangnya, mengasihi sebenarnya tidak pernah mengenai kita. Kasih yang sejati menempatkan Dia di nomor pertama-terutama, dan sesama setelahnya. Diri yang sebenarnya cenderung kita kasihi lebih dari keduanya, justru di urutan terakhir harus berada.

Bagi saya, kasih selalu menantang agar pusat diri berpindah. Dari kita ke sesama. Dari kita ke Tuhan yang dipuja. Disitulah kesulitannya. Karena terlalu sering kita tidak rela berpindah. Kita melihat sesama, lalu menjadi ragu. Kenapa kita harus memberi ketika kita tidak diberi? Kenapa kita harus berpindah ketika kita bisa tidak berpindah? Tapi apakah kasih mengenal relasi untung dan rugi?

Ketika itulah, kasih menjadi sebuah pilihan yang harus mantap ditentukan. Bukan hanya tentang siapa yang bisa kita kasihi dengan mata dan hati, tetapi juga tentang Dia yang tak kasat mata yang harus kita kasihi lebih dari siapa yang bisa kita kasihi di bumi, termasuk diri sendiri. Yang sudah lebih dulu mengasihi kita sebelum kita mengenal apa itu kasih yang sejati. Yang sudah lebih dulu mengasihi kita sehebat itu sampai mengorbankan tahta dan harga diri.

Kasih memang bukan perihal hitung sana dan sini. Kasih bukan sekedar tentang balas budi. Kasih juga bukan perintah soal kerjakan dan jangan kerjakan itu dan ini. Tapi mengenai kemauan hati: sebuah kerelaan yang mengalir karena anugerah tanpa alasan. Terlalu rumit untuk dijelaskan, hanya dapat sungguh-sungguh dijalani dan dialami dalam satu Pribadi.

Tuhan yang rela miskin agar yang dikasihi menjadi kaya. Tuhan yang rela patah agar yang dikasihi bahagia. Tuhan yang rela mati agar yang dikasihi merasakan hidup lagi. Tuhan yang rela menyalibkan diri agar yang dikasihi bisa kembali.

Bagaimana seandainya kasih adalah mengenai memberi lebih dari menerima? Bagaimana seandainya kasih meminta egoisme harus runtuh tanpa sisa? Bagaimana seandainya kasih membutuhkan kesabaran, pengampunan, kesetiaan, kepercayaan, ketekunan, ketulusan, kerendahan hati, dan keteguhan hati—lebih dari ekspektasi yang terealisasi? Bagaimana seandainya kasih menuntut pengorbanan sebesar nyawa di dalam diri?

Bagaimana seandainya kita tidak perlu alasan lain untuk mengasihi
selain karena Tuhan sendiri?

Sepertinya kita harus lebih menyiapkan hati.



p.s. :

Jujur, tulisan ini saya tulis untuk diri sendiri. Bukan karena saya sudah mampu mengasihi, kebalikannya. Untuk mengingatkan dan ber-re-refleksi. Agar tidak menyerah untuk dapat menjawab pertanyaan sendiri. Agar tidak menyerah untuk dapat terus mengasihi. Agar tidak menyerah untuk menjadi seperti Yesus yang diikuti. Karena, sungguh, saat ini saya ingin menyerah untuk mengasihi.


(Setelah Hari Hujan: Cikarang, 13 Juli 2016)