Thursday, 24 July 2014

LIFE IS ADVENTURE, DARE IT!


"Life is ADVENTURE, 
DARE IT!"
  –--Mother Teresa

H-1 untuk perjalanan ke pedalaman Pulau Kalimantan. Dari anugerah panggilan untuk pergi sampai keragu-raguan untuk pergi, sampai anugerah lagi untuk kembali bangkit berdiri dan memantapkan hati untuk pergi. Dari hari-hari, minggu-minggu, dan bulan pergumulan tentang ini-dan-itu. Teknis, dana, tanggal, izin kantor, tiket pesawat, barang-barang kebutuhan, doa. Dari tantangan yang bikin nyaris patah semangat, sampai kekuatan yang datang tiba-tiba dari Atas.

Sembilan hari disana, saya berharap mendapat pengalaman yang baru dan dapat menikmati Tuhan Yesus lebih dalam lagi. Lebih dekat. Lebih nyata. Bukan sekedar mengalami betapa berbedanya gaya hidup di pedalaman dengan di perkotaan yang urban dan posmo.

Dan sembilan hari di pedalaman Kalimantan tanpa gadget dan sinyal, juga berarti sembilan hari tanpa postingan di blog ini. Tanpa whatsapp, LINE, kakaotalk, path, facebook, twitter. Tanpa social media apapun. Sepertinya akan sangat-sangat merindukan macetnya jalanan Jakarta. Sampai bertemu besok, Pulau Kalimantan! Sampai bertemu lagi di bulan Agustus, dear blog. May Christ bless this journey. *

Wednesday, 23 July 2014

CHILD MARRIAGE


Bermula dari undangan teman saya untuk ikut hadir dalam acara Youth In Action! 2014 di Universitas Paramadina Jakarta beberapa bulan lalu, seorang teman baik sekaligus kakak senior ketika kuliah di Sosiologi FISIP UI dulu ternyata menjadi aktivis dari project UNICEF. UNICEF adalah salah satu lembaga yang berpartisipasi dalam acara ini, selain berpuluh lembaga/NGO lainnya. Kak Rukita, nama teman baik sekaligus kakak senior saya tersebut, yang kemudian menawarkan saya untuk ikut terlibat dalam survei UNICEF terkait acara Girl Summit 2014. Caranya sangat mudah, saya hanya harus melakukan aksi follow dan mengirim direct message pada akun twitter project UNICEF ini. Dan benar saja, setiap minggu pertanyaan seputar child marriage dari akun twitter tersebut masuk ke dalam inbox direct message twitter saya.
 

Saya, yang sebelumnya memang belum pernah benar-benar memikirkan masalah child marriage, akhirnya mulai tergerak untuk ikut memikirkan isu yang satu ini. Maklum, mungkin karena di lingkungan tempat tinggal saya yang tergolong areal perkotaan, isu ini tidak marak. Tapi bukan berarti di daerah lain dari Indonesia, isu ini tidak marak. Sebulanan lalu saya mengobrol dengan seorang ibu berusia 60an di bis kopaja yang saya tumpangi untuk pergi ke terminal bis AO di Blok M dari Depok. Ibu ini bercerita kalau dulu, dia dinikahkan ketika masih berumur 14 tahun—dan itu sering terjadi di daerah Pulau Jawa. Saya tidak bisa membayangkan jika itu masih terjadi sampai sekarang. 14 tahun saya baru lulus SMP (Sekolah Menengah Pertama), dan kalau diingat-ingat masih merasa belum tahu apa-apa soal pernikahan dan pembentukan keluarga.

Saya juga masih mengingat masa sekitar dua tahun yang lalu—waktu itu sekitar bulan april, dan saya punya seorang teman baik di warung makan yang sering saya kunjungi setiap hari. Dia adalah seorang perempuan yang bekerja menjaga warung makan tersebut, tapi umurnya baru 17 tahun. Meski begitu, dari perawakannya, saya malah merasa dia jauh lebih dewasa daripada saya.

Ia berasal dari daerah Jawa Barat, di pedesaan yang mungkin tidak usah saya sebut namanya. Kami berteman baik karena nyaris setiap hari saya makan disitu. Maklum, waktu itu saya masih kuliah dan warung makan itu sangat dekat dengan rumah kosan saya. Harganya juga terjangkau, porsinya banyak (itulah kenapa mahasiswa laki-laki dari kampus saya senang makan disitu), dan makanannya beragam. Enak. Nama warung makan ini cukup terkenal di kawasan kos-kosan saya itu. Sangat dekat dengan Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

Saya masih ingat suatu kali dia ingin berpamitan karena akan pulang ke daerah asalnya. Bukan hanya karena shift menjaga warung makan itu sudah harus digilir lagi, tapi karena dia akan menikah. Menikah di umur semuda itu, 17 tahun. Ya ampun. Saya masih sulit membayangkan bagaimana dia harus siap menjadi istri dan ibu di usia belasan tahun. Bahkan, saya yang waktu itu sudah menginjak umur 21 tahun saja masih merasa belum siap untuk memikirkan pernikahan—apalagi menjalaninya! Rasanya masih sibuk dalam tugas sebagai mahasiswa, yang masih mau kuliah, masih harus memikirkan topik skripsi, masih harus memikirkan UAS yang sebentar lagi, masih harus memikirkan makalah dan penelitian kelompok, masih harus memikirkan segala organisasi non-akademis yang saya ikuti di kampus, masih harus memikirkan saya akan jadi apa setelah lulus, masih harus memikirkan banyak hal. Dan ketika saya melihat gambar dari UNICEF ini, saya merasa kata-kata dalam gambar ini sangat benar. Semua yang saya pikirkan tadi—yang membuat saya merasa belum ingin menikah dulu—terkait masalah pendidikan dan kampus. Itulah kenapa pendidikan adalah hal krusial yang menentukan child marriage dari seorang anak.


 Saya tidak tahu apakah teman baik saya itu dipaksa menikah atau menikah karena kemauannya sendiri. Yang jelas, sepertinya ia memilih calonnya sendiri. Hanya saja, dia sempat bercerita kalau ia pun kaget ketika tiba-tiba dilamar oleh laki-laki (yang tadinya dia kenal menyukai kakaknya yang ternyata sudah punya pasangan). Lalu semua berjalan begitu saja. Sampai akhirnya, beberapa bulan kemudian, dia memberi kabar pada saya via sms kalau dia sudah menikah dan memiliki bayi pertamanya. Di umur 17 tahun.

Kembali mengenai isu child marriage, sebenarnya pernikahan seperti apa yang dinamakan child marriage?  Berikut yang saya kutip dari website UNICEF : “Child marriage, defined as a formal marriage or informal union before age 18, is a reality for both boys and girls, although girls are disproportionately the most affected.” Jadi, jika seorang anak perempuan menikah secara formal sebelum usia 18, itu tergolong child marriage. Dan berarti, teman baik saya itu, yang sudah menikah dan memiliki anak di usia 17 tahunnya, mengalami child marriage juga. Dari sejarah, yang saya lacak, ternyata child marriage ini merupakan sebuah tradisi bawaan dari berbagai tempat di dunia (bahkan di tengah keluarga kerajaan, di Ancient Rome dan Greece)—sampai di abad ke-20 dimana child marriage ini baru disadari sebagai sebuah masalah serius. Masalah child marriage ini juga ternyata sangat erat terkait dengan pemahaman agama masyarakat setempat, karena di beberapa agama, child marriage dianggap sesuai dengan nilai-norma agama yang mereka anut.

Sayangnya, child marriage adalah sebuah masalah yang serius bagi para anak perempuan, baik dari sisi fisik, psikologis, pendidikan, sosial, dan ekonomi. Bahkan, politik. Fisik tentu saja, karena di usia semuda itu, organ kewanitaan anak perempuan belum benar-benar siap untuk reproduksi. Angka kematian untuk anak-anak perempuan yang hamil di bawah umur sangat tinggi. Hal ini masih ditambah dengan masalah sexual abuse yang mungkin terjadi, bahkan marital rape. Secara psikologis, mereka juga sebenarnya belum siap menjadi istri apalagi ibu. Secara sosial, tentu saja mereka akan menghadapi banyak tuntutan—belum lagi jika akhirnya suami mereka menceraikan atau meninggalkan mereka. Dari sisi pendidikan, bagi para anak perempuan yang kemudian dalam usia belia menjadi ibu, biasanya dengan sendirinya, akses pendidikan ke mereka tertutup. Mereka harus jaga anak kan, dalam status baru mereka sebagai ibu? Dan jika mereka sudah tidak bisa mengakses pendidikan yang layak dan sewajarnya, akses kepada kesejahteraan ekonomi pun ikut terminimalisasi. Belum lagi tanpa pendidikan, pengetahuan mereka soal dunia luar akan menjadi terbatas dan sempit. Mereka mungkin tidak akan tahu apa itu HAM, hak secara hukum, dan sederet pengetahuan gender lainnya. Termasuk politik. Menjadi istri dan ibu di usia muda tanpa sebelumnya mengecap pendidikan yang layak, akan mengungkung mereka pada pekerjaan ranah domestik yang pastinya menjauhkan mereka dari ranah publik, dimana politik berkontestasi. Kecuali bagi beberapa perempuan tertentu yang mungkin mendapat anugerah istimewa untuk menjadi para movement maker bagi kondisi yang terjadi.


Bagi kalian, para perempuan, yang membaca postingan ini (yang tinggal di perkotaan, sedang atau sudah mengecap pendidikan tinggi, hidup dalam budaya yang kontemporer dan lebih posmodern), mungkin berpikir masalah child marriage benar-benar jauh dari kehidupan kalian—sama seperti saya juga, tadinya. Sampai saya sadar bahwa di belahan dunia lain, bahkan di beberapa provinsi di Indonesia—wilayah-wilayah developing countries—banyak anak perempuan sudah, sedang, atau akan mengalami tragedi pernikahan anak ini. Apakah kita tega untuk mendiamkannya saja? *



p.s. :

Lebih banyak mengenai child marriage, kita bisa mengakses data dari UNICEF, yang juga bisa didownload versi pdf. Selain itu, dalam aksi browsing saya hari ini mengenai child marriage, saya juga menemukan website yang memperjuangkan gerakan “Girls Are Not Brides”. Semoga mata dan hati kita semakin terbuka untuk melihat betapa memprihatinkannya masalah child marriage ini. Salam sejahtera bagi semua (anak) perempuan di seluruh dunia!

EXPECT LESS, RECEIVE MORE



“Expect Less Receive More” is better 
than “Expect More Receive Less”. 

Isn’t it?

Seperti ketika kamu berharap banyak—kalau orang-orang terdekat memberi ucapan selamat ulang tahun yang istimewa padamu—tapi ternyata mereka sama sekali tidak ingat. Seperti ketika kamu tidak berharap banyak kalau orang-orang tertentu yang tidak benar-benar kamu ingat mengucapkan ucapan selamat ulang tahun padamu—tapi ternyata mereka justru mengucapkannya, ucapan selamat ulang tahun itu, dengan sangat istimewa. Ketika berharap banyak justru mendapat sedikit. Ketika berharap sedikit justru mendapat banyak. Sangat kontras dan terbalik, dilematis. Pernahkah kalian memikirkan hal ini juga? Lebih baik memang berharap sedikit tapi ternyata mendapat banyak, daripada berharap banyak tapi mendapat sedikit—karena ekspektasi yang terlalu besar yang tidak terpenuhi itu biasanya berujung pada kekecewaan. Sebaliknya, ekspektasi sederhana yang terpenuhi dengan tidak terduga bisa mendatangkan rasa syukur yang melimpah dan rasa takjubnya sendiri. Sangat bertolak belakang, bukan?


 

 p.s. :


Tapi bukan berarti jika ekspektasi kita yang terlalu besar ternyata tidak terpenuhi, itu artinya kita tidak bisa bersyukur. Meski berat untuk mengakui dan menuliskan ini disini, tapi perenungan saya adalah justru ketika kita bisa bersyukur di tengah ekspektasi yang tidak terpenuhi, disitulah kita lulus ujian. Ujian untuk bisa selalu bersyukur dalam segala sesuatu, segala hal, segala situasi dan kondisi.*
 

Tuesday, 22 July 2014

DEAR SALLY


Kamu salah seorang dari pemakai applikasi chat bernama LINE di smartphones yang lagi trend akhir-akhir ini? Ya, saya juga. Saya memakai applikasi chat smartphone lainnya juga, seperti whatsapp dan kakaotalk—blackberry messenger juga pernah, tetapi sekarang tidak lagi semenjak ia turun tahta dari panggung sosialita dan ponsel blackberry saya juga sudah tua dan minta pensiun—hanya saja saya paling senang dengan applikasi LINE ini. Saya senang melihat karakter-karakter stickernya yang kreatif, applikasi pendukungnya seperti LINE Deco dan LINE Camera, ada “home” LINE juga yang bisa diakses para pengguna Android (ini seperti status updates di facebook atau blackberry messenger—perbedaannya yang unik adalah kita bisa update status dengan sticker-sticker LINE yang kreatif  itu, yang entah kenapa membuat saya selalu merasa apa yang saya ingin sampaikan makin total tersampaikan dengan bantuan sticker LINE yang ekspresif itu haha), deretan games-nya yang selalu jadi favorit saya setiap kali main games di tab (LINE Cookie Run, LINE Pong, LINE I-Love-Coffee, LINE Jelly), theme dari aplikasi ini yang bisa diganti-ganti, dan jika ada teman yang menambahkan nama kita ke list contact LINE-nya pasti LINE-nya juga akan terekomendasi ke kita. Rasanya, lengkap! :) Ditambah lagi, pihak pengusaha LINE ini dengan kreatifnya mengeluarkan produk-produk dalam karakter LINE juga (mug, notes, boneka, dsb)—membuat banyak orang makin jatuh hati padanya.

Saya senang sekali dengan karakter-karakter LINE ini yang unik-unik. Mulai dari beruang coklat bernama Brown, kelinci putih yang sering dipasangkan dengan Brown bernama Cony, karakter manusia berjenis kelamin laki-laki berambut kuning gondrong bernama James, karakter mirip manusia dan mirip bulan bernama Moon, karakter ulat hijau imut-imut bernama Edward, karakter katak hijau yang imut juga bernama Leonard, karakter kucing yang sangat amat feminin bernama Jesicca, karakter perempuan-lak-laki ala ilustrasi Korea yang disebut Cherry Coco, dan karakter anak bebek bernama Sally. Nah Sally ini yang selalu membuat saya jatuh hati. Menurut saya, Sally itu paling unik dan cerah saja—mungkin karena dia menyimbolisasi warna kuning di LINE, dan mengingatkan saya pada zaman SMA dulu, yang bertiga dengan dua sahabat saya (shayie dan margaretha) yang sangat senang ngumpulin sticker (yang beneran sticker, hardcopy—maklum zaman itu belum se-sophisticated zaman ini) anak ayam :) Yah, anak ayam sama anak bebek beda tipis ya imutnya, yang penting sama-sama kecil dan sama-sama berwarna kuning! Ahaha :D

Nah soal sally di LINE inipun, saya punya kenangan indah tersendiri. Sudah dua kali saya ingin sekali punya sticker dan theme Sally di LINE, sayangnya saya tidak punya cukup koin (yang bisa didapat dengan download applikasi atau games, atau bahkan beli dengan Rupiah) untuk membelinya. Maklum, sticker dan theme edisi Sally tidak gratisan seperti Brown dan Cony. Tepat di saat dimana saya ingin banget punya sticker Sally, sahabat saya bernama Carolin tiba-tiba mengirimi saya pesan lewat LINE bersama sebuah hadiah online. Dan tebak apa hadiahnya? Sticker Sally! Wah, saya bahagia sekali. Sepertinya Olind (begitu saya memanggilnya) membaca postingan saya di Path tentang keinginan memiliki sticker Sally itu.

Yang kedua kali, baru saja akhir-akhir ini, saya sebenarnya sangat ingin theme LINE edisi Sally. Tapi lagi-lagi berbayar dengan 150 koin, jadi saya tidak bisa membeli. Yang tidak saya sangka, tepat di hari ulang tahun saya ke-23 kemarin, kakak rohani saya, tiba-tiba mengucapkan selamat di LINE bersama sebuah hadiah elektronik. Tebak apa hadiahnya? Ya! Theme edisi Sally! Ah, saya senang sekali! Padahal kali ini, saya tidak bilang ke siapa-siapa lho kalau saya ingin punya theme edisi Sally. Dan seperti kebetulan yang menyenangkan, kakak rohani saya yang ternyata random memilih theme, mengirimi saya theme edisi Sally itu! (Tapi saya sih yakin ini tetap anugerah dari Tuhan untuk membuat hari ulang tahun saya lebih istimewa, dan bukan sekedar kebetulan). Saya senang sekali. Super-duper senang. Karena akhirnya tablet saya benar-benar bisa dirias serba Sally. Dua minggu sebelum hari ulang tahun saya, saya menemukan theme Sally juga tapi untuk background tablet atau smartphone—jadi bisa diatur gambar icon dan wallpaper-nya serba kuning dan serba Sally! Tepat sekali. Pas. Deepest thanks, Jesus. And so much thanks, kak jenny :”)

ucapan ulang tahun dan kiriman hadiah dari kak jenny

Berikut, saya tampilkan sederet gambar screenshoot dari tablet saya supaya kalian tahu bagaimana versi LINE saya yang akhirnya bisa di-set bertemakan Sally. Berasa cerah, secerah matahari pagi yang selalu muncul di langit di atas kantor saya di Lippo Cikarang yang warnanya kuning cerah juga :)


tampilan awal ketika membuka applikasi LINE
tampilan chat di LINE dengan theme Sally
tampilan bagian lainnya
tampilan contact list LINE
tampilan layar depan tablet dengan app LINE Deco

Gambar screenshoot terakhir itu adalah wallpaper layar depan tablet saya. Sangat kuning, sangat cerah, dan sangat Sally kan? Haha :) Secara psikologis, dengan melihat layar depan tablet yang cerah seperti ini, saya merasa lebih segar setiap kali melihat ke layar tablet—meski sebenarnya saya sedang suntuk. Karena itu, mealalui tulisan ini, saya benar-benar merekomendasikan theme edisi Sally ini untuk kalian. Selamat ber-Sally-ria! :D



p.s. :

Ngomong-ngomong, hadiah elektronik dari kakak rohani saya ini membuat saya merasa amazed juga terhadap kemajuan teknologi. Meski tak bisa bertemu face to face dan susah untuk mengirimi hadiah langsung via JNE atau TIKI sejenisnya, hadiah ulang tahun ternyata masih bisa dikirimkan dalam bentuk yang sangat-sangat-baru. Sangat-sangat-masa-kini. Hadiah elektronik seperti ini. Sungguh, rasanya amazed. Zaman sudah benar-benar berubah, dan saya bersyukur dalam anugerah Tuhan, masih bisa merasakan perubahan itu :”)

EFEK DOMINO


Katanya hari ini pemilu, katanya hari ini pengumuman resmi hasil pemilu. Tapi mereka mungkin tak tahu, atau tak mau tahu, atau ingin tahu tapi tak bisa tahu. Karena tidak memiliki televisi seperti kita di pondok perteduhannya. Atau mungkin, malah tak memiliki waktu juga untuk duduk sebentar sambil memperhatikan layar televisi karena harus berkeliling mencari sampah-sampah. Seperti kita juga mungkin, yang waktunya habis tercurah untuk pekerjaannya, tapi yang masih bisa mengakses berita dari mana-mana. Berbagai sosial media dan saluran youtube di smartphone atau tablet dan note kita. Akses informasi bagi kita terbuka, tak seperti mereka. Yang harus berjuang melebarkan telinga untuk mendengar. Siapa presiden kita yang baru?

Katanya hari ini pemilu, katanya hari ini pengumuman resmi hasil pemilu. Tapi mereka mungkin tak harus peduli, ketika suara mereka tak bisa mereka beri. Untuk yang nomor satu atau nomor dua. Bagaimana bisa? Ketika KTP tak punya, dan KK pun tak ada. Masalah yang biasa di antara banyak pendatang dari desa, yang ikut arus urbanisasi dan sering tersesat ketika masuk kota. Bahkan mendatangi TPS saja pun mereka tak bisa, tak berani. Mereka dipaksa menjadi apatis, meski kali ini ingin menjadi partisipan politik secara aktif.

Katanya hari ini pemilu, katanya hari ini pengumuman resmi hasil pemilu. Tapi mereka mungkin tak mau tahu, dan juga tak bisa untuk tahu. Siapa yang menang, siapa yang kalah. Bagi mereka mungkin itu tak menjadi masalah, toh hidup mereka akan tetap seperti biasa saja. Mereka enggan mempertanyakan apakah efek domino memang ada, bisa, dan mungkin terjadi bagi mereka juga. Ketika presiden berganti, merembet pada kebijakan direvolusi, merembet pada pertumbuhan ekonomi menjulang tinggi, merembet pada kemajuan dan kesejahteraan yang sah menjadi milik bangsa—apakah itu semua akan sampai berefek kepada mereka juga? Apakah mereka masih menjadi bagian dari bangsa kita?

Katanya hari ini pemilu, katanya hari ini pengumuman resmi hasil pemilu. Tapi nyatanya, mereka luput ikut bersorak dan berpesta bersama pendukung yang menang. Nyatanya mereka luput pula untuk ikut kecewa dengan pendukung yang kalah. Mereka tak sempat. Yang terpikir hanyalah satu, bagaimana bisa melanjutkan hidup setelah ini dengan mengais rejeki tak seberapa. Atau mungkin dua, semoga. Bagi mereka yang dimarginalisasi dan dieksklusi dari dunia sosial-politik serta dipaksa menjadi apatis tapi menolak untuk menjadi apatis. Mereka yang masih bisa merasakan kebimbangan mengenai efek domino dari naiknya presiden yang baru: apakah mereka akan tersentuh juga oleh yang duduk di tempat teratas di negeri kita? *



p.s. :

Aku memikirkan efek domino ini lagi di menit-menit pengumuman presiden yang baru saat ini. Presiden yang baru untuk periode 2014-2019 nanti. Setelah teringat di masa-masa awal kampanye dulu, ketika saya sedang menumpang angkot menuju rumah di depok. Seorang ibu beserta anaknya yang masih berumur sekitar 10 tahun duduk di kursi depan, di sebelah bapak supir. Mereka berdua berdiskusi sederhana tentang prabowo-hatta dan jokowi-kalla, jadi bertiga bersama si bapak supir juga. Si anak menanyakan si ibu akan memilih siapa. Si ibu menanya balik si anak ingin memilih siapa. Si anak menyebut salah satu nama. Si bapak supir mulai berkomentar singkat, “ah, siapa juga yang naik, ya saya mah tetap jadi supir angkot juga bu.” Dan saya tertegun sendiri. Curahan isi hati.

Sebenarnya jika mau dipikir, efek domino memang tak bisa benar-benar diharapkan terjadi menyentuh semua. Bukankah efek domino bekerja tergantung konteks situasi dan kondisi? Presiden naik tak berarti semua rakyat miskin bisa mengalami masalah kemiskinannya teratasi. Tapi inipun bukan berarti presiden yang telah naik tak berbuat banyak bagi masalah kemiskinan yang melilit kelompok bawah. Presiden yang naik mungkin berbuat sesuatu, atau bahkan berbuat banyak, tapi efek domino itu memang tak bisa dirasakan semua. Atau, mungkinkah ada sebuah bentuk revolusi atau evolusi baru, dimana efek domino bisa dirasakan oleh semua? *