Monday, 7 March 2016

MEREKA INI




“Badai tidak akan berdampak begitu hebat, jika kita memiliki keluarga yang tangguh mendampingi kita untuk menghadapi badai.”

                                                                                                    —Yuli

Nyaris dua tahun, saya telah bekerja di yayasan tempat saya bekerja ini. Sebuah yayasan sosial-kemanusiaan yang mengurusi masalah kemiskinan, yang menjadi tempat utama saya berusaha menggenapi panggilan spesifik Tuhan. Dua tahun sudah. Time flies. Dalam dua tahun ini, saya tidak mengatakan bahwa segala sesuatu berjalan baik-baik saja. Ada banyak tantangan dan suka-duka, yang bisa saja terkait atau tidak terkait dengan pekerjaan itu sendiri. Yang lahir menjadi badai-badai, kecil dan besar. Namun, badai-badai ini cepat berlalu. Karena saya memiliki sebuah tim yang sangat saya syukuri kepada Tuhan. Mereka ini.

Untuk kesehatiaan dan kesatuan, untuk pengertian dan dukungan, untuk kasih dan kekeluargaan, untuk keharmonisan dan ketulusan, untuk perhatian dan dorongan, untuk kekuatan baru dan inspirasi, untuk penghiburan dan ide-ide yang merekah ketika diperbincangkan bersama, untuk kebersamaan selama ini—i really thank God for them.

They are one of my reasons to stay strong to do this social works. Yes, because God gave me each of them to hold me when storm arrives. I thank God for them :)



(Cikarang, Maret 2016: 
Dalam ingatan akan Partnership Department of OBI)

Thursday, 3 March 2016

BALOK DI DALAM MATA






Ada tiga pertanyaan: Satu, mengapa manusia sulit melihat kelemahan pribadinya, apalagi mengakuinya, dan lebih cepat melihat kelemahan orang lain? Dua, mengapa manusia cenderung untuk berpikir bahwa orang lain penuh dengan kesalahan dan ia sendiri baik-baik saja? Tiga, mengapa manusia tak berhati-hati, supaya jangan jatuh pada kenyataan, jangan-jangan ia sendiri melakukan yang lebih jahat daripada orang yang ia hakimi? Atau, mungkin ada empat pertanyaan. Yang keempat, jika memang ini adalah kenyataan, untuk manusia menghakimi -- bisakah pertanyaan-pertanyaan dan asumsi-asumsi yang belum terbukti itu disimpan saja di dalam hati dan tak lahir sebagai penghakiman yang melukai mendalam? Ah, jikalau bisa, saya ingin memilih untuk berdiam diri. Dan membayangkan, sebuah dunia dimana kasih bertahta. Kasih tidak akan mengabaikan kesalahan, tetapi ia juga tidak akan menghakimi dan tidak menyudutkan pelakunya. Kasih akan memeluk mereka.