Monday, 30 June 2014

CERITA ORANG-ORANG DI BULAN JUNI



Bulan Juni. Hari terakhir. Dan aku mengingat beberapa orang-orang yang tadinya asing, namun kemudian menjadi bagian dari sekian banyak orang-orang yang kukenal. Atau, mungkin yang pernah kukenal, karena aku tidak tahu juga kapan dapat bertemu dengan mereka lagi. Kami bertemu karena kebetulan. Tanpa disengaja. Dalam situasi yang kadang tak disangka. Dan aku mensyukurinya. Setiap orang, setiap cerita. Setiap kepercayaan yang mereka berikan kepadaku.

Hari itu tanggal 20. Hari jumat yang panas dan terik. Orang bergerombol mengantri di bakti sosial yang digelar Diman dan TNI wilayah Tangerang. Di sebuah lapangan sepak bola di daerah Sepatan. Ada seorang nenek berusia lansia yang duduk sendirian menunggu antrian. Bakti sosial ini memang menyediakan layanan pengobatan umum dan gigi gratis. Dengan kamera DLSR di tanganku, yang sedang bertugas liputan dari kantor hari itu, aku menjumpai sebuah kursi kosong di sebelah kanan si nenek. Aku duduk, sambil tersenyum ramah. Beberapa detik kemudian mulai menyapa. Namanya nenek si’im. Dia nenek dari 11 orang cucu dan ibu dari 6 orang anak. Seorang janda. Tinggal sendirian dan berupaya menanggung dirinya sendiri. Tampak lusuh dan kumuh, sangat sederhana dan apa adanya. Anak-anaknya tinggal jauh, tak ada yang mengurus, tak ada yang mengirimi uang. Nenek si’im juga tak bekerja, dia hanya mengandalkan diri pada keberuntungan. Kadang terlihat seperti meminta-minta, tapi terpaksa. Dia juga meminta sedikit uang padaku, yang bingung harus berbuat apa. Tapi pada akhirnya dua lembar rupiah yang tak seberapa kujabatkan ke dalam telapak tangannya. Katanya ia perlu uang untuk makan malam hari itu. Sedikit saja. Aku masih tak habis pikir. Kenapa bisa? Dia yang sudah tua-renta harus menghadapi hidup yang keras setiap hari? Pada awalnya, aku terenyuh. Sampai akhirnya setelah berobat gratis dan mengambil obat yang juga gratis, si nenek pulang dengan becak dayung. Aku jadi meragu. Darimana uangnya? Apakah aku dibohongi? Oleh nenek berusia lewat 70 tahun dan sudah tampak renta, malah sulit bicara? Haha, aku tertawa saja. Menolong orang lain, termasuk kaum yang mengaku tak berpunya, juga adalah sebuah dilemma.

Hari itu tanggal 21. Hari sabtu sore yang cukup teduh di terminal bis kota depok. Aku baru saja sampai disana dengan menumpangi angkot biru bernomor 02. Sesampainya disana, aku langsung mencari kopaja 63 hijau yang sedang ngetem, dan masuk ke dalamnya. Masih kosong-melompong, aku penumpang pertama. Setelah aku, tak lama, naiklah dua orang perempuan—satunya berumur lansia dan satunya berumur dewasa—yang tak saling mengenal. Mereka duduk terpisah. Salah satunya, yang berusia lansia, memilih duduk di dekat pintu, tepat di depanku. Tiba-tiba, ia menyapaku untuk meminta tolong sambil mengoper ponselnya padaku. Ponsel itu sederhana sekali, merk-nya tidak ternama dan bukan smartphone. Aku diminta tolong mengirimi sms kepada putranya untuk menjemput di terminal blok M, tujuan akhir dari kopaja yang kami tumpangi. Akibat kacamata si ibu berumur lansia tumben tak terbawa. Aku dengan senang hati membantu. Sayangnya ponsel sederhana itu habis muatan baterainya dan mati total tak lama setelah aku mengetik habis sms singkat itu seturut arahan si ibu. Tak tahu juga apakah sudah sempat terkirim atau belum. Pembicaraan kami dimulai darisitu. Ternyata si ibu ini sudah jadi nenek dari sekian orang cucu, dan ibu dari dua orang anak perempuan yang sudah menikah jadi tak lagi tinggal bersamanya. Ia memang memiliki satu orang putra yang tinggal bersamanya, tapi bukan anak kandung. Kami bernostalgia ke masa lalu bersama. Ibu berusia 60 ke 70 tahun itu bernama Partini. Dia sudah menikah semenjak umurnya masih 14 tahun. Meski tubuhnya sudah terlihat rapuh dan renta, serta wajahnya mulai keriput, dia masih terlihat kuat. Tidak pikun. Sehat. Kami terus bernostalgia ke zaman dimana perjodohan oleh orang tua masih meraja, menjamur. Kisahnya seperti sinetron, tapi bukan yang murahan. Sebenarnya dia sudah saling tertarik dan menyukai dengan seorang laki-laki yang berbeda tiga tahun dengannya sebelum menikah itu, tetapi sayangnya dia terlanjur dilamar. Ibu partini memilih untuk tetap setia pada suaminya meski mereka menikah dan bersatu akibat perjodohan. Sampai suaminya meninggal lebih dulu dan meninggalkannya sebagai janda. Siapa sangka, di umur ke-24 tahun itu—sudah 10 tahun berlalu—tapi laki-laki yang dulu tertarik dan menyukainya masih menunggu. Belum menikah. Mereka akhirnya menikah. Padahal, Ibu Partini sudah punya empat orang anak—tiga orang meninggal dunia sehingga tinggallah satu. Tapi dia masih awet muda. Kami juga bernostalgia ke zaman dimana orang asing masih meraja di Indonesia, pasca kemerdekaan. Menggaji dengan tak selayaknya, ya dulu ia bekerja sebagai tukang masak atau koki jika ingin membuat istilahnya lebih keren, di sebuah restoran milik orang asing setelah nekat merantau dari jawa. Tapi siapa sangka? Dari hasil itu, dia bisa membeli rumah. Sekarang dia seorang lansia yang bebas dan berusaha menikmati hidup. Meski sederhana. Meski sendirian. Mungkin hanya dengan televisi atau para tetangga yang menjadi teman berbagi. Kadang merasa bosan, tapi tak ada pilihan. Ternyata umur lansia dan waktu beristirahat juga tak menyenangkan seperti yang disangka.

Hari itu tanggal 27. Hari jumat nyaris tengah malam. Kami bertemu di jembatan transjakarta, dan berjalan bersama menuju tujuan yang sama: stasiun cawang, jakarta timur. Sama-sama pulang kerja, dan ingin segera sampai di rumah. Mengejar kereta, pemberangkatan yang terakhir hari itu. Namanya Erna dan umurnya baru 24 tahun. Kami berselisih dua tahun. Tapi dia sudah menikah dan memiliki satu anak berusia 1,5 tahun. Wah, cepat sekali. Kami duduk lesehan bersama di dalam kereta, sambil menikmati banyak cerita. Mulai dari kerjaan, sampai transportasi. Soal perempuan dan resiko pulang selarut kami. Ya, kami juga terpaksa pulang selarut itu, sama sekali bukan disengaja. Ia kerja di sebuah parkiran di daerah grogol, gajinya lumayan. Tapi jarak dari rumahnya yang terletak di daerah Bojong Gede dan tempat kerjanya itu nyaris ditempuh dalam waktu perjalanan tiga jam. Dia malah dapat shift jaga sore ke malam terus. Padahal anaknya lagi lucu-lucunya. Suaminya sebenarnya tidak ingin dia bekerja, toh suaminya sudah bekerja. Tapi namanya ibu rumah tangga, yang tadinya biasa bekerja, gaji suami seorang diri dengan kehadiran seorang anak bayi dirasa tak mencukupi. Sayangnya kadang dia dicap bukan ibu yang baik, padahal dia pun berat untuk meninggalkan anak pertama sekaligus semata wayangnya, di rumah tanpa kehadirannya. Bersyukur masih ada ibunya yang bisa membantu menjaga. Ia juga mengeluh soal kotornya tempat kerjanya. Debu-debu dan pasir dari kendaraan yang ingin parkir. Aku bertanya apakah pegawai disana memakai masker? Katanya tidak, tidak boleh. Ia juga tidak tahu alasannya mengapa. Baru sekali ini aku tahu sedikit cerita tentang pekerja petugas penjaga parkiran. Ternyata meski gajinya lumayan, rasanya lelah. Dan prestise-nya, tak ada. Aku baru sadar kalau pekerjaan seseorang bukan hanya melulu soal gaji. Tapi juga prestise, previlege, bahkan power. Ya, power. Kalau ingin diterjemahkan secara konkrit bisa disebut jabatan. Dan ada pekerjaan dengan gaji lumayan, tapi tanpa prestise apalagi power. Yang lebih miris adalah pekerjaan dengan gaji tak layak, dan juga tanpa prestise apalagi power. Padahal peran pekerjaan mereka teramat penting. Jika mereka tak ada, mungkin keseimbangan kehidupan sosial akan terganggu mutlak. Ini sering kupikirkan—para petugas sampah dan toilet, misalkan. Pernah memikirkan?

Hari itu tanggal 28. Hari sabtu pagi dalam perjalanan menuju stasiun UI. Sebenarnya aku hanya ingin me-refund tiket yang kemarin malam aku tak sempat me-refund-nya. Lumayan kan 5 ribu rupiah? Bisa untuk ongkos juga. Aku berjalan terus menyusuri deretan toko-toko mini di kiri kanan jalan di areal yang disebut kober itu. Maklum, area mahasiswa, disana menjual berbagai macam barang. Mulai dari baju dan kaos, jam dinding dan jam tangan, tas, makanan, jajanan, buku bacaan, peralatan tulis, cilok super, nasi padang, kacamata, banyak. Tapi di ujung toko, ketika akan berbelok menuju area tanpa toko yang dulu juga penuh toko-toko yang sudah digusur demi kenyamanan dan keamanan pengguna rel kereta, dari kejauhan, ada seorang adik laki-laki duduk tanpa alas kaki. Dengan sebuah mangkuk kecil kosong dipegang salah satu tangannya. Aku terenyuh. Bukan untuk memberi uang, tapi untuk memberi sebungkus biskuit cokelat oreo miniku yang belum dimakan. Aku pantang memberi uang pada anak jalanan. Aku, sebagaimana yang dipercaya banyak pemerhati anak jalanan lainnya, percaya bahwa memberi uang bukan cara untuk menolong.  Sebaliknya, itu cara paling ampuh untuk memelihara mereka di jalan dan merusak masa depan mereka. Karena mereka diperdaya para orang dewasa sebagai boss’ mereka. Memberi biskuit atau susu lebih berguna, karena mereka bisa langsung mengkonsumsi dan lebih bergizi. Tapi karena terlalu banyak yang dipikirkan dan dihubungi (dari tablet di tangan), aku lupa. Baru ingat ketika aku sudah duduk makan di sebuah warteg langganan para mahasiswa UI di dekat kos-kosanku dulu di daerah barel. Sudah jauh sekali, dan aku sempat menyesal. Siapa sangka, ternyata aku harus balik lagi melewati jalan yang sama—karena tiba-tiba diminta datang rapat untuk sebuah acara anak-anak marginal dari sebuah NGO yang sudah cukup besar dan berumur. Ketika melihatnya dari jauh, aku tersenyum. Karena dia masih duduk disana. Sesampainya di dekatnya, aku ikut berjongkok, tepat di sebelah kanannya. Mengacuhkan orang-orang yang lalu-lalang di hadapan kami, yang melirik ke arahku bingung. Menyapa sambil bertanya siapa namanya? Namanya Dicky. Berapa umurnya? Baru 7 tahun. Apakah dia sekolah? Sekolah, tapi sekarang lagi libur. Kenapa dia mengemis disitu? Disuruh ibunya. Jawaban terakhirnya membuat aku terkejut. Katanya ibunya tak bekerja dan ayahnya seorang buruh bangunan. Aku masih belum memahami kenapa ibunya tega menyuruh anaknya mengemis di jalan. Ah, itulah kehidupan. Kata sebuah riset atau teori, tepatnya aku lupa, tapi bagi kaum tak berpunya—bagi sebagian di antara mereka tentunya, bukan semua—semakin banyak anak semakin banyak rejeki. Kenapa? Karena anak meski masih kecil disuruh ikut mengais rejeki. Mengemis. Mengamen. Menantang liarnya jalanan keras ibukota. Aku kadang berpikir, ibu mana yang tega? Seandainya aku jadi ibu, aku juga takkan tega. Iya kan? Ah. Ternyata aku salah. Ada juga ibu yang tega.

Hari itu tanggal 28. Masih hari sabtu yang sama, sebuah sore yang terik padat dan macet (maklum, besok harinya puasa hari pertama di bulan Ramadhan 2014 ini), di sebuah mall di kota depok. Aku kebelet ke toilet. Jadi aku singgah disana. Toilet ramai para perempuan yang mengantri dari segala usia. Padahal hanya dua kamar mandi. Dan hanya ada satu orang petugas kamar mandi. Namanya lilis, kalau aku tidak salah ingat. Usianya aku lupa bertanya. Tapi pembicaraan kami dimulai dari hal sederhana. Dari aku yang menanyakan ada berapa toilet di dalam mall itu, aku berpikir ingin mencari yang lebih sepi. Tapi tak jadi. Antrian di depan saja cepat habisnya. Sampai aku sudah selesai dan berdiri di depan westafel untuk membasuh tangan dengan sabun dan air. Si mba kembali menyapa. Obrolan kami singkat, hanya selama aku menyakinkan diri kalau semuanya sudah bersih dan rapi di depan kaca toilet. Tapi sangat menyentuh, bagi aku pribadi. Aku baru tahu kalau anaknya sudah dua orang, berumur 9 tahun dan 2 tahun. Jika ia bekerja seperti saat ini, keduanya ditinggal di rumah. Tanpa ada yang jelas menjaga. Kadang adiknya. Kadang tak ada. Suaminya? Mereka sudah berpisah, bercerai, semenjak ia melahirkan anak kedua. Dia menyebut pernikahannya sebagai pernikahan yang hancur, kacau. Aku jadi iba dan sedih sendiri. Karena itu dia bekerja, meski dengan pekerjaan petugas toilet. Yang harus menjaga kebersihan dari setiap kamar dan memastikan lantainya tak becek. Mengelap bagian tempat duduk dengan lap tanpa sarung tangan sama sekali. Pekerjaannya berat, menurut aku. Seperti yang sudah aku utarakan di paragraf sebelumnya. Siapa sih yang dengan sukarela mau membersihkan bekas kotoran orang lain? Tapi demi anak. Dia melakukannya demi anak-anaknya. Aku melihat sosok ibu yang tangguh di dalam dirinya. Bagaimanapun, berbahagialah para anak yang memiliki ibu yang tangguh, setangguh mba lilis.

Lima cerita. Lima pribadi. Lima kondisi. Yang berbeda-beda. Yang membagikan sebuah perenungan untuk aku, atau juga mungkin untuk kita. Akan hidup yang keras. Akan hidup yang harus bisa dikendalikan meski tampaknya tak terkendali. Akan perjuangan yang tak kenal kata menyerah. Akan kenyataan bagi mereka yang duduk di strata sosial-ekonomi menengah bawah.

Hari terakhir di bulan juni, dan aku menuliskan ini. Supaya aku tidak lupa. Kalau setiap manusia berjuang untuk bertahan hidup. Di tengah berbagai kondisi sosial-ekonomi. Tak ada yang mudah, tak ada yang sepele. Apalagi, untuk kaum yang menempati slot kelas sosial-ekonomi menengah bawah. *

p.s.:
tulisan ini terinspirasi dari tulisan salah satu teman satu jurusan satu angkatan saya di FISIP UI, yang bisa dikunjungi di www.catatanugahari.wordpress.com :)
 

Thursday, 26 June 2014

STORIES OF 18 JULY


23 hari lagi menuju tanggal 18 Juli 2014. 23 hari lagi saya akan berusia 23 tahun. Ah, saya merenung hari ini, akan jadi seperti apa hari ulang tahun saya tahun ini? Bolehkah di H-23 ini saya berekspektasi soal hari itu? Atau apa lebih baik bagi saya untuk mengingat-ingat hari ulang tahun saya di tahun-tahun kemarin?

18 Juli 2013. Yang paling istimewa adalah ketika saya mendapatkan ucapan selamat ulang tahun yang kocak penuh sticker berderet di LINE app dari adik saya yang masih di medan. Dan di hari ulang tahun saya itu, saya ingat saya memang mengkhususkan waktu untuk di rumah saja. Berdua dengan Yesus. Dengan dua buah lilin berwarna merah berbentuk angka 2. Cerita lain yang saya ingat? Ah, iya. Perayaan ulang tahun dengan tart medium hadiah teman-teman tim regenerasi PKK PO FISIP UI (rut, sania, nana, dan niar) dari BreadTalk—sekalian merayakan ulang tahun PKK (baca: kakak rohani di persekutuan kampus) saya, kak Jenny Anita Lingga yang jatuh dua hari sebelum saya, 16 Juli. Di rumah almarhum bude saya yang saya tempati bersama adik saya. Ada lagi. Kejutan dari klara puspita, adik, saudara, dan sahabat saya di sosiologi UI, bersama adiknya juga, rosi melati, di kampus FISIP UI. Sederhana, tapi sangat menyentuh. Meskipun ulang tahun saya sudah lewat seminggu. Tidak akan lupa. Dan, ucapan ulang tahun yang meski telat, dikirimkan langsung dari North America, oleh brother saya, brother dhika, yang sedang melanjutkan pendidikan S2 sekaligus S3-nya disana.

18 Juli 2012. Saya ingat waktu itu saya berulang tahun ketika saya sedang magang. Hari itu, sebelum saya berangkat ke kantor dari rumah bude saya di sunter (saya tinggal di tempat bude selama magang), di jam saat teduh saya, saya sudah pasrah jika ulang tahun hari itu tidak diisi kejutan apapun. Saya salah. Di kantor, sebelum pulang, kak Ferry Setiawan, senior yang membantu saya banyak selama magang di KKI (Koperasi Kasih Indonesia, Cilincing), tiba-tiba mengumumkan kalau saya berulang tahun. Entah dia tahu darimana, saya juga bingung. CV saya, mungkin. Tapi jadi istimewa ketika semua teman sekantor itu ikut mendoakan saya. Belum selesai, ketika menunggu pakde-bude yang sangat berbaik hati ingin menjemput, saya dikejutkan oleh telepon dari saudara-saudara sepelayanan saya di komunitas maker dari depok. Mereka menelepon lalu bareng-bareng nyanyi lagu selamat ulang tahun. Terus satu-satunya ngomong personal kasih ucapan selamat dan wishes. Sepertinya ini ide brother dhika atau kak imelda. Tapi saya sangat terharu, sungguh. Masih ada lagi. Ternyata di rumah bude, saya sudah dibeliin kue tart dari Holand Bakery oleh sepupu saya oti dan bude saya, siap ditup dengan lilin menyala di atasnya. Ditambah masakan sederhana bude untuk small party kami di rumahnya. Ah, saya terharu. Di tahun ini juga, saya ingat kalau tepat jam 00:00, sahabat-sahabat saya dari medan mengucapkan selamat ulang tahun via bbm. Ucapan itu kreatif-kreatif dikemasnya. Octhara yang paling saya ingat, mengirim rekaman suaranya sendiri menyanyi lagu selamat ulang tahun dan ucapan wishes. Lalu sahabat-sahabat cjeig yang lain mengirimi saya foto ucapan yang mereka desain dan foto sendiri. Siangnya, teman-teman sosiologi 09 saya yang mengirimi foto mereka dengan tulisan ucapan “selamat ulang tahun yuli!”. Ini yang menginisiasi anissa sekartini dan maudhy putri. Tersentuh dan terharu.

18 Juli 2011. Saya ingat hari ulang tahun saya bertepatan dengan acara explo di semarang. Sebelum tim kami berangkat, di stasiun UI, saya dapat surprise dari klara puspita dan brother dhika. Saya masih ingat dan masih menyimpan. Kadonya. Dengan kartu ucapan yang unik. Lalu, beberapa hari setelahnya, saya dan tim bersiap berangkat ke Ilo-Ilo, Philippines. Malam itu di kosan, saya dapat surprise dari eyang noto, ibu kos saya yang sudah seperti saudara sendiri. Kue tart coklat itu entah dibikin sendiri atau dibeli, tapi ada namanya. Nama saya. Jadi, kami merayakan ulang tahun saya dulu sebelum berangkat ke Philippines.

18 Juli 2010. Saya ulang tahun di rumah, home sweet home medan. Karena lagi liburan semester dua. Ulang tahun ke-19 yang sangat istimewa karena saya di rumah bersama keluarga. Dirayakan dengan makan di Resto Koki Sunda, dengan ayah ibu kedua bou dan adik saya. Sepulangnya, saya hanya minta dibeliin roti cup Breadtalk dan diberi lilin. Saya ingat ayah dan ibu saya membelikan kamera pocket lumix warna pink sebagai kado—yang membantu banget buat penelitian-penelitian saya selama kuliah di sosiologi. Anugerah. Belum selesai. Saya kemudian dikejutkan oleh sahabat-sahabat saya di cjeig, dengan kue tart brownies buatan mereka sendiri! Ini inisiatif dari Carina Etta, dan mereka memasak bareng di rumahnya carin. Katanya alasannya, “mumpung yuli lagi pulang liburan ke medan.” Terharu berat. Meskipun terlihat sangat sederhana, dan rasanya kata ibu saya terlalu manis untuk dikonsumsi orang tua—saya tidak peduli. Bagi saya itu kue tart ulang tahun paling enak seumur hidup! Karena ada cerita di baliknya. Karena itu buatan sahabat-sahabat saya semenjak SMA.

18 Juli 2009. Saya berulang tahun dengan siap-siap masuk UI hehe karena saya sudah diterima di UI bulan maret atau april, jadi ini masa persiapan berangkat hehe saya ingat waktu saya mau berangkat doa novena ke gereja katolik di hayam wuruk waktu itu, teman-teman saya datang. Dua peer group. Dari cjeig, sahabat-sahabat saya semenjak SMA. Dan, nsmsy, sahabat-sahabat saya semenjak SMP. Saya dibeliin kue tart lagi oleh nsmsy, dan saya ingat banget hadiahnya—novel. Baik dari nsmsy maupun cjeig. Dari nsmsy, saya dapat novel “orang miskin dilarang sekolah” (novel yang pernah saya bilang saya ingin beli ke mereka pas lagi di gramedia), dan dari cjeig, saya dapat novel “silent” (terjemahan, karya shusako endo). Saya masih ingat tulisan tangan mereka di halaman setelah halaman cover. Ah, jadi rindu untuk membuka-buka kembali novel-novel itu.


Dan jika ingin diurut lagi ke belakang, masih ada 18 Juli 2008. 18 Juli 2007. 18 Juli 2006. 18 Juli 2005. 18 Juli 2004, dan seterusnya sampai hari pertama kelahiran saya di dunia. 18 Juli 1991. Tapi selain karena saya tak terlalu ingat semuanya, saya juga merasa itu sudah beda masa—karena itu zaman dimana saya masih siswa sekolahan, hehe :)

Tahun ini akan ada kejutan apa? Atau, tahun ini adakah kejutan lagi? Saya sebenarnya tidak ingin berekspektasi banyak. Saya hanya berharap bisa punya waktu untuk sendirian. Pause and pondering. Berharap kado dari orang-orang terdekat dan orang-orang istimewa di sekitar? Pasti adalah. Sebenarnya ingin benda kreatif yang dibuat oleh orang-orang terdekatku sendiri. Tapi, I really don’t want to hope too much for some reasons, hehe. Dan jauh melebihi semua, sebenarnya saya ingin berharap bisa pulang ke medan dan merayakannya bersama keluarga—meski ini tampaknya mustahil. Yah, tapi saya lebih berharap akan hal ini daripada yang pertama—meski yang ini lebih terasa tak mungkin dibanding yang pertama (soal kado itu). 18 Juli 2014, I wait to enjoy you. See you soon.

Thursday, 19 June 2014

MANUSIA TIDAK SEMPURNA


Sesungguhnya ketidaksempurnaan adalah sebuah realita
Tidak bisa disanggah, ia lekat menyatu dalam kedirian
Setiap manusia
Yang katanya berdosa
Tapi yang katanya juga terus berusaha
Lepas sempurna dari dosa
Bagaimana bisa?
Bagaimana bisa sempurna?
Ketika ketidaksempurnaan adalah sebuah bagian mutlak
Dari kedirian, dari kenyataan yang membuktikan bahwa diri-tubuh, jiwa-raga
Yang kita kenakan sekarang,
Hidup
Masih hidup dalam dunia yang juga tidak sempurna
Di dalamnya, manusia tidak sempurna bertemu dengan manusia tidak sempurna
Melahirkan ketidaksempurnaan, kembali
Beranak-pinak
Terus
Menerus
Sampai akhirnya semakin penuh, semakin banyak
Semakin meluas


Ketidaksempurnaan seperti apa yang dimaksud?
Ketidaksempurnaan yang menempatkan setiap manusia dalam posisi tidak tahu diri
Ketika melihat selumbar di mata orang lain bisa
Tapi luput melihat gajah di mata sendiri
Tak terkecuali saya, atau mungkin anda yang membaca
Sepertinya tak ada batas ruang untuk terus menilai, menunjuk, mengakimi


Manusia tidak sempurna bertemu dengan
manusia tidak sempurna
Tak satupun dari mereka, kita, yang sempurna
Sayangnya, kita selalu merasa yang paling sempurna
Menyangkal kalau ketidaksempurnaan adalah
sahabat terdekat kita


Manusia tidak sempurna bertemu dengan manusia
tidak sempurna
Hidup di dalam sebentuk dunia yang tak sempurna
Menjalin interaksi dan komunikasi yang tak sempurna
Memperjuangkan hal-hal yang tak bisa diakui sebagai
yang tidak sempurna
Menunggu kesempurnaan yang tak bisa dicapai sempurna
Di tengah eksistensi kesempurnaan yang sebenarnya tak nyata
Di dalam dunia yang tidak sempurna
Yang kita huni saat ini
Masihkah kita ingin sempurna?
Masihkan kita berpura-pura sempurna?
Atau,
Masihkah kita berpikir kita yang paling sempurna, sementara
yang lain kelihatan sungguh
tidak sempurna?

Monday, 16 June 2014

FROM MY MOTHER'S WOMB



You hold the universe, You hold everyone on earth.
You hold the universe, You hold and You hold.

You made all the delicate, inner parts of my body.
And knit me together in my mother’s womb.

Thank you for making me so wonderfully complex!
Your workmanship is marvellous—how well i know it.

You watched me as i was being formed in utter seclusion.
As i was woven together in the dark of the womb.

You saw me before i’ve born.
Everyday of my life was recorded in Your book.
Every moment was laid out.
Before a single day had passed.

How precious are Your thoughts about me, Oh God.
They cannot be numbered!

I can’t even count them;
They outnumber the grains of sand!
And when i wake up in the morning,
You are still with me.


(Hillsong Kids, All I Need Is You-You Are My World, Lyrics)

***

Malam itu, sudah larut. Aku baru saja kembali pulang ke rumahku, tempat yang selalu senang kusebut sebagai home sweet home, setelah berbulan-bulan tidak pulang karena kuliah di luar kota, di pulau lain. Rumahku sudah terasa sunyi malam itu, kedua bouku—sebutan tante dalam bahasa batak—sudah tertidur di kamar di lantai atas, begitu juga adikku dan ayahku. Tapi ibuku dan aku masih terjaga. Di dalam kamarnya, aku ikut berbaring di samping ibuku, yang berbaring di tempat tidur di sebelah ayahku, yang sudah lelap. Akhirnya hanya kami berdua, aku dan ibu, larut dalam cerita itu. Cerita tentang masa lalu.

Percayakah kau kalau tidak ada yang kebetulan di dunia ini? Bukan kebetulan kau ditempatkan di tengah-tengah keluargamu sekarang, bagaimanapun keadaannya. Bukan kebetulan juga jika usiamu sekarang, mungkin masih sama dengan usiaku, yang baru 21 tahun, dan cerita hidupmu mungkin baru benar-benar dimulai setelah ini. Bukan kebetulan juga nama yang menjadi identitasmu adalah memang nama yang kau “kenakan” sekarang, entah itu serangkaian nama yang panjang atau nama yang singkat dan pendek. Tidak ada yang kebetulan, sungguh. Tidak ada yang kebetulan.

Sambil sama-sama berbaring di atas tempat tidur dan melihat ke langit-langit kamar, ibuku, di malam yang sudah larut dan sunyi itu, mengajakku kembali ke masa yang lebih dari 21 tahun lalu, ketika bahkan aku pun belum hadir di dalam kandungannya. Ketika ayah dan ibuku baru saja menikah. Ketika ibuku baru berencana untuk memberikan sebuah nama istimewa kepada calon bayi dan anaknya nanti. Sebuah nama yang mirip dengan nama seorang suster, biarawati di India, yang mengabdi untuk Tuhan kepada mereka yang termiskin dari antara para miskin. Mother Teresa. Aku masih mendengarkan cerita ibu dengan perhatian penuh, di dalam pikiran dan perasaanku—seluruh cerita mengenai panggilan hidupku yang baru sebulan-dua-bulanan lalu disingkapkan dibagikan Yang Terkasih padaku, seperti dipertegas, dikonfirmasi, sekali lagi, oleh cerita ibuku.

“Mama yakin tidak ada yang kebetulan di dunia ini,” kata ibuku. “Bahkan keinginan untuk memberikan nama itu padamu sudah muncul sebelum kamu lahir dan sebelum kamu ada di dalam kandungan mama.”

Lanjut ibuku, “Makanya ketika kamu cerita soal jawaban doamu mengenai panggilan hidupmu dari Tuhan, mama langsung teringat ini, dan mengerti. Semuanya sudah dirancang dari mulanya, bahkan sebelum kamu lahir. Sempurna. Bukankah itu seperti memang Dia yang menempatkan keinginan itu di dalam hati mama, untuk memberikanmu nama itu, Dia yang merancangkan hidupmu—hidup kita? Nama yang memantapkanmu untuk menjalani panggilan hidupmu...”

Aku tertegun. Aku ingat lagi kesemua ceritanya. Satu-persatu. Termasuk bagaimana aku memilih jurusan sosiologi sesederhana hanya karena ingin belajar masalah kemiskinan. Mazmur 139, yang beberapa hari lalu kubaca di waktu-waktu teduhku berdua dengan-Nya, ter-rhema di hatiku.


“Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku,
menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu karena kejadianku
dashyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.
Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu,
ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi,
dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah;

mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis, 

hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun daripadanya...”


Baru kali itu, aku benar-benar sadar bahwa tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua hal terjalin indah dalam satu alur, satu rangkaian. Sebuah rencana agung dari Yang Maha Kasih. Cerita-cerita yang tersusun begitu sempurna. Itulah hidup kita. Meski kadang mungkin tidak selalu cerita yang membuatmu tersenyum atau tertawa ketika menjalaninya, karena banyak air mata. Tapi pada akhirnya, kita pasti bisa mengatakan “amin” di ujung ceritanya ketika semua ceritanya selesai sempurna, tampak jelas, dan kita mengerti keseluruhan alurnya.

Aku bisa bilang apa? Bahkan kalimat “how great Thou art” pun terasa tak cukup untuk menyatakan kekaguman dan rasa terima kasih mendalam atas rancangan-Nya yang sempurna atas hidupku. Andai semua orang di muka bumi ini juga bisa menemukan dan menyadari hal yang sama. Andai semua orang di muka bumi ini juga bisa masuk ke dalam kekaguman yang sama.


Malam semakin larut. Ibuku membagikan pelukan hangatnya untukku, menutup ceritanya, meski aku masih juga asyik larut di dalam perenungan pribadiku dan di dalam seluruh cerita yang baru dibagikan ibu sebelumnya. Malam itu, aku semakin mantap untuk menjalani apa yang sudah ku pilih—yang juga sudah dipilihkan-Nya untukku. Aku bahagia karena kami sehati dalam pilihan ini, aku dan Dia. Aku senang karena kami mengingini hal yang sama. Ceritaku dan cerita-Nya ini belum selesai? Ya, belum. Tak mudah? Memang. Idealis? Harus. Dan idealisme itu harus dibangun di atas iman dan panggilan hidup daripada-Nya, Yang Terkasih. Cinta Yesus selalu cukup untuk memberi kekuatan dan semangat yang baru setiap hari, setiap langkah, setiap perjuangan, dan setiap tantangan. Ngomong-ngomong, sudahkah kau menemukan panggilan hidupmu? Sebuah alasan yang membuatmu yakin bahwa kau hidup di dunia ini untuk sebuah tujuan, untuk sebuah hal berarti, bukan hidup sekedar hidup, bukan hidup yang dilewatkan dalam kesia-siaan, bukan hidup tanpa mengerti mengenai mengenai hidup itu sendiri? Aku harap kau segera menemukannya, aku harap kau bersemangat untuk mencarinya. Aku harap Dia pun menyingkapkan rahasia itu bagimu :) (Kota Medan, Maret 2013).