Nostalgia 2009
2019 mengingatkan saya
akan 2009, sepuluh tahun yang lalu. Salah satu tahun yang sangat penting dalam milestone hidup saya selama ini. Tahun
yang penuh dengan transisi, hal-hal baru, tantangan, kenekatan
keberanian, dan proses pembelajaran. Tulisan ini saya tuliskan sebagai ruang
nostalgia, mengenang sepuluh tahun yang lalu dan hal-hal yang sudah terjadi
sepanjang perjalanannya. Ternyata, tidak sedikit. Tidak sedikit yang bisa dikenang, sambil tersenyum atau geleng-geleng kepala, merasa percaya tidak percaya.
Sosiologi FISIP UI Angkatan 2009 |
1). 2009, saya akhirnya melepas status siswa, lalu
menyemat status mahasiswa dan memulai kehidupan universitas. Kehidupan mahasiswa di universitas ternyata jauh
berbeda dari masa-masa sekolah. Tak ada lagi seragam sekolah. Tak ada jadwal
yang rutin setiap hari dari pagi sampai siang (senangnya bisa bangun siang jika
tidak ada kelas pagi dan bisa pulang cepat jika tidak ada kelas sore). Pilihan
untuk mengambil mata kuliah lebih bebas, dibandingkan mata pelajaran yang tak
boleh dilewatkan ketika sekolah. Diterima di Universitas Indonesia juga menjadi
cerita yang lain lagi. Kampus UI, yang cukup luas dengan segala kehijauan dan
fasilitasnya, pun teman-teman dan komunitas baru, membuat kehidupan mahasiswa
memiliki kesenangannya sendiri.
Ini salah satu foto bersama peer group sebelum saya berangkat merantau, ternyata saya tidak punya foto kenangan bersama keluarga sebelum berangkat merantau :") |
2). 2009, pertama kalinya saya mencoba pergi jauh dari
rumah dan menjadi anak rantau. Ini
salah satu pengalaman yang paling berharga dalam hidup. Setiap orang perlu
mencoba untuk hidup merantau, barang sekali. Pengalaman menjadi anak rantau dari
Medan ke Depok ini cukup rumit dan kompleks, penuh suka dan duka. Homesick, pun cultural shock, menjadi beberapa cerita yang saya alami di awal
pengalaman. Adaptasi tidak selalu mudah. Tapi, setelah lewat lima tahun
menjalaninya, menjadi anak rantau ternyata seru juga dan saya jadi terbiasa. Dulu, saya ingat saya merasa begitu asing di kota Depok, awal-awal kepindahan. Siapa kita sekarang, Depok menjadi salah satu kota yang paling homey bagi saya dan kebalikannya, saya malah asing berada di rumah dan kota asal sendiri.
Para Gadis Cempaka, dalam foto lama di kosan, para mahasiswa perantauan dari kota Medan |
3). 2009, pertama kalinya saya ngekos, jadi anak kosan benar-benar belajar untuk hidup mandiri dan
sendiri. Yang sebenarnya saya
lakukan dengan penuh kenekatan keberanian, demi dapat belajar di
universitas impian. Saya, yang sebelum merantau bahkan belum pernah tidur
sendirian (karena saya selalu sekamar dengan tante saya), cukup berjuang juga untuk
tinggal sendiri di sebuah kamar kosan, jauh dari rumah dan keluarga. Meski ibu
kos saya baik sekali, sudah seperti eyang sendiri (terima kasih Eyang Noto
& Pondok Cempaka Depok!), ditambah keberadaan sahabat-sahabat
sekos-seperantauan (yang telah menjadi keluarga di perantauan—lirik gadis-gadis cempaka: Citien-Chrystine, Jujus-Justice,
dan Geges-Grace), ada kalanya memang sebagai anak kos, saya harus belajar hidup
mandiri dan sendiri. Misalkan, dengan urusan beres-beres kamar atau
perkuliahan.
Salah satu foto masa SMA yang diunggah teman saya, Letari, di Facebook waktu itu, jadul tingkat dewa-dewi |
4). 2009, saya membuat akun Facebook. Ternyata, di tahun 2009 juga. Saya baru menyadari ini
setelah ada notifikasi Faceversary dari
Facebook beberapa hari lalu. Time flies. Saya
ingat, waktu itu saya masih berseragam abu-abu, merasa sangat excited dengan fitur penanda wajahnya,
yang waktu itu belum ada di Friendster. Facebook akhirnya menjadi tempat
favorit untuk menyimpan dan berbagi foto di antara teman-teman sekolah, sangat
memudahkan (bahkan foto-foto dalam tulisan ini semuanya saya dapat dengan membongkar kembali folder album akun saya di Facebook).
Salah satu foto dari loteng rumah, yang pernah saya pakai sebagai cover blog ini (saat itu masih dengan judul Live In Hope) |
5). 2009, saya mulai perjalanan saya untuk menulis di blog ini. Ya, sepuluh tahun lalu,
saya memulai blog ini dengan begitu sederhana dan apa adanya. Tanpa konsep. Tanpa
rencana. Dengan tulisan pertama yang alay sekali (haha, tapi tidak berniat saya
hapus sejauh ini biar jadi kenang-kenangan masa remaja). Sampai sekarang, saya
sudah melewati banyak proses (dan berkembang) bersama blog ini. Blog ini jadi
semacam rumah lainnya bagi saya, semacam rumah online, tempat saya berteduh dan
berbagi cerita, melalui tulisan-tulisan personal.
_________________________
Di 2019 ini, ketika
menoleh ke belakang dan bernostalgia dengan 2009, saya merasa takjub. Ternyata bisa juga saya menempuh masa-masa universitas menjadi mahasiswa di kampus impian. Ternyata
bisa juga saya nekat pergi merantau, sampai ketagihan. Ternyata bisa juga saya hidup
mandiri sendiri, sampai terasa aneh ketika saya harus kembali pulang dan tinggal bersama
keluarga. Ternyata usia akun Facebook saya sudah mencapai sepuluh tahun. Ternyata
sudah lama juga perjalanan blog saya ini. Ternyata, bisa juga saya bertahan melalui segala proses, menantang diri
menghadapi hal-hal baru, dan menikmatinya. Ternyata, waktu sepuluh tahun telah
berlalu secepat itu.
Sungguh, saya ingin memberi bintang untuk tahun itu.
Sebuah tanda istimewa. 2009.
No comments: