LET'S TALK ABOUT CHILDHOOD SUPERHEROINES!

by - March 13, 2018


Siapa bilang bahwa hanya laki-laki yang bisa menjadi pahlawan super? Tentu tidak, perempuan juga bisa menjadi pahlawan super. Namun, tak bisa disangkal bahwa pada kenyataannya, film mengenai superhero sangat-amat banyak dibandingkan dengan film superheroines. Apalagi di masa saya kecil, di era tahun 1990-an. Saya pikir ini juga sebuah bentuk ketimpangan hasil konstruksi patriarkhi: bahwa laki-laki yang akan selalu memainkan peran sebagai pelindung para perempuan, karena para perempuan tak bisa melindungi dirinya sendiri. Saat ini, di tengah gerakan kesetaraan gender yang semakin kuat, saya memang melihat film superhero tak lagi se-seksis itu. Para perempuan sudah semakin banyak ditampilkan sebagai superheroines.

Saya kira anak perempuan juga perlu dan harus diajarkan bahwa perempuan tak lebih lemah dari laki-laki dan bisa melindungi diri sendiri. Bahwa perempuan bisa melakukan apa saja, yang bisa dilakukan para laki-laki. Media memegang tugas penting dalam sosialisasi ini. Dan saya bersyukur, meski di masa saya kecil, tak banyak tokoh superheroines yang muncul bagi anak perempuan di layar televisi—saya masih jelas bisa mengingat beberapa tokoh superheroines yang sukses memberi inspirasi dan pencerahan kepada saya sebagai anak perempuan. Let’s talk about it today and have a nostalgia!


1. Sailor Moon


Siapa yang tak kenal Sailor Moon? Rata-rata anak 90-an yang senang nongkrong di depan televisi ketika masa kanak-kanak pasti tahu tentang tokoh superheroine ini. Sailor Moon berawal dari manga yang diciptakan oleh seniman Jepang, Naoko Taekuchi. Sailor Moon berkisah tentang lima gadis remaja (Usagi/Sailor Moon, Ami/Sailor Mercury, Rei/Sailor Mars, Makoto/Sailor Jupiter, dan Aino/Sailor Venus) yang mendapatkan kekuatan super dari elemen-elemen alam dan tata surya untuk melawan berbagai musuh jahat.

Apa yang paling saya suka dari Sailor Moon? Menurut saya, Sailor Moon merupakan tokoh superheroine(s) yang sangat sukses menandingi para tokoh superhero pada zamannya. Betapa banyak tokoh superhero (laki-laki) yang tayang di televisi waktu itu. Sailor Moon tampil sebagai superheroines yang mengajarkan anak-anak perempuan bahwa perempuan juga bisa menjadi pahlawan super bersama-sama dalam kesatuan atau unity (mereka satu berlima dalam satu tim, yang kemudian bertambah lebih banyak lagi, maaf saya tidak terlalu hapal, wk). Satu lagi, karena Sailor Moon, saya jadi lebih gampang menghapal nama-nama planet di tata surya, hahaha.


2. Powerpuff Girls


Kisah tiga pahlawan perempuan cilik bersaudara ini tayang di Indonesia sekitar tahun 2000-an. Powerpuff Girls diciptakan oleh cartoon creator dari Amerika Serikat, Craig McCracken, dan kemudian diproduksi menjadi serial televisi oleh Hanna Barbera dan Cartoon Network. Kisahnya cukup ringan dan kocak. Powerpuff Girls "lahir" melalui puluhan campuran kimia dan bahan kimia X, dari penemuan Profesor Utonium, yang bercita-cita menciptakan superheroines untuk membuat Townsville menjadi lebih damai tanpa gangguan penjahat. Sejak 2017, serial kartun ini juga menambahkan satu tokoh baru lagi untuk melengkapi Blossom, Buttercup, dan Bubles. She is Bliss, the first black superhero in Townsville.

Apa yang paling saya suka dari Powerpuff Girls? Keluguan dan kepolosan mereka sebagai gadis cilik, yang rasanya related banget sama usia saya saat itu. Mereka juga bertiga (sekarang jadi berempat) dan bersaudara sekeluarga, jadi bukan pahlawan tunggal tapi berjuang untuk kedamaian Townsville bersama-sama (saya tak terlalu menyenangi kisah pahlawan tunggal sebenarnya, hw). Kisahnya juga sederhana, pas dengan usia anak-anak, dengan gambar yang khas serta warna-warni cerah. Suka! Masih tayang lho di Cartoon Network.


3. Minky Momo


Meski tak seterkenal Sailor Moon, Minky Momo memiliki alur cerita yang bagus dan unik untuk menginspirasi anak-anak perempuan. Berkisah tentang Momo, anak dari Raja dan Ratu Negeri Fenarinansa, yang dikirim ke bumi dengan tugas mengembalikan mimpi dan harapan penduduk bumi. Hal itu dikarenakan sumber sihir negeri Fenarinansa berasal dari mimpi dan harapan manusia. Masalahnya, saat itu, tidak ada manusia yang mempercayai mimpi dan harapan lagi di bumi. Di bumi, Minky Momo dititipkan pada satu keluarga yang tidak punya anak dan ia mulai menolong penduduk bumi memiliki mimpi-harapan lagi dengan kemampuannya untuk berubah sebagai perempuan dewasa. Minky Momo diciptakan oleh Kunihiko Yuyama, dari Jepang, di era tahun 1990-an.

Apa yang paling saya suka dari Minky Momo? Imajinasi fantasi kartun ini yang secara implisit dan eksplisit menceritakan bahwa anak perempuan bisa menjadi apa saja ketika dewasa. Saya ingat saya selalu penasaran, di setiap episode, Momo akan berubah jadi tokoh perempuan dewasa apa dan bagaimana (berbagai pekerjaan bisa dilakukan Momo dewasa, yes). Momo juga ditemani dan dibantu oleh tiga hewan peliharaannya yang lucu-lucu: Sinobu, Mocha, dan Pipiru.


4. Cardcaptor Sakura



Apa yang paling saya suka dari Cardcaptor Sakura? Alur cerita fantasinya tentang kartu-kartu Clow Reed itu seru sekali. Senang juga dengan kostum Sakura yang selalu berubah di setiap episode menemukan-menangkap kartu-kartu, karena bantuan sahabatnya yang sangat berbakat di dunia fashion designer, Tomoyo Daidouji (yang juga selalu senang dan siap menjadi dokumenter perjuangan Sakura). Cerita fantasinya dan gambarnya yang sangat artistik tentang Sakura sebagai superheroine sangat menarik bagi anak-anak perempuan.


5. Violet Parr dari The Incredibles (Vi)


Violet Parr adalah anak sulung dari pasangan Bob Parr dan Helen Parr, dalam keluarga The Incredibles. Di awal cerita, Violet Parr atau yang akrab disapa Vi digambarkan sebagai seorang anak perempuan yang cenderung pemalu, ragu-ragu, kurang dapat bersosialisasi, dan memiliki masalah dengan kepercayaan diri, sehingga banyak menyembunyikan wajah dan dirinya di balik rambutnya yang panjang. Nyatanya, kemudian dia menemukan jati dirinya, sebagai salah satu superheroine perempuan remaja yang berkemampuan luar biasa. Invisibility, force-fields, levitations, intellect, athleticism adalah kekuatan superpower Vi. Yes, Vi bisa membuat dirinya tembus pandang, bisa membuat semacam perisai pelindung medan gaya yang tak bisa ditembus dan dihancurkan. Ia berperan besar pula untuk keselamatan keluarganya dalam kisah The Incredibles (2004). Kabar baiknya, setelah hampir 14 tahun tak mendengar kisah mereka, di tahun 2018 ini, The Incredibles 2 akan kembali tayang di bioskop, mengajak kita bernostalgia dengan cerita lanjutan baru :)

Apa yang paling saya suka dari Violet Parr? Bahwa sosok perempuan yang kelihatan tidak berdaya pada awalnya ternyata memiliki kekuatan yang sangat tidak terduga. Ia kelihatan diam-diam dan biasa saja, tapi ternyata sangat luar biasa. Saya suka bahwa Vi adalah anak sulung keluarga The Incredible dan karena itu, sebagai seorang perempuan, pun mengambil tanggung jawab atas kedua adik laki-lakinya. Perubahan dan progress karakter Vi dalam The Incredibles benar-benar memberi inspirasi bagi anak-anak perempuan untuk menemukan jati diri dan kekuatan di dalam diri mereka.


6. Tokyo Mew Mew


Sebenarnya saya tidak terlalu mengikuti Tokyo Mew Mew, tapi saya sempat tahu kisahnya dan terinspirasi juga. Tokyo Mew Mew awalnya adalah sebuah serial manga Jepang yang ditulis oleh Reiko Yoshida dan diilustrasikan oleh Mia Ikumi, lalu diterbitkan pertama kali oleh Nakayoshi di tahun 2000-an (saya dan sahabat saya, Sandiriniha, adalah pembaca setia majalah buku komik Nakayoshi dulu, hw). Tokyo Mew Mew kemudian diadaptasi menjadi anime. Tokyo Mew Mew memiliki alur cerita yang sangat menarik, karena membahas dan secara tidak langsung mengkampanyekan isu perlindungan satwa langka. Berkisah tentang lima remaja perempuan (Ichigo Momomiya, Minto Aizawa, Retasu Midorikawa, Bu-Ling Huang, dan Zakuro Fujiwara) yang terinfus dengan DNA hewan-hewan yang terancam punah, yang memberikan mereka kekuatan khusus dan memampukan mereka berubah menjadi "Mew Mew". Dipimpin oleh Ichigo Momomiya (yang terinfus DNA Iriomote Cat, salah satu kucing asli Jepang yang terancam punah), mereka berusaha melindungi bumi dan alien-alien yang ingin kembali mengklaim planet bumi.

Apa yang paling saya suka dari Tokyo Mew Mew? Bahwa para anak perempuan juga bisa menjadi superheroines yang menyelamatkan bumi, dari sudut pandang sustainabilitas alam. Isu tentang satwa langka yang diangkat benar-benar menginspirasi. Pun mereka, lagi-lagi saya sangat senang, karena berjuang bersatu dalam kelompok.


7. Super Gals!


Gals! atau Super Gals! adalah manga dan anime karya Mihona Fuji, yang terbit di akhir 1990-an ke awal tahun 2000-an. Gals! bercerita tentang Kotobuki Ran, gal (para perempuan muda yang senang mengikuti fashion trends di Jepang, kira-kira begitu, meski saya juga tidak yakin harus bagaimana membahasakannya karena definisinya memang sulit, maaf, haha) nomor satu di Shibuya Jepang yang masih duduk di bangku SMA, dan teman-temannya. Ran digambarkan sebagai sosok sanguinis yang sangat berkeinginan kuat, atletis, dan menarik perhatian. Ia adalah “pemimpin” gal di jalan-jalan Kota Shibuya. Ran sangat mencintai Shibuya dan ikut berusaha melindungi Shibuya dari orang-orang tidak bertanggung jawab.

Apa yang paling saya suka dari Super Gals? Inspirasi dari cerita tokoh-tokoh perempuannya yang sangat membumi ke kisah anak-anak remaja perempuan sehari-hari. Dengan sekolah, keluarga, main. Apalagi, saya membaca dan mengikuti kisah Gals! saat sudah menginjak usia remaja juga. Kisah persahabatan antara Ran, Miyu, dan Aya juga haru. Kebebasan dan keseruan usia remaja perempuan benar-benar tergambar jelas dalam manga dan anime ini. Favorit!


Saya tahu pasti ada kelebihan dan kekurangan dari setiap childhood superheroines yang saya sebut dalam daftar ini. Misalnya, baju yang digambarkan terlalu pendek sehingga mengobjektivikasi tubuh perempuan katanya. Namun, sekali lagi, dalam tulisan ini saya memang lebih ingin fokus kepada kenyataan bahwa superheroines dalam daftar ini telah menolong saya untuk memiliki perspektif yang baru mengenai keperempuanan. Bahwa, menjadi perempuan, bukan berarti tidak boleh menjadi superheroines. Bahwa, menjadi perempuan, bukan berarti harus selalu berlindung di balik laki-laki. Bahwa, para perempuan juga sanggup menciptakan perubahan dan perdamaian dunia. Senang rasanya bernostalgia hari ini. Thank you for all, childhood superheroines!

You May Also Like

0 comments