BERMEDIA SOSIAL & SAYANG DIRI SENDIRI

by - March 10, 2018



Saya tak pernah kebayang bahwa perkembangan social media yang berbanding lurus dengan perkembangan teknologi dan internet saat ini bisa segila saat ini. Sepuluh tahun+ lalu, di usia remaja saya, saya ingat social media baru merintis jalannya. Belum ada aplikasi chat seperti Whatsapp atau LINE, paling banter hanya Yahoo! Messenger dan BBM. Facebook dan Instagram juga belum mewabah seperti sekarang. Saya masih kenal zaman Friendster meraja saat itu. Tapi ya, begitu saja. Maksud saya, penggunanya tak sebanyak sekarang. Mungkin pun kebanyakan anak muda dan remaja. Sekarang? Setelah gadget smartphone menjadi trend yang menjangkau usia dewasa dan orang tua, sepertinya sedikit sekali orang dewasa dan orang tua yang tidak memiliki setidaknya akun Facebook.

Perkembangan ini tentu saja tak selalu baik. Memang banyak sekali sisi positifnya, seperti kemudahan akses informasi. Dalam gerakan sosial pun, social media menjadi platform yang sangat baik untuk membangun jaringan. Namun, tak bisa disangkal, perkembangan social media berpengaruh sangat signifikan terhadap kesehatan mental generasi penggunanya sekarang. Seperti dikutip dari Kompas.com, Instagram sendiri, menurut penelitian, menjadi salah satu social media yang paling buruk untuk kesehatan mental. Instagram ternyata berpotensi menimbulkan kecemasan tinggi, depresi, bullying, sampai FOMO (fear of missing out, fobia ketinggalan berita di media sosial). Saya kira ini masuk akal, karena Instagram lebih banyak bermain dengan foto dan gambar visual. Comparison, memang adalah hal yang paling berbahaya.

Secara pribadi, saya tak bisa menyangkal bahwa saya juga mengalami dampak buruk social media untuk kesehatan mental saya. Kadangkala, saya merasa sangat lelah untuk social media. Apalagi, jika sudah bertemu dengan post penuh hate comments tentang satu isu, meski bukan di halaman pribadi akun saya. Intoleransi, contohnya. Pun pembajakan privasi tanpa batas dan segala hal yang jadi selalu ditumpahkan di social media. Kasus pelakoran belakangan yang diunggah ke social media? Saya tak tahu harus berkata apalagi. Meski begitu, saya masih berpikir bahwa social media sebenarnya bisa menjadi sangat bermanfaat jika dipergunakan secara benar dan dalam batasan sehat. Apapun yang dikonsumsi berlebihan memang tidak baik. Tak terkecuali social media.

Di tulisan kali ini, hanya ingin bercerita tentang beberapa strategi ber-social media yang saya lakukan selama ini, sebagai upaya menyayangi diri sendiri. Siapatahu bisa menolong teman-teman yang membaca tulisan ini. Bagaimanapun, kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik ;)

1. Knowing your limit
Kita perlu tahu dan kenali batasan diri sendiri. Maksud saya, kita harus tahu kapan kita sudah merasa lelah atau jengah, kita harus mengenali setiap negative feelings yang muncul di dalam diri kita ketika bermedia sosial. Kenali juga apa saja yang biasanya menjadi triggers di social media, dari kelelahan, kejengahan, atau negative feelings yang muncul itu. Mungkin itu ketika membaca instagram stories dari akun tertentu? Atau ketika kita terlalu banyak membaca hate comments di halaman diskusi isu tertentu?

2. Mental health awareness, & no comparison
Karena isu ini sangat erat kaitannya dengan masalah kesehatan mental, kita perlu tahu banyak dan memiliki kesadaran tentang pentingnya kesehatan mental. Namun, saya sadar isu kesehatan mental masih jauh dari populer dan dikenal di Indonesia. Mungkin itu juga penyebab mengapa seseorang bisa sangat kecanduan social media yang sebenarnya sudah berdampak sangat buruk terhadap kesehatan mentalnya, tetapi ia tak berhenti juga. Misalkan sebenarnya kita sudah mulai terkena gangguan kecemasan awal karena dampak social media, tapi karena kita tidak tahu apa itu gangguan kecemasan dan gejalanya, kita abai saja. Karena itu, kita perlu tahu dan sadar. Pun prinsip yang terpenting dalam bermedia sosial menurut saya, no comparison. Jangan membandingkan diri kita, hidup kita, dengan orang lain. Ingat, bahwa tak semua yang dibagikan orang di social media itu adalah hal yang sebenarnya terjadi. Atau, itu hanya sebagian kecil dari diri dan hidup mereka. Sama juga halnya dengan kita.

3. Share the private things to inner circle only
Trust issue adalah salah satu masalah lainnya jika bicara tentang media sosial. Kita tidak akan pernah tahu apa yang dipikirkan orang lain ketika melihat apa yang kita unggah disana. Menilai buruk? Bisa jadi. Menghakimi? Bisa jadi. Bahkan bullying? Banyak terjadi. Karena itu, penting untuk menyadari bahwa kita perlu bijak memilah apa yang harus dan apa yang tidak harus dibagikan di media sosial. Jikalau ingin membagikan hal personal di media sosial, kita bisa menggunakan menu seperti closed friends list di Instagram Story, atau membatasi siapa saja yang bisa melihat post personal kita di media sosial. Yang terpenting, bagikan hal personal hanya pada mereka yang sudah terbukti bisa dipercaya. Mengatur agar akun kita private juga menurut saya penting jika memang kita merasa insecure dengan penilaian orang lain terhadap apa yang kita bagikan di media sosial.

4. Unfollow atau mute akun yang membuat tidak nyaman
Mengakui perasaan sendiri bahwa kita tidak nyaman tentang sesuatu ketika bermedia sosial itu penting. Mungkin ada perspektif yang tidak cocok dengan kita. Mungkin ada post dari beberapa teman yang sering menjadi triggers dari negative feelings kita. Jangan ragu untuk mengakuinya dan memilih untuk unfollow atau mute akun-akun itu. Apalagi kalau hal ini sudah terjadi berulang-ulang. Pada akhirnya, kesehatan mental sendiri adalah hal terpenting yang benar-benar harus kita beri perhatian.

5. Bermedia sosial dengan tujuan jelas
Pernah mengalami scrolling social media dan tak terasa berjam-jam sudah berlalu? Lalu ternyata ketika scroll, ada triggers yang membangkitkan negative feelings kita? Akhirnya berujung dengan acak adul perasaan dan pikiran? Kalau saya, sedang membiasakan diri untuk bermedia sosial dengan tujuan jelas. Kecuali memang sedang santai dan punya banyak waktu serta tenaga untuk scrolling, tentunya. Kalau tidak, saya biasanya hanya membuka media sosial dengan tujuan spesifik seperti : balas chat kawan, cek informasi dari official accounts tertentu, membaca berita, merileksasi pikiran dengan lihat akun menghibur, atau menggunggah sesuatu yang penting. Kita juga perlu sekali menetapkan berapa lama waktu yang harus kita gunakan sekali membuka satu app media sosial tertentu. Ini membantu kita untuk lebih efektif dan positif bermedia sosial.

6. Media sosial sebagai sarana hiburan
Daripada membiarkan media sosial memberi input serta triggers untuk segala negative feelings karena scroll acak kita, mengapa tidak memanfaatkannya untuk hal sebaliknya? Menjadikan media sosial benar-benar sebagai sarana hiburan menurut saya penting. Misalkan, saya selalu terhibur jika melihat foto dan video kucing-kucing lucu di Instagram. Kadangkala juga komik-komik strip dari talented artist. 9GAG juga salah satu yang paling menghibur dengan kontennya yang kocak gila. Atau saya tahu saya lebih nyaman dengan Twitter daripada Instagram dan Facebook, karena lebih ringkas dan lebih banyak informasi yang signifikan (tak banyak orang yang post foto selfie atau wefie, wk). Juga Pinterest, yang bisa lebih menolong saya mencari inspirasi ide kreatif untuk coping stress, misalnya. Saya pikir, kita perlu membiasakan diri untuk membuka media sosial hanya untuk membuka apps yang dirasa lebih positif dan mencari akun-akun menghibur seperti ini. Jadi semacam mood booster juga kan.

7. Mute notifications, log out atau uninstall apps
Salah satu hal yang paling sulit adalah meninggalkan kebiasaan yang sudah serta-merta mengklik apps social media ketika kita memegang smartphone. Apalagi jika notifikasi menyala dan jadi banyak serta ribut sekali. Biasanya saya memilih untuk mute notifications dan hanya menghidupkan notifikasi untuk hal-hal urgensi tertentu dari media sosial, misalkan Whatsapp group kantor atau Whatsapp group volunteer atau chatroom dari sahabat-sahabat dan orang terdekat saya saja. Jika kebiasaan untuk buka media sosial tak bisa terkendali, kita bisa membiasakan untuk log out aplikasi. Setidaknya ketika kita membukanya kemudian tanpa benar-benar sadar, kita ingat bahwa kita sedang mengurangi konsumsi media sosial saat melihat layar menunjukkan pilihan log in dan tidak langsung terhubung dengan akun kita. Jika itu juga belum cukup, mungkin cara salah satu sahabat saya bisa dicoba : uninstall apps! Misalkan, Instagram. Atau Facebook. Jadi kita akan benar-benar stop untuk tidak main media sosial tersebut, karena masih harus install app-nya lagi sebelum main. Peer kan, wk.

7. Take social media break, deactive account
Juga, jangan ragu untuk mengambil social media break jika dirasa perlu. Diskoneksi diri sendiri dari segala akun media sosial yang dimiliki untuk waktu tertentu. Satu harian misalkan, atau saya pernah juga dalam seminggu penuh. Social media break bisa benar-benar membantu kita untuk fokus live in the present. Lebih fokus dengan apa yang kelihatan mata daripada hanya sibuk di dunia maya. Lalu, kita bisa lebih banyak melakukan self-care dengan kegiatan-kegiatan positif yang kita butuhkan untuk menjaga kesehatan mental sendiri (baca buku, menulis, berenang, karaoke, memasak, atau quality time bersama orang terdekat mungkin?). Intinya, kita harus tahu kapan kita harus berhenti dan menjaga jarak sementara dengan social media. Biasanya, saya senang memilih pilihan deactive account dalam social media break. Jadi, akun media sosial kita benar-benar hilang sementara dari dunia maya. Instagram dan Facebook menyediakan pilihan ini kok. Hanya di Twitter yang harus berhati-hati jika memilih menu ini karena akun kita bisa terhapus secara permanen dalam waktu tertentu.

8. Selalu ingat, media sosial adalah tetap dunia maya, bukan nyata
Saya pernah dinasehati demikian oleh seorang kakak senior saya. Bahwa interaksi sosial di media sosial yang maya itu tak akan pernah bisa menggantikan interaksi sosial di dunia nyata. Saya memang cenderung kesal jika chat saya diabaikan dan tidak dibalas sama sekali (kecuali dalam konteks tertentu), saya berpikir itu tidak sopan. Kalau kita berbicara face to face dengan seseorang lalu tidak direspon, tentu tak sopan dong? Namun memang tidak bisa disamakan. Dunia maya berbeda. Tak semua orang, pun termasuk saya, yang selalu siaga dengan chat apps dan smartphone-nya. Ingat juga bahwa kita tidak bisa melihat kepribadian seseorang secara penuh di dunia maya. Jadi, jangan cepat berasumsi. Bagaimanapun, interaksi sosial nyata akan jauh lebih baik. Don’t expect too much on social media, my friends.

Saya terus berharap banyak orang bisa memiliki mental awareness dalam bermedia sosial dan berstrategi dalam menggunakannya. Secara khusus, anak remaja yang mungkin lebih rentan terhadap pengaruh media sosial daripada para orang dewasa. Selamat bermedia sosial dengan efektif dan positif, semuanya!

You May Also Like

0 comments