(Hanya) Satu Resolusi Saya Untuk 2019

January 02, 2019

Untuk 2019 ini, saya hanya punya satu resolusi. Satu saja cukup. Di tengah keengganan saya untuk merenung, merumuskan, dan menuliskan resolusi tahun baru, saya pikir satu resolusi ini memang sangat perlu dan sangat penting saya kejar tahun ini. Apa itu?

Photo by Jon Tyson on Unsplash

(Hanya) satu resolusi saya untuk 2019 : Lebih banyak mengambil foto & mendokumentasikan momen-momen berkesan yang dijalani, mengarsipkannya dengan baik secara personal untuk mengenang momen-momen itu, tapi lebih sedikit mempublikasikannya di media sosial.

Saya akan menjelaskan bertahap dalam tulisan (yang cukup panjang) ini, sekaligus menjadi ruang saya berefleksi. Resolusi saya berawal dari hasil pengamatan personal di masa liburan ini.


1. Berawal Dari Rasa Lelah Scrolling Timeline Media Sosial

Menjelang akhir tahun dan menyambut awal tahun baru, hal yang lumrah, media sosial sangat ramai akan segala. Foto-video liburan, foto-video natalan, foto-video tahun baruan. Timeline yang penuh dengan update orang-orang, setiap orang dengan kehidupannya masing-masing. Sesuatu yang kali ini rasanya sangat nano-nano bagi saya. Membuat saya banyak merenung dan berpikir, ketika juga (harus diakui) cukup exhausted dengan keramaian ceriwis cerita orang-orang di media online ini.

Photo by Tim Bennett on Unsplash

Bagaimana tidak? Salah satu media sosial yang masih saya buka belakangan, Facebook, memang menghubungkan saya dengan begitu banyak orang (teman, keluarga, kenalan—1.600 orang yang semuanya saya kenal) dari berbagai latar belakang. Dari yang usianya masih anak-anak seperti ponakan saya, sampai yang usianya sudah lansia seperti bou (tante) saya. Dari yang berasal dan berdomisili di Jabodetabek, sampai berbagai provinsi dan pelosok Indonesia—pun mancanegara. Dari berbagai latar belakang pendidikan, kesukaan, perhatian, pekerjaan, kesibukan. Agama, suku, kelompok. Dari segala kelompok sosial-ekonomi juga. Yang berarti segala jenis update media sosial.

Exhausted? Ya, harus diakui, kadangkala iya. Ini tidak lagi soal social comparison, seperti yang klise kita alami: kita melihat update orang lain yang waw dan membandingkannya dengan hidup sendiri yang masih terasa biasa saja. Saya sudah mulai belajar ikut merayakan momen bahagia orang lain bersama update mereka di media sosial. Tapi, ini tentang terlalu banyak informasi yang masuk ke kepala. Media sosial memiliki kemampuan untuk membuka sekat-sekat ranah privat menjadi konsumsi publik. Pun tentang mengejar viralitas. Akui saja, hampir semua orang ingin menjadi viral dan diakui eksistensinya di dunia maya saat ini.

Photo by Tyler Delgado on Unsplash

Di sisi lain, khususnya untuk update di masa-masa liburan akhir tahun ini dengan keragaman teman di media sosial, saya menemukan realita sosial yang lain lagi. Bahwa, kesenjangan sosial itu nyata. Misalkan, ketika di timeline yang sama, memperingati tahun baru yang sama, seorang kawan update foto tentang momen tahun baruannya yang mewah dan seru, sekeluarga dalam liburan di Jepang—ketika seorang kawan yang lain update foto tentang momen tahun baruannya yang sangat sederhana, di rumahnya yang sederhana, di kampungnya yang sederhana. Saya masih lega mereka sama-sama tampak bahagia di momen dan kondisinya masing-masing. Ya, defenisi kebahagiaan mah relatif ya. Tapi, kesenjangan sosial-ekonomi, tetap tak bisa disangkal kan?

Ada juga post yang lain lagi di momen natal kemarin. Di tengah timeline media sosial yang penuh foto wefie sekeluarga di depan pohon natal (salah satu jenis post yang menurut pengamatan saya nge-trend di tahun ini) atau di gereja, ada beberapa teman saya yang mempublikasi berita duka, karena kehilangan ayah atau ibunya yang meninggal (ada juga satu-dua orang yang update dengan foto yang cukup tidak nyaman bagi saya karena menampilkan kondisi gawat di ruang ICU, yang setahu saya sebenarnya tidak boleh mengambil foto disana). Maksud saya, ini cukup ekstrim berbeda: ketika di dalam momen yang sama, ada yang bisa tertawa bahagia karena berkumpul sekeluarga, ada juga yang sedang berduka karena kehilangan salah satu anggota keluarga. Keduanya, terpampang jelas, dalam timeline media sosial. Saya merasa nyes di dalam hati. Tentu saja, saya tidak menyalahkan yang update foto bahagia sekeluarga, ataupun yang update berita duka. Saya hanya jadi berpikir bahwa sangat banyak informasi momen hidup orang lain yang masuk ke dalam kepala saya. Saya senang dan sedih bersamaan bersama mereka—dilematis—rasanya terlalu penuh. Exhausted, enough.


2. Dilanjutkan Dengan Memaknai Ulang “Foto” Dalam Trend Media Sosial

Saya ingat kali pertama saya berkenalan dengan ponsel berkamera dan media sosial. Waktu itu, usia saya masih remaja, belasan tahun. Awal tahun 2000 di Indonesia. Saya, tentu saja merasa hal ini baru dan menarik. Apalagi, saya senang mendokumentasi momen untuk dikenang nanti-nanti. Sebagaimana memang awalnya kamera dan foto diciptakan untuk itu. Ponsel berkamera memudahkan. Dan media sosial? Waktu itu belum se-booming sekarang. Konsumsi komputer, (laptop), dan internet juga belum se-waw sekarang. Ya, ya, saya juga sempat se-alay itu dengan update foto selfie dengan-gaya-gak-beda-beda-amat-satu-sama-lainnya secara massal ke Friendster dan Facebook (haha, sungguh aib). Tapi saya ingat yang paling menarik dari Facebook adalah ketika ia memampukan kita mengunggah foto secara online, men-tag teman-teman kita yang ada dalam foto yang sama, dan voila! Tidak usah repot-repot lagi harus kirim via bluetooth atau bahkan copy-paste di komputer dengan pinjam-pinjaman flashdisk (maklum, belum era laptop).

Photo by Josh Rose on Unsplash

Sekarang? Saya merasa ada yang bergeser. Orang tidak lagi sekedar mendokumentasi momen, tapi juga mengejar viralitas, pencitraan baik, dan estetika konten, dengan kehadiran ponsel berkamera yang semakin canggih dan media sosial yang semakin upgraded. Tingkat ke-instagrammable-an. Tentu, bukan sesuatu yang jelek juga. Meskipun, ya, jadi lebih banyak sentuhan tambahan dalam foto yang tidak lagi se-pure seharusnya, jadi lebih artifisial. Atau kadang, jadi lebih fokus kepada membuat konten foto instagrammable, dibandingkan momennya.

Atau, beda lagi dengan adanya Instastory dan sejenisnya? Ini harus saya akui, sempat saya alami juga. Update 24-jam-kemudian-hilang yang mengejar publikasi momen real time. Nongkrong bareng kawan sepertinya tidak lengkap kalau belum di-Instastory. Baru beli baju baru sepertinya belum kece kalau belum di-Instastory. Makan makanan enak sepertinya belum kenyang kalau belum di-Instastory. Dan seterusnya. Momen sehari-hari yang biasa saja bisa jadi dipublikasi rutin semuanya—yes, ranah privat menjadi konsumsi publik. Tadinya gak harus banyak orang yang tahu pagi ini kita sarapan bubur ayam (makan bubur ayam di pagi hari itu biasa di Indonesia)—tapi gegara Instastory, supaya update kekinian sis, semua orang jadi tahu pagi ini kita sarapan bubur ayam. Menarik?

Termasuk, untuk foto-foto yang secara ethical sebenarnya bermasalah. Seperti foto ruangan ICU tadi. Atau foto kekerasan terhadap binatang yang tidak pakai filter atau warning, yang tentu membuat viewers tidak nyaman. Tanpa keterpaparan pengetahuan seputar ini, kita para netizen bisa saja mem-posting suatu foto demi update—tanpa mempertimbangkan dampak foto dan sisi ethical. Meskipun, misalkan, post teman saya yang menampilkan foto ibunya yang sedang menderita sakit dengan ventilator di ruangan ICU, sebenarnya ditujukan sebagai alat komunikasi dan informasi tentang kepergian sang ibu bagi lingkaran sosial terdekatnya—yang pasti jauh lebih gampang dan ringkas dibanding cara lainnya. Tapi, lagi-lagi, kebutuhan update dengan konten foto, memang bisa sangat tricky.

Photo by Maria Shanina on Unsplash

Dampak Instastory ke momen yang sebenarnya istimewa bagi saya bisa meresahkan. Lagi-lagi, saya alami juga. Ketemuan lagi dengan kawan yang sudah lama gak ketemu, harusnya ambil foto yang cakep untuk dokumentasi yang bisa dikenang sampai nanti-nanti—tapi demi kebutuhan update Instastory (biar kawan-kawan yang lain tahu dong, saya ketemu si XYZ), kedistraksi untuk sekedar wefie ceklik berapa kali, melihat hasilnya lumayan oke, update di Instastory, dan foto itu kemudian hanya berakhir disana selama 24 jam. Ya, kalau cukup instagrammable, mungkin bisa di-repost ke feed Instagram (sayangnya, kebutuhan angle Instastory yang portrait merupakan salah satu hal yang kurang pas untuk feed Instagram yang lebih cakep dengan post yang square). Kalau ingat, mungkin bisa di-back up di laptop atau gdrive. Kalau ingat. Sayangnya, seringkali saya lupa dan momen serta foto itu hilang berlalu begitu saja. Tidak ada lagi kenang-kenangan untuk tahun-tahun berikutnya, bahwa ketika itu, saya bertemu lagi dengan kawan lama saya si XYZ setelah sekian lama. Padahal, siapatahu saya mungkin tidak akan bertemu lagi dengan si XYZ? Siapatahu.

Saya jadi mempertanyakan kembali bagaimana saya (dan kita) memaknai foto dalam arus trend media sosial dan ponsel berkamera yang sangat menjamur saat ini? Rata-rata ponsel yang dipegang orang-orang Indonesia sekarang pasti berkamera dan punya koneksi internet, meski kualitasnya berbeda-beda. Itu berarti setiap orang juga bisa mengambil foto dan mengunggahnya ke media sosial. Termasuk yang sudah berusia lanjut dan yang masih di bawah umur sekalipun.

Photo by ANGELA FRANKLIN on Unsplash

Apakah kita hanya memaknai foto sebagai pertanda bahwa kita tidak ketinggalan zaman? Kita punya ponsel berkamera juga lho dan update foto juga lho, selepas bagaimanapun kontennya. Semacam konformitas baru dalam interaksi sosial di dunia online. Gak ada foto gak serulah. Atau kita memaknai foto sebagai simbol eksistensi (status sosial & diri) kita? Bahwa ini lagi natalan dan saya bareng keluarga bergereja disini lho, ini lagi liburan dan saya pergi ke tempat wisata bagus lho, ini weekend dan saya nongkrong bareng teman-teman lho. Tidak lagi memaknai foto sebagai dokumentasi momen berharga yang harus dikenang sampai nanti-nanti. Ya sudah, cukup 24 jam di Instastory, atau naikin ke timeline Facebook dapat likes-comments, dan sekian saja. Saya mengambil foto ini karena saya ingin mengenang momen ini. Bukan lagi itu. Sekarang, saya mengambil foto ini karena saya ingin menunjukkan pada lingkaran sosial saya mengenai momen ini.

Tentu, tidak bisa digeneralisasi semua begini. Ada juga kok yang masih hobi ngumpulin foto-foto yang oke dari hasil jepretan smartphone dan mencetaknya untuk dipajang dalam frame di rumah. Ada juga yang menggunakan fitur album foto di Facebook sebagai “ganti” album foto fisik—mengikuti trend dunia digital, dengan fungsi yang masih sama, untuk mendokumentasi-mengarsip-rapi-dan-mengenang (termasuk juga Instagram dan Instastory—meskipun tentu saja memakai platform ini untuk mengarsip punya kelemahana jika suatu saat platform tersebut bankrut atau tutup seperti Path dan Friendster). Teman saya ada juga yang benar-benar rapi menamai-mengorganisir album-album fotonya di Facebook, untuk mendokumentasi pertumbuhan anaknya sedari bayi. Tapi, kebanyakan ya, tidak seperti itu juga. Kebanyakan ya seperti saya ini, akhirnya terikut arus update kekinian media sosial dan lupa, foto adalah salah satu media untuk mengenang momen istimewa, untuk waktu yang lama.


3. Dan, Merindukan Masa Lalu, Pun Meyayangkan Masa Kini

Saya merindukan diri saya yang dulu, yang masih remaja, yang masih seingin itu untuk mendokumentasikan setiap momen yang istimewa dalam gambar supaya tidak melupakannya, mengoleksinya dalam arsip yang baik, memilih yang terbaik untuk dicetak dan dipajang dalam album foto dan frame di meja-dinding.

Photo by Laura Fuhrman on Unsplash

Ada satu hal yang paling saya sesali memang beberapa tahun belakangan ini, selain keterikutan arus update kekinian media sosial tadi: ketidakrapihan arsip dokumentasi saya. Karena foto-foto dokumentasi ini direkam oleh tablet, yang sering terlupa karena terdistraksi ini-dan-itu. Atau mungkin, karena saya tidak lagi merasa foto-foto dokumentasi ini seistimewa itu untuk diarsip rapi? Ya, karena memang diambil sekedarnya, demi kebutuhan update kekinian di Instastory saja. Sedih.

Ini belum ditambah kenyataan pahit bahwa seluruh memori tablet saya terhapus ketika pembaharuan sistem secara tidak sengaja, sekitar bulan Mei 2018. Belum diback-up & di-sinkronisasi online sama sekali. Say forever-bye untuk semua foto dokumentasi, catatan, kontak, data—ya semuanya. Begitu banyak foto bertahun belakangan yang hilang. Gegara ketidakrapihan arsip dokumentasi.

Saya merindukan mengambil foto untuk mengabadikan momen, tidak sekedar untuk pembuktian eksistensi sosial. Saya merindukan ketulusan dan kepolosan setiap gambar dalam foto-foto momen, tanpa artifisial-terlalu demi standar media sosial yang harus instagrammable. Saya merindukan mengumpulkan foto-foto dari berbagai momen hidup istimewa dan mencetaknya untuk disatukan dalam satu frame besar seperti semacam scrapbook, sebagaimana saya hobi mengumpulkan-mencetak foto-foto dalam sebuah album besar untuk masa remaja saya dulu.


4. Pertanyaan Baru : Menantang Diri, “Mengapa Memangnya Kalau Tidak Update?”

Jadi, berawal dan berproses dalam semua perenungan dan pemikiran di atas, saya memutuskan untuk menjalani (hanya) satu resolusi untuk tahun 2019 ini. Fokus, lebih banyak untuk mendokumentasikan momen dan mengambil foto untuk mengenang momen. Ditambah, lebih sedikit mempublikasikannya di media sosial. Setelah perenungan sepanjang ini, poin terakhir ini penting sekali.

Photo by Igor Miske on Unsplash

Saya ingin menantang diri, mengapa memangnya kalau tidak update di media sosial? Apakah eksistensi sosial di kancah dunia online itu sepenting itu—lebih penting dari menikmati dan menghargai momen sebagai bagian kehidupan yang perlu dirayakan, kadangkala tanpa perlu orang lain tahu? Tentu, bebas saja, jika ada orang lain yang tetap mau merayakan momennya, pun dengan update media sosial selain mendokumentasi baik untuk mengenang momen. Tapi, saya ingin menantang diri untuk mempertanyakan ulang mana yang lebih penting dan memilih untuk menjalaninya. Sambil, bergumul untuk tidak ikut-ikutan arus dengan kehilangan alasan mengapa.

Sesekali mungkin, saya akan update juga. Tapi mungkin dengan tujuan? Misalkan, memposting foto kebersamaan dengan kawan-kawan terdekat saya di feed Instagram, sebagai salah satu ungkapan apresiasi & validasi saya akan momen yang telah kami lalui-nikmati bersama. Sesekali saja. Hehe.

(Hanya) satu resolusi saya untuk 2019 : Lebih banyak mengambil foto & mendokumentasikan momen-momen berkesan yang dijalani, mengarsipkannya dengan baik secara personal untuk mengenang momen-momen itu, tapi lebih sedikit mempublikasikannya di media sosial.

Rencana Konkrit Bulanan : Mengarsip rapi foto-foto di dalam laptop dan google drive pribadi.
Tujuan Akhir : Membuat frame besar berisi kumpulan foto semacam scrapbook untuk momen-momen hidup usia 20-an tahun saya.

Jadi, selamat menjalani resolusi. Semoga saya bisa menyelesaikannya dengan baik, semoga. Welcome 2019, semoga lebih banyak momen hidup yang bisa dilalui dan dinikmati, pun didokumentasi dalam gambar-gambar foto yang akan dikoleksi.

No comments:

Powered by Blogger.