PROSES & NIKMAT APRESIASI

by - February 01, 2018


“Sometimes it’s the journey that teaches you
a lot about your destination.” – Drake


Saya menulis tulisan ini untuk mengaku, bahwa saya bukan seorang penikmat perjalanan kehidupan. Setidaknya sampai detik dimana saya mencoba menuliskan ini, saya pun masih bergumul banyak tentang menginternalisasi process-oriented itu ke dalam diri sendiri : bagaimana cara mengapresiasi dan menikmati proses, dibandingkan terlalu fokus kepada tujuan. Bagaimana untuk secara berkelanjutan dan konsisten mengatakan kepada diri sendiri dengan yakin, “yul, life is a journey, let’s enjoy every mile.” Tidak mudah ternyata, apalagi jika bertahun-tahun telah hidup sebagai seseorang yang sangat goal-oriented.

Photo by averie woodard on Unsplash
Tidak semua orang memang terbiasa mengapresiasi proses, lebih dari hasil. Tidak sedikit orang juga condong lebih goal-oriented daripada process-oriented. Tak terkecuali saya. Memiliki banyak mimpi, tujuan, keinginan – itu baik. Saya ingat mimpi saya untuk menjadi seorang novelis ketika masih berseragam putih-biru, keinginan saya untuk bisa kuliah di Universitas Indonesia dan mengambil jurusan Sosiologi demi belajar lebih banyak tentang kemiskinan, tujuan saya untuk bisa berdampak dalam upaya pengentasan kemiskinan masyarakat prasejahtera di Indonesia setelah lulus, untuk the poorest of the poor. Belakangan saya malah menambahkan mimpi baru pada daftar itu: untuk berlibur dan menginjakkan kaki menikmati keajaiban laut dan langit biru, dengan berbagai kekayaan kebudayaan di kepulauan Oceania, ditambah dengan tujuan untuk bisa berbuat sesuatu yang signifikan untuk mendukung gerakan perempuan di Indonesia, untuk menolong para perempuan yang menjadi korban sistem patriarkhi. List ini sebenarnya masih panjang sekali jika ingin dilanjutkan, sebagaimana setiap orang juga memiliki mimpinya, tujuannya, keinginannya sendiri-sendiri. Sekali lagi, saya sadar, memiliki banyak mimpi, tujuan, keinginan – itu baik.

Namun, belakangan saya menyadari bahwa terlalu fokus pada mimpi, tujuan, keinginan (baca: goals) dan luput memperhatikan dan menikmati setiap-seluruh detail proses menuju itu semua, ternyata bisa jadi berbahaya. Sangat berbahaya bahkan, bagi kesehatan mental. Ketika terlalu fokus pada goals dan luput menghargai proses, ternyata saya menghadapi ketakutan yang berlebihan untuk gagal, semacam anti-kegagalan. Selain itu, karena saya juga termasuk seorang perfeksionis, saya membuat standar terlalu tinggi bagi langkah-langkah proses pencapaian saya. Akhirnya, terlalu banyak self-blaming daripada self-appreciation, yang berpengaruh juga pada self-esteem – apalagi ketika sudah mulai membandingkan kesana-kemari. Teman-teman yang sudah menulis di berbagai media kece, aktivis-aktivis feminis yang aksinya terlihat nyata sekali, orang-orang yang awalnya mungkin tidak berorientasi penuh pada the poorest of the poor tapi akhirnya bisa menolong mereka lebih banyak dan lebih berdampak daripada saya. Saya jadi merasa diri saya tidak sebaik itu, tidak seberdaya itu, tidak sekuat itu. Sampai, merasa kurang, lemah, gagal. Padahal setiap orang memiliki (suka-duka) perjalanannya masing-masing yang tak perlu dibandingkan. Padahal saya juga masih dalam perjalanan, dan siapatahu? Perjalanannya masih begitu panjang. Saya mungkin sudah terlalu banyak menghakimi diri sendiri di awal perjalanan? Sudah terlalu kejam pada diri sendiri.

Photo by Cynthia del Río on Unsplash
Tentang menulis, misalnya. Saya selalu merasa tak sempurna. Sekalipun karya sudah berhasil dimuat di beberapa media yang concerned ke isu perempuan, saya masih merasa tulisan saya receh sekali (dan mungkin saja memang receh di mata beberapa orang). Kadangkala, di titik terendah dimana saya merasa paling demotivasi, saya bisa berhenti menulis sama sekali. Saya berhenti belajar. Saya juga tidak sepede itu untuk mempromosikan link tulisan saya, sejujurnya. Saya masih takut dengan apa kata orang, meski tidak sampai ke telinga saya. Saya tidak yakin bahwa tulisan saya bisa berdampak sesuatu bagi gerakan perempuan. Akhirnya, pencapaian yang sebenarnya sudah sangat progressive dalam perjalanan tak bisa saya apresiasi, apalagi saya nikmati, dan saya lupakan begitu saja. Seperti tidak ada harganya. Saya jadi mentok menuju destinasi karena tidak bisa menghargai proses menuju destinasi.

Belakangan, saya sadar bahwa saya lupa. Lupa caranya mengapresiasi proses. Lupa caranya merayakan pencapaian-pencapaian kecil. Lupa bahwa satu-satunya hal yang abadi di muka bumi ini adalah perubahan. Lupa mengingat bahwa di dalam hidup ini, siapapun itu dan apapun itu akan terus berproses. Hal kecil mengawali hal besar. Kegagalan mengawali keberhasilan. Hal receh mengawali hal yang lebih lembaran (hahaha #apasih). Termasuk juga soal pembentukan karakter pribadi. Manusia berubah. Tak apa jika pernah salah atau tidak bijaksana, selama kita belajar dari semua.

Saya juga lupa mengapresiasi kegagalan, atau kekurangan, lupa melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Lupa bahwa dunia tak boleh dilihat senaif itu, sehitam-putih itu, bahwa hitam selalu terpisah dari putih. Sebaliknya, seperti filosofi Yin dan Yang, hitam dan putih diciptakan untuk saling melengkapi – saling berhubungan dan saling membangun satu sama lain. Dalam refleksi saya, sama seperti kegagalan dan keberhasilan. Kegagalan tak selalu jadi kisah sedih. Kegagalan juga bisa bercerita tentang banyak kisah, yang mungkin bisa mengantar kita juga kepada keberhasilan di depan. Saya lupa belajar menerima kegagalan sebagai bagian kehidupan yang memang penuh dengan percobaan. Sama juga seperti menang dan kalah. Sama juga seperti kekurangan dan kelebihan. Sama juga seperti kesalahan dan kebenaran. Ternyata, paradoksnya, buruk dan baik bisa jadi bersaudara. Kegagalan mungkin tidak perlu ditakuti, kegagalan kadangkala mungkin perlu dirayakan.

Saya tahu saya perlu belajar mengapresiasi dan menikmati proses menuju destinasi. Karena, nikmat apresiasi itu juga salah satu bagian dari cara saya mencintai diri sendiri (self-love). Sekian lama, saya kejam pada diri sendiri – dan itu tidak benar. Saya perlu harus berbaik hati pada diri sendiri, karena kedirian itulah satu-satunya teman seperjalanan saya yang paling setia dan selalu ada di samping saya.

Photo by Livin4wheel on Unsplash
Dalam refleksi saya, mengapresiasi dan menikmati proses bisa dimulai dengan acceptance, penerimaan terhadap setiap detail proses yang terjadi. Baik atau buruk, susah atau senang, berhasil atau gagal, sebagai bagian dari perjalanan kehidupan. Juga penerimaan terhadap diri sendiri, sebagai individu yang unik dan penuh dengan kelemahan-sekaligus-kelebihan yang seharusnya diterima tanpa penghakiman, apa adanya. Tidak apa-apa, itu kedirian yang paling otentik yang saya punya, penuh kejujuran dan bukan kepalsuan. Tidak lupa bahwa langkah besar dimulai dari langkah kecil, saya perlu menjadi realistis. Merayakan pencapaian-pencapaian, yang terkecil sekalipun, penting untuk self-esteem dan self-appreciation. Tidak menghakimi diri sendiri ketika tidak berhasil, sebaliknya, memeluk diri sendiri sebagai seorang kawan yang menyemangati dan mendukung sepenuh hati. Berikan pujian pada diri sendiri yang sudah berproses sejauh ini. Beristirahat jika lelah di tengah perjalanan, supaya tidak menyerah dan tidak lupa melanjutkan perjalanan. Wah, peer saya banyak sekali.

Pada akhirnya, saya sadar penuh bahwa saya tidak bisa mengendalikan hasil destinasi (goals). Goals tetap sesuatu yang tidak bisa 100% dipastikan, selalu mengandung sifat unpredictable. Saya hanya bisa do my best dalam proses, proses lebih bisa dikendalikan daripada hasil destinasi (meski kadangkala, tidak juga sih haha, ya udah, nikmati aja yul). Tapi, setidaknya, seperti pencerahan yang saya dapat dari www.nerdycreator.com, semisal kita bercita-cita mau menerbitkan dan menjual x buah buku yang kita tulis – kita harus mengakui bahwa tujuan dan cita-cita itu tidak bisa sepenuhnya kita kontrol (ya, kita bisa menyusun strategi marketing, berjejaring, dst – tapi masih tetap ada faktor unpredictable disana). Yang bisa kita lakukan, menurut www.nerdycreator.com, adalah menyusun daily-non-negotiable-goal to keep us accountable, seperti menulis tiga jam setiap hari atau menulis satu halaman setiap hari. Jadi, dalam setahun, kita sudah menyelesaikan sebuah buku berjumlah 365 halaman. Saya juga ingin seperti itu. Mungkin bukan soal menulis atau menerbitkan buku atau novel (karena sejujurnya, cita-cita itu sudah lama terlupa dan terganti, setidaknya untuk saat ini), tapi soal berkontribusi bagi gerakan perempuan di Indonesia, misalnya. Mengukur kontribusi bukan hal mudah dan tentu saja sangat unpredictable. Yang bisa saya lakukan sebagai gantinya, adalah set a non-negotiable-goal tadi itu : menulis dan mempublikasi minimal satu tulisan setiap minggu di blog saya ini, atau mengirimkan satu tulisan ke media perempuan sebulan sekali, atau displin belajar gerakan feminisme lebih mendalam dan terjadwal, misalnya. Dalam semua non-negotiable-goals ini, saya belajar fokus pada proses, tak sekedar hasil destinasi. Belajar mengapresiasi dan menikmati proses.

Proses perjalanan yang panjang, dan tak mudah, seringkali juga menjadi kenangan cerita yang indah bagi sebuah hasil destinasi yang sudah berhasil dicapai. Iya kan? Atau jangan-jangan, proses perjalanan malah menuntun kita untuk lebih terbuka melihat destinasi yang berbeda, yang lebih baik atau lebih seru dari yang sebelumnya? Bisa saja. Nikmat apresiasi dari proses, siapa tahu?



p.s. :
Selamat terus belajar mengapresiasi dan menikmati proses perjalanan kehidupan, dear self. You did a very good job so far, and I am proud of you. Life is a journey yuli, let's enjoy every mile! :)

You May Also Like

0 comments