5 HEART-TOUCHING MOVIES YOU MUST WATCH SOON

by - February 18, 2018


Penyuka genre film yang bertutur tentang real life (kehidupan nyata)? Senang dengan perasaan terinspirasi dan tercerahkan setelah menonton film bergenre real life ini? Kalau begitu kita satu selera. Saya juga. Pas sekali. Di tulisan kali ini, saya ingin berbagi cerita tentang 5 heart-touching movies yang belakangan baru saya tonton. Sebelumnya, maaf, tulisan ini sedikit mengandung spoiler. Sedikit saja kok, sedikit, tidak banyak-banyak, wk. Bagi penyuka genre real life atau heart-touching movies seperti saya, lima judul film ini sangat-amat saya rekomendasikan untuk ditonton ;)


1. To The Bone (2017)


Sebelumnya, saya tak pernah tahu bagaimana perjuangan hidup yang harus dihadapi teman-teman penderita eating disorder (anorexia/bulemia). Namun, To The Bone (2017) menolong saya untuk mencoba memahami. Film ini bercerita tentang seorang perempuan berusia 20-an bernama Ellen, yang mengikuti unconventional theraphy dari seorang dokter untuk menyembuhkan penyakit anorexia di sebuah rumah bersama enam pasien lainnya.

Fave scene : Pergeseran klimaks yang begitu cepat, yang saya kira sangat mungkin terjadi di dunia nyata. Ketika kondisi Ellen sudah jauh lebih baik setelah terapi, termasuk karena bantuan Luke (salah satu pasien laki-laki penderita anorexia) dan pesta baby shower untuk calon bayi Megan (salah satu pasien perempuan penderita bulemia) yang berhasil melalui usia 3 bulan, tiba-tiba terjadi kondisi tidak terduga. Megan keguguran, diduga akibat memuntahkan makanannya terlalu keras. Di saat sama, Ellen pun mengalami konflik internal dan relasional dengan Luke dan Dr. William Beckham. Ups-downs in life, memang datang dan pergi seperti dan secepat roller coaster.

Insight : Dari To The Bone (2017), saya baru tahu bahwa seorang penderita anorexia bisa sangat bergumul dengan berat hanya untuk makan sesuatu, karena hitung-hitungan kalori tak bisa diacuhkan begitu saja. Bahkan, meski makanan itu termasuk makanan yang sangat-sangat disukai dan diingini. Sungguh tidak mudah menghadapi penyakit seperti anorexia, pun bulemia yang cenderung akan memuntahkan semua makanan yang sudah dimakan karena rasa bersalah setelah makan. Meja makan bisa menjadi tempat paling menyiksa. Saya sangat berharap bahwa teman-teman penderita eating disorder bisa terus mendapatkan segala dukungan dan semangat yang dibutuhkan, dari internal dan eksternal, untuk melewati masa-masa sulit.


2. Spirits’ Homecoming (2016)


Sulit untuk tidak menangis sepanjang menonton film ini. Isu yang diangkat memang benar-benar menyayat-nyayat hati. Ya, film ini mengisahkan tentang penderitaan para jugun ianfu, para perempuan yang menjadi korban perbudakan seksual zaman penjajahan Jepang, khususnya di Korea Selatan. Para perempuan ini diambil paksa dari keluarga mereka dan kebanyakan masih di bawah umur (14-16 tahun), lalu ditempatkan di semacam rumah pelacuran di dekat daerah perang Jepang, untuk memuaskan nafsu para tentaranya.

Secara khusus, Spirit's Homecoming (2016) bercerita tentang persahabatan dua perempuan remaja yang dipaksa menjadi jugun ianfu, Jung-Min (14) dan Young-Hee (16). Setelah sekian lama menjadi korban perbudakan seksual, kedua perempuan remaja ini akhirnya mendapat kesempatan untuk kabur dan pulang ke Korea Selatan, setelah Jepang kalah perang. Sayangnya, hanya Young-Hee yang berhasil pulang. Jung-Min tertembak dalam perjalanan, karena menyelamatkan Young-Hee. Young-Hee hidup sampai tua, sampai puluhan tahun kemudian. Namun, pengalaman traumatis perbudakan seksual dan ingatan akan akan Jung-Min tidak pernah terhapus dari ingatannya. Mengetahui usianya tak lama lagi, Young-Hee melakukan upacara pemanggilan arwah untuk memanggil pulang Jung-Min dan semua korban perang dan perbudakan seksual Jepang di tahun 1940-an itu.

Fave scene : Ketika semua arwah korban perang dan perbudakan seksual Jepang dari Korea Selatan pulang kembali ke tanah kelahiran, ke Korea Selatan. Termasuk Jung-Min, yang akhirnya dapat kembali pulang ke rumah dan keluarganya. Setelah sekian lama, setelah sekian puluh tahun berlalu. Haru.

Insight : Begitu banyak hal tentang penderitaan perbudakan seksual yang dialami para jugun ianfu yang diceritakan detail dalam Spirits' Homecoming (2016). Termasuk kenyataan sejarah bahwa kebanyakan dari para jugun ianfu, tak hanya dari Korea tapi dari banyak negara lain yang dijajah Jepang termasuk Indonesia, tidak pernah pulang. Tak sedikit pula jugun ianfu yang mati dibunuh ketika tak lagi produktif atau dianggap berguna. Benar-benar dianggap bukan manusia. Perbudakan seksual merupakan salah satu kejahatan yang paling kejam menggurat sejarah penjajahan.


3. A Dog’s Purpose (2017)


Pencinta binatang, khususnya anjing? Siap-siap baper menonton film ini. Seperti judulnya, A Dog's Purpose (2017) memang mempertanyakan mengenai makna hidup seekor anjing, oleh seekor anjing. Untuk mencari makna hidup ini, anjing ini harus melewati beberapa kehidupan (semacam reinkarnasi kembali, tetapi menjadi anjing yang berbeda jenis), juga pemilik. Di setiap kehidupan, ada cerita yang haru tentang perenungan kehidupan seekor anjing dituturkan oleh A Dog’s Purpose (2017). Mulai dari jadi anjing di penampungan, anjing polisi, anjing mahasiswi, sampai anjing yang tak begitu diperhatikan oleh majikannya sendiri.

Fave scene : Ketika Ethan-yang-sudah-tua akhirnya percaya bahwa anjingnya, Buddy, adalah juga anjingnya, Bailey, di masa kecil. Nostalgia!

Insight : Anjing atau binatang peliharaan nyatanya adalah salah satu the best companion in life. Itu kenapa orang-orang yang memiliki binatang peliharaan akan merasa lebih tidak kesepian dibanding yang tidak memiliki binatang peliharaan. Anjing, atau binatang peliharaan, memang bisa menjalin ikatan yang sangat kuat dengan pemiliknya. Loyalitas itu, terbukti sampai mati. Meski, saya tetap lebih memilih kucing, daripada anjing, wk.


4. Those Left Behind (2017)


Kehilangan seseorang yang dikasihi karena bunuh diri bukanlah pengalaman yang mudah untuk dihadapi. Penyintas kehilangan bunuh diri, biasanya adalah keluarga dan teman-teman terdekat. Those Left Behind (2017) menceritakan kisah ini, bagaimana sebuah keluarga, berjuang melalui duka pasca kehilangan anak-dan-adik yang dikasihi yang meninggal karena bunuh diri, setelah mengalami masalah kesehatan mental yang serius – bahkan setelah 25 tahun kejadian itu telah berlalu.

Fave scene : Ketika Shelly pulang ke rumah dan menelusuri kembali ingatan-ingatan masa lalunya tentang Noah, adik semata wayangnya. Masalah mental yang dialami Noah memang tak mudah untuk diatasi, bahkan oleh Noah sendiri. Namun Shelly, sudah berusaha semampunya untuk menjadi sumber kekuatan dan dukungan Noah yang kerap putus asa atas hidupnya.

Insight : Those Left Behind (2017) sangat menolong saya untuk mulai memahami bagaimana duka yang harus dihadapi keluarga penyintas kehilangan bunuh diri. Jelas, duka itu sangat berat. Tak jarang rasa bersalah muncul bersama penyesalan dan pengandaian. Karena itu, para keluarga penyintas kehilangan bunuh diri juga merupakan salah satu kelompok yang sangat membutuhkan intervensi pertolongan untuk melalui duka dalam kajian suicidologi.


5. The Eagle Huntress (2016)


Sungguh saya baru tahu bahwa suku nomaden di Mongolia memiliki budaya yang sangat unik dan menarik, yaitu budaya berburu bersama elang. Mereka akan mengambil anak elang dari sarangnya di gunung yang curam untuk dibawa pulang dan diajari berburu bersama, khususnya di musim dingin. Tapi perburuan ini tidak berlangsung selamanya. Setelah tujuh tahun berburu bersama, para eagle hunters wajib melepaskan elangnya ke alam bebas kembali, untuk mempertahankan keberlanjutan populasi. Nah, biasanya, pekerjaan dan budaya ini dilakukan dan dilanjutkan oleh para laki-laki. Namun, ternyata ada perempuan yang memiliki minat dan bakat untuk menjadi eagle huntress dan mendobrak batas-batas bias gender dalam masyarakat setempat. The Eagle Huntress (2016) menceritakan kisah ini dalam bentuk film dokumenter, yang sangat menyentuh.

The Eagle Huntress (2016) fokus bercerita tentang kisah Aisholpan, seorang anak perempuan berusia 13 tahun, mencoba menjadi pemburu elang perempuan pertama di sukunya. Meski tak lazim untuk budaya setempat, dengan dukungan ayah juga kakeknya, ia akhirnya berhasil menjadi salah satu eagle huntress yang diakui (sampai memenangkan penghargaan).

Fave scene : Ketika elang Aisholpan berhasil menangkap buruannya yang pertama di musim dingin, setelah serangkaian kesulitan yang harus dihadapi. Aisholpan benar-benar menunjukkan rasa sayang yang tulus terhadap elangnya. Ia bertanya kuatir sambil mengelus-elus bulu elangnya, “apakah rubah itu menggigit kakimu?” Lalu, memuji elangnya, berbicara akrab seperti kepada kawan sendiri. Heart-touching!

Insight : Memelihara elang dan berburu bersama elang? Tak pernah terpikir. Tapi itu yang percis dilakukan suku nomaden di Mongolia. Selama ini, saya mengira elang adalah salah satu burung karnivora yang rada-rada menakutkan. Setelah menonton The Eagle Huntress (2016), ternyata tidak juga. Elang juga bersuara cit-cit-cit seperti anak ayam, wk. Dari The Eagle Huntress (2016), saya juga belajar melihat kehidupan suku nomaden di Mongolia yang berbeda sekali dengan apa yang saya temui sehari-hari. Mulai dari bangunan rumah, makanan, topografi wilayah domisili, sampai cara bertahan hidup yang sangat luar biasa di tengah musim dingin penuh es di pegunungan. Menarik!

You May Also Like

0 comments