IMAJINASI RUANG PAUSE

by - February 16, 2018


A Photo by dr. Carla Riupassa, Nias Island - North Sumatera

©    Saya masuk ke sebuah ruangan dengan posisi berjalan mundur, menutup kedua pintu, pun menguncinya, rapat. Terus berjalan mundur sampai duduk di pinggir tempat tidur yang berada di tengah-tengahnya, menarik dan menghela nafas dengan ritme perlahan, lalu menutup mata. Semua jendela (ya, ruangan itu memiliki begitu banyak jendela) tertutup bersamaan, serentak seirama. Ruangan itu sekarang tertutup sepenuhnya. Saya merasa aman, nyaman. Tersembunyi dan terlindungi. Ketika saya membuka mata kembali, semua jendela dan pintu masih rapat tertutup. Tersenyum, puas, saya bangkit dari tempat tidur dan berjalan menjauhi pintu masuk, berjalan lurus ke sisi lain ruangan di seberang pintu. Saat itu seketika, di depan saya tercipta sebuah hutan hijau luas dengan langit biru dan suasana sejuk yang tenang. Begitu alami. Hanya ada saya di dalam semuanya. Saya masuk melangkah ke dalamnya. Meninggalkan keributan di belakang, di luar pintu, di luar ruangan itu, dan menyambut bagian terbaik dari waktu sendirian saya. Imajinasi ketika sekeliling rasanya ribut sekali dan saya benar-benar perlu sejenak menarik diri.

©    Saya sedang duduk di atas sebuah ayunan kayu di bawah pohon hijau rindang, dengan bentangan bukit hijau dan padang rumput di sekitarnya. Saya mengayun, santai dan bahagia. Angin berhembus lembut, menerpa wajah dan rambut. Saya tersenyum. Membuka mata dan melihat warna hijau yang menenangkan di sekeliling saya, hijau dan segar sejauh mata dapat memandang. Bunga warna putih dan kuning ikut menghias di beberapa selanya. Tampak seperti lukisan yang sangat luas bagi saya, meski sederhana. Saya terus mengayun, menikmati angin dan gerakan sendiri. Menikmati sentuhan rerumputan di kaki. Hanya ada saya disana, di tengah-tengah segala, sendiri dan bahagia. Imajinasi ketika situasi yang dihadapi terasa terlalu complicated dan saya perlu mensimplifikasi.

©     Saya sedang berada di sebuah taman gantung di lantai paling atas gedung yang paling tinggi di kota itu, sendiri. Dari ketinggian itu, angin berdesir cukup kuat tapi pandangan saya tetap. Menangkap lanskap luas menakjubkan di hadapan saya. Dengan rumah-rumah dan gedung-gedung. Yang berderet menyusun diri melengkapi satu sama lain, menciptakan harmoni perkotaan yang sulit dijelaskan. Di atasnya, langit memadu biru dan putih menjadi satu. Begitu luas, tak terbatasi apapun. Saya menarik nafas dan menghembuskannya kembali perlahan, penuh kelegaan. Melihat semuanya ini membuat saya merasa begitu bebas, begitu luas, begitu lega. Imajinasi ketika overthinking menyiksa dan saya perlu melebarkan-meluaskan persepsi.

©    Saya sedang berdiri di pinggir pantai yang sepi orang. Hari masih pagi, matahari sudah menggantung tapi belum terlalu panas terasa. Butiran pasir hangat yang kering menyentuh lembut di kaki saya yang telanjang. Saya memandang jauh ke depan. Di depan saya, lautan luas terpampang jelas. Biru dan jernih, namun semakin jauh semakin pekat tak terselami. Gradasi warnanya seperti keajaiban, dengan semburat hijau toska di tengah-tengah. Ombak menggulung bersama angin, terus-menerus, berganti-gantian berbalas-balasan menciptakan gelungan-gelungan kecil dengan suara hempasan yang khas kehidupan pinggir lautan. Beberapa burung yang tak saya kenal jenisnya terbang di atasnya. Memberi guratan lukis lain di langit pagi yang biru sebiru lautan yang tenang. Garis bundar yang menjadi batas pertemuan langit dan laut di ujung pandangan membuat saya terpana. Saya mengangkat sedikit kepala dan menikmati segala. Aroma laut akrab memenuhi indera, bersama desir ombak yang bersuara lembut di telinga dan pasir yang memeluk hangat kaki saya. Saya merentangkan tangan dan menyatukannya di udara. Rasanya begitu cerah. Laut dan langit biru selalu menakjubkan dan mengherankan saya, pun menghibur dan menyapa. Imajinasi ketika rasanya penat dan penuh sekali dan saya perlu sejenak menenangkan diri dalam relaksasi.

Ada kalanya kita butuh masuk ke ruang pause. Saat rasanya ribut, penuh, atau rumit sekali. Saat rasanya kita exhausted dan burned out. Di ruang pause, kita mengambil waktu untuk menarik-menghela nafas. Di ruang pause, kita mengambil waktu untuk menjedakan diri. Dari penat, ribut, atau rumit yang hura-hara di eksternal diri. Di ruang pause, kita melakukan netralisasi. Ruang pause adalah cara kita untuk memfilterisasi diri. Dan saya melakukan ini.

Imajinasi-imajinasi ini semacam bagian dari cara mindfulness yang saya ciptakan sendiri dan sangat membantu saya. Membayangkan sesuatu yang membuatmu tenang, santai, atau bahagia, benar-benar menolong di masa-masa sulit kehidupan. Tak peduli dimana, tak peduli kapan, imajinasi bisa menolong menenangkan diri. Langit dan lautan, ketinggian dan kesendirian, bagi saya, adalah bagian terbaik dari itu semua.

Ada kalanya saya memadukan semuanya. Kita tak selalu harus sekaku itu juga untuk menetapkan satu imajinasi khusus untuk satu kondisi. Yang terpenting imajinasi bisa sepenuhnya menolong menjernihkan diri, menjadi cara unik untuk kita mencintai dan merawat diri sendiri.

Jadi, apa imajinasimu yang bisa membantu di saat-saat kau butuh? :)

You May Also Like

0 comments