Refleksi: Sebuah Cerita Tentang Bejana Tanah Liat

September 03, 2016


Dalam bejana-bejana tanah liat itu, sebuah panggilan bertunas. Sang Penanam tidak menanamnya di dalam sebuah bejana yang terlalu indah, atau terlalu sempurna—Ia memilih bejana tanah liat, yang bisa pecah dan yang rentan. Yang bisa tergores atau terluka. Tentu dengan sebuah maksud istimewa.

Dalam bejana-bejana tanah liat itu, sebuah pesan terkandung seperti harta. Sang Pemilik Pesan tak memilih bejana seperti sepatu kaca yang tampak begitu cemerlang, atau bejana penuh berlian berkilauan—Ia memilih bejana tanah liat, yang terlihat apa adanya. Lugu dan polos. Biasa saja. Yang tanpa pesan itu, tak menimbulkan kesan apa-apa. Tapi justru dengan pesan itu sebagai harta, menjadi sangat berharga.

Dalam bejana-bejana tanah liat itu, kasih dituangkan seperti air tercurah. Sang Penuang tak memilih bejana yang terlalu besar—Ia memilih bejana yang kecil sengaja agar kasih itu bisa tumpah, meluap mengairi sekitarnya. Bukan bejana besar yang menampung kasih itu sendiri di dalam diri. Bukan bejana besar yang tak ingin berbagi.

Sang Penanam, Pemilik Pesan, dan Penuang itu memilih dan membentuk bejana-bejana tanah liat, juga seperti seorang Penjunan yang ahli. Setiap bejana tanah liat diciptakan dengan telapak tangan-Nya sendiri. Bejana tanah liat yang diukir menjadi indah dengan cara-Nya. Bejana tanah liat yang disempurnakan seturut kehendak-Nya. Dan jika bejana itu rusak? Ia mengulang mengerjakannya agar bejana itu siap kembali. Untuk menunaskan sebuah panggilan, untuk mengandung sebuah pesan, untuk menampung dan mengalirkan kasih yang tumpah. Sang Penjunan memastikan: Tak ada bejana yang tak bisa diperbaiki. Tak ada bejana yang dibiarkan rusak selamanya. Tak ada yang bejana yang tak menuntaskan tugasnya.

Bejana-bejana tanah liat dipilih untuk sebuah maksud istimewa. Untuk membuktikan kekuatan yang lebih besar dari kekuatan manusia. Untuk menumbuhkan rasa percaya. Untuk menghindari keangkuhan. Untuk menjadi sebuah media dan sarana, dari sebuah rencana. Agar pesan yang lebih indah dari bejana, bisa dilihat, didengar, dan dipahami, dengan fokus yang tidak salah tujuannya.




p.s. :

But we have this treasure in jars of clay to show that this all-surpassing power is from God and not from us. Yes, if you only look at us, you might well miss the brightness. We carry this precious Message around in the unadorned clay pots of our ordinary lives. That’s to prevent anyone from confusing God’s incomparable power with us. (Reference: 2 Corinthians 4:7 NIV & MSG, penekanan ditambahkan).

(Sebuah Pelajaran Setelah Kebingungan:
Pulau Nias, Sumatera Utara, 3 September 2016)

No comments:

Powered by Blogger.