Friday, 30 June 2017

BAGAIMANA SEANDAINYA BESOK TAK LEBIH BAIK DARI HARI INI?


Bagaimana seandainya besok tidak akan lebih baik daripada hari ini?

Bagaimana seandainya penderitaan, beban, kesulitan, kelelahan, ketidaknyamanan, kesusahan yang kita rasakan menekan secara manusiawi hari ini tidak akan menjadi lebih mudah, namun justru menjadi lebih sulit untuk dijalani, di esok hari?

Bagaimana seandainya besok hari tidak membawa perubahan yang meringankan beban di pundak dan di hati – namun justru membuatnya bertambah berat memberatkan diri?

Bagaimana seandainya Tuhan memilih dan memutuskan untuk tidak mengangkat atau tidak mengakhiri segala beban dan penderitaan yang terjadi dan kita alami hari ini di esok hari?


* * *


Pelajaran penderitaan memang tak populer dan jikalau bisa cenderung dihindari.

Saya sadar bahwa mungkin gereja kurang mengajar realita jalan salib dan resiko penderitaan akhir-akhir ini. Atau, mengajar, tetapi kurang holistik dan kurang realistis untuk diresapi? Mungkin, sedikit-banyak itupun berdampak pada (perspektif) iman kita. Banyak kali kita diajar bahwa Tuhan dapat mengubah impossible menjadi possible, derita menjadi sukacita. Kita berdoa untuk itu. Kita klaim hal-hal derita yang ingin kita ubah itu dalam iman. Namun, kita mungkin luput menanyakan kehendak-Nya, rencana-Nya. He is always able to turn the impossible into the possible – but, my friend, we must realize that He will not always do it. Everything depends on His plans, His desire – not ours. Jadi, jika Dia tidak (berkehendak) mengubah impossible menjadi possible, derita jadi sukacita, di hidup kita, bagaimana? Apakah kita siap menerima? Apakah kita masih percaya? Apakah kita sebenarnya beriman dalam rencana-Nya atau rencana kita?

Belakangan, saya kerap mempertanyakan semua pertanyaan ini untuk diri sendiri.


* * *


Memang, tidak ada pelajaran penderitaan yang mudah untuk dilalui.

Saya menuliskan ini dengan tekad untuk bersikap jujur terhadap diri sendiri. Saya tidak mau berfokus membahas lagi bahwa mungkin Tuhan memilih dan memutuskan untuk mengizinkan penderitaan dan tidak meringankan atau mengakhirinya bagi kita karena itu rencana yang terbaik di mata-Nya – meski kita tidak tahu, tidak paham tentang rencana itu. Saya mau bersikap jujur bahwa memang kita harus beriman penderitaan pasti diizinkan dengan suatu maksud baik dalam kerangka besar rencana Tuhan dalam hidup kita – tetapi penderitaan tetaplah penderitaan. Tidak mudah menerimanya sebagai sebuah rencana yang baik, secara manusiawi.

Tidak ada pelajaran penderitaan yang tak membawa penderitaan.

Meski tak selalu, pelajaran penderitaan sering kali banyak menuntut air mata tumpah, hati patah kecewa, situasi pikiran kacau, harapan pupus, sampai diri terperosok dalam lubang depresi dan frustasi yang serius. Pelajaran penderitaan pun menguji iman. Iman yang kadangkala dapat sangat keras membentur realita: keduanya bisa jadi sangat berbeda, sangat bertolak-belakang dari apa yang dikira.

Tidak ada pelajaran penderitaan yang tak menantang untuk dijalani.

Dalam situasi terpuruk, kita kerap terdorong bertanya kenapa pada Sang Perencana yang tadinya kita percaya. Kita mengevaluasi apa yang salah, apa yang tidak seharusnya, yang mungkin kita lakukan yang mungkin menyebabkan penderitaan. Kita merasa tersudut dan sendirian ketika tak menemukan titik temu yang dicari, jawaban atas apa yang terjadi. Bingung, kita mulai meragukan segala sesuatu yang telah dilalui. Efek pelajaran penderitaan bisa jadi seperti ini.

Ya, nyatanya, memang tak ada pelajaran penderitaan yang mudah untuk dialami.


* * *


Mungkin kita perlu bersikap jujur kepada diri sendiri. Perlu mengakui kelemahan kemanusiawian kita. Mungkin sebenarnya kita memang tak siap untuk jalan penderitaan. Mungkin kita lupa apa yang Yesus pernah bilang. Tentang salib dan penyangkalan diri setiap hari (yang ternyata jauh lebih sulit daripada teori teologia atau yang kita bayangkan selama ini). Mungkin kita luput pula memperhatikan bahwa iman seharusnya tak bergantung kepada kondisi dan keadaan – iman tak hanya existed jika cerita hidup tampak bahagia atau tampak baik-baik saja. Lalu, bagaimana jika kondisi tidak baik-baik saja? Bagaimana jika kita menderita, dan itu tak dialami hanya dalam sekejap mata tetapi untuk waktu yang lama? Apakah kita akan berhenti percaya?

Tapi jujur saja, realistis saja, manusia mana yang dalam segala kemanusiawiannya selalu siap untuk merengkuh jalan penderitaan menjadi jalan kehidupannya?

Akui saja, kita bisa lemah, kita bisa terpuruk. Bisa tidak kuat beriman.


* * *


Dalam kemanusiawian kita sebagai manusia, saya pikir, tak apa untuk menangis. Tak apa untuk marah. Tak apa untuk kecewa. Tak apa untuk bingung. Tak apa untuk bertanya kenapa pada Sang Pencipta. Ketika pelajaran penderitaan menghimpit lebih sempit dan rapat, terasa sesak dan tak lagi dapat tertanggung. Itu sangat wajar, sangat manusiawi.

Dalam kemanusiawian kita sebagai manusia, itu berarti kita sadar – kita bertumbuh – kita menjadi sesuatu. Kita tak hanya menganggap segala sesuatu sebagai taken for granted. Kita tak berpura-pura kuat dan selalu merasa harus tahan banting – padahal nyatanya tidak juga. Kita bersikap jujur dan realistis : bahwa kita adalah manusia, yang manusiawi, tetapi tak mau menyerah terhadap kemanusiawian itu. Kita tahu kita perlu hati dan iman yang lebih siap, dan kuat kemudian, untuk meneruskan perjalanan yang bisa jadi di luar ekspektasi. Kita berusaha untuk mendapatkan hati dan iman yang lebih siap dan kuat itu. Kita pun tahu kita butuh anugerah untuk itu.


* * *


Bagaimana seandainya besok tidak lebih baik daripada hari ini?
Bagaimana seandainya penderitaan adalah jalan yang akan kembali menunggu dengan porsi lebih besar dan lebih berat di hari depan nanti?


* * *


Disini, kita sampai pada pertanyaan paling akhir paling utama, yang penting ditanyakan pada diri sendiri.

Meski masa depan tak selalu cerah karena ada juga jalan derita, banyak air mata, iman membentur realita – dan kita tak tahu alasan mengapa di baliknya – dalam kesemuanya, kesemua yang diizinkan-Nya terjadi ini, apakah kita bisa kembali lapang hati mengamini dan mengikuti? Apa kita akhirnya dapat mempercayai dan mengalami bahwa memiliki Yesus saja cukuplah, meskipun susah dan derita jalannya? (Kata kembali dan akhirnya menekankan, bahwa kita bisa saja sulit menerima dan mengamini dan mengikuti di awal cerita derita – dalam segala kemanusiawian kita – namun di ujung cerita, dalam anugerah berlimpah, kita akhirnya akan kembali juga).

Menutup perenungan ini, saya sadar, bahwa pelajaran contentment tidak hanya menyoal tentang “merasa cukup” dengan segala kondisi duniawi yang dialami sebagai bagian dari rencana Ilahi (yang berarti fokusnya tetap situasi hidup kita yang dapat berubah). Pelajaran contentment sesungguhnya menyoal tentang “merasa cukup” dengan hanya memiliki Yesus yang tak pernah berubah, satu-satunya the One & Only, dalam kondisi apapun yang terjadi yang kita alami.




So, all in all, will Christ be always enough for me?



p.s. :
Cikarang, 28 Juni 2017. Setelah tangisan panjang di sebuah ruang.
Ternyata, (sungguh) tak mudah dan tak sepele untuk mengalami dan mengatakan dan menuliskan (dan menyanyikan), Christ is enough for me. Tulisan ini ditulis dengan lagu Christ Is Enough dari Hillsong sebagai pendamping perenungan dan proses penulisan. Dituliskan (lebih) untuk diri sendiri, sebagai pengingat dan ekspresi perenungan. Dituliskan setelah tercerahkan dan terinspirasi karena membaca tulisan ini (Sometimes God Just Closes Doors, by Benyamin Vrbicek).

No comments:

Post a Comment