Thursday, 29 June 2017

WHY COMPARE?


Mengapa kita suka membanding-bandingkan? Tak hanya materi, tetapi segala. Bakat talenta, pekerjaan, pride power prestise, kenyamanan kehidupan, pencapaian, panggilan, berkat, bersama berbagai seluk-beluk lainnya dari kehidupan. Mengapa kita suka membanding-bandingkan? Jika membanding-bandingkan hanya berujung pada rasa syukur yang lahir ketika kita melihat yang tidak memiliki lebih daripada kita – atau justru merasa iri kepada mereka yang memiliki lebih daripada kita? Mengapa kita hanya bisa bersyukur ketika melihat ke bawah dan merasa kurang ketika melihat ke atas? Mengapa kita tidak bersyukur tanpa melihat ke atas atau ke bawah, ke kiri atau ke kanan, ke depan atau ke belakang? Tak bisakah kita bersyukur hanya dengan melihat kondisi kita sendiri, tanpa ada situasi pembanding yang lainnya? Tidakkah kita terlalu kejam untuk baru dapat bersyukur jika melihat kondisi mereka yang memiliki kurang daripada yang kita miliki? Haruskah kita selalu membanding-bandingkan seperti itu, sekejam itu?


Contentment is a hard process, still.
Like suffering, it’s not easy to accept this part of life lesson.

Namun kiranya kita masih bisa (berusaha) bersyukur, be able to feel content, without any comparison. Kiranya kita bisa bersyukur, cukup hanya dengan melihat kepada Yesus. Sambil menyadari bahwa ini bagian kita, ini kondisi kita, dan cukuplah mengetahui bahwa Ia selalu menjadi bagian kita dalam segala. Tanpa harus melihat ke atas atau ke bawah, ke depan atau ke belakang, ke kiri atau ke kanan. Ya, dengan pandangan yang tertuju cukup kepada Tuhan semata.

No comments:

Post a Comment