MERENUNGI KEMBALI 2015

by - June 01, 2016


Photo by S. on Unsplash
Sebagian saya kumpulkan dari halaman facebook saya, sebagian dari buku catatan jurnal pribadi saya. Tapi asal-muasalnya, sebenarnya bukanlah darisana. Bukan juga dari (pikiran) saya. Tapi dari Dia, yang membawa terang yang mencerahkan saya, ketika pelajaran penderitaan terlalu gelap untuk dibaca. Perenungan-perenungan ini lahir begitu saja dalam pengaturan-Nya. Dilahirkan pengalaman kehidupan, yang tak mengenal tempat dimana atau kemana. Kebanyakan tiba setelah kapal goncang, dan keakuan digorat-goret. Tak jarang membuat lidah saya kelu, atau mata saya basah. Di atas segala, tetap saya bersyukur: Dia mengajari lewat terang setelah gelap, tentu karena rasa sayang-Nya. Perenungan-perenungan ini, yang menjadikan lembaran 2015 begitu berharga—meski jalannya sungguh tak mudah. Saya mengumpulkannya kembali dan merangkainya satu, di halaman ini, lebih untuk mengingatkan diri saya sendiri, supaya tak melupakan pelajaran-pelajaran ini. Pelajaran-pelajaran ini harus saya bawa sampai mati.


“Bagaimana jika bagian yang dianugerahkan kepadamu adalah hanya untuk menabur dan bukan untuk menuai? Apakah itu menjadi masalah? Bukankah yang terpenting bukanlah siapa yang menabur atau siapa yang menuai, tetapi siapa yang memiliki ladang tuaian? Tidaklah penting siapa yang menabur, atau siapa yang menuai, asal mereka bekerja di ladang yang sama, dengan visi yang sama, dan untuk tuan yang sama.” 

 (Cikarang, November 2015: Sebuah Perenungan Personal Tentang Pride & Untiy)


“Bagaimana jika Tuhan mengizinkanmu kehilangan segala hal yang bisa kau banggakan dalam hidupmu, sampai hanya Tuhan satu-satunya yang bisa menjadi kebanggaan dalam hati dan hidupmu—dan tidak perlu yang lain? Kadang seluruh jubah harus dicopot demi sebuah pakaian sederhana, yang sangat penting yang dinamakan, kerendahan hati.

(Cikarang, November 2015: Sebuah Perenungan Personal Tentang Kerendahan Hati)


“Kehilangan harus bisa mengingatkan kita bahwa selama kita masih hidup berpijak di dunia yang tidak abadi ini, kita seharusnya tidak menggenggam apapun terlalu erat, selain tangan Yesus Tuhan itu sendiri.”

(Cikarang, Oktober 2015: Sebuah Perenungan Personal Tentang Kehilangan)


“Let the true light will naturally shine.
The light will shine for sure, when you fully abide in Him.
Terang itu bercahaya di dalam kegelapan, dan kegelapan itu tidak menguasainya.”

(Dalam Penerbangan Di Atas Langit Malam Kota Jakarta, Oktober 2015:
Sebuah Perenungan Personal Tentang Terang)


“Kadang memiliki pilihan (lain) merupakan hal yang lebih sulit dibandingkan jika kita tidak punya pilihan sama sekali. Tantangannya adalah, apakah kita bisa tetap memilih Tuhan, ketika kita punya banyak pilihan lain, selain pilihan Tuhan?”

(Hedwin’s House of Prayer—Jakarta, Juli 2015: Sebuah Perenungan Tentang Pilihan)


“Sepenting mata bagi tubuh, sepenting itulah Injil bagi hidup.”

(Bangka Belitung, Dalam Tugas Kantor Untuk Kegiatan Bantuan Operasi Katarak,
November 2015: Sebuah Perenungan Tentang Mata & Injil)


“It’s really okay untuk meragukan manusia, sebaik apapun dia di mata kita selama ini—asalkan keraguan terhadap manusia itu tidak akan pernah mempengaruhi pandangan kita akan Tuhan dan tidak membuat kita ikut meragukan Tuhan. Tuhan tetaplah Tuhan, dan dalam kedaulatan serta kasih-Nya, Dia tetap memakai manusia yang lemah dan berdosa, dengan alasan yang mungkin sulit diterima oleh manusia. Termasuk oleh kita.”

(Cikarang, September 2015: Sebuah Perenungan Tentang Manusia)


“Mengapa kita harus takut untuk berjalan sendiri melewati padang gurun jika Allah memimpin dan beserta kita, dengan janji bahwa sekalipun Ia takkan pernah meninggalkan kita?”

(Jakarta, Oktober 2015: Sebuah Perenungan Tentang Padang Gurun)


“Apakah kau tega untuk tidak berhenti ketika di tengah perjalananmu, kau bertemu seorang pengelana yang menanyakan arah tujuan kepadamu? Apalagi, jika tujuan itu adalah kepada Yesus? Tegakah kau untuk melewati dan tidak berhenti, mengabaikan pertanyaan yang menentukan hidup dan mati?”

(Cikarang, November 2015: Sebuah Perenungan Tentang Amanat Agung)


“Tidak perlu lautan luas, badai dashyat, atau ikan besar seperti yang menelan Yunus untuk mengingatkanmu atau memanggilmu pulang pada panggilan dan isi hati Tuhan. Ikan besar itu, di masa kini, bisa berwujud apa saja—orang-orang di sekelilingmu, kondisi, pengalaman-pengalaman yang mungkin sepele dan sederhana—yang diatur-Nya berada di tempat dan waktu yang tepat untuk mengingatkanmu bahwa, panggilan-Nya tak bisa ditolak. Panggilan itu secara naturally menjadi bagian yang penting dari hidupmu, yang meski disangkal atau dilupakan akan terus memanggil pulang.”

(Cikarang, November 2015: Sebuah Perenungan Tentang Panggilan: To Serve The Poorest Of The Poor)




Blessing,
Yoels

You May Also Like

0 comments