EMBRACE YOUR (& OTHERS’) UNIQUENESS

by - September 13, 2017

Photo by Ronaldo Oliveira on Unsplash

“Salah satu perjuangan kita adalah untuk mengakui bahwa tidak semua orang menyukai kita.”

—dr. Nurlan Silitonga, Angsamerah Foundation

Ya, ini salah satu kutipan favorit saya dari dr. Nurlan Silitonga dalam salah satu sesi panel diskusi di Feminist Festival 2017 Indonesia yang membahas mengenai pentingnya kesehatan mental bagi para perempuan. Kutipan dr. Nurlan Silitonga ini benar. Memang salah satu perjuangan kita dalam hidup adalah untuk mengakui bahwa tidak semua orang menyukai kita. Salah satu perjuangan saya dalam hidup adalah untuk mengakui bahwa tidak semua orang menyukai saya. Dan tidak disukai oleh semua orang itu bukanlah masalah.

Namun, saya harus mengakui bahwa mengaminkan ini adalah sebuah perjuangan. Tidak mudah. Mungkin tidak bagi sebagian orang, tapi setidaknya saya harus mengakui bahwa ini tidak mudah bagi saya. Bukan berarti seperti saya, kita, juga sangat desperate untuk disukai semua orang dan menuntut bahwa semua orang harus menyukai saya, kita. Tidak juga. Namun, ada bagian-bagian kenyataan hidup dimana orang-orang tertentu, yang mungkin telah berelasi dengan kita, ternyata pergi atau berhenti berelasi dengan kita, atau menunjukkan sebuah tanda ketidaksukaan terhadap bagian kedirian kita : di saat itulah, proses penerimaan kenyataan bahwa tidak semua orang menyukai kita adalah sebuah perjuangan. Kita pikir, kita cocok. Kita pikir, kita baik-baik saja. Kita pikir, mereka menyukai kita. Dan ternyata kita salah.

Sebaliknya pun, saya merenung, saya juga melakukan hal yang sama pada orang-orang yang ternyata saya pikir dan saya rasa kurang cocok dengan karakter dan sifat kedirian saya. Jadi, pada saat yang sama, saya belajar memahami orang-orang yang merasa tidak cocok terhadap saya tadi. Memang tidak semua orang harus cocok dengan semua orang. Memang kita harus belajar menerima dan mengakui bahwa tidak semua orang menyukai kita. Karena kita manusia, yang masing-masing diciptakan unik dan berbeda. Kita tak seragam, tapi beragam. Perbedaan memang kadang berat untuk kita hadapi sebagai manusia yang hidup dan bersosialisasi.

Suatu kali, saya pernah mendapat komentar dari salah satu rekan kerja, yang menyampaikan pendapat rekan kerja yang lain mengenai saya. Katanya, saya terlalu diam. Saya kurang banyak bicara, ngobrol, bersosialisasi. Saya hanya tersenyum. Saya tahu ini benar dan juga sekaligus tidak benar. Benar, karena ya memang sebagai seorang introvert, saya mungkin termasuk kelompok “the silent ones” dan tidak terlalu banyak bicara di muka umum. Tidak benar, karena sebenarnya perilaku ini sangat tergantung pada situasi. Saya juga bisa jadi terlalu banyak bicara, jika sudah berada bersama sahabat-sahabat inner circle saya atau dengan yang saya anggap dekat, misalnya. Namun, harus diakui, mostly saya memilih untuk diam dan banyak mendengarkan, jika atmosfer sosialnya bukan dalam inner circle saya. Dan, ada kalanya pun, di inner circle sendiri, saya memilih untuk diam daripada ribut bicara itu-ini. Ya, itu tadi, itu bagian dari personality saya sebagai seorang introvert. Introvert will get tired of social interactions, karena sumber energi para introvert berasal dari alone time dan ruang sendiriannya – keterbalikan dari para extrovert yang justru mendapatkan energinya dengan bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain.

Saya menerima masukan rekan kerja saya itu, tapi saya kira memang tidak ada yang perlu diubah banyak. Mungkin kuncinya hanyalah pada perihal saling menerima, menghargai, dan merayakan keunikan orang lain tanpa saling menghakimi. Toh saya juga tidak pernah berkomentar soal teman-teman saya yang sangat berenergi untuk bersosialisasi kesana dan kemari, berharap dan menuntut mereka untuk lebih banyak diam dan duduk tenang. Kira-kira seperti itu.

Salahnya memang, dalam keberagaman keunikan, kita saling berekspektasi yang tidak rasional dan menuntut sana-sini. Kita tidak mencoba saling mengerti dan memahami. Misalnya, jika seorang introvert dituntut untuk go socialize terlalu banyak, she/he will get tired and exhausted. Bisa berpengaruh, tentu, pada kesehatan mental. Sama saja, seorang extrovert dituntut untuk duduk diam dalam waktu sangat lama tanpa interaksi sosial, she/he will get tired and drained. Kesehatan mental, kembali menjadi taruhannya. Toh bukannya saya, sebagai introvert, benar-benar tidak bersosialisasi. Saya bersosialisasi, sewajarnya, sesuai batas kemampuan saya. Toh bukannya teman saya misalnya, sebagai seorang extrovert, tidak bisa dan tidak mengambil waktu duduk diam dan tenang di saat-saat tertentu, bebas dari interaksi sosial.

Photo by Bart LaRue on Unsplash
Belakangan ini, saya terbantu banyak untuk mengenali dan menerima diri saya, dengan bantuan sumber bacaan berkualitas mengenai personalities di list pencarian google. Salah satunya adalah www.introvertdear.com (sumber yang lain seperti hypersensitive.net dan hsperson.com), yang membantu saya menyadari bahwa saya adalah pribadi yang unik dan tidak ada yang salah dengan saya meski saya berbeda. Ya, dari tes-tes yang bisa dipertanggungjawabkan keilmiahannya secara psikilogis itu, saya menemukan bahwa ternyata saya masuk ke kelompok personality INFJ (Introvert-Intuitive-Feeling-Judging) dari 16 personalities MBTI, ditambah dengan trait Highly Sensitive Person (HSP). Ini bukan paduan personality yang mudah saya hadapi dan jalani.

INFJ sendiri merupakan kelompok personality paling langka dari 16 personalities MBTI dan HSP pun dimiliki hanya oleh 15-20% orang dari populasi manusia. Tidak heran bahwa saya merasa sangat berbeda dengan sekeliling (atau dianggap berbeda oleh sekeliling), kadang dalam persepsi yang sangat negatif sampai saya menyalahkan diri sendiri. Padahal, there is nothing wrong with me. All of it is my uniqueness. I must embrace it with grateful heart, and not reject it as shameful weakness. Nyatanya, setelah mengulak-ulik website Introvert, Dear, saya menemukan bahwa keunikan saya adalah kekuatan saya. Meskipun sama dengan personalities lainnya, personality saya pun memiliki kelemahan dan kekurangannya sendiri – saya tidak boleh fokus pada kelemahan atau kekurangan. Saya harus dapat mengelola personality saya agar lebih menjadi kekuatan daripada kelemahan. Supaya tidak merugikan diri saya sendiri ataupun merugikan orang lain. Salah satu kekuatan itu misalnya, adalah kemampuan untuk berempati yang sangat tinggi dari kelompok INFJ & HSP.

Kembali soal belajar menerima fakta bahwa tidak semua orang menyukai kita – saya kira ini terkait erat dengan dua alasan. Alasan pertama, karena kita ingin go well with everyone. Kita ingin mengejar kedamaian. Namun, nyatanya, kedamaian tidak dapat diusahakan oleh satu orang tunggal saja. Kedamaian butuh usaha bersama. Usaha bersama, untuk menerima dan merayakan keberagaman. Saya pikir juga, kedamaian dan penerimaan atas keunikan orang lain bukan berarti kita harus memaksakan diri cocok dengan semua orang. It is okay if we can’t go well with somebody. Asal kita menyikapinya dengan baik, dengan positif, dengan perspektif yang dewasa. Kita tahu karakter kita berseberangan dan kita menjaga jarak tanpa bermusuhan, menjaga jarak agar tidak memicu konflik yang mungkin rentan terjadi. Jikapun konflik terjadi, kita dewasa untuk menyelesaikannya kembali dan saling memahami kondisi dan karakter satu sama lain. Ini tidak berarti sama dengan menolak keberagaman dan menolak perdamaian. Kita hanya menyiasatinya dan menyikapinya dengan sebaik-baiknya.

Alasan kedua, karena sebenarnya kita terlalu fokus terhadap diri sendiri. Ya, kita egois. Kita ingin semua orang menyukai kita karena kita butuh pengakuan dan butuh penerimaan secara sosial. Ada hal yang belum dibereskan dan diselesaikan di masa lalu kita. Semacam menjadi gejala narsistik. Untuk mengatasinya, tentu berarti bukan orang lain yang harus berubah, tetapi kita dulu.

Sangat penting untuk belajar menerima keunikan diri sendiri. Sangat penting pula untuk belajar menerima keunikan orang lain. Dengan menerima keunikan diri sendiri, artinya kita telah mengenali diri kita dan mencintai diri kita apa adanya. Dengan menerima keunikan orang lain, artinya kita telah mencoba berempati dan mengasihi yang lain seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Bukankah ini kunci penting untuk perdamaian sosial, perdamaian dunia?

“Penerimaan akan keunikan orang lain sama pentingnya dengan penerimaan akan keunikan diri sendiri. Beragam lebih indah dari seragam.”

— Perenungan Personal, September 2017

Di akhir tulisan ini, harapan saya, semoga kita bisa terus belajar menerima keunikan satu sama lain dan belajar untuk merayakan keberagaman dalam penghargaan dan penghormatan. Beragam lebih indah dari seragam.

You May Also Like

0 comments