SIMBOL

by - May 29, 2017


Kita hidup dalam dan dengan simbol-simbol. Kita membuat menyusun mengukir melempar atau melepaskannya bagi yang lain. Orang lain melakukan yang sama bagi kita. Kita tak selalu bisa berterus terang. Mengatakan tidak jika tidak, ya jika ya. Kita terbungkus sebuah permainan interaksi, cara metode untuk berkomunikasi. Kita menulis, kita melukis, kita berbicara melalui tulisan dan lukisan kita. Sayangnya, simbol-simbol bisa salah ditangkap, diresap. Simbol-simbol bisa menghujam mereka yang tak berniat kita hujam — simbol-simbol bisa menelanjangi mereka yang tak ingin kita telanjangi — simbol-simbol bisa menyadarkan, menobatkan, yang tak terpikir kita sadarkan atau tobatkan. Kita mendekam dalam simbol-simbol, melihat dan mengoleksi, memberikan dan melupakan. Simbol-simbol bertahan dan mati dalam telapak tangan dan jari-jari kita, hidup serta luluh dalam pandangan kedua bola mata kita. Simbol-simbol gugur dalam kepala kita, seperti daun tanggal dari pohon lapuk hilang dimakan tanah begitu saja jika tidak kita artikan — tapi pun bisa menjadi seperti jenazah di dalam makam yang dirawat dengan bunga warna-warni jika kita defenisikan mendalam.


Di sudut hari dimana kita sendiri, kita diam mempertanyakan lagi hidup yang kita jalani ini. Lelahkah kita hidup dalam simbol-simbol? Yang berulang kali diinterpretasi dan di re-interpretasi — dalam ketepatan tapi juga dalam kesalahan? Relakah kita mati karena simbol-simbol? Jika interpretasi berasa terlampau kejam di hati di pikir ini?

Kadang, aku lelah hidup dalam simbol. Aku lelah melukis atau menulis simbol-simbol. Aku lelah melihat menangkap mencoba mengartikan simbol-simbol. Tapi hidup tak memberi pilihan lain. Kita telah terjebak rutinitas sistem nilai yang sama, untuk terus berinteraksi dalam simbol-simbol yang tak pasti.


p.s. :
Bogor, 20 Mei 2017. Mengingat kelas sosiologi yang bercerita tentang teori interaksionisme simbolik.

You May Also Like

0 comments