ARTIKEL DARI 4 TAHUN LALU

by - March 05, 2015





Menemukan artikel ini tepat ketika saya sedang bergumul di dalam diri sendiri untuk sebuah masalah yang sama. Sebuah artikel yang menjadi artikel pertama, dimana Tuhan memberikan saya kesempatan untuk melayani dalam bentuk tulisan di persekutuan kampus tempat saya dibentuk selama mahasiswa—PO FISIP UI (Persekutuan Oikumene Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia). Waktu itu, saya masih mahasiswa tingkat satu dan baru saja bergabung dengan kepengurusan. Ternyata artikel ini di-posting bersama tulisan-tulisan lainnya oleh seksi buletin di blog tumblr milik persekutuan, dan saya baru tahu. Artikel ini merupakan sebuah artikel dari rubrik Teleskop, di majalah PO FISIP UI bernama Angkatan, edisi Februari-Maret 2011—itu sudah lama sekali, tetapi apa yang saya pernah tulis di dalamnya masih bisa menegur saya hari ini. Saya bersyukur. Tuhan Yesus baik.

 
Beberapa bulan lalu, isu ketidakharmonisan antara bapak presiden SBY dan Sultan Hamengkubuwono X menjadi salah satu sorotan penting rakyat Indonesia. Kedua tokoh penting yang menjadi pemimpin besar di Indonesia dan Yogyakarta ini ternyata berselisih paham. Titik perselisihan menyangkut sistem monarki Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang dianggap oleh salah satu pihak bertentangan dengan konstitusi Indonesia. Karenanya, penetapan Sultan HB X-Paku Alam sebagai pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur DIY yang tidak dipilih secara langsung, dianggap memerlukan penegasan secara hukum. Peristiwa ini tentu saja berimplikasi pada banyak hal. Salah satu yang terpenting adalah dampaknya terhadap integrasi Indonesia. Memang Yogyakarta tidak bisa disamakan dengan daerah provinsi lain karena setiap provinsi di Indonesia memiliki keunikannya sendiri. Walaupun begitu, dalam perjalanan sejarah dan kemerdekaan, Yogyakarta sudah menjadi salah satu bagian dari Indonesia dalam segala keunikan dan keberbedaannya. Dalam status ‘daerah istimewa’-nya, bagaimanapun, Yogyakarta tetaplah bagian integral dari Indonesia yang majemuk dan tetap dipersatukan oleh semboyan bhineka tunggal ika.

Seperti dalam isu ini, seringkali perselisihan terjadi karena kita mengarahkan fokus yang terlalu berat pada perbedaan yang ada. Sebagaimana perselisihan yang terjadi antara SBY – HB X yang dalam konteks tertentu bisa dianggap mewakili Indonesia dan Yogyakarta, yang sebenarnya merupakan satu kesatuan yang terintegrasi walau mungkin memiliki perbedaan tertentu, begitupula di dalam persekutuan anak-anak Tuhan pun, kadang terjadi perselisihan dan ketidakharmonisan. Perselisihan ini bisa terjadi ketika anak-anak Tuhan lebih fokus kepada perbedaan, dibandingkan dengan esensi persekutuan. Ketika anak-anak Tuhan mengesampingkan, bahkan melupakan Tuhan Yesus Kristus sebagai kepala, dan melihat kekristenan, gereja, atau persekutuan tidak lebih dari sebuah kelompok sosial manusia.

Dalam Efesus 2 : 19 dikatakan bahwa kita adalah anggota-anggota keluarga Allah. Keluarga Allah – menunjuk pada kondisi dimana persekutuan seharusnya dipenuhi dengan damai sejahtera, kesatuan dan kesehatian di dalam Yesus Kristus. Namun dalam hal keluarga Allah inipun, banyak anak-anak Tuhan kerap kali lebih fokus kepada keluarga-nya, dan melupakan Allah-nya. Keluarga memang penting, tapi keluarga tidak akan menjadi penting tanpa Allah terlibat penuh dan diakui di dalamnya. Ketika kita lebih fokus kepada keluarga daripada Allah, maka kita akan cenderung melihat kepada perbedaan-perbedaan yang ada.  Padahal anak-anak Tuhan harusnya mengarahkan fokus total kepada Yesus Kristus. Dalam hal inilah, kekristenan, gereja atau persekutuan berbeda dari ‘perkumpulan’ atau ‘kelompok’ lainnya: karena kita memiliki Yesus Kristus sebagai batu penjuru, dasar yang teguh. Karena Allah – Yesus Kristus, tinggal di antara kita sebagai damai sejahtera yang mempersatukan anak-anak-Nya (Efesus 2:14).

Ketika kita sudah menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat Pribadi, maka seharusnya Tuhan Yesus-lah yang bertahta serta memiliki segenap hati dan hidup kita. Tuhan Yesus menjadi fokus utama kita. Orang percaya harus tinggal di dalam Yesus, dan ketika kita tinggal di dalam Dia, maka perbedaan tidak lagi terasa penting untuk diperhatikan, sehingga pembedaan atau diskriminasi dalam bentuk apapun juga seharusnya tidak dikenal oleh anak-anak Tuhan. 

Dalam kehidupan di kampus pun, dengan mengesampingkan ‘status’ kita sebagai anak binaan di KK (Kelompok Kecil) atau tidak, seharusnya kita lebih fokus kepada Yesus Kristus sebagai pemersatu segala perbedaan di dalam keluarga-Nya. Kita adalah satu di dalam Yesus Kristus, dan di dalam persekutuan PO FISIP UI, kita bersama-sama dipelihara Kristus dalam pertumbuhan iman agar semakin menjadi murid-murid Kristus yang sejati. Persekutuan kita di PO FISIP UI di dalam Yesus Kristus tidak dapat kita samakan dengan organisasi lain atau semata-mata kelompok sosial tempat kita menemui teman-teman kita. Persekutuan ini adalah tempat dimana kasih Kristus dapat dikenal, didapatkan, dan dibagikan ketika kasih itu diceritakan kembali. Kasih kepada Kristuslah yang mengikat kita satu sama lain di persekutuan ini – bukan semata-mata status sebagai ‘anak PO’ atau ‘orang Kristen’. Ketika kita sudah mengenal hati Yesus dan mengasihi-Nya, maka kita akan selalu rindu untuk mencari Dia. Salah satunya adalah dengan ikut terus bersekutu di dalam kasih persekutuan, saling memperhatikan, mendorong, dan mendoakan satu sama lain. Mari kita lebih fokus kepada fokus terutama dan terpenting kita, yaitu Tuhan Yesus Kristus dibandingkan setiap perbedaan yang ada, sehingga persekutuan kita tetap terintegrasi dalam kasih dan damai sejahtera, serta kesatuan di dalam Tuhan Yesus Kristus. Selamat mengaplikasikan kesatuan tersebut dalam persekutuan orang-orang percaya, teman-teman. Tuhan memberkati kita semua.

(oleh: Yuliana Martha Tresia – Sosiologi 2009)


Membaca kembali artikel ini membuat saya harus berefleksi pribadi. Sambil mengingat juga khotbah di Jakarta Life Christian Church minggu lalu. Tentang egoism. Bagaimana dosa egoism ternyata mengakar di dalam setiap orang, dan kita harus berperang melawannya setiap hari. Egoism juga mewujud ketika kita merasa ingin membela diri untuk apa yang salah yang dikatakan orang lain tentang kita—meskipun yang dikatakan orang lain itu salah, apakah kita benar-benar harus selalu membela diri kita sendiri? Yang kadang mungkin bisa membunuh kasih yang harusnya kita miliki sebagai yang terdasar dan terutama, terhadap Tuhan dan juga sesama. Bukankah itu berarti fokus kita masih berpusat kepada diri kita sendiri? Bisakah kita menempatkan perasaan orang lain di atas perasaan kita? Maukah kita merendahkan diri kita di bawah orang lain—meski kita akan berada dalam posisi yang tidak enak dan apa yang dikatakan tentang kita tidak sepenuhnya benar? Ini tidak mudah untuk saya lakukan, saat ini, harus saya akui. Terlebih lagi, jika ini terjadi dan harus kita lakukan di dalam sebuah persekutuan. It is really challenging. Tapi tetap harus dilakukan. Ini menjadi peer serius.




p.s. :
  

Ngomong-ngomong, rasanya sudah lama sekali saya tidak membaca buletin Angkatan PO FISIP UI. Saya ingat, dulu desain covernya masih sesederhana ini, dan terus berubah dan berevolusi dalam anugerah Tuhan menjadi lebih baik. Merindukan bisa membaca buletin Angkatan lagi :" semoga seksi buletin masih terus semangat melayani dalam tulisan untuk Tuhan di FISIP UI :" 

You May Also Like

0 comments