REBEKAH SAID, "I AM READY TO GO"

by - January 30, 2015




Her brother and mother said, “Let the girl stay a while, say another ten days, and then go.”
He said, “Oh, don’t make me wait! God has worked everything out so well—send me off to my master.”
They said, “We’ll call the girl; we’ll ask her.”
They called Rebekah and asked her, “Do you want to go with this man?”
She said, “I’m ready to go.”

(Genesis 24 : 55-58 MSG)


Beberapa hari ini saya menikmati perenungan mengenai kisah Ribka ketika ia bertemu (dan dipertemukan) dengan Ishak—yang kemudian menjadi pasangannya seumur hidup. Kata “I am ready to go”—sebagaimana yang secuplik telah saya kutip sebagai prolog tulisan ini—menjadi titik tolak penting dari perenungan saya.

Pergumulan pasangan hidup entah kenapa menurut saya masih dan akan selalu menjadi sesuatu yang penting bagi banyak orang di setiap zaman di setiap generasi. Meskipun ada juga sebagian kecil orang yang dipanggil untuk menjalani hidup selibat (tidak menikah atau melajang seumur hidup), tidak bisa disangkal, mayoritas orang dipanggil untuk bisa mengalami dan menjalani sebuah pernikahan. Dalam usia dewasa muda saat ini, dengan lingkungan pertemanan di sekeliling saya, tentu saya banyak menemui teman-teman yang juga bergumul mengenai masalah pasangan hidup ini. Banyak sekali. Dan, ya selagi itu tidak mengambil posisi Tuhan sebagai yang terpenting dalam hidup kita, menggumulkan pasangan hidup merupakan sesuatu yang wajar-wajar saja dilakukan.

Hanya saja, dalam masa pergumulan dan penantian (yang kita tahu, tidak selamanya mudah), kadang kita bisa salah fokus. Kita bisa saja lebih fokus kepada waktu, daripada diri kita sendiri. Mengeluh tentang lamanya, bukan memperjuangkan bagaimana kesiapan kita. Apakah kita benar-benar sudah siap menikah dan sudah menjadi seorang perempuan atau laki-laki yang seutuhnya utuh untuk menikah. Kita mungkin sering mengeluh mengenai waktu, tetapi lupa kalau diri sendiri ini belum siap.

Berbeda dengan Ribka. Ribka sudah siap. Ketika hamba Abraham, Ayah Ishak, datang menjemputnya untuk pernikahan itu—Ribka sudah siap. Ia dengan mantap menjawab, “I am ready to go.

Saya belajar banyak dari Ribka. Ribka yang sudah siap. Saya membayangkan apa rasanya menjadi Ribka, yang sudah siap. Pasti bahagia. Bahagia bisa menjawab, “I am ready to go.” Karena, saya pribadi merasa saya belum siap. Pernikahan merupakan sebuah pergumulan yang tidak mudah untuk dijalani—menurut saya. Bertahun-tahun memiliki keinginan untuk hidup selibat semenjak usia saya masih anak-anak, lalu kemudian Tuhan singkapkan suatu hal yang lain daripada yang selama ini saya pikirkan—sungguh tidak mudah. Saya bergumul dengan diri sendiri untuk menggumulkan sebuah pernikahan di masa depan, terlepas dari pergumulan saya untuk bisa menjadi seorang perempuan yang seutuhnya utuh untuk menjadi seorang istri dan ibu, yang benar-benar siap.

Perenungan saya membawa saya menyadari bahwa untuk mengatakan, “I am ready to go” seperti Ribka, membutuhkan proses yang tidak sepele. Rela untuk belajar banyak, berubah banyak—bersama Tuhan. Menanggalkan, melepaskan, menyalibkan, apa yang perlu ditanggalkan, dilepaskan, dan disalibkan—demi menjadi seorang perempuan yang seutuhnya utuh. Setapak demi setapak. Hari demi hari, bahkan mungkin, tahun demi tahun. Ada sebuah proses pemurnian untuk menjadi seorang perempuan atau seorang laki-laki yang seutuhnya utuh.

Kisah Ribka bisa dibaca di Kejadian 24. Ini merupakan salah satu kisah percintaan favorit saya di sepanjang halaman Alkitab. Bagaimana Tuhan mempertemukan Ribka dan Ishak juga merupakan sesuatu yang tidak biasa. Segala sesuatu direncanakan, digumulkan, didoakan. Segala sesuatu ada dalam kontrol tangan Tuhan, ada dalam rangkaian rencana-Nya yang istimewa untuk Ribka dan Ishak. Lalu dalam waktu Tuhan, mereka dipertemukan. Waktu yang sempurna—karena, saat itu, Ribka juga sudah siap.



Bukankah menarik untuk merenungkan, kapan kita bisa siap untuk menyatakan, “I am ready to go” terkait perihal pasangan hidup dan pernikahan? :)

You May Also Like

0 comments