Refleksi: Do We Desire God That Much?

April 29, 2014

Memasuki dunia alumni dan dunia kerja itu tak selalu menyenangkan, apalagi ketika sekeliling mulai sibuk membicarakan dan mengkuatirkan masalah masa depan. Seiring dengan umur yang diramaikan oleh begitu banyak tuntutan. Pasangan hidup, future wife, future husband. Sama seperti di kantor saya sekarang. Mulailah banyak becandaan soal masalah pendamping hidup. Atau status-status galau di social media mengenai pasangan hidup dan cinta, yang selalu menjadi topik utama. Ah, saya lelah. Lelah melihat dan menyadari sekeliling saya yang terlalu sibuk memikirkan cinta manusia.

Kadang saya merenung seperti ini: apakah kita mengingini pribadi Yesus seperti kita mengingini pasangan atau pendamping hidup? Apakah kita mengingini cinta Yesus seperti kita mengingini cinta manusia?


Photo by Dlanor S on Unsplash

Terlalu banyak orang yang ribut dan repot memikirkan masalah masa depannya saat ini: pasangan hidupnya (future wife atau future husband), keluarga masa depan, cinta manusiawi. Saya tidak menghakimi kalau itu salah, bagi orang-orang pada umumnya itu memang sebuah kebutuhan. Tapi, harus diakui, banyak orang yang terlalu banyak galau (dan kegalauannya tidak dibawa diserahkan ke hadapan Tuhan) dan memikirkan "kebutuhan" (akan cinta manusiawi) itu, luput untuk memikirkan sejauh sedalam dan sekuat apa cintanya pada Tuhan. Belum yakin kalau cintanya pada Tuhan sudah teruji dalam tantangan hujan dan api. Lalu saya tergelitik, lebih merefleksikan renungan ini ke diri sendiri dengan tidak bermaksud ingin menghakiminorang lain: apakah wajar kita mengkuatirkan percintaan manusiawi lebih dari mengkuatirkan keintiman personal kita dengan Yesus? Apakah wajar untuk lebih mengejar dan memprioritaskan cinta kita kepada manusia dibandingkan cinta kita kepada Tuhan?

Bukankah Tuhan harus selalu menjadi yang pertama dan terutama?

Saya berpikir, saya merasa guilty feeling sendiri. Saya sebenarnya bukan tipikal perempuan muda yang kuatir akan pasangan hidup masa depan, atau bahkan dari masa kini. Galau juga bukan pilihan bagi saya. Mungkin bagi saya, lebih banyak hal yang butuh diurus dan diprioritaskan saat ini, dibandingkan hal itu. Bukan berarti acuh tak acuh juga mengenai masalah pasangan hidup itu, tapi setidaknya sekarang ini mendoakan dengan setia sudah cukup bagi saya. Toh saya masih muda, masih terlalu banyak yang harus dipersiapkan dan dimatangkan. Hanya saja, saya guilty feeling ketika berefleksi, kenapa sebagai manusia, kita memiliki kecenderungan untuk menomor-sekiankan Tuhan, seolah-olah Tuhan tak pantas menjadi nomor satu dan yang terutama dalam hidup dan hati kita. Bukan hanya soal pasangan hidup, tapi juga untuk terlalu banyak hal.

Saya merenung, membayangkan betapa sedihnya hati Tuhan, ketika melihat kita lebih mementingkan cinta kita pada seseorang yang istimewa itu, dibandingkan cinta kita yang kita tujukan pada-Nya. Membayangkan betapa kecewanya Dia, ketika kita betah dan memang mengingini intensitas kebersamaan yang sangat tinggi dan padat dengan seseorang yang istimewa itu, dibandingkan intensitas berduaan dengan-Nya dalam saat teduh dan doa. Membayangkan betapa hancur hati-Nya, ketika kita bilang kita kacau-balau jika kehilangan cinta seseorang yang istimewa itu atau jika hubungan kita dengan seseorang yang istimewa itu sedang tak bisa dibilang baik, tapi sama sekali tenang-tenang saja ketika hubungan kita dengan Tuhan berantakan atau cinta kita pada Tuhan benar-benar butuh dipertanyakan.

Then,

Do you desire Jesus that much?
Do you desire Jesus more than wife and husband?
Do you desire the love of Jesus more than the love of your special someone?




Dan setiap hari, pertanyaannya akan tetap sama saja. Apakah cintamu dan cintaku pada Yesus melebihi cintamu pada manusia dan dunia?



P.S. :

Untuk melengkapi tulisan ini, saya harus mengakui saya sangat suka dan sangat mengapresiasi tulisan seorang adik saya yang sama-sama bertumbuh di komunitas yang sama di maker dan di PO FISIP UI. Saya sangat suka tulisanmu rut, karena keberserahanmu yang penuh pada Tuhan dalam masa penantian mengenai masalah pasangan hidup. Itu menyentuh. Akhirnya, Tuhan tetap menjadi yang pertama dan terutama. Silahkan, mengunjungi :)


2 comments:

  1. Hua. Kak Yuli :' Tertegur sekali dengan tulisan ini. Terimakasih kak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. thanks God hehe :")

      terima kasih juga untuk tulisanmu ituu ruuut, touching :")

      Delete

Powered by Blogger.