Sebuah Pengingat: Hal-Hal Baik Sebelum COVID-19 & PSBB

June 02, 2020


Pertama kalinya kabar tentang virus baru yang mewabah di daratan Cina ramai di media, saya ingat itu jatuh di awal bulan pertama di tahun baru 2020. Saya ingat, saya dan adik bergidik melihat realita yang disorot video-video liputan di YouTube, tentang bagaimana kota Wuhan menjadi begitu sepi seperti kota hantu. Saya ingat, rasa cemas yang mulai berkeriapan mendorong saya dan adik untuk segera mengedukasi diri tentang virus yang namanya sendiri mengandung makna seperti mahkota, corona. Semoga virus ini tak merajai dunia, harap-harap cemas saya waktu itu.


Photo by Edwin Hooper on Unsplash

Dua bulan kemudian: akhirnya di Indonesia, sekitar bulan Maret, virus itu pertama kali dilaporkan terdeteksi di kota dimana adik saya tinggal. Saya ingat betapa saya dan ibu saya cemas. Chat, telepon, semua ditujukan-disegerakan menuju kontak adik saya yang sedang sendirian jauh disana. Saya ingat, saya membayangkan kemungkinan terburuk Depok juga menjadi kota mati seperti Wuhan—meski rasanya, mengingat koneksinya sebagai kota satelit dengan keseluruhan Jabodetabek yang kompleks itu, cukup sulit terjadi. Saya ingat, bagaimana masyarakat Jabodetabek mulai panik. Panic buying sembako, borong masker dan hand sanitizer. Tak lama, COVID-19 tak lagi menyemat label wabah yang hanya terbatas di beberapa wilayah saja. WHO mengumumkan kini ia telah menjadi pandemik sedunia. Penularannya yang cepat dan masif membuat satu bumi kuatir dan gelisah. Kebijakan mulai disusun-diatur masing-masing negara untuk membatasi rantai penyebarannya.


Dua bulan kemudian: Mei 2020 dan Indonesia masih menetapkan aturan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), termasuk larangan mudik di bulan Ramadhan dan Idul Fitri yang dirayakan tak seramai biasanya, karena orang-orang sedang tak bisa berkumpul dan tak disarankan bepergian. Namun ternyata tak ada kota mati di Indonesia. Hanya jadi menyepi saja, seperti Ibukota Jakarta. Kondisi masyarakat negara berkembang ternyata terlalu kompleks dalam meresponi virus yang telah memakan korban jiwa ratusan ribu orang sedunia. Tidak usah pula saya terangkan lebih lanjut di tulisan ini, karena bukan itu tujuan saya menulis tulisan ini.


Namun, sedunia, perasaan frustasi dan lelah yang sama menghubungkan satu sama lain—setidaknya melalui beragam jenis media sosial. Virus baru yang jadi pandemik telah berdampak ke terlalu banyak sisi kehidupan setiap jenis orang. Dari kaya sampai miskin. Dari bisnis pariwisata sampai kuliner. Dari kantor-kantor yang bergedung pencakar langit sampai mall-mall. Dari warga sipil sampai tenaga medis. Dari yang biasanya bebas berkeliaran di luar rumah demi segala kepentingan, sampai harus sukarela dan wajib berdiam di rumah saja demi melindungi diri sendiri dan orang lain. Dari yang masih bersekolah, sampai yang sudah bekerja. Dari dunia offline, menuju dunia online.


Pandemik membuat banyak rencana tertunda. Pandemik menciptakan masa-masa sulit dimana ada yang kehilangan, ada yang harus bertarung melawan sakit, ada yang harus berhati-hati agar tidak ikut jatuh sakit (atau bahkan jatuh sakit kembali, karena corona bisa tak hanya tertular-terjangkit satu kali). Pandemik mengundang dan mengandung ketidakpastian dan ketidakjelasan akan apa yang terjadi kemudian hari. Sampai kapan kita harus menanggung pandemik? Apa solusinya, adakah vaksin, adakah obat yang sudah berhasil diuji para peneliti? Sampai kapan rencana-rencana yang tadinya tertunda bisa kembali terlaksana? Pandemik menciptakan normalitas yang baru: kondisi normalitas yang sebenarnya masih sulit diterima kebanyakan orang. Tak terkecuali saya juga.


Tulisan ini saya tulis untuk diri sendiri, demi menyeimbangkan diri, demi membangun kembali segala harapan dan kebertahanan di tengah masa pandemik corona di awal tahun ini. Mencatat yang baik, yang masih membahagiakan, yang masih bisa dirayakan, yang disyukuri, sebelum corona melanda di tahun ini, sangat membantu untuk menjaga titik ekuilibrium dalam diri. Menciptakan pengingat bagi jiwa yang cemas, bahwa kebahagiaan itu sederhana, sesederhana dapat menikmati hal-hal kecil baik yang sudah terjadi dan masih terjadi setiap hari.


1.    Dream catcher dari Ulik, dan waktu berkualitas di Café Batavia Kota Tua.

Januari 2020. Sahabat saya, Ulik, berkunjung lagi ke ibukota Jakarta demi perihal urusan visa untuk keberangkatan bersama suami ke UK. Kami meluangkan waktu seharian berjalan-jalan santai di ibukota. Duduk-duduk lesehan di pelataran Monas sambil bertukar cerita hidup. Menikmati suasana Batavia kuno dengan secangkir teh dan kopi di Café Batavia, Kota Tua. Ulik menghadiahi saya dream catcher mini yang sedang trending, banyak dijual di Kota Tua. Saya memang membutuhkan dream catcher, dengan harapan kali-kali bisa membantu menyaring mimpi-mimpi buruk yang belakangan kadangkala menganggu kualitas tidur.


Kiri: Pelataran Monas. Kanan: Toilet Cafe Batavia, yang tak seperti toilet.


2.    Kali pertama visitasi Kopi Tuli, Duren Tiga.

Januari 2020. Akhirnya, saya berkunjung juga ke Kopi Tuli, kedai kopi yang khusus dikelola oleh teman-teman tuli. Kunjungan pertama ini mengesankan sekali, sayang saya tak mengambil banyak foto selain yang di bawah ini. Kedai kopi ini sungguh teladan sekali, untuk caranya ikut memberdayakan teman-teman tuli yang seringkali kesulitan mendapatkan pekerjaan karena difabilitas mereka. Uniknya, di setiap meja, disediakan informasi bahasa isyarat, begitu juga hiasan-hiasan dindingnya (salah satu yang saya ingat adalah tentang tokoh-tokoh teman tuli yang berdampak baik bagi dunia). Setiap pelanggan juga harus berkomunikasi dalam bahasa isyarat ketika memesan minuman (mereka pandu baik kok).


Panduan Bahasa Isyarat di Meja Kopi Tuli


3.    Nobar keluarga bertiga.

Januari 2020. Kali pertama dan terakhir saya pergi menonton di bioskop bersama keluarga yang saya ingat adalah ketika masih sekolah, menonton film dinosaurus bernama Aladar seperti yang dipinta adik saya yang waktu itu masih kecil. Sudah lama sekali dan memang jarang sekali. Awal tahun ini, ternyata ada kesempatan lagi untuk kami pergi menonton bersama-sama sekeluarga, meski bapak tak bisa ikut serta. Saya, mama dan adik binge-watch berderet dua film, dua-duanya film Indonesia: Imperfect (2020) dan Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (2020).


Sejujurnya, rada awkward menonton film yang satu ini bersama keluarga, hehe


4.    Pernikahan kawan baik saya sejak masih sekolah, Shinly.

Februari 2020. Satu lagi kawan saya menikah tahun ini, setelah sebelas tahun berpacaran. Mengutip Shayie (kawan satu geng kami juga di bangku SMP) bilang, “anakmu udah SD beb, kalau kau nikah bukan pacaran selama itu.” Haha. Saya turut berbahagia dengan Shinly, meski dari geng kami yang mestinya berlima jadi bridesmaid, hanya saya yang sedang tak berhalangan hadir (jadi tak banyak bisa mengambil foto #eh). Siapa sangka, kawan saya melalui suka-duka masa SMP-SMA bersama (termasuk membolos les dan main hujan), kini sudah resmi jadi istri orang. Bdw, kado saya gambar ilustrasi ini saya pesan dari @wonderlushproject.


Kiri: bersama suami-istri baru dan Margaretha, kanan: kado saya dari @wonderlushproject.


5.    Perayaan sederhana ulang tahun Oreo, kucing kami.

Februari 2020. Oreo, kucing kami yang paling affectionate (contohnya: tahu kapan saya atau adik saya sedih atau sakit dan sedia menghibur-menemani), tahun ini genap berusia tiga tahun. Tak terasa, sudah tiga tahun bersama-sama Oreo: time flies indeed. Bersama adik saya, kami memutuskan untuk merayakan ulang tahun ketiga Oreo dengan sederhana, tentu saja turut mengundang kucing-kucing kami yang lainnya, Momong dan Ayi (sayang, Ayi kurang kompak sama Momong & Oreo, jadi dia gak keliatan di foto). Semoga sehat dan lucu selalu, panjang umurnya, Oreo kami!


Oreo, kucing berumur tiga tahun kami yang hobinya makan rumput.


6.    Waktu berkualitas bersama sahabat saya, Cidhu & Ulik, sebelum Ulik terbang ke UK (dan waktu-waktu berkualitas bersama sahabat & kawan lainnya).

Februari-Maret 2020. Sebelum Ulik terbang ke UK dan saya kembali ke perantauan di bulan Maret, saya bersyukur masih bisa menghabiskan waktu berkualitas bertiga bersama Ulik dan Cidhu di Kota Medan. Kami makan mie pansit Awai dekat kantor Cidhu, seperti biasanya. Kedua sahabat saya dengan begitu baik hatinya tak lupa berkunjung ke rumah, menjenguk ayah saya yang masih sakit stroke. Kami pergi menemani Ulik ke Brastagi Supermarket, berbelanja bumbu-bumbu lokal untuk stok di luar negeri nanti. Ada juga waktu-waktu berkualitas bersama sahabat-kawan lainnya yang tak sempat mengambil foto kenang-kenangan, seperti ketika saya berkunjung ke rumah Justice dan Novia.


Bersama-sama di Mie Pansit Awai, Brastagi Supermarket, dan rumah saya.


7.    Kado DIY spesial untuk ulang tahun sahabat saya, Cidhu.

Maret 2020. Saya mengingat sahabat saya Cidhu, selama ini sudah beberapa kali menghadiahi saya kado-kado handmade dalam bingkai (sejenis scrapbook). Jadi kali ini, saya ingin menghadiahi kado handmade juga untuk Cidhu, mengumpulkan foto-foto waktu berkualitas kami sepanjang 2019 dalam satu bingkai. Saya juga menambahkan gift package ala-ala berisi material journalling, karena Cidhu bilang mau mencoba-coba journalling juga mulai di tahun ini. Pelengkapnya, sebuah kartu ulang tahun handmade yang ide dasarnya (menempelkan lilin pada kartu) saya temukan di Pinterest—berhubung saya tak bisa merayakan ulang tahun Cidhu dengan tiup lilin bersama-sama di hari-H.


Kado handmade sederhana untuk ulang tahun sahabat saya, Cidhu.


8.    Kado Tak Disangka-Sangka dari Cidhu.

Maret 2020. Tanpa saya duga, sebelum saya kembali ke tanah rantau, sahabat saya, Cidhu memberikan saya sebuah kado. Dibungkus rapih dalam bungkus kado lucu berwarna kuning terang dengan ilustrasi karakter Toy’s Story, film animasi kesukaan kami haha. Kadonya berisi seperangkat alat makan, termasuk sumpit. Kata Cidhu, supaya saya bisa ingat meluangkan waktu menikmati makanan-makanan (baca: khususnya segala jenis mie, makanan favorit saya) enak untuk menghibur hati jika di perantauan sedang menantang.


Kado dari Cidhu, yang katanya baru bisa dibuka begitu sampai di tujuan perantauan


9.    Pertama kali beli buku di Post Bookshop, karena belum bisa berkunjung kesana.

Maret 2020. Awal tahun ini, saya berencana (dan memang kepingin sekali) berkunjung ke toko buku PostBookshop (Post Press) di Pasar Santa, Jakarta. Saya kepincut melihat foto-foto toko buku ini di media sosialnya, ada yang terasa menarik dan berbeda dari tampilan dan kemasannya. Sayangnya, kemudian corona melanda, sehingga toko buku ini juga menutup tokonya sementara. Meski begitu, mereka masih tetap menerima pesanan buku online. Saya menghibur hati saya dengan memesan via online (Shopee) buku pertama darisana. Sebuah novel berjudul Lusifer! Lusifer! karya Venerdi Handoyo.


Pesanan buku yang menyenangkan hati dari Post Bookshop


Selain hal-hal yang masih bisa dikenang baik di atas, ada kabar-kabar baik lainnya di tengah corona. Pertama, hasil check-up kesehatan mama di Prodia awal tahun ini, aman semuanya. Pesan dokter, mama hanya butuh lebih banyak minum saja untuk menghindari kemungkinan terbentuknya batu ginjal. Saya bersyukur saya bisa mengantar-menemani mama untuk proses check-up ini, sehingga mama tidak menunda-nunda lagi. Kedua, sahabat saya, Justice, akhirnya resmi menjadi hakim per Mei 2020 ini. Semoga ia bisa terus memperjuangkan keadilan—seperti namanya. Ketiga, bulan Maret ini saya mendapat kabar baik. Hasil tes tahap dua, saya lulus lagi tahun ini ke tahap akhir. Satu tahap lagi, semoga saja tahun ini bisa benar-benar berjodoh baik. Semoga.


Di akhir tulisan ini, seperti yang selalu saya ucapkan dalam percakapan online saya dengan keluarga dan sahabat-sahabat terdekat, dan tak akan lelah saya kutip terus, pun di halaman ini—satu harapan yang sama: semoga pandemi ini segera berlalu.


No comments:

Powered by Blogger.