Wednesday, 31 August 2011

A SHIELD


He will cover you with His feathers, 
and under His wings you will find refuge; His faithfulness will be your shield and rampart.



Psalm 91 : 4, NIV

Tuesday, 30 August 2011

CERITA PINTU


Cerita pertama. Cerita ini tentang seorang yang mencari-cari pintu untuk suatu jawaban. Kisah klasik. Tetapi nyatanya, banyak manusia kadang gagal melakukannya. Seperti si seseorang yang mencari, ketika ia menemukan satu pintu, ia tersenyum dan berhenti. Sampai dia sadar kalau pintunya ternyata tertutup. Lalu dia akan apa dan harus apa? Itu tergantung. Manusia memiliki kehendak bebas, bukan? Ketika satu pintu tertutup, dia, ataupun kita, dapat memilih untuk terus berjuang mencari pintu-pintu lainnya. Pintu yang terbuka. Pasti ada. Walau tidak selalu mudah untuk menemukannya. Tapi ketika satu pintu tertutup, orang yang putus asa akan berhenti di depan pintu yang tertutup dan meratap. Akankah pintunya terbuka? Siapa yang tahu? Sebenarnya lebih sulit menunggu ketidakpastian seperti mengharap pintu yang tertutup akan terbuka, daripada mencari pintu-pintu yang terbuka lainnya, yang lebih banyak. Yang jelas, selalu ada harapan bagi orang yang tidak mau berhenti berjuang. Bagi orang yang tidak mau berhenti berjuang menemukan pintu yang benar-benar benar. Cerita kedua. Atau, adakah kita yang ternyata menutup pintu itu sendiri? Kadangkala, pintu itu ada di dalam hati. Ini bukan sekedar cerita melankolis, mengenai cinta manusiawi. Lebih dari itu, banyak dimensi mengenai cinta yang mungkin bisa, atau tidak akan pernah bisa kita pahami. Kadangkala banyak yang memilih untuk menutup pintu, walau sebenarnya mereka butuh membuka pintu. Kadangkala banyak yang memilih untuk menutup pintu, walau sebenarnya mereka tidak yakin apakah mereka kuat untuk tidak membukakan pintu. Pintu yang tertutup menceritakan sebuah keraguan dalam kisah ini. Tetapi mengapa harus ragu untuk sesuatu yang tidak perlu diragukan? Cerita lain, cerita terakhir. Mengenai banyak pintu, pintu-pintu yang tepat, yang terbuka. Pintu-pintu itu, akan selalu terbuka untuk kita bisa masuk. Dan kita butuh untuk masuk, untuk menemui jawaban. Kita butuh masuk karena kita tidak bisa bertahan di luar. Kita perlu masuk, karena kita sebenarnya adalah bagian dari dalam pintu. Tetapi seringkali kita menyangkali kebutuhan kita, tetap bertahan di luar dan memalingkan wajah dari pintu-pintu yang terbuka. Kita masuk ke dalam melalui pintu, tetapi pintu yang salah. Atau mungkin kita akan keluar lagi, tetapi terus menolak memilih pintu-pintu yang tepat. Tetapi, kita tidak tau sampai kapan pintu-pintu yang tepat terbuka. Mungkin ada batas waktu. Dan ketika pintu itu tertutup, siapalagi yang bisa masuk? Siapalagi yang bisa membuka?


Temukanlah pintu yang tepat, yang terbuka, masuklah cepat-cepat, sebelum pintunya tertutup.